
Sementara itu dirumah Tama, Alfian sedang menunjukan foto-foto orang-orang yang datang kekafe Sean. Tama tampak meneliti satu persatu foto yang diberikan oleh Alfian.
Ia terperanjat menatap sebuah wajah yang tak asing baginya.
"maya?" kata Tama kaget
"apa kau mengenalnya" kata Alfian
"Ia teman sekolahku dan juga masih kerabat keraton" jawab Tama
"sepertinya dia sedang membicarakan hal yang penting dengan laki-laki ini" ucap Alfian sambil menunjukan foto pria yang dimaksudnya
"paman Yudha!!" kata Tama
"bukankah kata ayah dia sudah meninggal, tapi kenapa ia masih bisa bertemu Maya" kata Tama semakin bingung dengan kejutan-kejutan yang ia dapatkan hari ini
"sepertinya kasus ini sangat rumit, dan kita perlu beberapa orang untuk menyelidikinya" kata Alfian
"benar, dan kau tak perlu khawatir, karena aku dan kawan-kawan ákan membantumu Tama" kata Ferdan
"aku juga akan membantumu" kata Ganendra yang muncul bersama Lulu
"aku juga!!" kata Icha dari balik pintu
"sejak kapan lo datang cha?" tanya Ryan
"barusan sama Ayu" jawab Icha
"ok, baiklah kalau kalian semua membantu aku yakin kita pasti bisa menemukan siapa pelaku penembakan Lulu dan apa motifnya" jawab Tama
Kemudian mereka berunding, membicarakan strategi yang akan dipakai dan pembagian tugas untuk mereka.
*********
Arkadewi tampak sedang menghubungi seseorang.
"halo, apa kita bisa ketemu sayang?" kata Arkadewi
"dimana?" tanya Yudha
"terserah kamu saja" jawab Arkadewi
"dirumah kamu saja sayang, disana lebih aman, bahkan kita juga bisa leluasa untuk melepaskan rindu" jawab Yudha
"tidak bisa sayang, Gaga ada dirumah" jawab Arkadewi membohonginya
__ADS_1
"baiklah sayang, datanglah ke Sean Cafe didekat Alun-alun" ucap Yudha
"ok" jawab Arkadewi tersenyum licik
Arkadewi segera memarkirkan mobilnya didepan kafe.
Ia berjalan masuk dan seseorang segera membawanya masuk keruang khusus. Ia melihat Yudha sudah menunggunya disana.
"ada apa kau menemuiku" kata Yudha memulai pembicaraan
"apa kau belum tahu kabar yang menimpa putramu hari ini?" tanya Arkadewi sambil meneguk secangkir kopi latte
"belum, ada apa dengannya?" tanya Yudha penasaran
"seseorang telah berusaha membunuhnya, aku curiga kalau Panji berusaha melenyapkan nyawa putramu " kata Arkadewi
"tapi bagaimana mungkin Panji tega membunuh keponakannya sendiri" jawab Yudha
"ia tahu kalau keberadaan Sean bisa mengancam kedudukan Damar sebagai calon tunggal putra Mahkota, asal kau tahu dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan posisinya putranya itu" kata Arkadewi mulai menghasut Yudha
"kurang ajar!!!, beraninya anak selir itu mencelakai putraku" ucap Yudha yang kesal mendengar penuturan dari Arkadewi
"sayang, hari ini putramu bisa selamat, tapi apa kau bisa menjamin besok ia masih selamat, dari usaha pembunuhan yang akan dilakukan oleh Adikmu Panji Aryowinangun?" kata Arkadewi semakin memprovokasi Yudha
"aku bisa jamin Sean akan selamat, karena aku akan menghubungi orang-orangku yang ada dilingkungan keraton untuk melindunginya. Dan kau lihat saja disidang Sean besok, aku akan membuat kejutan yang tidak akan Panji lupakan seumur hidupnya, hahaha" ucap Yudha sambil tertawa senang
"apa kau perlu bantuanku sayang?" kata Arkadewi mencoba membujuk Yudha
"tidak perlu sayang, aku bisa melakukannya sendiri" ucap Yudha
**********
Seoul, Korea Selatan.
Danar Gumilang menyempatkan diri untuk mengunjungi kediaman gurunya Choi Minho disela-sela kunjungannya ke negeri ginseng itu.
