ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 88 #Menyamar (2)


__ADS_3

Damar Langit kembali mengunjungi Ganendra yang sudah empat hari koma, ia tetap datang mengunjunginya meskipun Arkadewi selalu melarangnya masuk.


Ia terus menatapnya dari balik kaca, Damar segera bersembunyi ketika Arkadewi keluar dari ruang perawatan. Ia tidak mau wanita itu kembali memakinya karena datang menjenguk putranya.


Damar berusaha menyelinap masuk kedalam ruangan setelah memastikan Arkadewi benar-benar tidak terlihat lagi.


Ia kemudian mengelus lembut kening Ganendra.


"cepat sembuh ka, aku sangat merindukanmu, rindu tingkah usilmu yang selalu membuatku cemburu, rindu perhatian mu padaku meskipun aku tidak pernah menganggap mu, maafkan aku kaka" kata Damar sambil menitikkan air mata


Mendengar ucapan Damar tiba-tiba tubuh Ganendra mulai bereaksi, tangannya mulai bergerak-gerak, melihat Gaga yang mulai menggerakkan tangannya Damar langsung berlari memanggil dokter.


"sial!!, kamu tidak boleh sembuh ka Gaga, aku harus mengirimu ke Surga untuk menemani ibuku" kata Candramaya dari balik pintu


Ia kemudian masuk kedalam bangsal perawatan Gaga ketika tidak ada seorangpun yang menemaninya.


"maafkan aku kaka, terpaksa melakukan semua ini padamu" kata Maya sambil melepas saluran oksigen Gaga


Ia segera berlari keluar ketika mendengar suara seseorang yang menuju ruang perawatan itu.


"oh tidak, siapa yang mencoba membunuhnya" kata dokter yang segera memasang kembali selang oksigen Ganendra.


"memangnya ada apa dok?" tanya Damar


"sepertinya tadi ada yang berusaha melepaskan selang oksigen pangeran Ganendra, dan beruntungnya kita datang tepat waktu, sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan" kata dokter


Damar segera berlari keluar setelah mendengar ucapan dokter, ia bermaksud mengejar orang yang berusaha membunuh kakaknya.


"dia pasti belum jauh" batin Damar Langit sambil terus berlari menyusuri selasar rumah sakit.


"sial !!" kenapa orang itu cepat sekali menghilang" kata Damar dengan nafas yang tersengal-sengal


Ia kemudian kembali lagi untuk memastikan kondisi Ganendra, tapi sayangnya kali ini lagi-lagi ia hanya bisa melihatnya dari balik kaca, karena Arkadewi sudah kembali kesana.


"siapa yang berusaha membunuh putraku!, kau akan merasakan akibatnya nanti" kata Arkadewi sambil mengepalkan tangannya


Sementara itu Damar segera berlari keruangan security, untuk melihat rekaman CCTV ruangan Ganendra.


"yang mulia!!" kata seorang satpam memberi hormat ketika melihat Damar masuk keruangannya


" saya mau minta tolong untuk melihat rekaman CCTV ruang perawatan pangeran Ganendra" kata Damar Langit


"silahkan yang mulia " kata seorang satpam mempersilahkannya dengan ramah


Damar Langit terus memandangi rekaman CCTV itu, tapi tak ada seorangpun yang masuk keruangan Ganendra selain dirinya.


"bagaimana bisa, pasti ada seseorang yang sudah menghapus nya " batin Damar Langit


"apa sebelumnya ada yang masuk keruangan ini?" tanya Damar


Mereka terdiam sejenak, mencoba mengingat siapa yang masuk keruangan itu sebelum Damar Langit.


"aku ingat, tadi ada seorang wanita cantik yang meminta tolong saya untuk memberikannya segelas air karena wanita itu terlihat sangat lemah" kata salah seorang satpam

__ADS_1


"bagaimana ciri-ciri nya?" tanya Damar langit lagi


"cantik, putih, tinggi, rambutnya panjang dan ada tahi lalat dibibirnya" jawab laki-laki itu


"apakah seperti ini" kata Damar menunjukkan foto Candramaya


"iya benar" jawab satpam itu


"baiklah, terima kasih semuanya atas informasinya" kata Damar


Ia kemudian berpamitan dan meninggalkan rumah sakit.


"Maya!!, kenapa kau melakukan semua ini" kata Damar dalam hati


Ia kemudian melajukan mobilnya kembali kerumahnya.


***********


Candramaya masih asyik mengobrol bersama kedua sahabatnya Raisha dan Clara, ketika Yudha datang menghampiri mereka.


