
"dokter tunggu!!" teriak Damar Langit ketika melihat dokter itu lewat dihadapannya
"ada yang bisa saya bantu?" sapa dokter itu Ramah
"kaka!!" teriak Damar yang terkejut melihat sosok yang berdiri dihadapannya
"iya ada yang bisa saya bantu yang mulia" kata dokter Rama berusaha bersikap tenang agar Damar tidak curiga
"maaf kalau lancang, wajahmu begitu mirip dengan kakakku dan juga kau sangat perhatian dengan bunda Arkadewi, ada hubungan apa kau dengannya?" tanya Damar Langit
"ternyata Damar memperhatikan gerak-gerik ku selama ini, aku harus hati-hati sekarang, aku tidak mau Damar tahu kalau Ganendra masih hidup" batin Rama
"dokter, apa hubungan anda dengan bunda Arkadewi" tanya Damar lagi
"oh itu, tentu saja karena aku seorang dokter jadi harus peduli dengan semua pasien" jawab Rama
"tapi dokter bukannya seorang dokter spesialis anak, jadi seharusnya tidak perlu ada diruang perawatan ini" kata Damar curiga
"apa dia ka Gaga yang menyamar menjadi dokter Rama" gumam Damar Langit
"kau benar yang mulia, tapi tidak ada salahnya aku memberikan perhatian kepada seorang ibu yang kehilangan putranya sampai menjadi gila, makanya aku sangat bersimpati padanya dan ingin sekali membantunya pulih, itu saja aku tidak punya misi khusus untuk mendekatinya" jawab Rama
"hmm, baiklah aku percaya. Terima kasih sudah merawat bundaku" kata Damar Langit
"sama-sama yang mulia" jawab Rama
Ia kemudian pergi meninggalkan Damar dan Tama.
"fiuhhh!!, untung Damar percaya dengan ucapan ku" kata Rama sambil mengelus dadanya
"dokter itu sangat mencurigakan" kata Tama
"kau benar Tama, aku tahu ada yang ia sembunyikan, dan aku minta kau menyelidikinya" pinta Damar pada Tama
"baik kang mas" jawab Tama Wijaya
"sekarang kita pergi ke Alun-alun yuk, aku sudah lama tidak mampir ke kedai soto langganan ku" ajak Damar
"baik yang mulia" jawab Tama
"berhentilah bersikap kaku padaku Tama, kau tidak perlu seperti ayahmu, aku ingin ketika kita ada diluar istana kau bersikap biasa padaku, layaknya kakak adik biasa tidak usah formal dan kaku begitu" kata Damar Langit
"iya ka" jawab Tama
"nah gitu dong baru keren" ucap Damar Langit
Mereka kemudian bergegas menuju ke alun-alun, Tama kemudian memarkirkan mobilnya didepan kedai soto.
"sudah lama sekali aku tak mampir kesini" ucap Damar sambil menatap fotonya bersama Lulu yang terpasang didinding kedai
Setelah selesai makan Damar berjalan ke alun-alun untuk menikmati keindahan senja di alun-alun.
__ADS_1
Tama hanya duduk sambil mengamati pemandangan sekitarnya.
***buughh!!!
Sebuah bola menghantam wajah Tama.
"bola siapa ini" maki Tama sambil memegang bola yang menghantam wajahnya
Seorang anak kecil berlari menghampiri Tama .
"om, bola Bagas!!, bola Bagas om" ucap Bagas sambil menarik-narik baju Tama
"oh jadi ini bola kamu, berarti kamu yang udah lempar bola ini dan mengenai muka om" kata Tama
"bukan bagas om, tapi mamah" jawab Bagas sambil menunjuk kearah Lulu yang berdiri tak jauh darinya
Melihat wajah Tama yang berubah menjadi garang, Lulu segera membalikan badannya.
"wah gawat!!!, sepertinya orang itu sangat marah pada Bagas" batin Lulu
Tama kemudian berjalan mendekati Lulu.
"apa kau yang melempar bola ini kewajah ku!" ucap Tama dengan nada tinggi
"bu..bukan om" jawab Lulu gugup
"apa kamu bilang om, hey!! kalau bicara itu lihat lawan bicaranya bukan malah berpaling seperti itu, dasar tidak sopan" kata Tama sambil menarik bahu Lulu
"angkat kepalamu!!" teriak Tama
Lulu baru sadar jika lama-lama ia berbicara dengan pria galak itu, Bagas bisa kabur meninggalkannya.
