Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
183


__ADS_3

02:00 dini hari,


seorang wanita hamil itu nampak beberapa kali mengubah posisi tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Wanita yang sejak tadi tidur pulas itu kini tiba tiba tak bisa lagi memejamkan matanya. Perutnya sakit, mulas hingga tembus ke tulang tulang belakangnya. Membuat wanita itu bolak balik ke kamar mandi. Mungkin ia salah makan tadi malam dan ingin buang air pikirnya. Namun lebih dari lima belas menit ia di dalam kamar kecil, tak reda juga mules mulesnya.


Aleta bangkit dari ranjangnya, ia lantas berjalan mondar mandir seorang diri di dalam kamar luas itu. Dilihatnya di atas ranjang, Leon masih terlelap disana dalam kondisi bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer abu abunya.


Aleta menarik nafas panjang. Rasa mulas pada perutnya makin menjadi jadi.


Wanita itu kembali mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Lalu bangkit lagi seolah tak bisa menemukan posisi yang nyaman untuk dirinya baik itu berdiri, berjalan, duduk maupun tiduran. Sakit, mules, kadang datang kadang pergi.


Apa mungkin ini tanda tanda orang yang akan melahirkan ya? pikir Aleta. Mengingat sang ibu, Sarah memang terbilang sering memberitahukan pada Aleta tentang apa saja tanda tanda wanita yang hendak melahirkan.


Aleta masih sibuk mondar mandir. Mulutnya sesekali mendesis merasakan sakit yang kini ia rasakan.


Pria berjambang cukup lebat itu menggeliat. Adegan panas yang sempat mereka lakukan semalam baru berakhir dua jam yang lalu. Membuat Leon yang mengeluarkan cukup banyak tenaga itu begitu pulas menjelajah alam mimpinya.


Leon mengerjab ngerjabkan matanya saat menangkap sosok berperut besar nampak mondar mandir sambil memegangi pinggangnya.


"sayang..." ucap Leon dengan suara serak dan mata terbuka tak sepenuh nya.


Aleta menoleh.


"kamu kenapa?" tanya Leon.


"perut aku mules, apa aku mau lahiran ya?" tanya Aleta.


setttt....


Leon melompat dari tidurnya. Disingkapnya selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya itu dengan cepat dan dengan segera mendekati sang istri.


Disentuhnya perut buncit itu.


"udah dari tadi?" tanya Leon.


"aku dari tadi nggak tidur, sayang" ucap Aleta lalu menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang kini kembali menjalar di tubuhnya.


Leon menghela nafas panjang. Dengan segera ia pun berbalik badan, membuka lemari besar di sana dan mencari pakaian bersih untuk ia kenakan.


"terus kenapa nggak bangunin aku? tau gitu kan aku bisa nganter kamu ke rumah sakit..!" ucap Leon sambil berganti baju.


"aku nggak tega bangunin kamu. Lagian juga masih bisa di tahan kok" ucap Aleta.


"bisa ditahan gimana? orang ibuk juga pernah bilang kan tanda tanda orang mau lahiran..! udah buruan ganti baju, kita ke rumah sakit sekarang..!" ucap Leon.


"ini masih malem, sayang..!" ucap Aleta.


"kamu pikir ngelahirin anak bisa di tunda?! udah buruan ganti, kita ke rumah sakit sekarang, aku anterin..! kamu bangunin ibuk sekalian, bilang sama ibuk kalau kalau kita mau ke rumah sakit, biar ibuk nggak panik nanti pas bangun..! anak anak biar di rumah sama Wanda..!" ucap Leon sambil sibuk sendiri mencari celananya. Laki laki itu langsung di dera kepanikan saat mendengar sang istri mulai menunjukkan tanda tanda akan melahirkan. Berbeda dengan Aleta yang hanya bergerak perlahan lantaran rasa sakit yang juga ia rasakan sendiri.


Leon keluar terlebih dahulu, sementara Aleta kini tengah berganti pakaian. Leon berjalan mendekati kamar sang jenderal hendak membangunkan mertuanya, namun baru saja Leon hendak hendak mengetuk pintu, tiba tiba....


ceklek.....


pintu kamar terbuka,


Pak jenderal keluar dari dalam kamarnya dengan kaos oblong dan celana pendeknya.


"Leon..." ucap Mario.


"pa.." jawab Leon dengan wajah yang nampak tegang.


"ngapain kamu jam segini?" tanya Mario.


"Aleta perutnya sakit, pa. Kayaknya dia mau lahiran..." ucap Leon.


"apa?!" tanya Mario setengah kaget.


