
Mobil itu melaju menembus jalanan kota yang begitu padat. Pria menyedihkan dengan kemeja compang camping dan wajah babak belur itu terlihat begitu menyedihkan.
Wanita itu benar benar terlepas dari genggaman nya. Kini ia benar benar kehilangan satu satunya wanita yang mungkin memiliki hati dan perasaan yang tulus untuknya.
Leon benar benar frustasi. Niatan dan usahanya datang ke rumah jenderal itu sia sia dan tak membuahkan hasil. Ia tak bisa membawa Aleta kembali ke pangkuannya. Wanita itu justru memilih untuk berpisah darinya. Pergi meninggalkan nya tanpa ketahui kemana tujuannya.
Ya.....bodohnya, ia tak bertanya kemana Aleta akan pergi....!
"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh.....!!!" teriak pria itu frustasi.
Leon murka...! ia kembali menggila...! di pukulinya kemudi mobil itu membabi buta seolah ingin melampiaskan kemarahannya. Berteriak teriak memanggil nama sang istri di dalam sebuah mobil yang kini melaju di tengah jalan raya...! Air matanya luruh..! penyesalan membuncah dalam dirinya..! meratapi kebodohannya yang berakibat fatal ..! Ia benar benar kacau..! sangat kacau...!
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga sekitar sepuluh menit saja waktu perjalanan, Leon sudah sampai di kediaman pribadi miliknya.
Pria itu berjalan dengan langkah cepat dan lebar. Mengabaikan puluhan anak buahnya yang nampak membungkuk memberi hormat pada nya saat pria itu melewati mereka.
"tuan...." ucap seorang pemuda yang berdiri di depan pintu rumahnya, Fathur.
Leon pun mengabaikan nya, seolah tak peduli dengan barisan manusia yang katanya mengabdi pada nya itu..!
Sudahlah....Leon muak..! ia sangat muak dengan orang orang itu..!
Ia meneruskan langkah kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
daaaaaaaggggggghhhhh.....
Leon membanting pintu kamar nya begitu keras hingga membuat para anak buah yang berada di sana pun terjingkat kaget.
Leon menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menajam, ia kembali mengingat kejadian di depan rumah Mario, manakala Aleta wanita yang sangat ia sayangi meminta berpisah dari dirinya.
Kurang kah apa yang ia korbankan selama ini?
Kasih sayangnya, hartanya, semuanya....
Leon nampak berkaca kaca. Bayangan wajah wanita itu menari nari di pelupuk matanya. Kamar ini adalah saksi perjalanan kisah cinta mereka. Menikah tanpa cinta pada awalnya, hanya bermodalkan naffsu dari Leon yang menginginkan wanita itu sebagai pemuasnya di atas ranjang, namun pelan tapi pasti Aleta berhasil masuk dan menyentuh hatinya yang dingin.
Kelembutan nya, kesabaran nya, kepatuhannya sambil sesekali mencoba menyisipkan kebiasaan baik dalam diri Leon nyatanya sukses membuat hati sang Leon luluh.
Ia wanita pertama yang berhasil membawa Leon masuk ke panti asuhan dan bertemu para bocah bocah kurang beruntung. Menggunakan uang yang ia dapat secara tidak halal itu untuk hal hal positif dan bermanfaat bagi orang lain. Membawa Leon masuk masjid dan beribadah untuk pertama kalinya, serta membuat Leon perlahan meninggalkan kebiasaan buruknya bermain dengan para jaaalang di luar sana, hingga saat ini.
Leon menatap lurus ke depan. Ucapan Aleta sebelum mereka berpisah kembali terngiang ngiang dalam pikiran Leon.
Aleta meminta waktu untuk menenangkan dirinya. Ia meminta Leon menyelesaikan masalahnya dengan para manusia manusia pembenci Aleta yang berada di sekitar Leon. Aleta menginginkan Leon belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Wanita itu ingin Leon belajar introspeksi diri.
__ADS_1
Aleta sudah cukup trauma menghadapi laki laki itu. Kisah cinta ibunya yang dijebak oleh mertuanya sendiri berhasil menambah ketakutan Aleta. Ia juga punya mertua yang tak menyukainya, ia bahkan juga punya madu yang berniat ingin menyingkirkannya. Selain itu juga ada orang orang yang entah siapa saja yang coba menjauhkan Aleta dari sang Leon.
Meskipun tak sampai menjebak dan melemparnya ke tempat pelacuuran seperti yang ibunya alami, namun nyatanya itu berhasil membuat Aleta berfikir seribu kali untuk tetap bertahan dengan Leon.
