Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
175


__ADS_3

Di tengah rintik hujan yang mengguyur kota besar itu.


Mobil keluarga milik sang Leon nampak menepi, di sebuah warung tenda yang menjual menu menu sederhana.


Leon mematikan mesin mobilnya. Alka dan Ahsa dengan segera turun dari kendaraan roda empat itu dan berlari menuju warung tenda tersebut untuk menghindari rintikan air hujan.


Leon dan Aleta pun mengikuti.


Pria berjambang lebat itu lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah mengamati tempat makan sederhana yang nampak cukup ramai itu. Di pelataran sebuah halaman toko ber paving. Hanya beratapkan kain terpal dimana sebuah gerobak dan peralatan masak yang terlihat tak bersih penuh arang hitam menjadi alat masaknya. Beberapa bangku kayu dengan kursi kursi plastik juga terlihat disana.


Para pengunjung nampak makan dengan lahap. Ada yang pakai tangan, ada yang makan dengan kaki naik ke kursi. Ada yang makan sambil asyik berbicara padahal mulutnya penuh dengan makanan.


Leon nyengir..!


Yang benar saja, Aleta seolah begitu jijik dengan nasi. Tapi sekalinya ngajak makan ke tempat yang seperti ini??


Leon menelan ludahnya kasar.


Higienis kah? bersih kah? aman kah untuk calon bayinya?


Leon menggelengkan kepalanya samar.


"ayo, sayang..!" ucap Aleta sambil meraih lengan sang suami dan mengajaknya untuk masuk ke dalam tenda itu. Namun,


Leon menahan istrinya..


"sayang, sayang, tunggu..!" ucap Leon.


"kenapa?" tanya Aleta.


"ini tempat apa?! kamu yakin mau makan di tempat kayak begini?" tanya Leon sangsi.


"ya yakin lah..! ini tuh enak tauk, aku pernah ke sini sama mas Sean dulu..!" ucap Aleta.


"sayang, ini pinggir jalan loh. Kotor..! nggak higienis..! mending kita cari tempat lain aja yuk. Yang jual menunya sama kayak tempat ini" ucap Leon.


"nggak mau, aku maunya disini. Di sini tuh enak loh..!" ucap Aleta.


"tapi ini tempatnya.........."


"udah, cobain aja dulu..!" ucap Leon.


"iya, pa. Papa belum pernah kan makan di tempat kayak gini. Enak, pa. Aku kangen makan di tempat kayak gini..! yuk, pa..!" ucap Alka yang terlihat antusias.


"iya, pa. Enak tauk. Aku dulu pernah di ajak ke tempat makan kayak gini sama kakak. Ya kak ya..." ucap Ahsa.


"iya, kita makannya kadang sebulan sekali atau dua bulan sekali ke tempat kayak gini. Ini udah mewah banget buat kita dulu ya, Sa..." ucap Alka pada sang adik.


"iya..." ucap Ahsa.


"ayok, pa. Aku pengen makan disini..!" ucap Ahsa mulai tak sabar. Ia pun menarik tangan sang ayah dan membawanya masuk ke dalam warung tenda itu. Mau tak mau, Leon pun hanya mengikuti saja kemauan sang putri.


Dengan berat hati pria berkulit putih itu masuk ke dalam tenda. Ia lantas duduk di sebuah kursi plastik bersama istri dan putra putrinya.


Leon merasa sangat tak nyaman. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya ia duduk di tempat seperti ini. Matanya sejak tadi juga tak lepas mengamati suasana sekitar. Takut takutnya ada copet atau jambret bahkan rampok yang datang. Mengingat ini malam hari di pinggir jalan pula.


Seorang wanita berbadan bongsor dan berhijab datang.


"pesen apa mbak?" tanya wanita yang merupakan pemilik warung tenda tersebut.


"pecel lele..!!!!" ucap Ahsa dan Alka bersamaan.


Leon reflek menoleh dengan mata melotot ke arah dua buah hatinya.


