
"halo sayang, apa benar yang diberitakan oleh beberapa stasiun televisi jika ka Gaga bunuh diri?" tanya Damar dengan suara parau
"benar sayang, sekarang aku sedang menemuinya dirumah sakit" jawab Lulu
Deg!!!, jantungnya seperti berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Lulu.
Tubuhnya lemas dan terduduk dilantai, tak terasa matanya mulai berembun dan membasahi pipinya.
"kaka!!, kenapa kau pergi meninggalkan aku disaat aku mulai menyayangimu" batin Damar
"kenapa kau lakukan semua ini untukku" kata Damar dalam hati
**********
Lulu masih memeluk jenazah Ganendra ketika Damar tiba diruang perawatan Ganendra.
Lulu segera melepaskan pelukannya ketika mendengar suara langkah kaki mendekati ruang perawatan itu.
Ia menoleh kearah pintu, netranya terhenti ketika menatap seorang yang begitu ia kenal.
"sayang!!, kamu sudah pulang" kata Lulu
Damar berjalan mendekati Ganendra yang masih terbaring diranjangnya.
Ia kemudian memeluk tubuh kakaknya.
"tubuhnya masih hangat!!" batin Damar
Ia kemudian mencoba mengecek denyut nadinya.
"tidak mungkin!!" batin Damar
"sayang bisa minta tolong panggilkan dokter ?" pinta Damar
Lulu segera bergegas keluar untuk memanggil dokter.
"kaka, kau tak perlu melakukan semua ini, aku sangat sayang padamu ka" bisik Damar
"kenapa Lulu lama sekali" kata Damar
"aku harus segera memanggil dokter, aku yakin nyawanya masih bisa tertolong" kata Damar
Baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada tangan yang menahannya.
Ia membalikan tubuhnya, dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Lulu datang bersama seorang dokter yang menangani Ganendra.
"kenapa lama sekali?" tanya Damar
"dokternya lagi ngobrol sama paman Danar tadi" kata Lulu
"siapa yang memasang infus lagi!!" teriak dokter Lambang marah
"saya dok, karena tadi saya memeriksanya dan tubuhnya masih hangat, jadi aku fikir dia belum meninggal" kata Damar Langit
"dasar sok tahu " kata Lambang sambil melepaskan semua infus yang melekat kepadanya
"mau dibawa kemana dia?" tanya Damar Langit
"dia akan dibawa keruang dimandikan dan dikafani" kata dokter Lambang sambil mendorong brankar itu keluar
__ADS_1
"tunggu kau tidak boleh membawanya!!, dia masih hidup!!!" teriak Damar
"dia masih hidup !!" teriak Damar sambil berusaha menghentikan dokter Lambang
Lulu segera menghentikan Damar dan menenangkannya.
"sudahlah sayang, ikhlaskan saja ka Gaga, jangan memperberat jalannya lagi! " kata Lulu sambil memeluk Damar
Damar hanya pasrah karena Lulu menahannya.
"sebenarnya ada apa ini?" tanya Damar dalam hati
Damar dan Lulu kemudian bergegas keluar dari rumah sakit, mereka melihat paman Danar Gumilang yang sedang mengecek ambulance yang akan membawa jenazah Ganendra.
" yang mulia, kenapa anda ada di sini, bukannya anda seharusnya berada di Jepang?" tanya Danar Gumilang
"benar-benar aneh, bukannya ia yang kemarin memintaku pulang karena Lulu kecelakaan!" batin Damar
"bukannya paman yang memintaku untuk segera pulang kemarin?" Damar balik bertanya
" kau jangan bercanda yang mulia, aku bahkan belum membuka ponselku dari kemarin" jawab Danar Gumilang
"lalu kalau bukan paman Danar siapa yang menelponku" batin Damar
Ia kemudian mengecek ponselnya, dan mencari nomor yang menghubunginya kemarin
"tapi benar ini nomor paman Danar!!" gumam Damar
Ia kemudian mencoba menghubungi kembali nomor itu.
"kenapa ponsel Paman Danar tidak berbunyi" batin Damar curiga
🎶lihat aku sayang yang sedang berjuang 🎶
Terdengar bunyi nada dering ponsel dokter Lambang yang membuat Damar semakin curiga.
Dokter Lambang kemudian mengangkat ponselnya.
"halo sayang....." kata dokter Lambang yang kemudian menjauh dari tempat itu
Damar terkejut karena panggilannya direject.
