ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 83 #Percobaan Pembunuhan (6)


__ADS_3

Arkadewi dan Argo Seno segera pergi meninggalkan tempat itu.


"selanjutnya apa rencana yang mulia?" tanya Argo Seno


"aku akan segera membunuh wanita itu" jawab Arkadewi


Arkadewi segera melajukan kembali mobilnya, setelah menurunkan Argo Seno ditempat kerjanya.


Ia kemudian menghentikan mobilnya dirumah Regita.


Ia masuk kedalam rumah yang tak terkunci itu, ia melihat Regita duduk disudut sofa sedang meminum obat.


"kenapa kau tidak segera berangkat ke Korea, Regi?" tanya Arkadewi


"aku mengundurnya sampai keadan Yudha membaik" jawab Regita


" hmmm, begitu pedulinya kah engkau terhadap Yudha, sampai kau mengorbankan dirimu sendiri" kata Arkadewi


"apakah kau begitu mencintainya ?" tanya Arkadewi


"apa maksudmu bertanya seperti itu?" jawab Regita balik bertanya


"hah!!, kau pandai sekali berakting Regi, kau berusaha untuk menyingkirkan diriku agar kau bisa mendapatkan cinta Yudha bukan?, apalagi kau tau, jika Yudha hanya mencintaiku, makanya kau membuat rencana untuk membunuh Damar, dan meninggalkan jejak yang menunjukkan bahwa seolah-olah akulah pelakunya, dan rencanamu berhasil bahkan Danar sampai memerintahkan semua pengawal istana untuk mengawasiku, dan kau juga berhasil membuatku mencurigai Yudha, tapi sayangnya Yudha yang begitu mencintai diriku ia tidak terpancing dengan berita hoax itu, ia tak mempercayai kalau akulah pelakunya, justru sebaliknya ia malah membantuku menemukan siapa pelaku sebenarnya, dah orang itu adalah dirimu" ucap Arkadewi sambil menunjukkan jepit rambut milik Regita


"apa maksudmu kaka, aku tak mengerti, lagian kamu dapat dari mana jepit rambutku yang sudah lama kubakar" kata Regita


" apa maksudmu!!, apa kau masih berpura-pura tidak tahu kasus ini hah!!" kata Arkadewi dengan nada tinggi


"sungguh aku tidak tahu kaka" jawab Regita


"kalau bukan dia lalu siapa pelakunya" batin Arkadewi

__ADS_1


"tapi sayang sekali Regi aku tidak akan tertipu dengan wajah lugumu itu, aku tau kaulah pelakunya, tapi kamu berusaha untuk mengelabuhi ku, bukan?" kata Arkadewi sambil mengeluarkan pistol dari balik bajunya


Candramaya yang sedari tadi menguping pembicaraan ibu dan bibinya itu segera keluar dari dalam kamarnya.


"bibi jangan bunuh ibu!!!, ibu benar bukan dia pelakunya" kata Maya sambil memeluk ibunya


"jadi kalau bukan dia, terus siapa pelakunya?" tanya Arkadewi


"aku pelakunya!!!" teriak Candramaya


"huftt!!!, kau ini sebenarnya putri dari Regita atau bukan, kenapa adikku yang begitu baik dan lemah lembut harus memiliki anak yang jahat seperti dirimu" kata Arkadewi


"iya, aku memang jahat dan aku tak sebaik ibuku, dan asal kau tahu bibi, aku melakukan ini semua karena aku sangat membenci dirimu. Kau yang sudah memiliki suami masih tega merebut paman Yudha yang begitu ibu cintai, kau tidak tahukan betapa sakitnya ibu ketika tahu paman Yudha masih berhubungan denganmu bahkan setelah ia tahu bahwa bibilah yang berusaha membunuhnya, dan aku juga benci dengan paman Yudha karena ia tak pernah sedikitpun memikirkan perasaan ibu yang telah menyelamatkannya, aku sangat sedih karena selalu melihat ibuku bersedih, dan jika ia bersedih pasti penyakitnya langsung kambuh, dan itulah yang membuatku berusaha untuk membuat kau dan paman Yudha bertengkar. Asal kau tahu ide memasang kamera pengintai dikamarmu itu adalah usulan dariku, aku ingin paman Yudha mengetahui bahwa kau hanya memanfaatkannya saja untuk memcapai tujuanmu, dan aku berharap paman Yudha segera meninggalkan bibi ketika ia tahu bahwa bibi sebenarnya tidak mencintainya. Aku sedikit merasa senang ketika melihatmu akan membunuh paman Yudha, tapi sayangnya paman Yudha sepertinya sudah dibutakan oleh cinta sehingga ia tak terpengaruh sedikitpun dengan berita yang menyudutkan dirimu sebagai dalang dari percobaan pembunuhan terhadap Damar Langit, aku juga merasa puas ketika paman Danar memerintahkan Pengawal istana untuk mengawasi gerak-gerik bibi, tapi sayangnya aku lupa sedang berhadapan dengan seorang wanita iblis yang bersedia menghalalkan segala cara untuk mencapai semua keinginannya" kata Maya


