
"siapa yang mengizinkanmu membawa motor kesayanganku!! " kata Nenek Welas dengan nada tinggi
"maaf nenek, Lulu hanya ingin membantu memperbaikinnya saja, tak ada maksud yang lain kok" jawab Lulu sambil tetap menunduk
"dasar lancang!! " teriak Nenek Welas mendekati Lulu
"tapi berkat Lulu, motor ini bisa dipake lagi nek" kata Ganendra membela Lulu
Nenek Welas beranjak mendekati Lulu, Ia langsung mengangkat tangannya sedangkan Lulu langsung memejamkan matanya, ia menyangka jika nenek akan memukulnya. Tapi dugaannya salah karena nenek Welas justru mengelus lembut rambutnya.
"kau pasti membayangkan aku akan memukulmu bukan?" kata Nenek sambil tersenyum
"hehehe" Lulu hanya teryawa kecil melihat Nenek yang tidak jadi marah
"jangan sering-sering bertindak ceroboh, walaupun niat kita baik, tidak semua orang bisa menerimanya, jadi berpikirlah dulu sebelum bertindak, jangan gegabah, dan jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja, karena penampilan itu bisa menipu" kata Nenek menasihati Lulu
Lulu hanya mengangguk, dan tersenyum kepada nenek Welas.
"terima kasih ka, karena berkat dirimulah nenek tak jadi memarahiku" kata Lulu
"tidak juga, ia terkesan dengan ketulusanmu" jawab Ganendra
"baiklah aku pamit pulang dulu ya" kata Ganendra yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Lulu sendiri.
Malam semakin larut, tapi entahlah malam ini Lulu tak bisa tidur. Baru sehari Ia berpisah dengan Damar Langit rasanya seperti sudah berbulan-bulan. Ia sangat merindukannya, rindu ingin bertemu atau sekedar mendengar suaranya. Rasanya Ia ingin menghubunginya, tapi Lulu tak mempunyai nomor ponselnya.
bahkan foto dihandphonenya saja tidak ada. Ia kemudian memandangi foto pengantin mereka yang ia pajang didinding.
"apa kau juga merindukan aku?" tanya Lulu saat menatap foto Damar sambil menitikan airmata.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sementara ditempat yang berbeda Damar juga tampak gelisah diatas tempat tidurnya. Ia masih saja tak bisa menejamkan matanya, meski jarum jam sudah menunjukan pukul dua dini hari.
"bodohnya aku, kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya?" kata Damar Langit menyalahkan dirinya.
Ia kemudian membuka ponselnya melihat foto Lulu yang sedang tertidur.
"kenapa aku sangat merindukanmu Lulu, kau tau aku sangat ingin bertemu denganmu ratuku" kata Damar yang kemudian mencium foto Lulu dan mendekapnya.
Pagi hari Lulu segera bergegas menuju kemobil Tama, yang sedari tadi menunggunya.
"maaf lama" kata Lulu
Seperti biasa Tama yang dingin tak menjawab pertanyaan Lulu, ia langsung melesatkan mobilnya menuju ke sekolah.
__ADS_1
Lulu membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar. Ia kemudian membuka sebuah pesan di media sosialnya.
"selamat pagi sayang? " pesan dari Damar
"ini beneran dari Damar?? " kata Lulu senang
"pagi juga sayang" jawab Lulu
"kangen 😩😩ðŸ˜ðŸ˜??? " pesan dari Damar
baru saja Lulu akan membalas pesan darinya, Tama sudah menarik tangannya untuk segera turun dari mobilnya.
"tunggu dulu tama, aku harus membalas pesan dari Damar dulu" kata Lulu
Tapi tama tetap menariknya, membuat Lulu menjadi kesal dengan tingkah Tama yang selalu tak memperdulikannya.
Sesampainya didepan kelas, Lulu segera melepaskan tangannya dari genggaman Tama. Ia kemudian segera duduk dibangkunya sambil membalas pesan dari Damar.
