
Gaga kemudian menghampiri Gendis yang menunggunya disamping gerbang istana.
Ia turun dan membukakan pintu untuknya.
"terima kasih yang mulia" ucap Gendis
Ganendra kemudian memasangkan save belt padanya, membuat mata mereka bertemu dan bertatapan intens. Wajah mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat membuat keduanya langsung memerah.
Hal ini tentu saja membuat Gendis menjadi salah tingkah dan deg-degan mendapatkan perhatian yang spesial dari Ganendra, berbeda dengan Gaga yang merasakan jantungnya seperti akan copot ketika matanya bertemu dengan mata gadis itu.
"kenapa aku jadi keringetan begini" ucap Ganendra sambil mengusap wajahnya denga tisu
Gendis mengeluarkan saputangan milik Gaga, dan membantu membersihkan keringat diwajahnya.
"biar saya saja yang mengelap keringatnya, yang mulia fokus saja menyetir" ucap Gendis
"terimakasih " ucap Gaga
"sama-sama yang mulia" jawab Gendis
"bisakah kau memanggilku dengan sebutan kaka, atau Gaga saja, agar tidak canggung" ucap Ganendra
"baik ka" ucap Gendis sambil menyeka keringatnya.
Gendis kemudian mengeluarkan air mineral dari dalam tasnya, ia kemudian meminumnya.
"boleh aku minta airnya" ucap Gaga
"tapi ini bekas ku ka, aku takut kamu tertular penyakit ku" ucap Gendis
"tidak papa, aku tidak takut.. kan aku ini seorang dokter" ucap Gaga
Gendis memberikan botol minumnya kepadanya. Gaga segera menghabiskan air mineral itu.
"apa kaka mau lagi?" tanya Gendis
"tidak, ini sudah cukup" jawabnya
"kita kelewatan kak" ucap Gendis mengingatkan Ganendra
"kenapa kau tidak bilang dari tadi" ucap Ganendra
"kan tadi kaka sedang minum, jadi aku takut kaka tersedak" ucap Gendis
Ganendra hanya tersenyum dan segera memutar balik mobilnya. Ia kemudian turun dari mobilnya ketika Gendis juga turun mobilnya.
"sekali lagi terima kasih ka, sudah mengantarku pulang" ucap Gendis
"sama-sama" jawabnya
Gendis kemudian berjalan meninggalkan Ganendra menuju ke rumahnya.
Sedangkan Gaga terus menatapnya, hingga Gendis masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
Ia kemudian segera melajukan mobilnya kembali ke istana.
******"
Pagi harinya Lulu kebingungan karena Damar tidak pulang kerumah semalaman.
Ia berusaha menghubunginya berkali-kali, namun Damar tidak juga mengangkat telponnya. Hal ini tentu saja membuat Lulu menjadi gelisah, ia takut sesuatu terjadi pada suaminya itu.
Lulu tersenyum bahagia ketika ponselnya berdering.
"ini pasti dari Damar" ucap Lulu sambil mengangkat ponselnya
"Alfian, ngapain dia pagi-pagi nelpon gue" ucapnya kesal, ia kecewa karena bukan Damar menghubunginya melainkan Alfian
Ia tak mengangkat telpon dari Alfian dan membiarkannya terus berdering.
" males ah pagi-pagi udah telpon" ucap Lulu mmeninggalkan handphonenya di atas meja
" kenapa gak diangkat sih Lu" ucap Damar
Ia kemudian menelpon Ganendra agar memberi tahu Lulu, kalau dia ada di rumah sakit.
Ganendra kemudian pergi ke paviliun Lulu dan memberi tahukan kalau Damar ada di rumah sakit.
"apa Damar di rumah saki!!" teriak Lulu
"iya ...aku disuruh untuk memberi tahukan mu, agar kau tidak khawatir" ucap Gaga
"bagaimana aku tidak khawatir kalau dia di rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu padanya" ucap Lulu
Lulu segera berganti pakaian dan ikut ke rumah sakit baersama Ganendra.
Sesampainya di rumah sakit, Lulu segera berlari menuju ke resepsionis untuk menanyakan dimana Damar dirawat.
"tidak perlu bertanya, aku sudah tahu ruangannya" ucap Gaga sambil menarik lengan Lulu
"kenapa gak bilang, bikin cemas saja" ucap Lulu
"gimana mau bilang, kamu aja langsung lari kesini" jawab Gaga
"iya aku yang gak sabaran" ucap Lulu
Mereka kemudian tiba di sebuah ruang perawatan, Gaga segera membuka pintu ruangan itu. Dilihatnya Damar sedang berbaring disana dengan beberapa luka di wajahnya.
