
"dasar tidak tahu diri, kalian melakukan hal tidak pantas dikampus ini, baiklah aku akan menggagalkan kesenangan kalian!" ucap Lulu sambil melayangkan tendangannya di pintu toilet
***braakkk!!!
Pintu toilet pun terbuka, Ira bersama seorang dosen yang berada di dalam toilet segera merapikan penampilan mereka yang acak-acakan.
"ka Ira" ucap Lulu kaget
"siapa kau berani-beraninya merusak fasilitas kampus!!" hardik sang dosen
"ciih!!, jangan cari-cari kesalahan orang lain, harusnya kau menjaga nama baik kampus ini bukan malah merusaknya" ucap Lulu sambil meninggalkan keduanya
"siapa dia berani, berani sekali menghardikku" ucap sang dosen
"dia mahasiswa baru jurusan tehnik, namanya Lulu" jawab Ira
"kau tidak usah khawatir sayang, aku akan mengurusnya" ucap pria itu
Lulu segera merebahkan tubuhnya di bangku tempat duduknya.
"benar-benar hari yang melelahkan!!" gumam Lulu
**braaak!!!
Segerombolan anak perempuan mendatangi Lulu dan menggebrak mejanya.
"bangun lo!!" teriak mereka
Lulu segera mengangkat wajahnya dan menatap satu persatu gadis-gadis yang ada dihadapannya.
"ckckckc!!, ternyata ada banyak sekali yang mencariku, sebegitu tenarkah diriku" ucap Lulu
"hey cewek bar-bar yang sok jago bagun lo!!" hardik salah seorang dari mereka
"iyah, ada apa kaka seniorku sayang" goda Lulu
"bener-bener cari mati dia" salah seorang dari mereka segera menarik lengannya
Ia menyeret Lulu hingga keluar dari kelas.
"santuy sis, gue bisa jalan sendiri jadi gak usah narik-narik gue" ucap Lulu yang menepis tangan kaka kelasnya
"danc*k, cari mati nih cewek!" cibir salah seorang dari mereka yang kemudian mengahantamkan sebuah balok kayu pada Lulu
Beruntung Lulu segera menahan balok kayu itu hingga tak mengenai kepalanya.
"hajar dia gengs!!" teriak salah seorang dari balik pintu
Mereka langsung menyerang Lulu secara bersamaan, Nilam dan Cindy yang melihat Lulu sedang dikeroyok oleh geng Geboy segera membantunya. Lulu dengan sigap berhasil melumpuhkan mereka satu persatu.
"Anj*ng !!, kuat juga ni bocah" gumam Ira
Ira segera berlari menjauh dari sana ketika melihat Tama datang untuk membantu Lulu.
" lo bisa berurusan dengan geng Geboy, Lu" tanya Cindy setelah berhasil memukul mundur geng Geboy
"aku juga tidak tahu" jawab Lulu
"btw thanks ya Cin, Nilam" udah bantu gue" ucap Lulu
"sama-sama" jawab Cindy
"lo dari mana aja Tam-tam" keluh Lulu
" abis ngisi kuliah Lu, karena dosennya tidak masuk, jadi aku yang menggantikannya" jawab Tama
"ada yang mau gue omongin sama lo Tam-tam?" tanya Lulu
__ADS_1
"yaudah di mobil aja sekalian pulang" ujar Tama
"ok"
"kaki kamu udah baikan Cin?" tanya Tama
"udah ka" jawab Cindy
"hmmm, syukurlah" jawab Tama.
"yaudah kami pamit duluan ka" ucap Cindy dan Nilam
"sekali lagi terima kasih Cindy dan Nilam sudah membantu Lulu" ucap Lulu
"iyah, bye" jawab Nilam
Tama dan Lulu kemudaian menuju ke parkiran mobil. Sementara itu seorang dosen tampak memperhatikan keduanya dari kejauhan.
"ada hubungan apa nak baru itu dengan Tama Wijaya" gumam sang dosen
Tama kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman kampus.
"Sekarang katakanlah kau mau bicara apa?" tanya Tana
"kau harus menjauhi Ira, aku baru tahu kalau dia bukanlah gadis yang baik" ujar Lulu
"memangnya kau tahu apa tentang dia?" tanya Tama
"aku memergokinya didalam toilet bersama seorang dosen " ucap Lulu
"sudahlah, lagian aku juga tidak ada hubungan dengan Ira" jawab Tama
"iya mulai sekarang jangan dekat denganya, dia bukanlah gadis baik-baik " ucap Lulu
******"
Sesampainya disana Ryan disambut oleh Zahra yang sudah menunggunya.
