
03:30 dini hari..
Pria dewasa itu lontang lantung di jalan raya. Mengayunkan kakinya tak jelas kemana arah dan tujuannya. Sejak sore, ia berkeliling kota, mendatangi hampir ke seluruh rumah sakit di kota itu. Mencari keberadaan sang istri namun tak ada satupun yang menyatakan bahwa Aleta dirawat disana, termasuk di rumah sakit yang dulu mereka datangi untuk memeriksakan kesuburan nya dan sang istri.
Leon lelah. Penampilan nya makin hari makin tak karuan. Pria yang mungkin kini bisa dikatakan menjadi pria malang itu nampak terduduk di trotoar jalan. Matanya menatap nanar ke arah bangunan megah dengan kubah besar berwarna hijau diseberang jalan sana.
Ingatannya langsung kembali menjelajah waktu. Mengingat momen saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di tempat ibadah umat Nabi Muhammad itu.
Rasanya tenang, tentram, seolah ada kesejukan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Leon tersenyum getir.
Wanita yang dulu menuntunnya ke tempat itu kini telah hilang entah kemana. Membawa sejuta luka yang dengan bodohnya ia torehkan untuk wanita cantik itu.
Ucapan Ayu siang tadi berhasil menampar pipi Leon. Hasil lab yang diberikan Ayu menambah luka dan rasa bersalah pria bodoh itu.
Benar apa yang jalaang itu bilang. Harusnya ia mencari tahu dulu. Mengumpulkan bukti bukan hanya mendengarkan penjelasan dari satu pihak saja.
Leon menundukkan kepalanya menatap ke arah bawah. Pria itu kemudian mendongak sambil mengusap wajah hingga kepalanya kasar.
"Aletaaaaaa......!!! dimana kaaaaauuuu.......!!!!!!" teriak Leon histeris. Ia menjatuhkan tubuhnya di trotoar jalan. Matanya menatap sendu, pilu penuh penyesalan ke arah langit yang masih hitam.
Andai waktu bisa diputar, mungkin ia akan lebih memilih untuk mendatangi istrinya. Mengajaknya berbicara dan tetap menyayangi nya sembari menunggu hasil tes kesuburan yang mereka lakukan keluar. Ia pasti tak akan gegabah dan menyelidiki Aleta serta anak buahnya terlebih dahulu.............
stop....!
tunggu....!
Leon bangkit dari posisinya. Matanya menatap tajam ke arah depan.
Aleta subur. Kehamilan tidak terjadi bukan karena Aleta tapi karena dirinya...! Kalau begitu, kenapa bisa ada pil KB di tas Aleta..?
Laki laki itu diam sejenak. Otaknya berfikir dengan sangat keras.
Pria itu kemudian bangkit. Ia kemudian berjalan menuju mobilnya tanpa ekspresi. Menatap lurus kedepan dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk di otaknya.
...****************...
Gema subuh berkumandang...
Bertepatan dengan masuknya sebuah mobil hitam mewah milik pria yang sudah beristri dua namun tak juga merasa bahagia itu.
Leon turun dari mobilnya. Kepalanya terangkat. Matanya menatap lurus ke depan. Tajam, namun tersirat setitik kesedihan yang tak bisa ditutupi.
__ADS_1
Leon berjalan lurus tanpa memperdulikan para anak buah yang membungkuk memberi hormat sepanjang ia melangkahkan kaki. Laki laki itu masuk ke dalam rumahnya.
"tuan..." ucap seorang pria berkulit putih sambil membungkuk memberi hormat.
Leon menghentikan pergerakan nya. Ia menoleh ke arah pria itu. Menatap pria muda yang ia percayai sebagai asisten pribadinya, Fathur.
"anda baru pulang?" tanya Fathur basa basi.
Leon menatap datar pria itu.
"siapkan air mandi untukku" ucap Leon tenang dan terkesan dingin.
"baik tuan..." jawab Fathur sopan.