"no...!!!" ucap Leon tegas. Ahsa, Alka, Aleta, sang pemilik warung dan beberapa pengunjung lainnya.


Aleta nampak tersenyum kaku. Suara Leon cukup menyita perhatian pengunjung yang lain, membuatnya jadi tak enak sendiri.

__ADS_1


Aleta menggerakkan tangannya, mencolek paha laki laki ber sweater hitam tersebut.


"pelan pelan aja ngomongnya...!" ucap Aleta dengan pelan dan bibir menipis.


"kenapa, pa?" tanya Ahsa polos.


"sayang, kamu ngapain pesen lele?!" tanya Leon tak habis pikir.


"emang kenapa, pa? enak tauk lele tuh.." ucap Ahsa.


"iya, papa pasti belum pernah coba kan? cobain, pa. Enak kok..!" ucap Alka mengimbuhi.


"no..! pesen yang lain aja..! kalian tahu nggak, lele itu makannya apa?!" tanya Leon lagi membuat Aleta makin tak enak pada penjualnya.


Ahsa dan Alka nampak cemberut, sedangkan Aleta kini nampak kembali mencolek paha Leon


"sayang...! jangan gitu ngomongnya, nggak enak sama yang jual..!" ucap Aleta pelan dengan gigi mengetat.


"tapi ini jorok, Aleta. Lele itu binatang paling jorok tau nggak..!makannya aja..............."


ucapan Leon terhenti.


"maaf tuan. Lele kami di kasih makan pakan ikan kok. Ndak seperti yang tuan pikirkan" ucap sang penjual membela diri.


Leon nampak menggelengkan kepalanya.


"nggak, pesen yang lain aja..!" ucap Leon.


"paaaa...." rengek Ahsa.


"ih, kamu nggak asik banget deh..! mau makan doang ribet banget..!!" ucap Aleta kesal.


"Aleta................" ucap Leon hendak kembali mengucap fatwa nya. Namun sepertinya ibu hamil itu tak menggubris. Ia justru memalingkan wajahnya dan mulai memesan makanan pada sang penjual yang sejak tadi sudah berdiri di sana.


"buk, kalau gitu saya persen lele nya tiga sama ayamnya satu aja ya. Minumnya apa aja yang penting anget. Disamain aja..." ucap Aleta.


Seperginya sang penjual,


Aleta berbalik menoleh ke arah Leon. Dilihatnya pria itu nampak memasang wajah kesalnya lantaran apa yang ia ucapkan tak di gubris oleh sang istri.


Aleta mencolek pinggang Leon.


"jangan ngambek.." ucap Aleta.


"ngomong sama kamu tuh susah, Aleta. Ngeyel banget..!" ucap Leon.


"udah deh nggak usah marah marah. Makan aja dulu. Ntar kalo udah tahu rasanya juga bakalan nagih..!" ucap Aleta membuat Leon kembali membuanh wajah dengan ekspresi kesal.


Ahsa dan Alka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perdebatan kecil antara mama dan papanya itu.


......................


Tak butuh waktu lama, pesanan pun datang.


Tiga porsi pecel lele dan satu porsi ayam bakar siap tersaji di atas meja.


Aleta girang. Begitu juga Alka dan Ahsa yang nampak berbinar menatap makanan yang terlihat begitu mewah di mata bocah bocah polos itu.


"nih, pa. Makanan enak nih. Jangan makan pizza mulu. Sekali sekali makan pecel lele, biar meng lokal..! "ucap Ahsa.


Aleta terkekeh.


"tuh, dengerin anak kamu..!" ucap Aleta membela sang putri.


Leon sibuk mencari sendok. Sedangkan ketiga anggota keluarga nya yang lain kini sudah memulai aksi santap malam nya. Di celupkan nya tangan kanan mereka pada wadah kecil berisi air bersih yang berada di hadapan masing masing. Setelah selesai membasuh tangan mereka, dengan segera ketiganya pun melahap ikan yang di rasa Leon dan sebagian orang menjijikkan itu dengan lahapnya.


