
Hari hari berganti,
Semua berjalan seperti biasanya. Dua hari setelah percobaan permintaan restu Renata yang Leon dan Aleta coba upayakan. Kian hari hubungan mereka kian dekat. Hingga saat ini, Leon belum ada niatan untuk kembali menjenguk ibundanya yang masih di rawat dirumah sakit.
Entahlah, malas saja. Ia tak mau terlibat perdebatan lagi dengan ibu kandungnya itu. Kata kata yang keluar dari mulut Renata semua mengerikan. Begitu tajam dan selalu merendahkan serta menyudutkan calon istrinya. Membuatnya begitu tak bersemangat untuk mendatangi wanita itu.
Pagi ini,
di dalam sebuah kamar luas milik wanita cantik dua puluh empat tahun itu. Lantunan suara indah nampak menggema seiring dengan petikan gitar yang mengalun merdu memenuhi ruangan yang identik dengan warna crem itu.
Di taman belakang dekat kolam renang. Di sebuah kursi taman bercat putih itu, sambil menghadap ponsel yang tengah dalam mode merekam yang ia letakkan di sebuah meja taman tepat di hadapannya, Aleta nampak begitu bersemangat menyanyikan lagu cinta favoritnya. Senyumannya mengembang. Seolah mewakili perasaan hatinya yang tengah berbunga bunga beberapa hari belakangan ini.
Mendapatkan restu dari sang ayah sukses membuat hati Aleta bersorak sorai. Awal yang baik untuk hubungannya dengan laki laki dewasa pujaan hatinya yang katanya akan segera mempersunting nya saat restu Renata sudah di tangannya.
Suara indah dan petikan gitar itu terus mengalun merdu, membuat seorang pria berseragam militer yang baru pulang kerja itu nampak tersenyum melihat aksi sang putri dari kejauhan.
Pasca turunnya restu dari sang jenderal, pria paruh baya itu seolah menemukan sosok Aleta yang baru. Wanita cantik yang periang dan murah senyum. Selalu tertawa dan bahagia di setiap kesempatan. Tak pernah ada lagi tangisan, wajah yang murung apalagi melamun seperti yang dulu.
Lima tahun kebersamaan nya dengan Aleta. Baru kali ini ia merasakan putrinya itu serasa begitu bersemangat. Lepas tanpa beban. Aleta menjelma menjadi sosok yang ceria. Seolah tak ada lagi kesedihan dan trauma dalam dirinya Membuatnya sebagai orang tua jadi berfikir, mungkin memang Leon lah sosok yang Aleta cari. Dialah pembuat sekaligus obat bagi luka yang dulu pernah Aleta miliki.
Logika yang Mario gunakan rupanya tak bisa di terapkan dalam kisah ini. Sekuat apapun Mario berusaha menjauhkan Aleta dari Leon, nyatanya tetap saja tak bisa menghalangi rasa cinta yang dua manusia itu miliki. Mungkin Tuhan memang mentakdirkan dua anak manusia itu untuk bersama. Saling melengkapi dan mengisi kekurangan masing masing.
Selayaknya Sarah si penyabar yang bisa mengimbangi Mario sang jenderal yang keras. Mungkin Aleta yang ceria juga Tuhan ciptakan untuk Leon yang tempramental dan dingin.
Jodoh dan takdir tak ada yang tahu. Sekuat apa pun manusia punya kehendak, nyatanya akan kalah juga ketika Tuhan sudah menentukan keputusan nya.
.
.
.
"mas," ucap seorang wanita begitu lembut.
__ADS_1
Mario menoleh. Dilihatnya di sana sang istri sudah berdiri di sampingnya sambil membawa secangkir kopi untuk sang jenderal.
Mario tersenyum. Sarah menyerahkan kopi itu pada suaminya.
"terima kasih" ucap Mario.
Sarah hanya tersenyum. Pria berseragam loreng itu kemudian menyeruput kopinya dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang putri disana.
"ada apa?" tanya Sarah.
Mario tersenyum simpul.
"lihat anak itu. Sejak tadi dia bernyanyi terus, sepertinya sangat bahagia.." ucap Mario.
"kamu tahu apa yang membuatnya bahagia, mas" ucap Sarah.
"ya, kau benar, Sarah. Aku jadi merasa bersalah sudah menunda kebahagiaan nya," ucap Mario.
"sekarang aku sudah bisa merasakan, tidak ada beban lagi dalam diri putri kita. Dia seperti sudah menemukan penawar atas trauma yang pernah ia miliki..." ucap Mario.
Mario kembali menyeruput kopinya.
"oh ya, bagaimana dengan ibunya Leon? apa Aleta bercerita sesuatu padamu?" tanya Mario.
Sarah menghela nafas panjang..
"iya, kemarin dia cerita sama aku, mas" ucap Sarah sambil melangkahkan kakinya duduk di sebuah sofa di ruangan luas yang terhubung langsung dengan kolam renang tersebut.
Mario mengikuti langkah sang istri. Ia duduk di samping wanita itu sambil membawa kopinya.
"bagaimana katanya?" tanya Mario.
"ibunya Leon masih sama saja, mas. Dia menolak hubungan Aleta dan Leon" ucap Sarah.
__ADS_1
"kenapa?" tanya Mario lagi.
"alasannya sama seperti penolakan dia yang dulu. Karena Aleta adalah putriku, anak seorang mantan wanita malam" ucap Sarah.
Mario diam.
"beberapa hari lalu, Leon sama Aleta ke kantor polisi, niatnya mau minta restu. Ya, biar cepet selesai dan mereka bisa segera menikah, sesuai persyaratan dari kamu. Tapi bukannya dapat restu, ibunya Leon malah ngamuk ngamuk..."
"jantungnya kumat, sekarang dia dirawat di rumah sakit..." ucap Sarah.
"aku justru kasihan sama Leon. Bayangkan gimana sepinya hidup dia selama ini. Merasa kurang kasih sayang dari orang orang terdekatnya. Aleta bilang ibunya Leon itu sangat keras, mas. Dia bahkan memaki maki anaknya sendiri seolah memaki maki musuhnya. Kata katanya kasar banget, seperti bukan seorang ibu yang lagi ngomong sama anaknya katanya. Makanya sampai sekarang Leon belum mau menemui ibunya lagi." ucap Sarah.
Mario menghela nafas panjang.
"lalu bagaimana?" tanya Mario lagi.
"belum tahu, Leon belum memutuskan kapan akan menemui ibunya lagi" ucap Sarah.
Mario nampak diam, lalu kembali menyeruput kopinya.
"apa kau tahu dimana rumah sakitnya?" tanya Mario.
Sarah mengernyitkan dahi nya.
"dia nggak ngomong sih, kenapa memangnya?" tanya Sarah pada suaminya.
Mario diam. Dia menatap lurus ke depan tanpa suara sambil kembali menyeruput kopi buatan wanita tersayang nya.
...----------------...
Selamat pagi
up 04:51
__ADS_1
yuk...dukungan dulu 🥰🥰