Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
75


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit di pusat kota itu....


Di depan sebuah ruangan bertuliskan IGD di atasnya. Laki laki paruh baya yang baru saja kembali menemukan cinta sejatinya itu tak lepas memeluk wanita malang yang lagi lagi kembali sesenggukan dalam dekapannya itu.


Di dalam sana, sang putri yang baru saja pingsan tengah dalam penanganan dokter. Sedangkan di kursi tunggu ruangan itu, Ayu sang sahabat dan Sean sang ajudan juga masih setia menemani sepasang suami istri yang baru saja kembali bersatu setelah sekian lama terpisah.


Sarah kembali sesenggukan dalam dekapan sang jenderal. Ia bahkan tau untuk sekedar duduk di kursi tunggu. Ia memilih untuk tetap berdiri sambil menunggu dokter yang kini memeriksa Aleta keluar dari dalam sana.


"Aleta akan baik baik saja...." ucap Mario setengah berbisik pada Sarah.


"aku hanya punya dia....hiks..." ucap Sarah lagi makin banjir. Jaket hitam yang membalut tubuh tegap itu bahkan kini sangat basah.


Mario terus memeluk wanita itu, memberikan kekuatan pada wanita yang hingga saat ini masih sangat ia sayangi itu.


Waktu terus berjalan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


Setelah cukup lama melakukan pemeriksaan, seorang dokter pria berkumis melintang nampak keluar dari dalam ruang IGD. Sarah dan Mario segera mendekat.


"bagaimana kondisi putri kami, dok?" tanya Mario.


"putri bapak dan ibu sudah sadar. Tapi fisiknya masih sangat lemah. Melihat dari kondisi tubuh putri bapak yang penuh luka, saran saya pak....tolong dijaga putrinya..."


"mohon maaf, tapi sepertinya putri bapak mengalami guncangan mental yang cukup hebat. Membuat kondisinya drop, dan juga faktor kelelahan yang menjadikan kondisi putri bapak dan ibu menjadi lemah seperti saat ini...." ucap sang dokter.


Mario menghela nafas panjang. Sarah masih sesenggukan. Laki laki itu kemudian mengangguk paham kepada sang dokter.


"boleh kamu melihat keadaan putri kami dok?" tanya Mario.


"silahkan pak...."


"terima kasih, dok" ucap sang jenderal.


Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Sean dan Ayu mengikuti keduanya di belakang. Dilihatnya disana, Aleta yang wajahnya masih terlihat memar di beberapa bagian nampak terbaring lemah di ranjang pasien dengan selang infus di tangan nya.


Istri kedua Leonardo Alfindo Ganada itu nampak menatap nanar ke arah samping tanpa menoleh saat suara langkah kaki Mario dan yang lainnya terdengar mendekati ranjang tempatnya terbaring.


"Al...." ucap Sarah begitu lembut.


Aleta menoleh lemas. Ia menatap orang orang yang kini berdiri di samping ranjang nya.


"ibuk....." ucap Aleta lemah.


Sarah menggerakkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang putri yang terlihat memprihatinkan.

__ADS_1


"ibuk ....pulang aja yuk...." ucapnya.


"enggak nak....kamu harus dirawat disini sampai kamu benar benar sembuh...." ucap Sarah


"aku udah nggak apa apa buk ....kita pulang aja... aku nggak mau disini...." ucap Aleta merengek. Satu yang ada dalam pikirannya adalah biaya...! ia tak mau memberatkan sang ibu yang tak punya uang sepeser pun itu.


Mario mendekat. Diraihnya punggung tangan wanita cantik itu dan di usapnya lembut.


"Nak .....kamu harus tetap disini...kamu harus tetap mendapatkan perawatan sampai kamu benar benar sembuh.." ucap Mario lembut.


Aleta menatap heran ke arah Mario.


"tuan? tuan kenapa bisa ada disini..? mas Sean juga?" tanya Aleta pada Mario dan Sean.


Sarah dan Mario saling pandang untuk sejenak. Wanita paruh baya itu lantas tersenyum lembut ke arah sang putri


"nak....ini ayah kamu.... dia ayah kandung kamu....." ucap Sarah kembali meneteskan air matanya.


Aleta menatap Sarah dan Mario secara bergantian.


"ayahku? maksudnya? ibuk....maksudnya gimana?" tanya Aleta bingung.


Mario mendekat. Sarah bergeser membiarkan suaminya untuk mendekati sang putri dan menjelaskan semuanya.


