
Malam menjelang di sebuah rumah sakit besar di kota itu.....
Wanita yang saat ini masih dalam pemulihan di rumah sakit itu kini tengah duduk bersandar di atas ranjang pasien tempatnya dirawat. Wajah ayunya nampak berbinar. Senyuman tak pernah luntur dari wajah ayunya.
Sebuah ponsel keluaran terbaru kini berada di tangannya. Sang ayah yang baru saja datang kembali ke rumah sakit itu rupanya membelikan ponsel untuk nya sebagai hadiah. Bukan hanya Aleta, tapi juga untuk Sarah, sang ibu.
Mario tersenyum melihat raut wajah sumringah yang Aleta tampilkan. Pria itu benar benar memanjakan Aleta dan Sarah. Ia benar benar ingin menebus semua luka dan air mata yang sudah terlanjur tumpah selama mereka terpisah.
"kamu suka..?" tanya Mario.
Aleta mengangguk bahagia.
"makasih pa....." ucap Aleta.
Mario hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepala sang putri.
Sarah tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
"sayang....." ucap Mario.
"ya...." jawab Aleta.
"papa boleh tanya sesuatu?" tanya Mario.
Aleta menatap sang ayah.
"ibu kamu sudah menceritakan semuanya tentang kamu dan suami kamu ke papa. Tentang pernikahan kalian, perlakuan suamimu, perlakuan mertua dan madu mu, sampai kekerasan yang melibatkan Sean dan berakhir dengan masuknya kamu ke rumah sakit ini."
Aleta diam mendengarkan. Namun sangat jelas terlihat, senyuman sumringah yang semula di tampilkan nya perlahan nampak mulai memudar.
"nak....kalau papa boleh jujur, sebagai seorang ayah papa nggak terima. Papa bisa memenjarakan laki laki itu dan para antek anteknya. Karena papa punya bukti, papa tau bahwa selama ini ada mertua, madu mu dan para anak buah suamimu yang berusaha mencelakai mu dan menjauhkan mu dari laki laki itu"
"mulai dari kau dilempar telur busuk, kau dan ibumu hampir di tabrak mobil, sampai aksi penyeretan dan pemaksaan yang suamimu lakukan padamu di toko bunga beberapa hari lalu...."
"papa tau semuanya...! dan papa sakit hati melihatnya..." ucap Mario dengan sorot mata nanar menatap Aleta yang kini mulai mengembun.
"mereka adalah sekelompok iblis nak....papa nggak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya kamu di sana selama ini..." ucap Mario pilu.
"papa bisa tau semua dari mana?" tanya Aleta.
Mario tersenyum.
"apa kau lupa kau sekarang anak seorang jenderal?" ucapnya sambil mencubit ringan pipi sang putri membuat Aleta terkekeh di sela dukanya.
"nak....sekarang kamu sudah bebas dari laki laki itu." ucap Mario lagi.
"sekarang bilang sama papa....kamu mau apa? apa yang harus papa lakukan pada suami kamu untuk membalas semua perbuatan nya sama kamu?" tanya Mario memberikan pilihan.
Aleta masih diam.
"apa kamu mau papa membongkar aksi perjudian yang sering dia lakukan? atau menggrebek dia saat dia sedang berjudi? atau melaporkannya dan anak buahnya atas kasus KDRT yang sudah dia lakukan ke kamu? katakan sama papa... papa akan melakukan nya untuk kamu..." ucap Mario.
Aleta tak bergeming. Entah bagaimana perasaan nya. Luka itu masih terlalu perih untuknya. Leon memang sangat jahat padanya. Tapi bukankah lebih jahat lagi Renata, Mayang dan lain lainnya. Mereka bersandiwara di belakang Leon seolah menjadi orang yang paling menyayangi Leon, tapi pada kenyataannya, mereka lah serigala berbulu domba.
Benar, Leon memang salah sudah berlaku kasar pada Aleta. Namun bukankah Leon berbuat seperti itu juga lantaran ulah dan fitnah dari sekumpulan manusia berhati iblis itu bukan?
Pria itu sudah mau perlahan berjalan ke arah yang lebih baik. Ia mau ikut masjid dan beribadah disana kala itu. Ia juga perlahan mulai berhenti dari aktifitas main perempuan nya.
Ia berubah bengis karena fitnah. Ia berubah bengis karena trauma yang ia alami akibat pengkhianatan yang selalu singgah dalam hidupnya. Ia terlalu takut jika Aleta yang sudah terlanjur ia sayangi melakukan hal yang sama seperti apa yang Mayang dulu lakukan padanya.
Aleta masih sibuk dengan pikirannya. Sepertinya ia tak sampai hati untuk menjebloskan laki laki itu ke penjara.
__ADS_1
Ia masih punya hati meskipun suaminya adalah iblis.
"bagaimana sayang....?" tanya Mario.
Aleta menatap ke arah sang papa.
"pa....." ucap Aleta.
"iya..."
"jangan jeblosin dia ke penjara" ucap Aleta lirih membuat Mario terdiam.
"kenapa?" tanya Mario.
"ini cuma salah paham... biarin aja...!" ucap Aleta lagi membuat Mario tak mengerti.
"aku cuma mau menjauh aja dari mereka... yang penting sekarang aku udah punya papa... aku cuma mau pergi dari kehidupan dia... aku nggak mau ketemu dia dan keluarganya lagi. Selebihnya biar tangan Tuhan yang bekerja..." ucap Aleta dengan mata mengembun.
Mario terdiam.
"tapi dia sudah membuatmu seperti ini nak...." ucao Mario.
