
Damar berjalan gontai meninggalkan istana, ia merasa tak ada gairah hari ini. Tubuhnya terasa begitu lemas, jiwanya menjadi hampa setelah mengatakan semua isi hatinya kepada ayahnya.
Sesampainya dirumah nenek, Damar masuk kedalam kamar Lulu untuk menengoknya. Ia ke duduk disampingnya yang sedang tertidur pulas dan membelai lembut wajahnya.
"maafkan aku sayang, aku bukan suami yang sempurna untuk mu" ucap Damar sambil membelai lembut rambutnya
Ia kemudian mengecup keningnya dan meninggalkan kamar Lulu.
Hari minggu yang cerah, Lulu mulai membuka matanya ketika jam bekernya berdering begitu keras.
"hoaaam!!!, sudah pagi toh pantesan berisik banget" kata Lulu sambil berjalan keluar dari kamarnya
Ia kemudian menuju ke kamar Damar, tapi sayangnya Damar tak ada disana.
"tumben hari libur dia sudah bangun" batin Lulu
"kamu nyari siapa?" tanya nenek
"mau ngajak Damar jogging nek, tapi Damarnya tidak ada" jawab Lulu
"Damar sudah ke istana pagi-pagi sekali" jawab nenek
"hmmm....yaudah aku tidur lagi aja" kata Lulu
Nenek Welas segera menarik lengannya.
"mandi dan susul Damar ke istana" perintah nenek
"baik nek" jawab Lulu
Sementara itu di istana tampak penjagaan lebih diperketat dari hari-hari sebelumnya, karena berhembus kabar akan ada demo yang lebih besar dari kemarin. Dan benar saja tepat pukul sepuluh pagi semua masa sudah berkumpul didepan gerbang istana. Selain di istana rupanya para pendemo juga juga melakukan aksinya dipusat kota. Mereka juga melakukan aksi turun ke jalan, memenuhi jalan-jalan Arteri kota Jogjakarta.
Tentu saja hal ini membuat suasana istana menjadi semakin kacau.
Danar Gumilang keluar bersama Panji Aryowinangun untuk menemui masa didepan istana. Kali ini para pengunjuk rasa lebih beringas dari hari kemarin sehingga membuat para pasukan anti huru-hara beberapa kali menyemprotkan gas air mata. Mereka segera melempari yang mulia raja dan Danar Gumilang dengan telor dan tomat busuk ketika melihatnya menuju ke podium. Tentu saja hal ini membuat polisi yang menjaganya langsung menembakan gas air mata lagi kearah para pendemo.
Mereka akhirnya beringsut mundur dan menghentikan aktivitasnya ketika gas air mata beberapa kali disemprotkan kearahnya.
"sepertinya kali ini pendemo lebih liar dari kemarin kang mas, kita lebih baik kembali saja ke dalam" kata Danar Gumilang
Panji Aryowinangun segera mengikuti Danar Gumilang dari belakang.
Sesampainya di dalam ruang pribadi yang mulia raja, ponsel yang mulia berdering
"halo, selamat pagi" sapa yang mulia Raja
",,,,,,,,,,,,"
"baik pak"
",,,,,,,,,,"
"baik pak, saya akan laksanakan semua perintah bapak" jawab Panji Aryowinangun
Panji Aryowinangun tak menyangka jika akan mendapat telepon dari orang nomor satu di negeri ini.
"pak presiden memintaku untuk segera menyelesaikan masalah ini, karena ia khawatir jika masalah ini dibiarkan bisa berakibat buruk bagi sistem perekonomian dan investasi ke negara kita" kata Panji Aryowinangun
__ADS_1
"hmmm...bahkan presiden sudah turun tangan sekarang" ucap Danar
"tapi tetap saja semua keputusan ada ditangan kita dimas, kita memang diberikan keistimewaan serta kebebasan untuk menentukan pemimpin kota ini, tanpa campur tangan dari pemerintah seperti provinsi lainnya, tapi kita juga tidak bisa otoriter dalam menentukan pemimpin, kita harus memikirkan kepentingan rakyat juga" kata Panji Aryowinangun
"benar yang mulia, jadi bagaimana selanjutnya, apa keputusan kang mas sekarang?" tanya Danar Gumilang
"aku akan membicarakan masalah ini dengan para tetua terlebih dahulu, baru setelah itu aku akan mengambil keputusan" jawab Panji Aryowinangun
Danar hanya mengangguk pertanda mengerti dengan semua keputusan yang mulia raja.
"panggil Damar kemari dimas!" titah Panji Aryowinangun
"baik kang mas" jawab Danar Gumilang
Danar mencari-cari Damar disemua ruangan tapi tidak ada.