"aku mau bawa Aleta ke rumah sakit. Papa kalau mau nyusul pakai mobil sendiri aja. Kasihan Aleta kayaknya udah kesakitan banget..." ucap Leon.


"ya sudah, kamu pergi duluan. Biar papa bangunin ibu kalian" ucap Mario mulai ikutan panik.

__ADS_1


Leon hanya mengangguk. Pria itu kembali ke kamarnya, menemui sang istri dan segera membawanya keluar dari kamar untuk menuju rumah sakit.


...****************...


Satu jam berselang.


Di dalam sebuah ruang bersalin.


Wanita itu kembali mendesis. Tangannya meremas lengan kaos sang suami yang sejak tadi setia duduk di samping ranjang menemani wanita cantik itu bertaruh nyawa melahirkan hasil buah cinta di antara mereka.


Aleta nampak berkeringat. Dalam posisi mengang*ang di atas ranjang, di bantu seorang dokter wanita serta beberapa perawat wanita itu nampak berkali kali mengerahkan seluruh tenaganya. Berusaha membawa makhluk mungil yang selama sembilan bulan di kandungnya itu untuk melihat dunia.


Leon ikut berkeringat. Melihat sang istri berjuang begitu keras di barengi lelehan keringat, air mata dan bahkan tetesan darah membuat Leon ikut perih melihatnya. Andai rasa sakit itu bisa di tukar. Maka ia siap menerima itu daripada melihat Aleta yang tersiksa seperti ini. Sembilan bulan malas malasan, tal mau makan bahkan sampai di rawat dirumah sakit. Kini saat melahirkan pun wanita itu masih merasakan sakit yang teramat sangat. Sungguh, perjuangan seorang wanita memanglah sangat luar biasa.


Sementara di luar ruang bersalin,


Pak jenderal nampak mondar mandir di depan pintu rumah sakit. Raut wajahnya tegang. Sejak sampai hingga saat ini ia tak pernah sedetikpun mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu. Berbeda jauh dengan sang istri yang terlihat bisa lebih tenang. Dengan jari jari tangan yang terus bergerak mengucap dzikir meminta pertolongan, perlindungan dan kemudahan untuk putrinya yang kini tengah berjuang di antara hidup dan mati.


"kakek tentara..! kakek kok mondar mandir terus sih?!" tanya Ahsa.


Ya, dua anak angkat Leon dan Aleta yang semula hendak di tinggal di rumah lantaran masih terlalu pagi untuk dibangunkan, nyatanya kini ikut terbangun dan ikut juga ke rumah sakit menunggui sang mama.


Awalnya memang tak ada yang membangunkan dua bocah itu, namun Alka yang terbangun untuk sholat tahajud di buat penasaran dengan sang kakek yang terlihat panik di pagi pagi buta.


Alhasil, Alka dan Ahsa pun memilih untuk ikut ke rumah sakit setelah di beritahukan tentang apa yang terjadi pada mama mereka.


Dan disinilah mereka sekarang,


ikut bersama kakek nenek nya menunggu kelahiran sang calon adik yang kini tengah bersiap melihat indahnya dunia.


Cukup lama Aleta berjuang di dalam sana. Membuat sang Jenderal yang begitu menyayangi putrinya itu makin tak tenang rasanya.


Hingga.....


ooooooeeeeeeekkkk......oooooeeeeekkkk......


Mario, Sarah, Alka dan Ahsa serta Wanda yang turut menemani putra putri Leon itu mengucap syukur bersamaan. Sang penerus telah lahir. Tangisannya terdengar begitu lantang menggema memecah kesunyian malam.


Mario merasa lega. Sarah nampak tersenyum haru dengan mata berkaca kaca. Sedangkan Alka dan Ahsa terlihat berpelukan dengan raut wajah begitu berbinar. Sementara Wanda, dengan cepat ia meraih ponselnya, mengabari calon suaminya bahwa bos kecil sudah lahir.


Semua berbahagia. Sang pewaris telah tiba. Sosok yang di tunggu tunggu. Sosok yang dulu di rasa tak mungkin di dapat oleh pasangan suami istri yang pernah bercerai lalu rujuk kembali itu.


ceklek,


dokter wanita berhijab yang menangani persalinan Aleta itu keluar. Dengan wajah penuh senyuman, ia mendekati pak jenderal dan keluarga nya.


"bagaimana dok? cucu dan anak saya? mereka selamat kan?" tanya Mario menggebu gebu.


Sang dokter tersenyum.


"selamat ya, pak, bu. Putri anda melahirkan anak kembar. Sepasang laki laki dan perempuan yang sangat cantik dan tampan."


