
Leon👇
14:30
Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah cafe mahal di kota itu.
Dengan langkah kaki yang sedikit terburu buru ia mengayunkan kaki nya menuju ke dalam bangunan yang nampak ramai di datangi para pengunjung itu.
"****.....!!" umpat Leon kesal.
Matanya langsung tertuju pada sebuah panggung rendah di cafe itu, dimana di sana nampak beberapa orang tengah sibuk mengemasi beberapa alat musik, pertanda sebuah pertunjukan seni suara itu baru saja selesai di gelar disana.
Leon berdecak kesal. Ia terlambat ..!
Laki laki itu menghela nafas panjang sambil berkacak pinggang. Ada sedikit penyesalan dibenaknya, harusnya ia datang lebih awal agar tak terjebak macet. Sekarang jadi ketinggalan kan??
Duda empat puluh tahun itu nampak berjalan menuju salah satu bangku kosong disana. Dengan rasa kecewa yang masih ia rasakan, pria itu nampak mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi dengan dengan mata yang masih menatap penuh penyesalan ke arah panggung rendah itu.
"permisi......" ucap seorang pelayan wanita disana.
"silahkan tuan, mau pesan apa?" ucap sang pelayan sambil menyerahkan sebuah buku menu kepada pria berjambang cukup lebat itu.
Leon meraih buku menu tersebut dan nampak memilih milih sejenak beberapa menu makanan yang tertera di sana
"saya pesan ini satu ..sama minumnya yang ini....trus tolong bungkusin dua ya ...menu yang sama...." ucap Leon.
"baik tuan ..." jawab sang pelayan sambil meriah kembali buku menu di tangan Leon.
"oh ..ya...itu yang tadi perform.... udah lama selesai nya?" tanya Leon sambil menunjuk ke arah panggung rendah disana.
"belum lama tuan, artisnya bahkan masih di ruang ganti...." ucap si pelayan.
"oh...." ucap Leon sambil mengangguk paham.
Sang pelayan memilih untuk undur diri.
Leon pun menunggu di mejanya sambil memainkan ponsel ditangannya. Melihat lihat beberapa jadwal kegiatan bansos dan pesan pesan dari grub WhatsApp yang nampak riuh membahas acara berbasis amal yang akan di selenggarakan seminggu lagi itu.
Oh....mungkin ini acara bansos yang dimaksud Bayu tadi. Pikir Leon.
Leon memang menjadi anggota aktif sebuah perkumpulan yang bergerak di bidang kemanusiaan itu. Segala bentuk kegiatan positif ia ikuti, yah.....itung itung cari hiburan dan kesibukan, agar tak melulu berkutat dengan laptop dan seabrek pekerjaan yang seolah tak ada habisnya itu.
Leon masih sibuk dengan ponselnya, tiba tiba....
Suara riuh terdengar. Beberapa pengunjung kafe nampak bangkit dari posisi duduknya, mengerubungi dua orang manusia yang nampak turun dari lantai dua kafe yang merupakan ruangan khusus manajer kafe dan ruang ganti sejumlah pengisi acara yang biasa manggung di tempat tersebut.
Leon menatap ke arah kerumunan itu. Sebuah senyuman tipis terbentuk dari bibir merahnya melihat sekumpulan manusia yang sibuk minta foto dan tanda tangan seorang penyanyi pendatang baru yang kini namanya mulai melambung di kalangan remaja dan anak muda itu.
Leon hanya memperhatikan dari kejauhan. Ia yang sebenarnya datang juga untuk melihat penampilan penyanyi itu di atas panggung nyatanya tak berniat untuk bangkit dan mendekati sang artis. Ia lebih memilih duduk di tempatnya sambil mengamati pergerakan si artis.
Cukup lama penyanyi itu dikerubungi masa, si artis juga terlihat sangat ramah dan sabar dalam menghadapi para penggemar nya yang nampak saling berebutan ingin minta foto dengannya itu.
Setelah selesai, si artis yang nampak di kawal seorang bodiguard berbadan tegap itupun memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Leon tak bergerak. Lagi lagi ia hanya mengamati manusia idola baru para anak muda itu dari tempat duduknya hingga si artis hilang di balik pintu kafe.