"selamat siang Mr. Choi" sapa Danar Gumilang sambil membungkukkan badannya
"selamat siang yang mulia Bendoro Pangeran Haryo Danar Gumilang" balas Choi Minho
"ada apa gerangan yang mulia datang kemari?" tanya Choi Minho
"aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu guru" kata Danar Gumilang
"apakah kau mengajarkan Jujitsu kepada keluarga keraton yang lain selain aku dan ketiga saudara ku?" tanya Danar Gumilang
__ADS_1
"tentu saja tidak yang mulia, aku hanya mengajarkan kalian saja" jawab Minho
"tapi memang beberapa tahun kemudian saat aku kembali ke Seoul, Pangeran Yudha datang menemuiku untuk memperdalam kemampuan beladiri Jujitsunya, ia bahkan menetap disini selama satu tahun" jawab Minho
"terima kasih atas informasinya guru" ucap Danar Gumilang
"apa kau mau belajar Jujitsu lagi?" tanya Minho
"tidak guru, mungkin kami perlu membawamu kembali ke Jogjakarta untuk melatih putra kami" kata Danar Gumilang
"tapi usiaku sudah tidak muda lagi, aku tidak bisa bepergian jauh" jawab Minho
"baiklah guru, bagaimana kalau kau melatih keponakanku selama seminggu disini" ucap Danar Gumilang sambil menunjuk Damar Langit yang sedari tadi hanya diam
"hmm, tentu saja " jawab Minho
Damar segera menarik tubuh pamannya itu.
"maksud paman aku harus menetap disini selama seminggu?" bisik Damar ketelinga Danar Gumilang
"tentu yang mulia, aku ingin anda belajar disini untuk melindungi Lulu dari orang-orang yang akan membunuhnya" jawab Danar Gumilang
"aku tidak mau paman" jawab Damar Langit
"kamu tidak bisa menolak pangeran, karena ini perintah langsung dari yang mulia Raja " jawab Danar Gumilang sambil memperlihatkan Surat Perintah dari yang mulia Raja
"kenapa paman tak memberitahuku sejak awal, paman sengaja menjebak ku ya!" kata Damar kesal
"kalau aku memberi tahumu dari awal pasti kau akan menolaknya" kata Danar Gumilang
"iiishh, paman !!" kata Damar yang kesal karena ia terpaksa harus menunda kepulangannya ke Jogja seminggu lagi
***********
Sementara itu Alfian bersama Lulu berboncengan menuju kafe Sean.
Alfian kembali mengambil gambar pengunjung kafe Sean hari ini dibantu oleh Lulu yang menyamar menjadi seorang pria.
"ngomong-ngomong, boleh tau gak alasan kamu berteman dengan Ryan dan kawan-kawan, yang jelas-jelas musuh bebuyutanmu" tanya Lulu
"panjang ceritanya Lu" jawab Alfian sambil memasang kameranya
"cerita aja, gue siap jadi pendengar yang setia kok" jawab Lulu penasaran
"awalnya gue mau insaf jadi anak nakal, gue udah lelah dikejar-kejar polisi. Hingga suatu hari ketika aku kalah tawuran, teman-teman ku meninggalkan ku sendiri yang tergolek lemah tak berdaya. Aku sudah dikepung oleh puluhan anak-anak PL yang sudah siap membunuhku, dengan berbagai senjata tajam yang mereka bawa. Aku hanya pasrah ketika seseorang mulai melayangkan samurainya kearah perutku, beruntung Pak Ali datang menyelamatkan aku. Ia bahkan menolongku saat polisi menangkapku, aku terharu melihat ia yang begitu peduli denganku. Ia menasihatiku dengan kalimat-kalimat bijaknya, membuatku tersadar bahwa aku berada dijalan yang salah selama ini. Ia merangkul ku saat aku dikeluarkan dari STM MENTARI, membawanya masuk kesekolah kalian. Aku satu kelas dengan Ferdan sekarang, dan dari situlah pertemananku dengan Ferdan, Ryan terjalin, dan kami sepakat untuk berubah didepan pak Ali. Apalagi sekarang kita sudah naik kelas dua belas dimana kita akan lulus sebentar lagi, sudah saatnya kami mengakhiri segala kenakalan kami" kata Alfian
__ADS_1
"kamu benar Al, Pak Ali memang luar biasa, aku juga rindu nasihat-nasihat bijak darinya" kata Lulu