"oh tidakkk!!! apa yang kamu lakukan yang mulia" kata Danar terkejut melihat Damar yang berdiri di podium menemui pengunjuk rasa.
Ia segera berlari untuk membawa Damar kembali kedalam istana.
"turunkan Damar Langit!!!"
"turun!!!, turun!!!"
"kau tidak pantas menjadi seorang Raja!!!"
"bahkan menjaga istrimu saja kau tidak bisa!!, apalagi menjaga warga Jogja!!!!"
"turunkan Danar Langit!!!!"
"turun!!!!, turun!!!"
Lulu yang baru saja sampai di istana menjadi bingun, karena banyaknya pendemo. Ia juga tidak dapat masuk ke dalam istana karena gerbang sudah ditutup dan dijaga ketat oleh abdi dalem dan para polisi.
"sial!!!, aku terlambat" kata Lulu mendengus kesal
Ia kemudian masuk kedalam kerumunan pendemo yang tak mengenalinya.
"nih buat kamu" kata seseorang sambil menyerahkan sebuah amplop kepadanya
Lulu hanya terdiam dan menerimanya.
"thanks" jawab Lulu
"lo mau tambahan gak" kata seseorang kepada lelaki disebelahnya
"mau" jawabnya
"gue kasih lo dua amplop lagi dengan isinya yang lebih banyak, tapi lo harus lempar bom molotov ini ke podium" kata lelaki itu
"ok" jawabnya
Lulu langsung membulatkan matanya ketika mendengar percakapan keduanya.
"gila!!!, gue harus gagalin usaha mereka" batin Lulu
Ia kemudian mengikuti laki-laki yang membawa bom molotov itu. Ia segera menarik lengan pria itu ketika dia hendak melemparkan bom itu kepada Damar.
__ADS_1
"gila ini bukan bom molotov !!" teriak Lulu sambil melempar bom itu ke kearah yang tidak dipenuhi banyak orang.
***duar!!!
Terdengar suara ledakan yang sangat kencang, semua pendemo berlarian menjauh dari lokasi ledakan.
Begitu juga Lulu, ia langsung berlari menghindari kejaran para pendemo yang mulai mengejarnya.
"ada penyusup!, tangkap gadis itu!" teriak salah seorang dari mereka
Lulu terus berlari menjauh dari mereka, beruntung Tama datang dan segera menariknya masuk ke dalam istana.
"huftt!, hampir saja" kata Lulu dengan nafas terengah-engah
"kenapa kau selalu ceroboh!" gerutu Tama
"kita harus ke podium sekarang Tam-tam, aku takut ada pendemo yang nekat mau membunuh Damar" kata Lulu
"tidak mungkin, sudah banyak aparat yang melindunginya, mendingan kau masuk saja" perintah Tama
Lulu tak menghiraukan ucapan Tama, ia berlari kepodium untuk melindungi Damar yang sedang dilempari dengan telor dan tomat busuk.
Lulu segera memasang badannya melindungi Damar yang sudah dipenuhi telor busuk.
"kenapa kau kemari sayang" kata Damar
"gak penting, yang penting lo sekarang harus masuk kedalam istana, bahaya kalau kau terus disini" kata Lulu sambil menarik lengannya meninggalkan podium
"syukurlah kau selamat yang mulia" kata Danar Gumilang
"bersihkan badanmu, karena yang mulia ingin bicara denganmu" perintah Danar Gumilang
"baik paman" kata Damar yang berubah menjadi penurut
Lulu berjalan menemani suaminya.
"sudah kau tunggu disini saja" kata Damar meminta Lulu menunggunya didepan kamarnya
"baiklah sayang, jangan lama-lama mandinya sayang!" kata Lulu
"memangnya kenapa?" tanya Damar
"tidak apa-apa sayang, aku cuma takut kamu masuk angin, hehehe" jawab Lulu
Damar hanya tersenyum mendengar jawaban Lulu.
"terima kasih sayang, kau selalu ada disaat aku membutuhkanmu" kata Damar sambil mengecup kening Lulu
"sudah buruan, yang mulia sudah menunggumu" kata Lulu
Damar segera bergegas menuju ke kamar mandi.
Selesai mandi ia langsung ganti baju dan menemui ayahnya.
"Damar anaku, maafkan Romo karena semua ini diluar kendaliku, tapi apapun yang terjadi kau tetap putra kebanggaan Romo" kata Panji Aryowinangun
"aku sudah siap dengan semua keputusan yang akan diambil romo" kata Damar
__ADS_1
"baiklah, kalau begitu mari ikut Romo menemui para tetua" ajak Panji Aryowinangun