
"halo ibu, bibi sudah pergi" kata Candramaya
"baiklah aku segera kesana bersama Sean" jawab Regita
Regita segera mengajak Sean untuk mendatangi kediaman Arkadewi.
***tok!! tok!!
Candramaya segera membuka pintu rumah dan mempersilahkan ibunya masuk.
"apa semuanya aman?" tanya Regita
"aman bu, semua dayang sudah aku suruh pergi" jawab Candramaya
"bagus" kata Regita
"Sean cepat pasang kamera pengintainya!" perintah Regita
" baik bibi" jawab Sean
"kita harus bergerak cepat sebelum ka Dewi kembali" kata Regita
Beberapa menit kemudian Sean berhasil memasang kamera pengintai dikamar Arkadewi.
"sudah selesai bibi" kata Sean
"ok, sekarang aku harus pulang, supaya bibi kalian tidak curiga terhadapku" kata Regita yang kemudian pergi meninggalkan keduanya
"sekarang aku mau menagih janjimu Sean, bukankah dulu kau sudah berjanji akan membuat Damar menjadi miliku" kata Candramaya
"maafkan aku Maya, sepertinya itu sulit, aku tidak bisa membantumu lagi" jawab Sean
"terus kamu juga nyerah untuk dapetin Lulu" kata Candramaya
"iya , karena aku tahu Lulu tak pernah mencintaiku" jawab Sean
"dasar lemah!!, kalau begitu biar aku yang akan melakukannya sendiri, aku masih bisa mendapatkan Damar dengan caraku" kata Candramaya
**plok!!!, plok!!, plok!!!
Arkadewi bertepuk tangan ketika mendengar ucapan dari Candramaya
"bagus sekali Maya!, bibi sangat suka dengan keberanianmu, dan bibi berjanji akan membantumu mendapatkan Damar" kata Arkadewi yang baru saja memasuki ruangan itu
"eh, bibi, apa bibi sudah lama datang?" kata Candramaya
"tidak, aku baru saja sampai, ngomong-ngomong para dayang pada kemana kok sepi?" tanya Arkadewi
"oh, mereka sedang pergi belanja" jawab Candramaya
"hmmm, baiklah lanjutkan obrolan kalian, bibi akan beristirahat sejenak" kata Arkadewi meninggalkan mereka berdua
" iya bibi" jawab Maya dan Sean
" karena tante Dewi sudah kembali berarti aku harus segera pulang" kata Sean
"iya" jawab Maya
Sean kemudian berjalan keluar meninggalkan kediaman Arkadewi.
Ia tidak langsung pulang kerumah Reksa Aditya, melainkan akan menengok kafenya yang sudah lama ia tinggalkan.
Ia menghentikan mobilnya ketika melihat Lulu sedang berbicara dengan orang asing.
"can you tell me where the Arjowinangun palace is?" tanya seorang pria asing kepada Lulu
"aduh!!!, aku bingung mau ngasih taunya gimana?, soalnya aku gak bisa ngomong inggris" kata Lulu sambil menggaruk-garuk kepalanya
Lulu kemudian memberitahukannya dengan bahasa isyarat.
"you understand?" tanya Lulu
Dua pria asing itu menggeleng.
"oh sial!!, gimana ngasih taunya ya, apa aku telpon Damar aja, diakan jago bahasa Inggris, tapi Damar Lagi meeting aku gak boleh mengganggunya" kata Lulu lagi
"sorry, may I help you?" tanya Sean yang segera bergabung dengan Lulu
"oh Sean!!, dewa penolongku!!, untung kamu datang" kata Lulu senang
"lo kan jago ngomong Inggris, sekarang lo bantu gue jawabin pertanyaan mereka" kata Lulu sambil menunjuk kearah dua pria asing dihadapannya
"serahkan semuanya kepadaku my princess" jawab Sean
"of course, can you show me where is Arjowinangun palace location?" kata seorang Bule kepada Sean
__ADS_1
"sure, follow me!!" jawab Sean yang mengajak keduanya naik kedalam mobilnya dan mengantarkan mereka ke istana
Lulu masih duduk di alun-alun, menunggu Damar yang belum selesai meeting
"ngapain kamu disini?" tanya Sean
"aku lagi nungguin Damar meeting" jawab Lulu
"emang Damar meeting dimana?" tanya Sean
"tuh di gedung itu sama paman Danar" kata Lulu sambil menunjuk sebuah gedung
" mendingan my princess nunggunya dikafe aku aja, sekalian aku bikinin nasi goreng, mau ga?" tanya Sean
"mau, mau,mau" jawab Lulu
"yaudah kamu tunggu disini ya, aku masakin dulu nasi gorengnya" kata Sean
Lulu segera duduk sambil menunggu Sean membuat nasi goreng untuknya.
Ia menatap seseorang yang sedang berlatih bela diri tak jauh dari tempatnya berada.
