Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
180


__ADS_3

Hari berganti hari,


Bulan pun mulai berganti..


Tak terasa, kandungan Aleta kian hari kian besar saja. Terhitung sudah empat bulan usia kandungan sang putri jenderal. Membuat perut yang semula rata itu kian hari terlihat makin membuncit saja.


Sebagai seorang ibu hamil, Aleta juga mulai merasakan ngidam. Berbagai keinginan yang bahkan kadang di luar kebiasaan Aleta semasa sebelum hamil pun sering wanita itu ungkapkan. Untungnya pria dewasa suami Aleta itu bisa di katakan sebagai suami sigap. Ia selalu bersedia dan cepat tanggap untuk memberikan apapun yang Aleta inginkan.


Seperti hari ini, wanita yang tengah mengandung anak pertamanya itu sejak pagi tak mau jauh jauh dari suaminya. Ia. bahkan melarang Leon untuk pergi ke kantornya. Membuat pria itupun mau tak mau harus bolos kerja hari ini.


Dan siang ini, di dapur rumah pak jenderal. Saat di luar hujan mulai mengguyur rintik rintik..


Aleta nampak duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Diletakkannya kepalanya di atas meja sambil tangannya begitu asyik memukuli pinggiran piring di hadapannya menggunakan sendok yang ia pegang.


Matanya nampak menatap ke arah punggung sang suami yang nampak sibuk berkutat dengan berbagai peralatan masak di dapur rumah itu.


Siang ini entah mengapa tiba tiba Aleta ingin makan bubur buatan Leon. Wanita itu merengek sejak tadi membuat Leon yang seumur hidupnya sama sekali tak pernah menginjakkan kakinya di dapur itu pun harus rela turun gunung demi menuruti keinginan sang istri yang tengah berbadan dua.


Leon nampak cukup kebingungan sekaligus kesulitan. Dengan hanya bermodalkan resep dari internet, pria itupun nekat membuatkan bubur untuk sang istri. Terserah seperti apa rasanya nanti, yang penting bubur di buat dengan tangannya dan ngidam sang istri bisa keturutan, pikir laki laki itu.


"sayaaaangg....." ucap Aleta merengek tanpa sudi mengangkat kepalanya.


"sabar, bentar lagi..." ucap Leon sambil sibuk mengaduk bubur yang sebentar lagi matang itu. Aleta menghembuskan nafasnya panjang. Lama sekali..! ia sudah lapar..!


Tak lama berselang. Leon selesai dengan buburnya. Pria dengan celemek merah itu meraih sebuah mangkok keramik, lalu memindahkan bubur buatannya itu ke dalam mangkok tersebut. Leon membawa buburnya. Lalu meletakkan nya di hadapan Aleta yang terlihat sudah tidak sabar untuk menikmati hasil karya suami tercintanya itu.


Aleta nampak berbinar. Leon yang sebenarnya ragu ragu untuk menyerahkan bubur buatannya itu pun duduk di samping Aleta. Terserah lah bagaimana pun rasanya, yang penting ngidam istrinya keturutan, pikir Leon.


Aleta mulai menyendok buburnya,


"pelan pelan, masih panas..!" ucap Leon sambil tersenyum mengamati pergerakan sang istri.


Aleta hanya tersenyum. Ia ditiup nya bubur itu dengan lembut. Cukup beberapa tiupan saja, dimasukkan nya makanan lembek itu ke dalam mulutnya.


Leon nyengir. Menanti reaksi dari sang istri yang menjadi orang pertama yang melahap makanan hasil olahan nya itu.


Aleta diam sejenak.


"gimana?" tanya Leon.


Aleta menoleh ke arah suami brewokan nya itu.


.


.


.


"kok enak?" tanya Aleta dengan wajah yang perlahan berubah berbinar.


Leon mengernyitkan dahinya.


"masa sih?" tanya Leon tak percaya. Ia bahkan tak yakin jika bubur buatannya itu bisa dimakan.