Aleta adalah anak dari menantu yang terbuang. Sakitnya, perihnya, beratnya hidup dengan seorang wanita yang di cap hina tanpa ada sosok ayah disampingnya sudah kenyang ia rasakan. Dan ia tak mau, jika suatu saat, hal itu juga di rasakan oleh putra dan putrinya.
Cukup ia saja yang merasakan, anaknya jangan. Biarkan jika suatu saat ia memiliki momongan, buah hatinya dapat hidup dalam lingkup keluarga yang harmonis. Saling menyayangi dalam satu keluarga yang penuh cinta tanpa ada kekurangan, bukankah begitu keinginan setiap ibu di dunia ini?
.
.
.
Leon mengusap wajahnya kasar. Andai bisa ia ingin mengucap istighfar seperti yang biasa Aleta lakukan jika hatinya sedang gusar.
Leon menatap lurus ke depan. Matanya nampak menerawang jauh membayangkan entah apa.....
"aku yang memulai ini, Aleta. Aku yang membawamu masuk ke dalam kehidupan ku. Aku yang menyakitimu. Menorehkan luka pada fisik dan hatimu. Aku yang berusaha mencintaimu tapi aku juga yang terlalu bodoh tidak percaya padamu..."
"aku akan menunggu mu Aleta. Aku akan menunggu Tuhan kita mempersatukan kita kembali. Aku akan membereskan semua masalah yang memang bersumber dari orang orang di sekitar ku..."
"maaf, sebagai seorang laki laki aku terlalu angkuh. Aku yang hina dan buruk, anak jaalang seutuhnya, namun bertingkah seperti seorang pria terhormat.."
"aku lah yang sampah... akulah yang rendah. Bukan kau... kau wanita terhormat yang terlahir dari keluarga bahagia namum terpisahkan oleh kekejaman segelintir orang"
"maafkan atas semua cacian dan hinaan ku untuk mu dan ibumu Aleta. Maafkan semua perlakuan buruk ku untuk mu dan kedua orang tua mu..."
"aku akan menunggu Tuhan berbaik hati mempertemukan kita lagi.."
"aku akan memantas kan diriku disini....aku akan membereskan semut semut di sekitarku... aku akan pastikan, kau akan merasa aman jika suatu saat kau datang kembali ke pangkuanku dan bersedia memberiku kesempatan kedua"
"aku akan menunggu mu kembali sayang...aku akan berbenah untukmu..." monolog Leon dengan mata mengembun.
Pria itu nampak mengusap wajahnya kasar.
Ia nampak diam sejenak, menatap lurus ke arah depan tanpa berucap sepatah katapun. Lalu.....
Leon merogoh saku celananya. Diraihnya sebuah benda pipih miliknya lalu mencari nama Fathur di daftar kontak WhatsApp nya.
tuuuttt...... tuuuutt.....
"halo tuan..." ucap Fathur dari seberang sana melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"ke kamar ku..." ucap Leon.
"baik tuan..." jawab Fathur.
Leon mematikan sambungan telepon nya sepihak.
Tak berselang lama.....
tok.....tok.....tok.......
suara pintu di ketuk dari luar.
"masuk..." ucap Leon.
pintu pun terbuka, Leon masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati sang tuan.
"saya tuan...."
"kumpulan beberapa anak buah yang dulu ku tugasi menjaga Aleta..." ucap Leon.
Fathur mengernyitkan dahinya.
"untuk apa tuan?" tanya Fathur.
"aku punya tugas untuk mereka. Kumpulkan mereka di vila ku di kota X...aku ingin membuat pesta sebelum memulai sebuah misi besar bersama mereka...................." ucap Leon menggantung. Ia kemudian menoleh dan menatap penuh misteri ke arah Fathur lalu berucap..
"dan kau tentunya..."
Fathur mengangkat dagunya. Lalu mengangguk meskipun ia belum tahu, misi besar apa yang akan Leon rencanakan itu.
"baik tuan.." jawab Fathur akhirnya.
Leon mengangkat satu sudut bibirnya.
"keluar lah....aku ingin istirahat..." ucap Leon lagi.
"baik tuan..." jawab Fathur.
Laki laki muda itupun pergi. Meninggalkan Leon yang kini nampak mengeluarkan sebuah seringai wajah yang mengerikan.
...----------------...
up 11:55
__ADS_1
yuk .. dukungan dulu 🥰🥰🥰