
Subuh menjelang...
Saat gema subuh berkumandang,
Di dalam kamar milik sang jenderal,
Sarah nampak sudah siap dengan mukenah nya. Wanita paruh baya itu kini tengah menggelar dua sajadah di lantai kamar pribadi nya dengan sang jenderal.
Di tengok nya pria yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu,
Mario nampak berdiri di depan kaca jendela kamar luas itu. Matanya menatap lurus ke arah gerbang di mana seorang pria nampak duduk bersandar di bodi samping sebuah mobil mewah berwarna hitam.
Pria itu nyatanya bersungguh sungguh dengan ucapannya. Ia benar benar menunggu di depan gerbang rumah Mario hanya untuk menunggu Aleta menemui nya dan bersedia pulang dengannya.
Mario menghela nafas panjang,
Sarah mendekat,
"mas..." ucap Sarah.
Mario menoleh...
"sholat subuh dulu..." ucapnya lembut.
Mario tak menjawab. Ia hanya menatap sendu wajah wanita dihadapan nya itu.
"mas....." ucap Sarah lagi.
Mario menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.
"maaf...." ucapnya.
Sarah terdiam.
"maaf untuk apa?" tanya Sarah taj mengerti.
"karena keluarga ku semua jadi seperti ini..." ucap Mario.
"karena bodohnya aku terlalu percaya pada keluarga ku, mereka semua jadi memandang mu dan putri kita sebelah mata...." ucap Mario
__ADS_1
Sarah menunduk. Ia tersenyum.
"kamu kepikiran ucapan Leon tadi?" tanya Sarah.
Mario tak menjawab.
"aku hanya tidak terima dengan ucapan laki laki itu..." ucap Mario.
Sarah tersenyum, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang besar di kamar tersebut.
"semua itu benar mas....aku memang seorang wanita malam... kenapa kamu masih pertahankan aku disini sedangkan aku sudah jelas jelas sangat menjijikkan..." ucap Sarah terlihat sedih.
"apa kamu nggak malu...?" tanya Sarah.
Mario menghela nafas panjang....
"benar kata Leon... aku bekas banyak orang, aku bekas wanita malam yang tidak layak untuk bersanding dengan seorang yang terhormat seperti mu.." ucap Sarah sambil menunduk.
Mario menghela nafas panjang. Ia menatap lurus kedepan dengan sorot mata nanar.
"lalu perempuan seperti apa yang pantas bersanding dengan laki laki laki terhormat?" tanya Mario.
"yang berpendidikan? yang bukan dari kalangan bawah? yang bukan dari kaum yang dianggap kotor dan berlumuran dosa?" tanya Mario.
"apakah semua yang kotor dimata manusia itu juga kotor dimata Tuhan?"
"apa semua manusia di bumi ini tahu, lika liku seperti apa yang menyebabkan seseorang menjadi seorang pendosa?".
"yang terlihat suci dari luar belum tentu suci di dalamnya Sarah..begitupun sebaliknya.... dosa dan pahala itu urusan Tuhan, manusia tidak tau apa apa, dan manusia tidak berhak untuk menghakiminya..."
"sudah suci kah mereka sampai bisa menghakimi dosa dosa orang seperti itu?"
"kita yang tau tentang apa yang terjadi pada keluarga kita...."
"kita yang tau tentang bagaimana kau bisa berada di sana dan menjadi seperti ini..."
"jangan dengarkan orang orang di luar sana, yang terpenting adalah aku menerima mu, apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan mu...! aku tidak peduli seperti apa penilaian mereka...! tidak ada rasa jijik dalam diriku... karena aku tau, siapa kau dan seperti apa kau, lebih dari mereka..." ucap Mario.
"tapi kau seorang jenderal mas....." ucap Sarah.
__ADS_1
"aku tau....! lalu kenapa? jika memang kehidupan pribadi ku yang memiliki istri seorang mantan wanita malam di anggap mencoreng institusi ku...maka aku akan melepaskan jabatan ku...!"
"mas....." ucap Sarah seolah meminta Mario untuk menjaga ucapannya.
"jabatan ini ku dapat tidak terlepas dari doa doa yang kau panjatkan di setiap sujudmu.... jika memang jabatan ini hanya akan menjadi penghalang untuk ku membahagiakan anak dan istriku.. membahagiakan orang yang menemaniku dari nol. maka untuk apa dipertahankan?"
"aku siap kembali menjadi nol, Sarah..."