Aleta kembali menyendok bubur yang masih panas itu. Kembali meniupnya dan memasukkan ke mulutnya dengan begitu lahap. Leon nampak diam tak bergerak. Menatap aneh ke arah wanita itu. Segitu enaknya bubur buatannya sampai sampai Aleta begitu bersemangat menyantapnya? Leon jadi penasaran...


Pria itu kemudian bergerak.


"sayang, aku coba dong..." ucap Leon.


"boleh..! aku suapin ya..." ucap Aleta.


Leon hanya mengangguk. Wanita dengan perut yang mulai membuncit itupun lantas menyendok kembali bubur panas di hadapannya. Di tiup nya lembut makanan itu lalu di arahkan ke dalam mulut yang di kelilingi jambang lebat tersebut.

__ADS_1


Bubur pun masuk dengan sempurna. Namun.....


.


.


.


ppppfffftttt.....


Leon menyemburkan makanan itu. Asin..! bahkan sangat asin. Semburan bubur dari mulut Leon bahkan sebagian mengenai wajah Aleta membuat wanita itu menjerit seketika.


"ini apa?!" tanya Leon sambil mengusap mulutnya seolah ingin menghilangkan rasa asin yang begitu kuat tersebut.


"bubur...!" ucap Aleta ngegas.


"ini terlalu asin, Aleta..! ini nggak enak..! udah, jangan di makan..!" ucap Leon sambil hendak merampas mangkok berisi bubur itu namun Aleta mempertahankan nya.


"apasih?! jangan...! orang aku mau makan...!!" ucap Aleta ngeyel.


"ini nggak enak...!!" ucap Leon.


"enak...!!" ucap Aleta nyolot.


"Aleta, ini asin banget..! nggak baik buat ibu hamil...!!" ucap Leon sambil bangkit dan kembali berusaha meraih mangkok yang kini berada dalam kuasa sang istri.


"apasih kamu ah...! orang aku mau makan..!" ucap Aleta ngegas sambil mempertahankan mangkoknya.


"sayang, aku bisa bikinin lagi. Yang lebih enak..! itu dibuang aja ya..." ucap Leon kembali membujuk sang istri untuk menyerahkan mangkok di tangannya.


"ini enak...!! aku mau makan ini..! udah deh nggak usah ribet..!" ucap Aleta lagi sambil kembali menyendok buburnya. Kini bahkan ia makan sambil berdiri saking takut jika Leon merampas mangkoknya.


Leon hanya bisa menghela nafas. Tahu sendiri kan bumil itu sekarang sangat sensitif. Apapun kalau tidak di turuti pasti akan ngamuk seharian. Laki laki itupun hanya bisa pasrah. Ia lantas kembali mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan itu.


Aleta pun menurut. Bumil itu kembali memangsa bubur asin itu dengan lahapnya membuat Leon sedikit nyengir di buatnya.


Ketika Aleta tengah asyik makan, tiba tiba....


"permisi, tuan, nyonya.." ucap seorang pelayan wanita yang tiba tiba datang menghampiri sepasang suami istri itu.


"ada apa, bik?" tanya Aleta.


"ada tuan asistennya tuan di luar, nyonya.." ucap sang pelayan.


Leon dan Aleta nampak mengernyitkan dahinya.


"siapa? Bayu?" tanya Leon.


"benar, tuan. Dia ada di teras, saya suruh masuk nggak mau, katanya nungguin tuan aja" ucap si pelayan.


Aleta menoleh ke suaminya.


"katanya tadi nggak ada pekerjaan yang terlalu penting? kok Bayu kesini? ada apa?" tanya Aleta.


Leon menggelengkan kepalanya samar.


"nggak tahu." ucap Leon.


"kamu selesaiin makannya dulu ya. Aku mau nemuin Bayu bentar" ucap Leon bangkit dari duduknya. Aleta pun hanya mengangguk.


Pria matang berparas tampan itupun segera berjalan menuju pintu utama.


Leon menyipitkan matanya. Dilihatnya disana, Bayu nampak menyandarkan tubuhnya di dinding teras itu. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah map coklat. Sedangkan posisi tubuhnya kini menghadap ke arah seorang wanita cantik berlesung pipit yang yang berdiri tegap di depan pintu utama rumah keluarga jenderal Mario tersebut.

