ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 84 # Luka Candramaya


__ADS_3

Anak buah Yudha mengurung Arkadewi disebuah ruang bawah tanah dan menguncinya.


Ia kemudian menghubungi Yudha.


"aku sudah mengurungnya tuan, sekarang apa lagi yang harus kami lakukan?" tanya salah seorang anak buahnya


" biarkan saja dulu, tapi terus awasi dia jangan sampai kabur" jawab Yudha


"baik tuan" jawab anak buahnya


Yudha masih menunggu didepan ruang operasi, ia berjalan mondar-mandir tidak tenang karena mengkhawatirkan keadaan Regita.


" ya Tuhan, aku mohon selamat Regi ya Allah, dia orang yang sangat baik tapi ia harus menjadi korban keserakahan ku, maaafkan aku Regi" batin Yudha


Sementara Maya hanya duduk lemas sambil menatap nanar sekitarnya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya ia membalas dendam kepada Arkadewi yang telah membuat ibunya celaka.


"aku pastikan kau akan mendapatkan balasannya bibi, aku bersumpah demi air mata ibu" batin Maya sambil mengepalkan tangannya


**************


Sementara dilingkungan istana para abdi dalem Keraton sedang sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk acara penobatan putra mahkota yang tinggal satu hari lagi.


Lulu tampak asyik bergabung dengan dayang-dayang memasak di dapur.


"sudah yang mulia istirahat saja" kata salah seorang dari mereka


"memangnya kalau aku mau belajar memasak tidak boleh" ucap Lulu


"iya boleh yang mulia" jawab mereka


"yaudah sini biar aku bantuin" kata Lulu sambil mengambil pisau membantu memotong-motong sayuran


Damar yang melihat Lulu segera mendekatinya, ia kemudian memeluknya dari belakang.


" kamu lagi ngapain sayang" kata Damar


" lagi belajar masak" jawab Lulu


"iya masak yang benar sayang, jangan sampai orang satu istana mati keracunan masal gara-gara makan masakan kamu" ledek Damar


"iiissh, apaan sih kamu " kata Lulu yang berusaha mencubit Damar


Damarpun berlari menghindari Lulu, sehingga terjadi kejar-kejaran di dapur istana. Semua dayang yang melihatnya hanya tersenyum menyaksikan tingkah keduanya.


"ternyata pangeran romantis ya" kata salah seorang dari mereka


" iya , aku juga mau punya suami kaya pangeran Damar Langit" kata yang lain


"ssstttt!!! jangan bergosip, ada ibu suri datang" kata salah seorang dari mereka memperingatkan


Ibu suri datang untuk mengecek bagian katering apakah sudah selesai atau belum.

__ADS_1


********


Candramaya segera bangkit dari duduknya ketika seorang dokter keluar dari ruang operasi.


" bagaiman keadaan ibu saya dok?" tanya Maya khawatir


"operasi nya berhasil, tapi maaf kami tidak dapat menyelamatkan nyawanya, pelurunya sudah bersarang di jantungnya sehingga nyawanya tidak dapat kami selamatkan" kata dokter


Seketika tubuh Maya langsung jatuh kelantai tak sadarkan diri, setelah mendengar bahwa ibunya sudah tiada.


Yudha membawa tubuh Maya keruang perawatan. Beberapa menit kemudian Maya mulai membukan matanya, ia segera berlari keluar dari ruang perawatan untuk menemui jesazah ibunya, namun tangan Yudha menariknya.


" kau mau kemana Maya" kata Yudha


"aku mau ketemu ibu!!, aku mau peluk ibu ...hiks..hiks" kata Maya sambil menangis tersedu-sedu


"ikut paman!" ajak Yudha sambil menuntun Candramaya


Yudha membawa Maya keruang jenazah.


" ini ibu kamu" kata Yudha sambil membuka kain putih yang menutupi tubuh jenazah Regita.


Tangis Candramaya langsung pecah melihat tubuh ibunya yang terbujur kaku dihadapannya.