...****************...
Kurang lebih satu jam berada di kafe,
Leon pun selesai dengan aktifitas makan siangnya yang tertunda itu. Dengan satu kantong kresek berwarna putih berisi dua box makanan di tangannya, Leon bergegas masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan kendaraan roda empat itu menuju sebuah tempat yang kini sangat sering ia kunjungi.
Setengah jam perjalanan,
__ADS_1
Mobil itu nampak memasuki sebuah gang sempit di pinggiran kota. Mobil mewah itu kemudian berhenti di sebuah rumah kecil yang letaknya bersebelahan dengan sebuah Mushola yang juga tak terlalu besar di kawasan perkampungan kumuh padat penduduk itu.
Leon keluar dari dalam mobilnya, ia lantas turun dan mendekati rumah petak sempit ber cat hijau tersebut.
"assalamualaikum...." ucap pria tinggi besar itu.
"wa alaikum salam...." jawab seorang bocah wanita berpenampilan kumel berusia empat tahun yang nampak tengah bermain di depan pintu rumah tersebut.
Leon tersenyum menatap sang bocah. Gadis kecil yang melihat kedatangan Leon itu pun langsung menunjukkan binar bahagia.
"kakaaaakk.....!! kakaaakkk ada om brewok....!!!" ucap gadis lusuh itu setengah teriak.
Seorang bocah laki laki berusia sepuluh tahun keluar dari dalam rumah.
"tuan...." ucap si bocah laki laki itu.
Leon tersenyum hangat.
"adek...! bangun atuh.....salim dulu..." ucap si bocah laki laki yang ternyata kakak kandung si bocah perempuan tersebut.
Gadis kecil itupun bangkit. Ia dan kakaknya lantas mendekati Leon, meraih punggung tangan pria itu dan menciumnya.
"eeemmmhh.....emmmhhh..... om brewok selalu wangi...ampe tangan tangannya juga ikut wangi..." ucap gadis kecil itu
Leon tersenyum lembut.
"kalian lagi ngapain ini? udah makan?" tanya Leon.
"belum om....laper...." ucap gadis itu polos.
"Ahsa....!" tegur bocah laki laki itu sambil menggelengkan kepalanya seolah meminta sang adik untuk diam dan tak mengadukan pada Leon bahwa mereka terakhir makan adalah kemarin sore.
Leon tersenyum.
"nggak apa apa...nih...om bawa makanan buat kalian, kalian makan ya....." ucap Leon sambil mengangkat kresek putih ditangannya.
Sang kakak yang diketahui bernama Alka itu ikut tersenyum.
"mari masuk om...." ucap Alka pada Leon.
Pria itu mengangguk. Ia kemudian mencopot sepatu mengkilapnya, lalu masuk kedalam rumah sempit berlantai keramik putih yang sebagian terlihat retak itu
Leon dan Ahsa duduk di atas sebuah tikar lusuh. Ahsa yang sepertinya sudah sangat kelaparan itu pun dengan segera meraih kantong kresek itu dan membuka satu box makanan yang berada di dalamnya.
"Ahsa...yang sopan...!" ucap Alka yang nampak keluar dari satu satunya kamar di rumah itu sambil membawa peralatan semir sepatu. Bocah sepuluh tahun itu lantas mendekati pintu utama rumah tersebut, duduk bersila di sana lalu meraih sepatu Leon dan mulai menyemir nya dengan telaten.
"Alka....nanti saja sepatunya, makan dulu...." ucap Leon.
"kerja dulu baru menikmati upah, tuan...." ucap bocah sepuluh tahun tersebut.
Leon hanya menghela nafas panjang, ia diam memperhatikan dua bocah itu.
Ya..... Al-Kautsar Hamdan dan Ahsani Taqwim namanya. Biasa di panggil Alka dan Ahsa.
Dua bocah yatim piatu yang ditinggal mati kedua orang tuanya dua tahun yang lalu.