"kau sudah siap rupanya" Ryan segera menggandeng lengan Zahra.
Zahra tersenyum manis kepadanya.
Ryan segera melajukan mobilnya menuju ke sebuah kafe romantis di jantung kota Jogjakarta.
"kenapa harus dikafe ini, bukan kafe yang kemarin saja" ucap Zahra
"apa kau tidak suka?" tanya Ryan
"bukan begitu, aku suka kok" jawab Zahra
'aku ingin suasana yang romantis, supaya bisa membuatmu terkesan" ucap Ryan
Seorang pelayan mengantarkan dua buah pan cake pada mereka.
"terima kasih" ucap Zahra
"selamat menikmati" kata pelayan itu
Ryan dan Zahra kemudian mencoba kue itu.
"gimana Ra, enak tidak kuenya?" tanya Ryan
"enak sih, tapi kok ada yang keras ya" ucap Zahra
**uhuk!!..uhukk!!
" makannya pelan-pelan saja agar tidak tersedak?" kata Ryan
__ADS_1
Zahra segera mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.
"cincin!!" teriak Zahra
"gimana apa kau suka dengan kejutannya?" tanya Ryan
"kamu ngelamar aku Rey?" tanya Zahra
"iya Ra, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anaku, tapi semuanya terserah padamu, kau bisa menolaknya kalau kau tidak suka denganku" ucap Ryan
Zahra terdiam sejenak sembari menatap remaja dihadapannya.
"menikah itu tidak hanya cukup dengan modal cinta saja Rey, tetapi juga memerlukan persiapan mental untuk menghadapi berbagai masalah dan perbedaan yang akan datang " ucap Zahra
"iya aku sudah menyiapkan semuanya, bahkan resiko jika kau sampai menolakku" jawab Ryan
Zahra merekahkan senyumnya mendengar ucapan Ryan.
"aku tidak peduli dengan statusmu ataupun perbedaan usia kita, aku menerimamu apa adanya, begitu juga aku harap kamu mau menerimaku apa adanya" ujar Ryan
"kalau aku menolak bagaimana?" tanya Zahra
Seketika wajah Ryan berubah lesu.
"tidak masalah Ra, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku" jawab Ryan
"sayangnya aku tidak mau menolakmu untuk yang kedua kalinya" kata Zahra
"maksudnya??" tanya Ryan
"itu berarti aku mau jadi istri kamu" ucap Zahra
Ryan segera berdiri dan memeluk Zahra.
"kau berkata sungguhan kan?" tanya Ryan masih tidak percaya
"apa aku terlihat sedang berbohong?" Zahra balik bertanya
Ryan tersenyum kemudian memegang bahunya sembari terus menatapnya intens.
"aku perlu bukti, untuk meyakinkan hatiku" bisik Ryan
"apa kau menggodaku" ucap Zahra
"tentu tidak, aku hanya perlu bukti saja agar aku yakin kau bener-bener mencintaiku" ujar Ryan
"I LOVE YOU MY BELOVED STUDENT" ucap Zahra sambil mencium pipi Ryan
Seketika wajah Ryan langsung memerah seperti kepiting rebus.
"baru segitu aja, sudah merah wajahnya dasar lemah!" ledek Zahra
"aku tidak lemah kok, aku kuat coba aja" ucap Ryan
"beneran" goda Zahra
Mendengar ucapan Zahra, Ryan segera menyambar bibir tipis Zahra, hingga keduanya saling menenggelamkan bibirnya cukup lama.
Ryan segera mengakhiri ciumannya ketika melihat Zahra mulai kehabisan nafas.
"sekarang ketahuankan siapa yang lemah" ledek Ryan
"kau menyerangku tanpa aba-aba, wajar saja kalau aku sqmpai kalah" gerutu Zahra sambil menyungutkan wajahnya
"baiklah, sekarang aku akan mempersilakan kau untuk menyerangku, aku pasrah sekarang" goda Ryan
Zahra tersipu malu mendengar ucapan Ryan.
__ADS_1