"aku hanya ingin menjadi seorang laki laki yang bisa menjadi garda terdepan untuk keluarga ku...tidak ada yang lebih penting dari itu...."
"aku pernah berdosa karena membiarkan kalian hidup di lingkup prostitusi selama belasan tahun...dengan kehidupan yang sama sekali tidak pernah kau bayangkan...dan kini aku akan menebus nya...aku akan melindungi kalian dengan sekuat dan semampuku...! persetan dengan jabatan, citra baik dan sejenisnya...! aku hanya ingin membuatmu dan putri kita yang malang bahagia...!" ucap Mario.
Sarah mengembun.
"jabatan hanyalah titipan dari Tuhan, namun kau, kau adalah makhluk pilihanku...wanita yang ku pilih untuk mendampingi ku disaat aku di atas ataupun di bawah....wanita yang selalu mendoakan ku dan membuatku bisa berdiri di titik ini...aku tidak akan menukar mu dengan nama baik..." ucap Mario.
"kita bisa melewati ini Sarah, aku akan membawamu pergi dari negara ini, lupakan semuanya yang ada disini. Kita mulai kehidupan baru, kita pulihkan mental Aleta disana, jauhkan dia dari laki laki itu untuk sementara. Aku tau, laki laki itu memang tak sepenuhnya salah, tetapi untuk menjadi imam bagi putriku, ia masih harus banyak belajar. Belajar menguasai emosinya, belajar menjaga tutur katanya, belajar untuk tidak merendahkan orang hanya dari kasta dan status sosialnya, belajar untuk menilai dirinya sendiri, menghargai orang lain, dan bersikap santun selayaknya manusia yang berakal dan beradap...!"
"aku juga pernah di bohongi oleh orang terdekatku, aku tahu ini bukan sepenuhnya salah Leon...tapi sebagai seorang laki laki... aku mau dia belajar dari kesalahan. Dia terlalu tempramen untuk Aleta yang lemah... dia terlalu labil untuk menghadapi orang orang disekitarnya yang penuh dengan kebusukan..."
"biarkan dia belajar....jika suatu saat Tuhan memang menghendaki dia jodoh putriku...maka setidaknya ia sudah layak dan pantas untuk bersanding dengan Aleta.. menjadi pria yang bisa ku andalkan untuk menyayangi permata ku, melindungi dan tidak membuatnya menangis lagi seperti yang terjadi sekarang...."
"asal kau tau sayang, saat ini aku begitu takut dan khawatir...aku tidak mau Aleta menangis lagi...sudah cukup air mata kalian terbuang karena kebodohan ku dimasa lalu, aku tidak mau hal itu terjadi lagi karena kebodohan Leon, yang lagi lagi terlalu percaya pada orang orang terdekatnya...." ucap Mario seolah menjelaskan semua yang ada dalam benaknya.
Sebagai seorang laki laki ia begitu menyesali akan kebodohan nya. Ia bersumpah dalam dirinya. Apapun akan ia pertaruhkan demi kebahagiaan Sarah dan Aleta. Ia akan memastikan dua wanita itu bahagia di sampingnya. Sudah cukup air mata yang tertumpah, ia tak mau anak dan istrinya menangis lagi. Ia berjanji, selayaknya seorang prajurit, ia akan menjaga dua wanita nya itu dengan segenap jiwa,raga dan upaya. Memastikan dua wanita itu bahagia tanpa ada yang bisa mengusiknya.
...----------------...
Selamat siang....
up 12:47
sebelum nya mohon maaf, seperti yang author tulis di deskripsi awal, cerita ini hanya fiktif belaka, bukan berdasarkan kisah nyata.
Pembaca lama author ini pasti sudah paham, author memang lebih suka mengangkat tentang kisah" pendosa tobat...sisi lain seorang manusia yang pasti ada hitam dan putihnya, ada baik dan buruknya, karena sepertinya se buruk buruknya seorang manusia pasti ada sisi baiknya...
atau tentang orang orang yang di anggap berbeda...
Adela dengan sindrom Trikotilomania ( wanita tanpa mahkota) serta Azizah si tuna wicara (peri bisu dan malaikat berjubah iblis)
__ADS_1
mohon maaf untuk yang kurang berkenan, bukan bermaksud apa apa atau menyinggung pihak manapun, karena ini hanya cerita fiksi belaka...silahkan di skip saja dan di un fav jika memang merasa cerita ini terlalu ngawur dan tidak mendidik😊
...----------------...