"Sean menemukan ini di depan toko bunga kamu....ini adalah kalung yang pernah papa berikan untuk ibu kamu sebelum papa berangkat bertugas saat kamu masih dalam kandungan. Papa mencoba mencari tahu tentang kamu dan ibumu...sampai pada akhirnya papa berhasil menemukan wisma tempat kalian tinggal selama ini... papa mencari kalian nak... papa ingin bertemu dengan kalian dan sekarang papa berhasil menemukan kalian....kamu anak papa sayang ...kamu putri papa...." ucap Mario sambil meneteskan air matanya.


Aleta masih setengah paham. Ia menoleh ke arah sang ibu dengan sorot mata penuh tanya seolah meminta kepastian atas kebenaran ucapan Mario itu.


"buk ...." ucap Aleta dengan mata mengembun.


Sarah mengangguk.


"iya nak....dia ayah mu yang pernah ibu cerita kan....! kamu punya ayah....! kamu bukan anak haram..." ucap Sarah menangis lagi.


Aleta tak bisa menahan perasaannya. Ia yang masih lemah berusaha untuk bangkit. Mario pun dengan cepat membantunya.


"kamu masih lemah nak...." ucap sang jenderal sambil memapah tubuh Aleta yang ingin duduk.


Tangan berselang infus itu terangkat. Perlahan ia menyentuh wajah sang jenderal dengan mata bengkak nan banjir.


Mario kembali menitikkan air matanya kala kulit wajah yang tak lagi kencang itu di sentuh wanita cantik yang harusnya dulu ia gendong dan ia timang timang semasa kecilnya.


"ini papa nak....panggil papa mu..." ucap Mario.

__ADS_1


Air mata Aleta jatuh tak terbendung. Ia membuka mulutnya namun seolah tak mampu untuk berucap. Tangannya tergerak menyentuh pipi pria yang dulu pernah beberapa kali ia temui itu.


Aleta punya ayah..! sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya akan dipertemukan dengan sosok laki laki gagah ini.


Ia bukan anak haram...! wanita yang terlahir di sarang pelacuuran itu adalah anak terhormat. Anak dari seorang jenderal yang berpengaruh di negara ini.


Aleta anak manusia terhormat...! dia bukan sampah...! dia bukan makhluk rendah....!


Tangis wanita itu pecah tak terkendali. Kedua tangannya tak lepas menyentuh pipi laki laki yang harusnya menjadi cinta pertamanya sejak pertama ia terlahir ke dunia itu.


"panggil papa nak...." ucap Mario lirih.


Aleta makin sesenggukan.


"papa? aku punya papa?" ucap Aleta pilu.


"iya ... iya sayang....kamu punya papa...."


"aku bukan anak haram kan?"


"bukan nak...kamu gadis suci milik papa ...."


"aku bukan anak haram...."


"bukan....kami wanita terhormat ...! kamu anak papa..."


"aku anak papa......"


Mario meraih tubuh itu. Mendekapnya erat sambil menangis hingga tubuhnya bergetar. Ia yang masih bisa bersikap tenang saat bertemu Sarah nyatanya kini tak kuasa lagi menahan tangisannya saat bertemu sang putri.


Wanita yang harus nya ia bahagiakan sejak dulu. Wanita yang harusnya bisa ia peluk sejak pertama kali ia melihat dunia. Nyatanya kini mereka dipertemukan saat usia Aleta sudah sembilan belas tahun hampir menuju dua puluh tahun. Mereka bertemu saat Aleta tengah berada di titik terendah dalam hidupnya. Difitnah, di siksa, dan sia siakan hingga berujung tumbangnya sang anak jenderal yang terbuang.


Mario merasa pilu dan sesak. Dalam hatinya ia bersumpah. Ia berjanji, setelah ini, ia akan menjalankan kewajiban nya yang tertunda. Membahagiakan Aleta semampu yang ia bisa. Memastikan wanita itu selalu bahagia dan menjauhkannya dari orang orang yang hanya bisa menorehkan luka pada hati sang gadis kecil kesayangan nya.


Sarah sesenggukan melihat interaksi itu. Begitu juga Ayu dan Sean yang menjadi saksi perjuangan keluarga kecil itu.


Ruangan itu banjir air mata. Pertemuan satu keluarga yang mengharu kan setelah puluhan tahun mereka terpisah oleh jarak dan waktu.


...----------------...


***Selamat pagi


up 05:23

__ADS_1


yuk.... dukungan dulu 🥰😘😘***


__ADS_2