Leon bertemu dengan kedua bocah itu saat Alka sang kakak tengah bekerja sebagai tukang semir sepatu kala itu. Leon yang melihat bocah sekecil itu bekerja sambil membawa adiknya pun terketuk pintu hatinya.
Ia mulai mendekati dua bocah itu. Melakukan perkenalan dan mulai sering mengunjungi dua bocah itu saat setelah jam makan siang tiba. Leon selalu membawakan sesuatu untuk dua bocah itu jika berkunjung ke rumah mereka. Entah itu makanan, pakaian, atau mainan.
Mereka selalu menerima nya dengan senang hati. Apa lagi si kecil Ahsa. Ia yang hidup memprihatinkan dengan hanya mengandalkan hasil kerja sang kakak yang tak seberapa itu selalu bahagia tiap kali pria tampan kaya raya itu datang ke rumahnya.
Sedangkan Alka, bocah sepuluh tahun yang seolah dipaksa dewasa sebelum waktunya itu pasti memilih untuk menyemir sepatu Leon dulu sebelum menerima barang pemberian Leon.
Alka seolah tak mau menerima semua pemberian laki laki itu dengan cuma cuma tanpa mengerjakan suatu pekerjaan.
__ADS_1
Leon hanya bisa pasrah saja, terserah, yang penting bocah yang kini menjadi tulang punggung keluarga itu mau menerima hadiah pemberian darinya.
Tak lama Alka menyemir sepatu Leon...
"selesai tuan..." ucap Alka.
"sudah? ya sudah makanlah...." ucap Leon.
"iya tuan...." jawab Alka.
Bocah itupun masuk ke dalam dapur rumah nya, mencuci tangan lalu kembali ke ruang tamu dan duduk di karpet yang sama dengan Leon dan Ahsa.
Makanan Ahsa sudah hampir habis, sedangkan Alka baru saja mau menyantap makanan nya.
Leon tersenyum melihat dua kakak beradik itu. Ia seperti pria dengan dua anak sekarang.
Aksi makan siang yang tertunda itupun terus berlanjut, hingga.......
.
.
Allahu Akbar.... Allahu Akbar......
Gema adzan Ashar berkumandang.
"Alhamdulillah....." ucap Ahsa saat mendengar suara panggilan sholat yang menggema dari toa mushola di samping rumahnya itu.
"Ahsa....cuci tangan dulu...trus wudhu....ke mushola ya...sekalian ngaji...." ucap Alka.
"iya kak....." ucap Ahsa.
Ahsa menoleh ke arah Leon.
"om....om brewok nggak mau sholat bareng?" tanya Ahsa.
Leon tersenyum.
"om sholat di rumah saja...." ucap Leon.
Ahsa menghela nafas panjang lalu bangkit sambil membawa box makanan yang sudah kosong itu.
"om....om....padahal udah ada mushola...pahalanya lebih gede...masa malah mau solat di rumah....." ucap Ahsa sambil berjalan meninggalkan dua pria beda usia itu.
Leon hanya tertawa lucu.
"maafin Ahsa ya om..." ucap Alka.
"iya...nggak apa apa...." jawab Leon.
Alka pun melanjutkan makannya.
Ya....Leon memang sudah menjadi pria yang jauh lebih baik dan terus belajar menjadi lebih baik lagi sekarang. Namun ada satu hal yang belum pernah ia lakukan.....
Sholat...!
Kenapa?
Leon merasa malu. Ia merasa terlalu kotor untuk sekedar bersimpuh dan menyembah sang Maha Sempurna dan Pemberi Kehidupan itu.
Ia merasa, dirinya tak pantas bahkan untuk sekedar meminta ampun dan menyebut nama Sang Pemilik Jagat Raya.
Entahlah ....
Ia memilih untuk tak pernah masuk ke dalam tempat ibadah yang suci itu. Ia lebih memilih berbuat baik dengan cara menolong orang lain dan membantu sesama yang membutuhkan.
__ADS_1
Mungkin ia belum siap, atau lebih tepatnya, merasa belum pantas untuk masuk ke dalam rumah suci itu dan bersimpuh di hadapan Dzat yang Maha Agung itu.
...----------------...