"dia akan dapat balasan yang lebih dari ini pa...." ucap Aleta
"Tuhan tau apa balasan yang tepat untuk orang yang berlaku jahat pada sesama manusia.." ucap Aleta lagi.
Mario menatap sendu wanita itu. Di angkatnya tangan kekar miliknya. Ia mengusap wajah wanita itu lembut penuh kasih sayang.
"nak... kamu benar benar putri papa yang berhati malaikat... ibu kamu berhasil mendidik mu menjadi wanita berhati suci meskipun kalian hidup dan tinggal di lingkungan yang kotor..." ucap Mario lagi.
Aleta hanya tersenyum.
"papa janji....Leon tidak akan pernah bisa menemukan kamu...dan papa janji... setelah kamu benar benar pulih...papa akan membawa kamu ke luar negeri...kamu bisa tinggal disana bersama ibu kamu dan melupakan semua masa lalu kamu disini..."
"kita mulai kehidupan yang baru....kita lupakan semua kisah pilu kita di kota ini, dan kita bangun dari awal.. keluarga kecil yang indah, keluarga kecil yang ceria.... tanpa ada yang bisa mengusik kehidupan kita lagi...." ucap Mario sambil menatap Aleta dan Sarah yang berdiri di samping mereka secara bergantian.
"kalian mau?" tanyanya lagi.
Sarah dan Aleta mengangguk. Mario tersenyum. Ia merentangkan kedua tangannya memeluk istri dan anaknya itu dengan hangat. Kebahagiaan itu benar benar datang menghampiri mereka sekarang. Keluarga kecil yang terpecah itu kini kembali utuh. Mario berjanji, ia akan membahagiakan dua wanita istimewa itu semampu dan sebisa nya.
...****************...
21:00
Aleta sudah terlelap di ranjang....
Sepasang suami istri yang lama terpisah itu kini nampak duduk bersama di sofa panjang ruang rawat inap rumah sakit besar itu.
Mario nampak merengkuh pundak istrinya yang kini menyandarkan kepalanya di pundak kokoh sang jenderal.
"mas...." ucap Sarah.
"apa..?" tanya Mario.
"kamu yakin akan membawa aku dan Aleta ke luar negeri setelah ini?"tanya Sarah.
"kenapa tidak? apa kamu keberatan?" tanya Mario.
"enggak....cuma aku takut aja ..."
"takut apa....?"
__ADS_1
"aku takut kalau Leon berhasil menemukan kita... anak buahnya banyak mas..." ucap Sarah.
Mario terkekeh.
"suamimu ini bukan orang sembarangan Sarah...aku sudah mengatur semuanya. Dia tidak akan bisa menemukan kita disini..." ucap Mario.
Mario mengeratkan pelukannya pada wanita itu. Ia menghirup aroma pucuk kepala sang istri lalu mengecupnya lembut.
"aku terlambat membahagiakan kalian...andai dulu aku tidak langsung percaya pada ucapan kedua orang tuaku...mungkin semuanya tidak akan seperti ini" ucap Mario.
"udahlah ...semua sudah terjadi... kedua orang tua kamu sudah tenang di alam sana...kita hanya perlu mendoakan mereka, semoga Tuhan mengampuni segala dosa dosa mereka..." ucap Sarah.
"nanti, sebelum kita berangkat ke luar negeri, kita ziarah dulu ya....kita doakan kedua orang tuamu..." ucap Sarah.
Mario tersenyum. Satu tangannya tergerak menyentuh dagu si lili putih.
"ternyata sifat pemaaf Aleta adalah warisan dari ibunya... aku memang tidak salah pilih...dan tidak salah mengambil keputusan untuk tetap setia meskipun dulu aku mengira kau sudah tiada..." ucap Mario lagi.
Sarah hanya tersenyum. Sang jenderal makin mengeratkan pelukannya pada Sarah. Ia beruntung punya istri sebaik wanita itu.
Keduanya pun masih saling memeluk satu sama lain, lalu...
"eh... sebentar..." ucap Mario melepaskan pelukannya.
"ada apa?"tanya Sarah.
"Sean masih di luar...aku akan menemui dia dulu..." ucap Mario.
Sarah mengangguk.
Mario pun bangkit dan keluar dari ruangan itu. Mendekati Sean yang masih setia menunggu di depan pintu kamar rawat inap Aleta.
"Sean...." ucap Mario.
"siap jenderal.." ucap Sean.
"sudah malam...kau pulang lah dan istirahat..."
"siap jenderal." ucap Sean lagi.
"oh ya ...kau sudah pastikan identitas Aleta di rumah sakit ini aman?" tanya Sean.
"sudah jenderal... saya pastikan Leon tidak akan bisa menemukan nona Aleta di rumah sakit ini.."
"bagus....kalau begitu pulanglah...ini sudah malam..." ucap Mario.
Sean patuh. Ia pun segera berpamitan pada atasannya itu, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Mario menatap punggung Sean yang perlahan mulai mengecil menjauh dari pandangan.
"Leon... kau terlalu bodoh sebagai seorang laki laki. Kau sudah menoreh luka yang teramat dalam untuk putriku...dan luka itu juga aku rasakan sebagai ayahnya...aku tidak akan tinggal diam nak....jika sanksi pidana tidak bisa menjerat mu...maka sanksi sosial akan ku berikan untukmu dan para kloni mu..! akan ku pastikan kau jatuh ke dasar paling rendah di bumi ini, hingga tidak ada lagi yang bisa kau banggakan dan kau sombong kan...agar kau tau bagaimana rasanya menjadi Aleta yang selalu kau hina dan kau rendahkan..." batin Mario berucap.
...----------------...
***Selamat pagi...
up 06:00
yuk dukungan dulu....
mampir juga kesini***
__ADS_1