"tapi bagaimana jepit ini bisa ada bersamamu Maya, bukankah ibu sudah membakarnya?" tanya Regita


"iya benar ibu, aku tahu ibu sangat menyukai jepit itu karena itu adalah jepit kenangan dari bibi Dewi, aku tahu walaupun ibu membenci bibi tapi ibu sangat menyayanginya makanya ibu masih memakai jepit itu, walupun ibu tahu bibi sudah menyakiti hati ibu. Makanya aku berinisiatif mengambil jepit itu saat ibu berusaha membakarnya, aku segera mengambil jepit itu ketika ibu mulai masuk kedalam rumah. Aku bahkan merelakan tanganku terkena luka bakar karena aku ingin memberikan kejutan untuk ibu, tapi sayangnya ketika aku memakainya pada saat aku mengunjungi galery empu Mahesa, jepit rambut itu tidak sengaja terlepas dari rambutku ibu" jawab Maya


Regita segera memeluk putri kesayangannya itu.


**plok!!!, plok!!! plok!!!


Arkadewi bertepuk tangan menyaksikan adegan ibu dan anak yang sedang berpelukan itu.


"benar-benar adegan drama yang mengharukan" kata Arkadewi mendekati keduanya


"tapi sayang, Arkadewi tak pernah memberikan ampun bagi musuh-musuhnya untuk tetap hidup, walaupun ia adalah saudariku kandungku sendiri ataupun keponakan ku sendiri, aku akan tetap membunuhmu kalian berdua" kata Arkadewi sambil menarik pelatuk pistolnya


Melihat Arkadewi yang mulai mengarahkan pistolnya ke Arah Candramaya, Regita dengan cepatnya mendorong tubuh Maya agar tidak terkena tembakan dari Arkadewi.


****dor!!!, dor!!!

__ADS_1


**bruuughh!!!


"ibu!!!!" teriak Maya yang melihat tubuh ibunya roboh seketika setelah dua kali terkena timah panas yang tepat bersarang di jantungnya.


"sepertinya kamu sangat menyayangi ibumu itu Maya, baiklah kalau begitu aku akan mengirim dirimu untuk segera menemuinya" kata Arkadewi sambil menarik pelatuk pistolnya


Candramaya masih memeluk tubuh ibunya yang bersimbah darah, tangannya mengepal dan matanya memerah ketika melihat Arkadewi mengarahkan pistol kepadanya.


"aku berjanji akan membalas semua yang telah kau lakukan pada ibuku" batin Maya


Tiba-tiba, Yudha masuk dan segera mendorong tubuh Arkadewi.


***dor!!!


***brugh!!!


Seketika tubuh Arkadewi segera jatuh tersungkur dilantai membuat pistol yang sudah diarahkan kepada Candramaya, meletup tanpa mengenai sasarannya.


"sialll!!, kenapa kau menggagalkan rencanaku Yudha!!" teriak Arkadewi kesal


"urus dia!!" perintah Yudha kepada anak buahnya


Ia segera berlari menghampiri Regita yang sudah tidak sadarkan diri, kemudian ia membopongnya dan melarikan ia kerumah sakit. Sementara anak buah Yudha meringkus Arkadewi yang terus memberikan perlawanan.


"kau mau apa ********, lepaskan!!, atau kalian akan mendapatkan hukuman dari yang mulia Raja karena telah berusaha menyakiti ku!!" kata Arkadewi


"kau jangan berisik yang mulia, kami hanya ingin mengamankanmu" kata salah seorang dari mereka.


**********""


"maafkan aku Regi, aku terlambat menolongmu" kata Yudha sambil terus memeluk tubuh Regita

__ADS_1


"kau bisa menyetir lebih cepat atau tidak!!" teriak Yudha kepada sopirnya


"iya tuan" jawab sopirnya segera menbah kecepatan mobilnya


__ADS_2