"Maya, kenapa nilai rapormu begitu jelek tahun ini, apa kau ada kesulitan belajar?" tanya Yudha


"tidak ada paman, aku hanya sedang banyak masalah saja tahun ini, sehingga konsentrasi belajar ku terganggu, mungkin itu yang membuat nilai-nilai ku turun" jawab Maya


"tapi bagaimana dengan impianmu untuk masuk ke Universitas Inggris?, jika nilaimu seperti itu maka aku yakin kau tidak akan bisa masuk ke sana" kata Yudha


"paman tenang saja, aku pasti bisa" jawab Candramaya


"tapi paman sekarang tak yakin dengan mu karena melihatmu yang sekarang bukanlah Maya yang dulu aku kenal, makanya paman sudah mendatangkan seorang guru privat untukmu" kata Yudha


"tentu saja tidak Maya, justru paman ingin kau meningkatkan kemampuan mu agar bisa mewujudkan impian Regita, yaitu melihat dirimu masuk di Universitas Inggris" kata Yudha


"terserah paman sajalah, aku tidak peduli" jawab Maya


"baiklah Maya sekarang orang itu sudah menunggumu di ruang depan, ayo segera temui dia" perintah Yudha


"aku tidak mau paman, suruh saja dia masuk menemuiku" kata Maya angkuh


"dasar cewek angkuh, kalau bukan untuk mengungkap siapa pembunuh Sean aku tak sudi menuruti semua kemauanmu" batin Yudha


Ia kemudian pergi ke depan untuk memanggil seorang guru privat yang sudah menunggunya di sana.


"masuklah, Maya sudah menunggumu didalam" perintah Yudha


Laki-laki itu berjalan masuk kedalam untuk menemui Candramaya.


"halo semuanya, perkenalkan aku El Roy Kim, guru privat nona Candramaya" Roy memperkenalkan diri


Ketiga gadis belia itu langsung terpana dengan ketampanan cowok didepannya.


"woow!!!, ganteng banget !!" kata Raisha dan Clara bersamaan


"biasa aja" kata Candramaya mencoba menyembunyikan kekagumannya pada El Roy

__ADS_1


"oppah, bisa minta nomor handphone nya " kata Raisha


"apaan sih kamu Cha, malu-maluin aja" kata Maya


"tentu" jawab Roy sambil memberikan kartu namanya pada Raisha


"kalau guru privatnya ganteng kaya gini, aku juga mau private sama dia" kata Clara sambil terus memandangi wajah tampan El Roy


"aku juga" tambah Raisha


"sudah-sudah kalian cepat pulang, kalau kalian masih disini aku tidak akan bisa konsentrasi belajar" ucap Maya


"huh!, bilang saja kaka tidak mau kami ganggu kan?" kata Raisha


"udah cepat pergi sana" Candramaya mengusir kedua sahabatnya


"huh!!, dasar rakus!! selalu saja begitu, tak pernah mau berbagi dengan sahabatnya" umpat Raisha


"silahkan duduk Mr. El Roy Kim" kata Maya lembut


" terima kasih nona Candramaya" jawab El Roy


"panggil saja Maya, biar lebih akrab" kata Maya


"baik Maya" jawab El Roy


"hari ini kita akan belajar apa Mr El Roy Kim" kata Maya


El Roy hanya tersenyum mendengar Maya yang selalu memanggil namanya dengan lengkap.


"panggil saja Roy " katanya sambil tersenyum


"duh kenapa senyumnya manis banget!, kalau aku terus bersamanya seperti ini, aku pasti bisa melupakan Damar " batin Candramaya


El Roy bingung ketika melihat Maya hanya bengong didepannya.


" kamu kenapa Maya, apa kamu kurang sehat?" tanya Roy sambil menyentuh keningnya


" aku tidak apa-apa Roy" kata Maya menutupi kegugupannya mendapat perhatian darinya


"duh!, kenapa jantungku jadi berdegup lebih cepat, jangan sampai Roy tahu, aku bisa malu, kalau ia sampai tahu" batin Candramaya


Roy kemudian pergi mengambil segelas air dari meja makan yang tak jauh dari tempatnya bersama Candramaya.


"minumlah, agar kau bisa lebih tenang" kata Roy yang mengetahui kegugupan Candramaya


"terima kasih Roy" kata Maya


"sama-sama, apakah kamu sudah siap belajar?" tanya Roy


"iya aku siap" jawab Maya


"baiklah kalau begitu kita mulai dengan belajar matematika" kata El Roy

__ADS_1


Yudha menatap keduanya dari kejauhan dengan senyumnya yang merekah.


"akhirnya aku berhasil juga" batin Yudha


__ADS_2