"sayang??, kamu kenapa??" tanya Lulu
"aku tidak papa, cuma kecelakaan biasa saja" Damar berusaha tidak menceritakan dulu kejadian semalam karena tidak ingin Lulu menjadi khawatir
"paman dimana?" tanya Gaga
"disebelah" jawab Damar
Ganendra kemudian meninggalkan mereka untuk menjenguk Danar Gumilang yang masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Gaga melihat Alfian meringkuk di sofa.
"ada apa sebenarnya bro?" tanya Gaga kepada Alfian yang mulai membuka matanya
"dia di seseorang yang tak dikenal semalam, beruntung nyawanya masih selamat" ucap Alfian
"oh.. mungkin orang yang mencuri dokumen di ruangan paman Danar terlibat" gumam Ganendra
******
Rahardian masih menunggu cemas laporan dari Jhonny yang sudah berjanji akan mengabarinya setelah usahanya untuk membunuh Danar Gumilang.
Dalam keadaan cemas tiba-tiba ponselnya berdering, ia kemudian segera mengangkatnya.
"halo yang mulia, apa kau sudah tahu kabar terbaru dari Jhonny?" tanya Laki-laki itu
"belum, kau siapa" tanyanya
"ciih jadi kau masih belum mengenali suaraku juga" ucap Jagad Samudra
"apa kau Jagad Samudra??" tanya Rahardian
"iya, aku cuma ingin memberi tahumu kalau Jhonny gugur dalam menjalankan tugasnya" ucap Jagad
"masa sih??, katanya dia anak buah mu yang paling kuat dan paling tinggi ilmu beladirinya, kok bisa kalah melawan orang tua seperti Danar Gumilang" Rahardian masih tak percaya dengan kabar yang menyebutkan Jhonny sudah meninggal karena kalah melawan Danar Gumilang
"bukan Danar yang mengalahkan dirinya, tapi ada lelaki misterius yang membantunya, dan dialah yang membunuh Jhonny dengan sadis, dan sebagai gantinya aku yang akan turun tangan langsung untuk menggantikan Jhonny membunuh Danar Gumilang" ucap Jagad Samudra
"baiklah aku serahkan semuanya padamu, dan aku ingin kau segera menghabisi Danar Gumilang sebelum ia berhasil menangkap ku" Rahardian ketakutan karena Danar Gumilang selamat, ia tahu jika sebentar lagi Danar akan mengetahui kalau dirinya lah yang sudah berusaha membunuhnya.
"aku harus mencari informasi tentang Danar sekarang!!" ucap Rahardian sambil menghubungi orang-orang kepercayaannya yang ada dilingkungan istana
"jadi Danar ada di rumah sakit sekarang, baiklah mungkin lebih baik dia berada disana untuk mempermudah Jagad membunuhnya.
Rahardian kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Jagad Samudra, untuk memberi tahukan bahwa Danar Gumilang ada di rumah sakit saat ini.
Jagad Samudra tersenyum senang ketika mendengar Danar masih berada di rumah sakit.
"tunggu aku Alfian, aku pasti akan mbalaskan dendam atas kematian Jhonny adikku, kau akan membayarnya dengan nyawamu anak muda" batin Jagad Samudra
******"
Alfian kemudian meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke kosannya.
Setibanya di rumah kosannya ia terperanjat karena rumahnya sudah diacak-acak oleh orang yang tak di kenal.
Bahkan dinding kamarnya penuh dengan coretan ancaman yang menyatakan bahwa ia harus mati untuk membayar nyawa Jhonny.
**NYAWA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA**
Begitulah tulisan yang banyak terdapat di dinding kamarnya dan juga di cermin kamarnya.
"sepertinya ada yang tidak terima karena adiknya aku bunuh" ucap Alfian sambil membersihkan cermin di kamarnya
__ADS_1
"aku harus hati-hati, sepertinya dia bukan orang sembarangan, karena ia dengan crpat tahu dimana aku tinggal, apa aku harus minta bantuan Rey, bukannya aku takut tapi ini bisa membahayakan nyawa orang-orangvterdekatku juga" Alfian terus berdebat dengan perasaannya yang satu sisi merasa yakin menyelesaikan masalah ini sendiri tapi disisi lain ia juga butuh bantuan sahabat-sahabatnya karena paman Danar juga tidak dapat diandalkan lagi karena masih dirawat di rumah sakit.
"baiklah sepertinya aku harus menceritakan masalah ini pada Rey dan Ferdan, aku tidak mau ada korban berikutnya, dan aku takut Lulu dan Bagas adalah sasaran berikutnya" gumam Alfian