ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 95 # Pilihan yang sulit


__ADS_3

Danar kemudian membawa pria muda itu masuk kedalam ruangannya. Bukannya untuk menguhukumnya atau memakinya, ia justru mengajaknya berbicara.


Danar hanya manggut-manggut mendengar penuturan dari pemuda itu.


"iya sekarang aku tahu kenapa kalian menuntut Damar untuk mundur, itu karena kalian menganggap Ganendra lebih dewasa, bijaksana dan lebih segalanya daripada Damar bukan. Memang semua itu benar tapi, adakalanya apa yang kita anggap terbaik dan paling pantas justru bukanlah yang terbaik untuk kita. Karena Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk umatnya, jadi apabila memang semuanya ingin Ganendra menjadi putra mahkota tapi gagal jangan salahkan kami, karena semua itu tidak akan terjadi tanpa campur tangan dari yang Maha Kuasa. Begitu juga kami sangat menginginkan Damar untuk jadi putra mahkota tapi jika Tuhan berkehendak lain, tentulah kami juga harus ikhlas jika orang lain yang akan menggantikan posisinya. Jadi kita ikuti saja prosesnys, aku yakin siapapun yang akan menjadi putra mahkota dialah yang terbaik yang akan memimpin kota Jogjakarta ini" kata Danar Gumilang


Danar kemudian melepaskan pemuda itu dan membiarkannya pergi.


**********


"jadi begitulah kang mas, sepertinya sekarang mereka lebih bermain pada figur dan karakter bukan fisik lagi" kata Danar Gumilang melaporkan kejadian hari ini


"baiklah aku mengerti dimas, memang Ganendra lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Damar, wajar saja bila mereka menggunakan semua ini untuk menjatuhkan Damar. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu Damar juga pasti bisa berubah" jawab Panji Aryowinangun


*********


Hari ini Damar terlihat murung, entah apa yang membuatnya tidak bersemangat.


"kamu kenapa sayang kok tumben diem aja" kata Lulu sambil menggandeng tangannya


"tidak apa-apa, aku biasa aja" jawab Damar


"hmm, jangan bohong sayang, ingat bohong dosa loh" kata Lulu menggodanya


"sayang seandainya nanti aku jadi orang biasa dan bukan pangeran lagi apa kamu masih mau hidup bersama ku?" tanya Damar


"oalah kok pertanyaan kaya gitu sih, ya aku tetap akan setia mendampingi kamulah. Apapun yang akan terjadi denganmu, aku akan selalu mendukungmu. Percayalah aku akan terus berada di sisimu sampai maut memisahkan kita" kata Lulu


"apa kau yakin?" tanyanya lagi


"kau pasti masih memikirkan pendemo tadi pagi ya, sudahlah tidak usah difikirkan. Ingat ya sayang, aku suka kamu bukan karena kau seorang pangeran, tapi aku sayang kamu karena perhatianmu padaku dan karena aku menyukai semua yang ada sama kamu sayang. Walaupun nanti kita akan diusir dari istanapun Insya Allah hatiku tidak akan berubah padamu" jawab Lulu


"terima kasih sayang, aku cuma butuh penyemangat saat ini" kata Damar sambil menggenggam erat tangan Lulu


"aku harus gimana biar kamu semangat?" tanya Lulu


"cium" perintah Damar


*cup!!


Lulu mencium pipi Damar.


"bukan disitu tapi disini" kata Damar menunjuk bibirnya


"mulai nih..inget ini sekolah bukan di rumah" kata Lulu


"yaudah peluk aja" kata Damar

__ADS_1


Lulu langsung memeluk Damar dengan erat.


"I love you Lulu sayang" bisik Damar


"I love you too Damar my prince" balas Lulu


"semangat ya sayang !!!" kata Lulu sambil melepaskan pelukannya


"iya, makasih ya sayang, kamu juga harus semangat ingat jaga mata dan jaga hati, jangan melirik laki-laki lain selain aku" kata Damar


"diih mulai nih possesive nya, hahahaha" kata Lulu sambil tertawa


"tuh kan gitu" gerutu Damar


"iya sayang, aku akan jaga hati aku hanya buat kamu dan bila perlu aku nanti pake kacamata kuda sekalian, biar pandanganku Lurus tanpa melirik samping kanan kiri. kecuali ada cowok ganteng didepanku ya aku lihat lah, kan sayang, mubazir... hahaha" ucap Lulu sambil berlari meninggalkan Damar


"tuh kan... awas kamu!!" kata Damar sambil mengejar Lulu


***********


"kaka!!" sapa Lulu ketika melihat Ganendra


"pagi, Lulu " Ganendra menyapa Lulu


"pagi ka, hmm.. kaka jadi penguji juga?" tanya Lulu


"kaka emang keren!!, cocok kalau jadi pak guru" kata Lulu


"makasih Lulu, yaudah buruan kamu kerjakan ujiannya nanti keburu habis waktunya" perintah Gaga


"siap pak guru!" jawab Lulu sambil memberi hormat


"dasar !!!" kata Ganendra sambil terkekeh melihat tingkah Lulu


Setelah ujian selesai Ganendra masih duduk diruangan praktik sendirian, ia sedang merekap nilai ujian hari ini. Ganendra menyalakan televisi untuk menemaninya bekerja bagar tidak ngantuk.