"itu bukannya paman Yudha" batin Lulu
" halo paman" sapa Lulu
"halo yang mulia" jawab Yudha
" paman lagi ngapain disini" tanya Lulu
" paman lagi latihan" jawab Yudha yang sedang berlatih Jujitsu
" aku boleh ikutan" kata Lulu
"bukannya yang mulia belum boleh banyak bergerak" jawab Yudha
"iya sih, tapi aku suka lihat gerakan beladiri paman" kata Lulu
"yaudah kamu lihat aja ya" ucap Yudha
"my princess disini rupanya" kata Sean yang datang membawa sepiring nasi goreng
"nasi gorengnya udah siap nih" kata Sean sambil menyodorkan nasi goreng kepada Lulu
Lulu kemudian segera memakan nasi goreng yang dibawa oleh Sean
"btw, memangnya tadi bule itu mau ngapain ke istana" tanya Lulu
"mereka cuma wartawan yang hanya mau mencari berita saja" jawab Sean
"oh" jawab Lulu
***dreet!!!, dreet!!!, dreet !!
Ponsel Lulu bergetar, ia kemudian segera mengangkatnya.
"halo ada apa?" tanya Lulu
"kamu dimana?" tanya Damar
"aku di kafe Sean" jawab Lulu
"ok, aku kesana" jawab Damar
Beberapa menit kemudian Damar sudah masuk ke dalam kafe.
"kamu sendirian sayang?" tanya Lulu
"iya, paman Danar sudah pulang duluan" jawab Damar
" tumben kamu sendiri tanpa pengawalan" kata Lulu
" yaudah gapapa, sekali-kali bebaslah" kata Damar
"a.....!" kata Damar sambil membuka mulutnya
Lulu segera menyendokan nasi kemulut Damar, tapi ia kemudian mengurungkan niatnya dan memasukan nasi goreng itu kemulutnya lagi. Melihat kelakuan Lulu yang usil membuat Damar merasa kesal.
"aku juga mau sayang" kata Damar kecewa karena Lulu tak jadi menyuapinya.
"iya, sabar, hehehe" jawab Lulu sambil tertawa kecil
"pantesan kamu suka kesini, ternyata nasi goreng buatan Sean enak banget" kata Damar
"yoii" jawab Lulu
__ADS_1
Sean memandangi keduanya dengan perasaan yang berbeda, ia melihat keduanya yang tampak begitu mesra.
"apa kau menyukainya?" tanya Yudha
"kalaupun aku menyukainya ia tak mungkin membalas cintaku jadi percuma saja, lebih baik aku pendam saja perasaan ini" kata Sean
"aku tau yang kau rasakan, nak" ucap Yudha
"apa ayah juga pernah mengalami seperti apa yang kurasakan saat ini" kata Sean
" iya" jawab Yudha
" paman kami permisi dulu" kata Damar
"iya hati-hati" jawab Yudha
"Sean makasih nasi gorengnya" kata Lulu
"iya, lain kali mampir lagi ya" kata Sean sambil melambaikan tangannya
"yoi" jawab Lulu
"apa paman perlu mengantarmu pulang?" tanya Yudha
"tidak usah, paman" kata Damar
"baiklah, padahal aku sedikit menghawatirkan dirimu yang mulia" kata Yudha
"terimakasih sudah peduli denganku paman" kata Damar
Damar segera membawa Lulu keluar dan masuk kedalam mobilnya.
Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ditengah perjalanan dua buah mobil mengikuti mobil mereka.
"sepertinya ada yang mengikuti mobil kita" kata Lulu
" benar, kamu harus siap-siap" kata Damar yang melajukan mobilnya dengan kencang.
***ciiit!!!!
Dua buah mobil menghadang laju kendaraan Damar .
"turun!!" teriak seseorang yang mengedor kaca mobil Damar
"kita harus melawan mereka" kata Lulu
"tunggu !!, jangan gegabah" jawab Damar
"kamu disini saja, biar aku yang akan turun" kata Damar
Damar segera turun, dan beberapa orang langsung mengepungnya.
"kau terlalu berani yang mulia" kata seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil
Damar segera menghajar musuhnya satu-persatu. Lulu segera turun untuk membantu Damar ia tak menghiraukan lagi luka dipunggungnya.
"sial!!, kenapa mereka begitu kuat" maki Damar
Meskipun Damar sudah mempelajari Jujitsu, namun ia belum bisa mengalahkan musuh-musuhnya yang ternyata lebih tinggi kemampuan beladirinya.
Seseorang datang membantu mereka.
"paman!" teriak Damar
"pergilah dari sini yang mulia, kau tidak aakan mampu melawan mereka, mereka adalah pembunuh bayaran" kata Yudha
"Damar segera menarik tangan Lulu untuk masuk kedalam mobil, sementara Yudha terus melindungi nya.
"arghh!!" terdengar suara orang mengerang kesakitan ketika Yudha mulai menjatuhkannya satu persatu.
Satu persatu dari mereka roboh, Yudha sudah menghubungi semua anak buahnya untuk membantunya.
Tak berapa lama puluhan anak buah Yudha sudah datang membantunya.
Yudha mengejar seseorang yang berusaha melarikan diri,
**Grep!!
Yudha berhasil menangkap orang itu namun lelaki itu dengan sigap mengambil belati yang terselip di bajunya dan segera menghunuskan belati itu keperut Yudha, membuatnya jatuh bersimbah darah.
Laki-laki itu sadar ia tidak akan menang melawan puluhan anak buah Yudha, ia mengambil sesuatu dari sakunya dan kemudian menelannya.
Tiba-tiba tubuhnya roboh dan dari mulutnya langsung mengeluarkan busa.
__ADS_1