"kondisi ibu dan bayinya semua sehat dan selamat" ucap sang dokter.


"Alhamdulillah...!!" ucap Mario dengan raut wajah bahagia.


"boleh kami menemui nya, dok?" tanya Mario.


"oh, silahkan, pak. Nyonya Aleta ada di dalam. Baby nya sedang di mandikan dulu ya. " ucap sang dokter.


Mario pun mengangguk. Ia lantas masuk ke dalam ruangan itu guna menemui sang putri.


"papa..." ucap Aleta.


Mario tersenyum. Dipeluknya wanita cantik yang masih seperti bayi kecil dimatanya itu. Dikecupnya wanita yang terbaring di ranjang tersebut. Matanya menetes bahagia. Gadis nya, putrinya, berliannya kini telah menjadi seorang ibu. Sudah sangat dewasa baik fisik maupun pemikiran nya. Sungguh, Mario begitu haru. Sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata kata.


"selamat, sayang. Kamu sudah jadi ibu sekarang. Kamu sudah memberi papa dua orang cucu sekaligus. Papa bangga, nak. Papa bahagia untuk mu dan suamimu.." ucap Mario haru.


"papa kenapa nangis..?" tanya Aleta sambil menyentuh wajah sang ayah.

__ADS_1


"papa terharu. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah besar. Betapa banyaknya waktu yang sudah papa lewatkan bersama kamu, sayang. Maaf..." ucap Mario.


"yang penting sekarang kita udah kumpul kan? keluarga kita udah lengkap. Papa udah punya empat cucu sekarang" ucap Aleta.


Mario tersenyum lebar.


"iya, nak. Kamu benar. Terima kasih, sayang" ucap Mario. Ia kembali mengecup kening sang istri.


Mario menoleh ke arah Leon.


"Leon, terimakasih. Kalian sudah memberikan cucu untuk kami" ucap Mario.


Leon hanya tersenyum sambil mengangguk.


Tak berselang lama, sang perawat datang membawa dua jabang bayi yang sudah bersih dan wangi.


Sang perawat menyerahkan satu pada Leon. Dan satu pada Aleta.


Ahsa dan Alka berbinar melihat adik mereka.


Leon pun mulai mengadzani kedua putra putrinya satu persatu. Mario menimang satu cucunya yang sudah Leon adzani.


Setelah selesai,


"siapa nama mereka, nak?" tanya Mario yang kini menggendong salah satu cucunya itu.


"Abiyasa Satya Ganada dan Anandita Satya Ganada.." ucap Leon dengan sorot mata menatap bangga ke arah putra dalam gendongan.


Semua tersenyum.


Alka dan Ahsa nampak heboh.


" selamat datang dedek Aby dan dedek Ana...!!" ucap Ahsa begitu centil dan ceria membuat semua terkekeh mendengarnya.


Keluarga besar itu nampak hanyut dalam kegembiraan. Sebuah keluarga yang dulu terpecah dan terpisah karena kebencian dan keserakahan segelintir orang. Kini semua bersatu, menjadi satu keluarga yang indah. Mario sang jenderal, Sarah sang mantan wanita malam, Leon sang mantan penjudi ulung, Aleta wanita suci yang terbuang, Alka dan Ahsa si yatim piatu yang beruntung. Mereka kini telah menjelma menjadi satu keluarga yang indah. Yang penuh cinta dan kasih sayang. Saling melengkapi kekurangan satu sama lain.


Bukan kah memang seperti itu arti sebuah keluarga? Sekumpulan para manusia yang dulunya tak pernah saling mengenal. Sekumpulan manusia yang dulunya tak memiliki ikatan darah, berbeda latar belakang dan kehidupan sosial. Menjadi satu, beranak pinak hingga tercipta generasi penerus yang menjadikan pengikat di antara mereka.


Terimakasih Leon, Aleta serta Pak Jenderal dan Ibu Sarah. Selamat berbahagia dengan kehidupan baru kalian.


.


.


.


.


.


End❤️❤️❤️❤️❤️❤️


...----------------...


selamat sore menjelang malam.


up 17:36


sudah tamat ya.


Terima kasih yang sudah setia dengan novel ini sampai hari ini. Mohon maaf jika selama periode on going ada salah salah kata ataupun tulisan menyinggung beberapa pihak. Bukan maksud hati menyinggung satu dua belah pihak. Karena ini hanya cerita fiksi murni karangan author yang masih amatir dan miskin ilmu.


Terima kasih semua dukungan nya. Ambil sisi positifnya dan buang sisi negatif nya ya...


Leon dan Aleta pamit, terima kasih 🥰🥰



__ADS_1


__ADS_2