ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 85 # Luka Candramaya (2)


__ADS_3

Maya terkejut mendengar ucapan Arkadewi dari balik pintu.


" jadi bibi, akan membunuh Damar hari ini, baiklah bibi, sekarang saatnya aku membalas kematian ibuku" kata Maya sambil mengepalkan tangannya


Maya segera pergi meninggalkan ruang bawah tanah itu.


#Flasback


Sebenarnya Maya berusaha mencari ponsel Arkadewi dikamar Yudha setelah mendengar teriakan Arkadewi yang meminta ponselnya dari Yudha.


Candramaya akhirnya berhasil menemukan ponsel Arkadewi di sebuah kotak kecil didalam almari pakaian Yudha


********""


"halo ada apa dimas?" tanya Yudha


"kenapa kang mas belum datang ke istana juga, kami masih menunggumu" jawab Danar Gumilang


" maaf, aku baru saja pulang dari pemakaman Regita, aku kira acaranya sudah selesai, jadi aku tidak datang ke istana" ucap Yudha


"ya sudah datanglah segera ke istana kami menunggumu" kata Danar Gumilang


Yudha kemudian bersiap-siap dan pergi menuju ke istana.


Sementara Maya segera pergi kerumah Arkadewi.


"Maya!!" teriak Ganendra ketika melihat Maya memasuki kamarnya


"ada apa ka?" tanya Maya


Ganendra kemudian memeluk Maya.


"maafkan kaka tidak bisa menghadiri pemakaman ibumu, aku baru tahu tadi dari paman Danar" kata Ganendra


"iya ka, tidak apa-apa" jawab Maya


" kau mau kemana?" tanya Gaga


"aku mau ambil baju-baju ku, terus aku akan tinggal bersama paman Yudha sekarang" jawab Maya


"kenapa tidak disini saja, bukankah kami ini keluargamu juga" kata Gaga


"maaf ka, tapi ibu menyuruhku untuk ikut Paman Yudha" jawab Maya


"yaudah, apa kamu tidak keistana menghadiri upacara penobatan putra mahkota?" tanya Ganendra


" tidak ka, aku dirumah saja, kenapa kaka tidak pergi kesana?" jawab Maya

__ADS_1


"aku sedang mencari ibu, sudah dua hari ia tidak pulang, bahkan ponselnya pun tidak aktif" jawab Ganendra


" kau tidak perlu khawatir ka, bibi baik-baik saja" ucap Maya


" darimana kamu tahu ibuku baik-baik saja" tanya Ganendra


"kemarin aku bertemu bibi katanya ia ada urusan penting dengan seseorang dan ia akan menemuinya diluar kota untuk beberapa hari" jawab Maya


"oh begitu, tapi kenapa ia tak memberitahuku" jawab Gaga


"mungkin kaka sedang sibuk jadi bibi tidak enak mengabarimu" kata Maya


"iya benar" jawab Gaga


"tapi ada yang lebih penting dari semua ini ka" kata Maya


"apa ?" tanya Gaga


"kau harus menyelamatkan Damar, karena yang aku dengar dari paman Yudha, ada seseorang yang akan membunuh Damar dalam acara penobatan putra mahkota" kata Maya


"benarkah?" tanya Ganendra meyakinkan


"benar ka, karena usaha mereka yang gagal kemarin, maka mereka akan melakukannya lagi dalam acara penobatan ini" jawab Maya


"tapi darimana paman Yudha tau kalau ada yang ingin membunuh Damar?" kata Ganendra


"paman Danar dan paman Yudha sedang mencari tau siapa pelaku percobaan pembunuhan Damar, makanya keduanya sedang menyelidiki kasus ini secara mendalam, dan dari penyelidikan ini akhirnya paman mengetahui akan ada rencana percobaan pembunuhan berikutnya" kata Candramaya


"belum, makanya ia akan mengetahuinya sekarang, oleh karena itu, kaka harus membantu paman Yudha meringkus siapa pelaku sebenarnya" kata Maya


" baiklah, aku akan segera kesana" jawab Gaga


Candramaya tersenyum senang karena usahanya membujuk Gaga berhasil.


"maafkan aku kaka, terpaksa aku harus memanfaatkan kebaikanmu" batin Maya sembari menyunggingkan senyumnya


***********


Sementara di Aula kerajaan semua sudah bersiap untuk memulai acara penobatan putra mahkota.