"aku harus segera kabur dari pria ini, atau Bagas hilang" kata Lulu dalam hati
Ia kemudian merebut bola itu dari Tama dan segera berlari meninggalkannya.
"maaf om, nanti lain kali saja aku dengerin curhatannya, aku harus pergi sekarang!!" teriak Lulu sambil berlari
"jangan pergi!!, woii!!, dasar wanita sialan!!" gerutu Tama
"tuh kan baru lengah sebentar saja sudah hilang!!" kata Lulu yang tidak mendapati Bagas ditempatnya
Bagas memang sangat aktif dia selalu membuat Lulu kewalahan menghadapinya, beruntung ada ibu Ayumi yang membantu merawatnya.
"Bagas!!! kau dimana nak" Lulu terus berteriak sambil mencari putranya
"kena kau!!" kata Tama yang berhasil menangkap Lulu
**bugghh!!
"awww!!"
__ADS_1
Lulu segera menghajar Tama hingga ia jatuh tersungkur ditanah.
"sudah ku bilang lain kali kita selesaikan urusan kita, tapi sekarang aku harus mencari putraku lebih dulu, apa kau mau tanggung jawab kalau dia hilang !!" hardik Lulu
Ia kemudian pergi meninggalkan Tama dan melanjutkan mencari Bagas.
Tama masih terpaku menatap Lulu yang pergi meninggalkannya
"benar-benar mirip sekali, bahkan pukulannya juga sama, apa dia masih hidup" batin Tama
"mungkin dia tak mengenaliku karena jenggot yang menutupi wajahku yang tampan ini, baiklah besok aku akan membersihkannya, dan aku akan memastikan apa dia Lulu atau bukan" ucap Tama lirih
"aku tidak akan memaafkan diriku kalau Bagas sampai tidak ketemu" kata Lulu sambil duduk dibawah pohon
Ia sudah putus asa karena sudah berkeliling alun-alun tapi tidak menemukan putranya itu.
"mamah!!" teriak Bagas yang melihat Lulu duduk dibawah pohon
Lulu segera bangkit dan menoleh kearah suara itu.
"Bagas!!!" teriak Lulu sambil berlari kearahnya
"kemana aja kamu sayang" kata Lulu sambil memeluknya
"dia berlari mengejar tukang es krim tadi" kata Rama
"terima kasih dokter, aku tidak tahu harus membalasnya pakai apa, aku sangat takut kalau putraku menghilang dan hampir saja aku mati dibuatnya" kata Lulu
"hmmm, kau harus ekstra menjaganya, aku perhatikan dia sangat aktif" kata Rama
"benar dok, dia seperti monster kecil yang selalu membuatku khawatir" kata Lulu
"bagaimana kalau kita makan siang bersama" ajak Rama
"apa itu sebuah imbalan yang harus kuberikan padamu?" tanya Lulu
"bukankah kau tadi bilang ingin membalas kebaikan ku tapi tidak tahu dengan apa?, tapi kalau kau tidak bersedia juga tidak apa-apa" jawab Rama
"baiklah dokter, lagian aku juga lapar karena sudah berlarian kesana kemari untuk mencari monster kecil ini" kata Lulu sambil mencubit hidung Bagas
"kamu mau makan siang dimana?" tanya Rama
"bagaimana kalau makan siang di kedai soto itu" kata Lulu sambil menunjuk ke kedai Soto
Rama kemudian menggendong Bagas menuju ke kedai soto itu.
Lulu tidak dapat menikmati soto dihadapannya karena Bagas terus mencoba kabur dari kedai itu.
"biarkan dia bersamaku!, kau makan saja dulu, aku akan menjaganya" kata Rama yang kemudian mengajak Bagas bermain bersamanya
Lulu senang melihat Bagas yang begitu penurut bila bersama Rama.
__ADS_1
"hmmm, bahkan selera makan kalian juga sama, aku yakin kamu pasti Lulu" batin Rama yang menatap Lulu yang sedang menikmati soto didepannya