Ia terkejut ketika melihat berita mengenai demo yang terjadi di istana pagi tadi.


"ibu!!!, kenapa kau lagi-lagi melakukan hal kotor semacam ini" gerutu Gaga kesal


Ia segera mematikan televisi dan membereskan pekerjaannya, Gaga kemudian meninggalkan ruangan itu karena sudah tidak fokus bekerja.


***braakk!!!


Sesampainya di rumah Ganendra langsung membuka paksa pintu kamarnya, setelah meletakkan tasnya dikamar, ia langsung mencari ibunya.


"kemana dia" ucap Ganendra karena tak menemukan ibunya

__ADS_1


Ia kemudian menanyai dayang istana yang melayaninya.


"apa kau tahu ibu pergi kemana?" tanya Ganendra


"hamba tidak tahu yang mulia" jawab dayang istana


Ganendra kemudian pergi meninggalkan rumahnya.


"aku yakin dia pasti sedang menemui para tetua" kata Ganendra


Ganendra segera menghentikan mobilnya disebuah bangunan kuno yang tidak jauh dari istana.


"sepertinya rencana kita berhasil kali ini" kata Arkadewi


"terima kasih kepada para tetua dan semua yang mendukung Ganendra atas surprise yang kalian berikan untukku pagi ini " kata Arkadewi tersenyum bahagia


"sekarang warga Jogja akan berpikir dua kali untuk tetap mendukung Damar menjadi putra mahkota dengan adanya demo itu" kata salah seorang dari mereka


"tapi aku rasa tidak begitu!!" ucap Ganendra yang memasuki ruangan itu


"masyarakat sekarang lebih cerdas untuk memilah informasi yang mereka dapatkan, mereka tidak dapat dibodohi lagi dengan berita-berita hoax atau pencitraan seperti jaman dulu. Mereka lebih cerdas karena adanya informasi yang lebih akurat yang bisa mereka dapat dari internet, mereka sekarang akan lebih memilih figur yang lebih banyak bekerja daripada cuma bicara" kata Ganendra


"hentikan Ganendra!!!" ucap Arkadewi


"biarkan saja dia bicara yang mulia, biarkan ia mengeluarkan semua unek-uneknya, lagian apa yang ia katakan itu benar, dan itu membuatku semakin yakin kalau pangeran Ganendra adalah orang yang tepat untuk mengganti kan posisi Panji Aryowinangun" kata salah seorang dari mereka


"benar sekali" kata yang lainnya


"dengarlah wahai para tetua yang saya hormati, aku tidak akan menjadi putra mahkota, dan tidak sedikit pun terlintas dibanakku untuk merebutnya, aku lebih baik menjadi orang biasa yang mengabdikan diriku untuk masyarakat, dari pada menjadi seorang penguasa yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri" kata Ganendra yang kemudian pergi meninggalkan ruangan itu


Semua tetua tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Ganendra.


"maafkan putraku tetua, aku janji akan membujuknya agar tidak mengecewakan kalian " kata Arkadewi yang juga bergegas pergi menyusul Ganendra


****"*******


Sepulang dari sekolah Damar segera menemui ayahnya diruang pribadinya.


"masuklah!!" perintah Panji Aryowinangun


"ada perlu apa kau datang kemari, nak?" tanya Panji Aryowinangun yang melihat Damar berdiri didepan pintu


"Romo, aku sudah tahu kejadian tadi pagi dan untuk itulah aku datang kemari" kata Damar


"jadi kau datang untuk membahas itu?" tanya Panji Aryowinangun


"benar Romo, aku hanya ingin mengatakan bahwa Damar siap dan ikhlas jika harus turun dari posisi ku sebagai putra mahkota, dan aku tidak keberatan jika Ganendra yang akan menggantikan posisi ku, aku merasa dia memang lebih tepat untuk menggantikan posisi Romo nantinya, dan aku yakin hanya dia yang pantas menjadi putra mahkota tidak peduli ia putra dari seorang selir, toh ia adalah putra kandung Romo juga, jadi tidak masalah menurut ku" ucap Damar Langit

__ADS_1


__ADS_2