"ibu!!!, jangan tinggalin Maya bu, ibu!!!, Maya tak mau sendiri bu" kata Maya sambil memeluk jenazah ibunya


"ibu bangun bu, ibu!!, maafin Maya ibu, gara-gara aku ibu celaka" kata Candramaya


"sudahlah Maya, ikhlaskan ibumu, biarkan ia tenang di surga" kata Yudha sambil mengusap lembut rambutnya


"ini salah paman, kenapa paman selalu membuat ibu sedih, paman tidak pernah mengerti perasaan ibu yang benar-benar mencintai paman, paman lebih memilih bibi Dewi yang tidak mencintai paman, paman jahat!!" kata Maya yang kemudian berlari meninggalkan Yudha


Yudha segera berlari menyusul Candramaya, ia takut kalau Maya akan berbuat nekat.


"Maya tunggu!!" teriak Yudha sambil menarik lengan Maya


"paman minta maaf kalau paman salah, kau tau kan kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, jadi maafkan paman karena tak bisa membalas cinta ibumu, tapi paman janji akan merawatmu, kau takkan sendiri, karena paman sudah menganggap mu sebagai anak paman sendiri" kata Yudha sambil memegang tangan Maya


***********


"apa !!, Maya pelakunya " kata Danar Gumilang tak percaya ketika Yudha memberitahukan dalang dari percobaan pembunuhan terhadap Damar


"tolong jangan adili Maya dulu, kasian, ia masih terpukul karena kematian ibunya Regita" kata Yudha


"baiklah kang mas, terima kasih atas infonya, sekali lagi aku turut berduka cita atas meninggalnya Regita Ayuni" kata Danar Gumilang


********


"Sial!!!, kenapa aku malah dikurung disini, bagaimana aku bisa memberi kabar pada Seno, jika handphone ku diambil oleh mereka" kata Arkadewi


"padahal besok pagi aku harus menjalankan rencanaku" kata Arkadewi kesal

__ADS_1


Arkadewi berusaha untuk mencari selah untuk melarikan diri, tapi ia selalu gagal.


"anj*ng !!, kenapa ruangan ini begitu pengap tak ada jendela atau kaca!!" teriak Arkadewi


********


Keesokan harinya Yudha tidak menghadiri acara penobatan putra mahkota, karena ia harus mengurus pemakaman Regita Ayuni.


Setelah selesai dari pemakaman ibunya, Maya diajak Yudha kerumahnya.


"kau istirahat saja disini, paman tinggal dulu ya" kata Yudha


Ia kemudian menemui anak buahnya diruang bawah tanah, sementara Maya diam-diam mengikutinya dari belakang.


"apakah dia masih ada disana?" tanya Yudha


"masih tuan" jawab mereka


Yudha segera masuk kedalam ruang sempit itu.


***plakkk!!!


Sebuah tamparan mendarat di wajah Arkadewi.


***aww!!! teriak Arkadewi mengerang kesakitan


"kau benar-benar wanita iblis!!, tega-teganya kau membunuh adik kandung mu sendiri" kata Yudha


" hah!!, jadi sekarang kau sudah berani menamparku hanya gara-gara wanita penyakitan itu" kata Arkadewi


"kau benar-benar ...huh!!" kata Yudha yang kemudian pergi meninggalkan Arkadewi untuk menahan amarahnya yang memuncak ketika ia mendengar Arkadewi menyebut Regita sebagai wanita penyakitan


"jangan pergi Yudha, kembalikan dulu hpku baj* ngan!" teriak Arkadewi


Candramaya tersenyum kecut mendengar teriakan Arkadewi. Ia kemudian melemparkan sebuah handphone kedalam ruangan Arkadewi disekap melalui celah-celah pintu.


Arkadewi terlihat bahagia ketika melihat handphone sudah tergeletak di depan pintu.


" kau memang tidak bisa lepas dariku Yudha" kata Arkadewi mengira Yudha yang memberikan handphonenya


Ia kemudian menghubungi Arga Seno.


"halo Seno, segera jalankan rencana yang sudah ku siapkan" kata Arkadewi


"baik yang mulia, semuanya sudah siap" jawab Argo Seno


"jangan sampai gagal, dan ingat sepertinya Danar sudah tahu kalau Maya adalah pelaku dari percobaan pembunuhan terhadap Damar, jadi buat seolah-olah, pembunuhan kali ini juga Maya pelakunya" kata Arkadewi


Maya terkejut mendengar ucapan Arkadewi dari balik pintu.


" jadi bibi, akan membunuh Damar hari ini, baiklah bibi sekarang saatnya aku membalas kematian ibuku" kata Maya sambil mengepalkan tangannya

__ADS_1


__ADS_2