__ADS_1


Bayu nampak cengengesan, mengajak Wanda berbincang namun sepertinya wanita itu tak merespon sama sekali.


Leon pun mempercepat langkahnya.


"Bayu..." ucap Leon membuat Bayu pun seketika menghentikan ocehannya pada Wanda.


"tuan" ucap Bayu sambil membungkuk kan badannya.


"ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Leon penasaran.


"eeem....ini, tuan. Ada berkas yang harus tuan tanda tangani sekarang. Penting..!" ucap Bayu membuat Leon makin mengernyitkan dahi. Penting banget sampai Bayu harus repot repot ke rumah Leon?


Suami Aleta itupun lantas mengangkat tangannya rendah. Mempersilahkan asisten nya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Bayu pun menurut. Ia masuk ke dalam rumah itu, mengikuti langkah Leon dari belakang dan duduk di salah satu sofa ruang tamu rumah megah tersebut.


Bayu menyerahkan map di tangannya. Leon pun membukanya dan mulai membacanya.


Tak lama, Leon lantas mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Bayu yang kini terlihat menunduk.


"apa kau kurang kerjaan, Bayu?" tanya Leon.


Laki laki yang sepertinya memang sudah tahu respon apa yang akan ia terima itupun nampak meremas jari jarinya sendiri.


"berkas seperti ini bahkan bisa ku tanda tangani minggu depan..! dan kau susah payah datang kemari hanya untuk mengantar ini? kau polos apa bodoh?" tanya Leon sedikit kesal. Padahal Bayu adalah orang yang cerdas dan nyaris tak pernah melakukan kesalahan-kesalahan selama bekerja dengan Leon. Tapi kenapa hari ini Bayu terlihat begitu tol*l dengan membawa berkas semacam ini kerumahnya?


Bayu menunduk. Leon menatap tajam ke arah Bayu.


"apa motif mu datang kemari?" tanya Leon seolah tahu bahwa mengantar berkas hanyalah alibi bagi seorang Bayu.


Pemuda berkacamata itu nampak menggaruk garuk kepala bagian belakangnya.


"se.... sebenarnya...." ucap Bayu ragu ragu.


Leon mengangkat dagunya.


"sebenarnya pekerjaan saya di kantor sudah selesai semua, tuan. Makanya saya datang kemari, mungkin ada sesuatu yang bisa saya kerjakan? dari pada ngantuk. Beli apa kek, kemana..." ucap Bayu pelan sambil matanya sesekali melirik ke arah pintu utama.


Leon mencoba mengartikan gelagat sang asisten. Lalu,


Pria itu tersenyum sinis.


Modus nih manusia...!! pikir Leon. Ia tahu apa isi otak Bayu sekarang...! datang ke rumahnya membawa berkas hanya lah trik nya. Padahal niat yang sesungguhnya adalah bertemu dengan Wanda. Si bodyguard cantik yang mulai menguasai pikiran Bayu akhir akhir ini.


Leon kemudian merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet dan mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dan menyodorkan nya di meja.


"belikan snack atau makanan apapun yang penting enak untukku dan Aleta. Bawa perempuan itu..! dia juga tidak terlalu berguna disini. Sejak pagi hanya berdiri di depan pintu..!" ucap Leon sambil bangkit dari posisi duduknya.


Bayu berbinar.


"siap, tuan..!!" ucap Bayu bersemangat.


"cepat pergi..! yang lama juga tidak apa apa..!!" ucap Leon sembari berlalu menuku dapur menemui istrinya.


Bayu kegirangan. Ia melakukan selebrasi bak pesepakbola papan atas yang baru saja mencetak gol. Dengan segera ia pun berjalan riang menemui Wanda, mengajaknya pergi tentu saja dengan embel embel *perintah Leon..!


...----------------...


Selamat sore....


up 15:40.


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘🥰*

__ADS_1


__ADS_2