"aku juga kangen kamu sayang ðŸ˜ðŸ˜" jawab Lulu
tapi Lulu harus kecewa karena ia melihat Damar sudah tidak online lagi bahkan chatnya masih ceklist satu.
"huhh, ini gara-gara Tama, dasar gak berperasaan!! " maki Lulu dengan nada kesal
"hai Lulu" sapa laki-laki itu ramah
"Sean, kau satu kelas denganku" kata Lulu tak percaya melihat Sean satu kelas dengannya
Ia hanya mengangguk dan duduk disebelah Lulu.
"kau tidak boleh duduk disitu, itu tempat Yoga temanku" kata Lulu yang tidak suka melihat Sean mengusir Yoga
"apa kau keberatan aku duduk disini" kata Sean pada Yoga
"tidak masalah biar aku pindah didekat Tama" jawab Yoga
Lulu hanya mengangkat bahu menyaksikan Yoga dan Sean yang sedang berkongsi.
Jam pelajaran kelima dimulai, ia mencoba membuka ponselnya.
Ia langsung tersenyum bahagia ketika melihat Damar sudah membalas pesannya.
Perasaannya begitu bahagia, seperti mendapat durian jatuh, mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Ia bahkan tak menghiraukan guru yang sedang menjelaskan didepan. Ia masih asyik membalas chat dari Damar.
**plaakkk!!!
__ADS_1
Suara pak Adam yang memukulkan penggaris dimeja Lulu yang sedari tadi menunduk, sehingga tak menyadari kedatangannya. Lulu kaget dan segera memasukan ponselnya, tapi sayang Pak Adam lebih dulu mengambil ponselnya dan segera menyitanya.
"handphonemu saya sita yang mulia" kata Pak Adam
" besok kau baru bisa mengambilnya" kata Pak Adam lagi
Lulu hanya tertunduk Lesu melihat pak Adam menyita handphonenya.
"mampus gue, gak bisa chat lagi sama Damar" kata Lulu dalam hati
***Kriiing.... kriiing... kriiing
Bel pulang sudah berdering tapi Lulu masih terlelap dimejanya. Karena jam terakhir tidak ada guru yang mengajar dikarenakan sakit, membuat Lulu tertidur dikelas. Sean yang berada disampingnya mencoba membangunkan Lulu. Namum Lulu tetap saja tak juga bangun.
Ia kemudian berinisiatif untuk menggendongnya dan mengantarkannya pulang, namun belum sempat ia menyentuhkan tangannya ke badan Lulu, Tama segera menepis tangannya.
"tidak perlu repot, biar aku yang akan membawanya pulang" kata Tama
"siapa kau?" tanya Sean pada Tama
"aku pengawalnya" jawab Tama singkat
Tama segera menggendong Lulu menuju keparkiran, ia kemudian merebahkan tubuhnya dikursi belakang. Baru saja Tama akan melesatkan mobilnya Lulu tiba-tiba saja terbangun.
"apa kita sudah sampai dirumah nenek?" tanya Lulu
"kita masih disekolah " jawab Tama
Lulu segera mencari ponselnya didalam tas namun sayang ia tak menemukannya.
"tunggu Tama, sepertinya hpku ketinggalan deh, karena ditas tidak ada" kata Lulu yang kebingungan mencari ponselnya
Ia kemudian segera turun dari mobil dan berbalik kekelasnya.
"handphonemu disita yang mulia, apa kau lupa" kata Tama dari dalam mobil
"iya aku lupa, hehehe" kata Lulu sambil tertawa kecil
"boleh aku pinjam ponselmu, aku ingin menelpon Damar?" kata Lulu
"maaf yang mulia, tapi aku tidak mempunyai nomor Pangeran Damar Langit" jawab Tama
"payah, masa kamu tak punya nomornya " gerutu Lulu
"pakailah ponselku" kata Sean yang muncul dihadapan Lulu sambil menyodorkan handphonenya
__ADS_1