Leon nyengir. Anak dan istrinya nampak lahap. Terlebih lagi Aleta. Ibu hamil yang sudah kurang lebih dua minggu hampir tak makan nasi itu kini nampak begitu lahap memangsa nasi panas dan lauk yang dirasa teramat sangat nikmat tersebut.

__ADS_1


Leon belum menyentuh makanan nya. Ia yang biasanya tak punya rasa kenyang itu kini mendadak tak berselera makan. Ia hanya diam mengamati pergerakan anak istrinya. Leon yang semula serasa ingin muntah melihat tiga anggota keluarga nya memangsa ikan panjang itu kini justru nampan tersenyum melihat sang istri yang begitu lahapnya seolah tak pernah melihat nasi dua tahun berturut-turut.


Tak lama, satu piring nasi Aleta sudah ludes. Bahkan nasi di depan Alka dan Ahsa saja belum berkurang separonya. Tapi wanita itu sudah selesai saja makannya.


Leon mengulum senyum lucu.


"enak?" tanya Leon.


Aleta mengangguk sambil menyeruput teh nya.


"nih, lagi.." ucap Leon sambil menyodorkan ikan bakarnya yang masih utuh.


Aleta menelan ludahnya sambil menggerakkan lidahnya menyapu bibirnya. Leon makin di buat gemas dengan ulah sang istri.


"abisin..." ucap Leon.


Aleta menoleh.


"kamu?" tanya Aleta.


"aku udah kenyang lihat kamu makan" ucap Leon lagi.


"beneran?" tanya Aleta.


Leon mengangguk.


Aleta nampak berbinar.


"aku makan ya?" tanya Aleta


Leon mengangguk dengan senyuman yang terus tersungging.


Aleta kembali memangsa ayam bakar itu dengan lahapnya. Leon meraih gelas berisi teh hangat itu lalu menyeruput nya tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri cantik. Senyuman nya terus tersungging. Aleta makan dengan begitu lahap seolah lupa jika ia sedang bermusuhan dengan nasi saat ini.


Leon mendekat kan wajahnya ke telinga Aleta yang asyik mengunyah. Lalu berbisik,


"abis ini aku minta imbalannya.." ucap Leon.


Aleta menghentikan pergerakan nya. Lalu menoleh ke arah suami tampannya itu.


"apa?" tanya Aleta dengan raut wajah awas.


Leon tak menjawab. Di sungging kan nya senyuman nakal itu lalu menggerakkan bola matanya melirik ke arah benda pusaka kebanggaan nya yang terbungkus celana panjang itu dan wajah Aleta secara bergantian.


Aleta paham. Wanita itu tersipu malu. Ia kembali melahap makanannya sambil senyum senyum sendiri. Sedangkan Leon, kini kembali menyeruput teh nya sambil terus fokus menyaksikan Aleta makan.


...----------------...


Selamat malam.


up 18:20


yuk, sambil menunggu End nya mampir juga ke novel author yang lain. Dijamin nggak kalah menguras emosi dan air mata


Nih, salah satunya👇👇👇


❤️Gadis Tawanan Sang Psychopath ❤️


*Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,sebesar apapun dosanya di masa lalu.


Berawal dari pertemuan yang tak pernah diharapkan,dinamika gadis polos bertauhid melunakkan hati pria keji berlumur dosa.Setia berdiri di samping sang pria membimbingnya menjadi pribadi yang bijaksana.


Kisah sepasang anak manusia berbeda latar belakang melewati terjalnya jalan menuju keluarga utuh nan bahagia yang berpedoman pada ajaran tauhid Sang Maha Kuasa.Penuh konflik,berderai peluh,keringat,tetesan darah dan air mata menghiasi jalan hidup keduanya hingga tercipta sebuah keluarga yang begitu indah penuh inspirasi.


Yuk baca kisah mereka yang menguras emosi dan air mata*....


__ADS_1


__ADS_2