Fathur pun melangkah pergi. Menaiki lantai dua menuju kamar utama sang tuan untuk menyiapkan air mandi bagi pria berusia tiga puluh lima tahun itu.
Leon menatap punggung pria yang kian menjauh darinya itu. Ia diam tak berucap, tak bersuara, dan tak berekspresi.
Leon melangkah kan kakinya mengikuti Fathur dan masuk ke dalam kamar pribadinya itu. Laki laki yang kini tengah diselimuti kabut penyesalan itu lantas menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, kemudian meraih sebuah ponsel yang terletak di atas nakas.
Itu adalah ponsel Aleta yang ia rampas setelah kejadian penyeretan yang ia lakukan di toko bunga milik wanita itu. Kini si pemilik ponsel sudah pergi. Ia hanya bisa menumpahkan kerinduan nya dengan menatap deretan foto foto istri cantiknya itu melalui layar pipih benda canggih tersebut.

Satu minggu Aleta pergi meninggalkan nya. Bagaimana kabar wanita itu dan dimana ia sekarang..? Leon benar benar tak tau.
"kau dimana Aleta....?"
"bolehkah aku memintamu untuk pulang...?aku ingin memeluk mu lagi, sayang...aku rindu.."
"Aleta ....ucapan wanita itu berhasil mengusik pikiranku.... jangan khawatir...aku akan mencari kebenaran itu dengan caraku sendiri.."
"*jika memang suatu saat aku menemukan bukti bahwa semua tuduhan ku padamu itu salah, maka aku bersumpah....aku akan bersujud di kakimu...aku akan berlutut mencium kakimu dan mengucap ribuan kata maaf padamu.."
"tunggu aku Aleta...." batin pria itu sambil mengusap gambar wajah sang istri yang terpampang di layar ponsel di tangannya*.
"tuan ...." ucap seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi itu membuyarkan lamunan Leon. Dilihatnya disana Fathur sudah berdiri di samping Leon.
"air mandi anda sudah siap, tuan...." ucap Fathur.
Leon hanya mengangguk.
__ADS_1
"ada lagi yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Fathur lagi.
Leon menggelengkan kepalanya.
"tidak ada... keluar lah..." ucap Leon tenang dengan sorot mata teduh.
Fathur mengangguk.
"baik tuan.." ucapnya.
Pria itu kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
ceklekk...
daaagh....
Pintu tertutup. Fathur keluar kamar. Mata yang semula teduh itu dalam hitungan detik berubah menjadi tajam. Aura iblis menyeruak dalam dirinya. Ia kembali menatap lurus kearah layar ponsel di tangannya.
Mata itu menajam.
Ucapan Ayu di parkiran kantornya berhasil menampar batin pria itu. Ia bersumpah dalam hatinya. Ia akan bekerja, ia akan mengusut tuntas teka teki ini.
Untuk saat ini, ia akan bekerja sendiri. Ia tak akan melibatkan siapa pun, termasuk Fathur sekalipun. Jika hasil lab itu memang benar. Berarti memang ada yang tidak beres. Ada yang sengaja ingin memisahkan ia dengan Aleta.
Tapi siapa?
Renata?
Jika iya... sepertinya tidak mungkin jika Renata bekerja sendiri..! Apakah mungkin ada orang lain yang bekerja sama dengannya? hingga sampai ada pil KB di tas Aleta dan pengakuan anak buah tentang aktivitas nyeleweng Aleta
Saat ini Leon sedang dalam fase tidak percaya pada siapapun di dunia ini, termasuk orang orang kepercayaan nya sekalipun. Ia akan bergerak sendiri. Ia akan bermain tenang, sambil perlahan menguak sebuah persekongkolan yang sepertinya terlambat ia sadari.
...----------------...
***Selamat sore....
up 15:18
yuk....dukung dulu 🥰🥰
mampir juga di novel author yang lain***
__ADS_1