
Hari terus berlanjut...
Di lobby rumah sakit...
Seorang wanita paruh baya dengan hijab syar i membalut tubuh nya nampan duduk di sebuah kursi tunggu di dalam bangunan bertingkat tinggi tersebut. Dengan parcel buah di tangannya, wanita itu nampak sesekali menatap ke arah jam tangannya, menengok waktu lalu menatap ke arah pintu utama, menanti sesosok pria yang akan menemani nya menjenguk seseorang hari ini.
Ya...itu adalah ibu Sarah.
Hari ini ia datang ke rumah sakit, berniat menjenguk Leon bersama suaminya, Mario.
Mereka sudah janjian bertemu di tempat itu. Sarah sudah berada di tempat itu kurang lebih lima menit yang lalu setelah di antar supir dari kediamannya. Sedangkan Mario, laki laki itu tengah dalam perjalanan pulang dari markas prajurit tempat nya bekerja. Dan kini ia tengah menuju ke rumah sakit itu untuk menyusul Sarah dan bersama sama menjenguk Leon sang mantan menantu.
Kurang lebih sepuluh menit Sarah menunggu. Dua orang pria yang masih mengenakan seragam loreng namun di balut jaket kulit itu nampak memasuki rumah sakit. Dengan langkah tegap dan berwibawa, Mario berjalan mendekati istrinya di susul Sean di belakang nya.
Sarah tersenyum. Ia bangkit.
Di raihnya punggung tangan sang suami lalu menciumnya sebagai tanda bakti saat pria itu sudah sampai di hadapannya. Tak lupa, Mario mencium pucuk kepala Sarah sebagai ungkapan rasa sayangnya pada wanita itu.
"sudah lama kami disini?"tanya Mario.
"sepuluh menitan.." ucap Sarah.
Mario tersenyum sambil mengusap usap lembut pundak sang istri.
"kita jenguk Leon sekarang?" tanya Sarah lagi.
"ya..." jawab Mario.
"Sean...ikut juga ya..." ucap Mario lagi pada Sean yang siap berdiri di belakang sang jenderal.
"siap.. Jenderal..." ucap Sean.
Ketiganya pun lantas menuju lift yang akan membawanya menuju lantai di barisan atas tempat dimana Leon dirawat saat ini.
Namun saat hendak memasuki lift...
Mata Sean memicing. Dua sosok manusia yang sangat ia kenal sekilas terlihat dari kejauhan. Dapat di lihat dengan jelas oleh mata tajam sang ajudan pribadi pak jenderal.
"itu kan seperti.......?" gumam Sean menggantung.
"Sean..."
Suara itu berhasil membuat laki laki yang akan punya dua anak itu seketika menoleh. Di lihatnya disana Mario sudah berada di dalam lift bersama Sarah.
"ada apa? ayo masuk..!" ucap Mario.
"oh.. iya jenderal..." jawab Sean.
Sean pun segera masuk ke dalam kotak besi itu. Mereka pun menuju lantai atas dimana Leon tebgah berada.
...****************...
Sementara itu....
Kini di dalam ruang rawat inap tempat dimana Leon dirawat...
__ADS_1
Dua bocah itu nampak makan dengan lahapnya. Keduanya memangsa masing masing satu box makanan yang Aleta pesankan secara online lewat ponselnya tadi.
Ahsa bersikap manja, ia tak mau makan sendiri. Ia mau di suapi oleh Aleta sambil memainkan gadget nya. Aleta pun menuruti kemauan si bocah meskipun awalnya Leon melarangnya lantaran ia tak mau Ahsa bersikap terlalu manja pada wanita itu. Namun Aleta tak menggubris. Alhasil, beginilah mereka sekarang. Alka makan sendiri, sedangkan Ahsa kini nampak di suapi oleh Aleta sambil memainkan ponselnya.
"Ahsa....main hp nya udah dong...makan dulu..." ucap Leon dari atas ranjangnya.
"bentar pa.... nanggung nih...udah mau menang...kan ada mama Aleta yang nyuapin aku...." ucap Ahsa.
"kakak..." ucap Leon meralat ucapan sang putri..
"sama aja...ntar juga dipanggil nya mama....iya kan ma?" tanya Ahsa.
Aleta hanya tersenyum.
"kak Aleta juga harus makan nak....kamu makan sendiri dong...." ucap Leon.
Namun Ahsa tidak peduli. Ia mau di manja sama calon mamanya ini. Ia tak menggubris lagi omongan papanya yang hanya bisa menatap dari atas ranjang sana.