Yudha duduk bersama Danar Gumilang dan Juga Panji Aryowinangun.


Damar Langit berjalan memasuki aula kerajaan didampingi oleh Lulu, keduanya duduk didepan di depan para Abdi dalem keraton.


Hingga tiba saatnya yang mulia Raja memanggilnya untuk memakaikan mahkota kerajaan kepada Damar Langit.


Ia berjalan mendekati yang mulia raja dengan penuh percaya diri, ketika yang mulia raja sedang memakaikan mahkota kerajaan tiba-tiba, seorang yang membawa baki mahkota kerajaan mengeluarkan sebuah belati yang tersembunyi dibawah mahkota raja.

__ADS_1


Namun ketika ia sudah siap untuk menghunuskan belati itu ke tubuh Damar, Ganendra yang sedari tadi memperhatikan Damar Langit segera berlari kearah mereka.


Ia langsung mendorong tubuh Damar Langit sehingga tubuh Damar terlempar menjauh darinya.


***arghhhh!!!


Terdengar erangan dari Ganendra yang terkena tusukan belati itu.


Panji Aryowinangun yang kaget melihat putranya tertusuk dan bersimbah darah segera menarik bahu lelaki misterius itu, ia kemudian menghajarnya namun lelaki itu ternyata bukan orang biasa.


Ia mampu menepis semua serangan Panji, bahkan ia juga berhasil melumpuhkan sang Raja. Danar segera turun dan membantu yang mulia raja.


Sedangkan Yudha, ia sudah tahu bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan ilmu bela diri yang tinggi. Ia kemudian mengeluarkan pistol yang sudah ia persiapkan, ia menarik pelatuknya dan mengarahkan kepada lelaki misterius itu.


***door!!!


Tembakan dari Yudha berhasil mengenai kaki lelaki misterius yang berusaha melarikan diri itu.


Beberapa orang pengawal kerajaan segera berlari untuk menangkapnya, lelaki itu mulai mengambil sesuatu dari saku celananya ia kemudian melempar sebuah serbuk yang membuat ruangan itu seketika langsung berkabut.


"sial!!!, ternyata ia memakai cara lain untuk kabur dari sini, baiklah aku akan mengejarmu. Sampai mana kau bisa lari dariku" kata Yudha yang segera menghubungi anak buahnya untuk mengejar laki-laki itu.


Yudha segera berlari keluar bersama Danar Gumilang untuk mengejarnya, mereka kemudian melihat seorang pria yang sudah bersimbah darah terkulai lemas dilantai.


"bagus!!!, kalian benar-benar bisa diandalkan" puji Yudha kepada anak buahnya


Yudha segera memeriksa semua saku celana dan bajunya, ia takut jika lelaki itu akan meminum racun bunuh diri seperti sebelumnya. Dan benar saja Yudha berhasil mengamankan obat yang sudah digenggam oleh lelaki itu.


"sekarang kau tidak bisa mati, karena kami akan memberimu hadiah lebih besar jika kau beritahukan kami siapa yang menyuruhmu?" tanya Yudha


Sementara Argo Seno yang terus mantau mereka dari kejauhan segera melepaskan tembakannya ke arah laki-laki itu, dan tembakan Arga Seno tepat mengenai jantung pria itu sehingga ia langsung jatuh tak bernyawa.


***dorrr!!!!


Danar dan Yudha saling berpandangan, keduanya kemudian berlari mengejar sipembak misterius itu.


Sementara itu Argo Seno segera melepas semua baju dan topeng yang ia pakai dan kemudian membakarnya.


Ia kemudian segera masuk kembali kedalam Aula untuk membawa Ganendra kerumah sakit.


Suara sirine ambulan menyeruak memecah keheningan suasana keraton.


Argo Seno menatap sedih kearah Ganendra yang terbaring sudah tak sadarkan diri didalam ambulance.


"aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini " batin Argo Seno bersedih karena kegagalan rencananya


"yang mulia Arkadewi pasti sangat murka jika mengetahui semua ini" kata Argo Seno dalam hati

__ADS_1


Sementara Damar terus menerus memegangi jemari tangannya, ia sangat khawatir dengan kondisi kakanya yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"maafkan aku kaka, selama ini tak pernah mengakuimu sebagai kakaku, bahkan aku sangat membencimu" kata Damar Langit sedih


__ADS_2