"siapa dokter itu!!" batin Damar Langit
"paman aku akan ikut mobil ambulance untuk menemani kaka" kata Damar
"kenapa kau tidak ikut kedalam mobilku saja" jawab Danar Gumilang
"tidak paman, aku akan menemani kaka" kata Damar yang kemudian masuk kedalam ambulance
"anda tidak boleh masuk yang mulia!!" kata dua orang perawat
"kenapa, siapa yang melarang ku masuk!!" hardik Damar Langit
"aku yang menyuruhnya!!!, karena kaulah anaku jadi seperti ini!!" bentak Arkadewi yang berdiri di belakang Damar bersama Panji Aryowinangun
"sudahlah dinda, biarkan Damar menemani kakaknya" ucap Panji Aryowinangun
"tidak!!, aku tidak mengizinkannya!!, pergi kau!!" usir Arkadewi
Melihat kejadian itu Lulu segera menarik lengan suaminya.
__ADS_1
"sudahlah sayang, kita naik mobil Tam-tam saja ya, nanti kalau kita sudah sampai di istana, kita juga masih bisa melihat jenazah nya" ucap Lulu menghibur Damar Langit
Damar hanya pasrah dan mengikuti Lulu naik kedalam mobil Tama, yang sudah menunggunya disana.
Sedangkan Arkadewi dan Panji Aryowinangun masuk kedalam mobil Danar Gumilang.
Kemudian mobil ambulance pun melesat meninggalkan rumah sakit diikuti oleh mobil Tama dan Danar Gumilang.
Di istana tampak ribuan karangan bunga dan ucapan duka cita membanjiri istana. Semua abdi dalem keraton tampak sibuk mempersiapkan upacara penyambutan jenazah Ganendra dan persiapan pemakamannya.
Sesampainya di istana para abdi dalem keraton segera membawa jenazah Ganendra menuju aula utama kerajaan. Damar segera berlari karena penasaran dengan jenazah Ganendra.
Ia berusaha mendekati peti jenazah itu dan mencoba membukanya.
"apa yang lakukan yang mulia!" tanya Danar Gumilang yang curiga dengan gerak-gerik Damar Langit
"aku cuma ingin memastikan dia sudah meninggal atau belum, karena tadi aku melihat sendiri kaka sempat menggerakkan lengannya!" kata Damar yang begitu emosional
"kau mungkin hanya berhalusinasi yang mulia" jawab Danar Gumilang
"tidak mungkin paman, aku masih waras untuk berhalusinasi!" ucap Damar Langit
"baiklah, mari kita buka petinya, apakah ucapan mu itu dapat dipercaya atau tidak" kata Danar Gumilang sambil berjalan mendekati peti jenazah Ganendra
***krieeet!!!
Danar Gumilang membuka peti itu perlahan.
Ia kemudian mengecek mayat yang sudah dikafani itu.
"kau bisa mengecek sendiri yang mulia, agar kau tidak penasaran lagi" ucap Danar Gumilang
Damar Langit segera mengecek suhu tubuh Ganendra yang mulai dingin dan denyut nadinya sudah tidak ada lagi.
"benar-benar tidak bisa dipercaya!" kata Damar Langit terkulai lemas disamping jenazah Ganendra
"menyingkir kau dari jenazah putraku!!" teriak Arkadewi
"kau tak perlu pura-pura peduli atau bersimpati dengannya!!, aku sudah muak melihat wajahmu, pergi kau dari sini!!!" hardik Arkadewi
Damar segera beringsut pergi menjauh dari ruangan itu, Danar Gumilang kemudian menyusulnya.
"aku tahu perasaan mu yang mulia, sudahlah ikhlaskan saja dia, aku yakin ia melakukan semua ini dengan penuh pertimbangan, jangan sia-sia pengorbanannya, jadilah Damar yang kuat, Damar yang akan menjadi raja Keraton Arjowinangun yang sangat disegani di negeri ini" ucap Danar Gumilang sambil memeluk keponakannya itu
**********
Arkadewi masih duduk bersimpuh disamping pusara Ganendra, ia begitu terpukul dengan kepergian putra semata wayangnya.
"kenapa kau melakukan semua ini nak, apa kau ingin menghukum ibumu ini" kata Arkadewi lirih
"kenapa kau begitu keras kepala seperti diriku!!, aku tidak bisa hidup tanpamu nak" kata Arkadewi yang terus terisak
Ia kemudian jatuh terkulai disamping makam putranya, melihat Arkadewi yang pingsan disamping makam Ganendra, Panji Aryowinangun segera menggendongnya menuju ke paviliun Arkadewi yang tidak jauh dari area pemakaman.
Arkadewi yang baru siuman langsung berteriak histeris, membuat Danar dan Panji Aryowinangun segera menghampirinya.
Arkadewi berlari kearah arah dapur dan mengambil pisau, ia mencoba melakukan bunuh diri. Beruntung Danar Gumilang berhasil mencegahnya.
"biarkan aku mati Danar!!!, aku akan menyusul putraku!!" teriak Arkadewi
"aku tidak bisa hidup tanpa putraku Danar!!, lepaskan aku!! " kata Arkadewi yang terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari Danar Gumilang
__ADS_1