Leon lantas tersenyum melihat aktifitas tiga manusia yang berada di sofa itu. Mereka terlihat sangat akrab. Aleta sangat perhatian, sedangkan kedua putra putrinya juga terlihat sangat nyaman bersama Aleta. Suasana terasa sangat hangat bak keluarga sungguhan, hingga.....
ceklek.....
pintu kamar rawat inap terbuka....
"assalamualaikum....." ucap seorang wanita berhijab yang nampak datang dengan sebuah parcel buah di tangannya.
"wa alaikum salam...." jawab semua yang ada disana.
Aleta terdiam. Begitu juga Leon yang duduk di atas ranjang.
Dilihatnya di sana, seorang wanita datang bersama dua pria berbadan tegap dibelakang nya. Wanita itu terlihat tersenyum hangat, sedangkan pria pria dibelakang nya nampak memasang raut wajah datar.
Leon di tak bergerak.
Ahsa dan Alka nampak menatap ke arah para tamu tamu mereka. Siapa mereka? pikir dua bocah itu.
Aleta bangkit. Ia mendekati ibu dan papanya, hendak mencium tangan Sarah namun Aleta urungkan. Telapak tangannya masih kotor bekas menyuapi putri kecil Leon itu.
"oh ...bentar buk...aku cuci tangan dulu..." ucap Aleta.
Sarah hanya mengangguk.
Aleta setengah berlari menuju kamar mandi dan mencuci tangan nya di wastafel. Sedangkan Sarah nampak mendekati Leon yang duduk di atas ranjang sana.
Sarah meletakkan parcel buahnya di atas nakas. Ia tersenyum ke arah laki laki yang pernah menjadi suami putrinya itu. Sedangkan Mario dan Sean nampak duduk di sofa sana , di samping Ahsa dan Alka yang kini nampak memperhatikan dua pria berseragam loreng itu. Terlebih saat Sean membuka resleting jaketnya. Ahsa dan Alka langsung terbelalak.
.
.
Di ranjang pasien....
"bagaimana kondisimu, Leon?" tanya Sarah.
Leon tersenyum.
__ADS_1
"sudah lebih baik, nyonya...." ucap Leon.
Sarah tersenyum.
"Alhamdulillah....saya ikut senang mendengar nya..." ucap Sarah hangat.
Aleta datang dari kamar mandi. Ia buru buru mendekati sang ibu lalu mencium punggung tangan wanita itu.
"ibuk kenapa nggak bilang bilang kalau mau kesini?" tanya Aleta.
Sarah tersenyum.
"emang kalau ibuk bilang bilang dulu kamu mau ngapain? kamu juga nggak bisa jemput ibuk...orang kamu juga belum terlalu bisa bawa mobil.." ucap Sarah membuat Aleta terkekeh.
Aleta mendekati sang papa, lalu mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat terhadap ayah kandung nya itu.
Aleta mendekati Ahsa, merapikan meja yang nampak berantakan dan membersihkan sampah sampah yang terlihat berserakan karena aksi makan mereka barusan.
Alka yang sejak tadi masih mengamati Mario dan Sean itupun mendekat kan wajahnya di telinga sang adik lalu berbicara pelan...
"Ahsa...kayaknya itu papa sama mamanya kak Aleta deh..." ucap Alka menebak.
"papa sama mama nya mama maksudnya..? calon kakek kita dong kak...?" tanya Ahsa polos.
"kayaknya sih gitu..." ucap Alka.
"waaaahhh....berarti...kita akan punya kakek tentara kak...waaaaahhhh....kereeennn...." ucap Ahsa berbinar.
"iya dek...keren... tentara.... pahlawan loh itu..." ucap Alka.
"iya kak...." ucap Ahsa berbinar.
Aleta selesai dengan sampahnya.
"Alka, Ahsa kalau makannya udah selesai dibuang nak box nya .." ucap Aleta.
"iya maaa...." ucap Ahsa membuat Mario menoleh ke arah bocah itu kala mendengar si bocah memanggil putrinya dengan sebutan 'maaa??'
Sean tersenyum ke arah dua bocah itu.
"kalian pinter pinter sekali makan sendiri....nama kalian siapa, nak..?" tanya Sean.
"nama saya Alka om..." ucap Alka.
"kalau aku Ahsa om...kita anaknya papa Leon sama mama Aleta..." ucap Ahsa polos membuat semua yang berada di sana seketika itu juga menoleh dan mengernyitkan dahinya menatap ke arah bocah kecil itu.
mama??? pikir mereka.
Leon yang duduk di atas ranjang nampak memejamkan matanya..
tuh kan ...udah dibilangin jangan di biasain manggil mama ke anak orang....kan jadi nggak enak sama yang punya anakðŸ¤ðŸ¤¦ðŸ¤¦
...----------------...
***Selamat malam...
__ADS_1
up 19:50
yuk.. dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰***