
Arghhh!!!
Laki-laki itu mengerang ketika Tama mulai melesatkan tendangannya, tubuhnya jatuh tersungkur membuat busur panah yang dipegangnya segera melesat kearah Sean Lulu.
**jraaassshhh!!!
Beruntung busur panah itu hanya mengenai lengan Sean.
"kamu gak papa?" tanya Lulu yang ketakutan
"tidak apa-apa my princess, cuma luka kecil" kata Sean yang menyandarkan tubuhnya di teras sambil memegangi lengannya
Lulu melihat darah yang mengalir dari lengan Sean, ia segera menarik busur panah yang menancap dilengan Sean.
"argghhh!!" teriak Sean yang mengerang menahan sakit
Erangan Sean membuat beberapa penjaga penjara segera mendekatinya, dan membawanya ke klinik.
Tama terus bergulat dengan pemanah misterius itu, pria itu berhasil memukul mundur Tama. Saat Tama mulai lengah ia segera menelan sesuatu yang membuat mulutnya berbusa.
Tama mencoba menggagalkan usaha bunuh dirinya namun gagal. Ia segera membawa tubuh pemanah misterius itu kedalam ruang perawatan tahanan, tapi sayang nyawanya tak dapat diselamatkan karena racun yang ia minum telah merenggut nyawanya.
"sial!!!" maki Tama yang tak dapat mengorek informasi darinya
Sementara itu Lulu menemani Sean diruang perawatan.
Lulu menatap cemas kearah Sean.
"kau tidak perlu mencemaskanku my princess, aku akan baik-baik saja" kata Sean mencoba menenangkan Lulu yang menghawatirkannya
"iya aku tahu kamu pasti kuat" jawab Lulu menyembunyikan perasaan trauma yang mulai menderanya
"apa kamu baik-baik saja?" tanya Tama
"aku baik-baik saja, terima kasih sepupuku, kau sudah menyelamatkan ku hari ini" kata Sean
"tapi maaf aku tidak berhasil mengorek siapa dalang dari peristiwa ini" jawab Tama kecewa
"tenang saja adiku, aku pasti akan mengetahuinya sebentar lagi?" jawab Sean
"kau bawa saja Yang Mulia pulang, sepertinya ia ketakutan" perintah Sean
Tama kemudian membawa Lulu keluar dari istana.
Lulu hanya terdiam sepanjang perjalanan. Wajahnya pucat membayangkan peristiwa penembakan dirinya beberapa hari lalu. ia hampir saja mengalami kejadian yang sama, beruntung nyawanya selamat kali ini. Peristiwa hari ini membuatnya sedikit shock dan trauma.
"Tama bisakah kita berhenti dulu sebentar" ucap Lulu
Tama kemudian menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"kau kenapa yang mulia" tanya Tama yang melihat Lulu mealngkah keluar dari mobilnya
"aku perlu menyendiri" jawab Lulu sambil melangkah menjauhi mobil Tama
"kau mau kemana yang mulia" kata Tama sambil mengejar Lulu yang terus berlari menjauh darinya
Lulu pergi meninggalkan Tama ia berlari dan masuk kedalam minibus yang berhenti didepannya. Tama segera berlari kembali kemobilnya dan mengejar minibus yang membawa Lulu pergi.
"kiri pak!" teriak Lulu yang kemudian turun disebuah pantai
Ia berjalan kearah pantai yang dulu ia kunjungi bersama Ganendra.
Ia berjalan dibibir pantai menikmati indahnya ombak yang berkejaran ketika Laut sedang pasang. Ia terus berjalan hingga tak terasa ia sudah berada ditengah-tengah. Tubuhnya tergulung ombak membuatnya terseret menjauh dari daratan.
Tangannya melambai mencoba mencari pertolongan, kepalanya sesekali mencoba keluar untuk meminta tolong.
"tolooong!!!" teriaknya dengan suara parau
Tubuhnya mulai lemas, pandangannya mulai kabur, ia merasa badannya begitu ringan hingga tubuhnya masuk kedalam air yang terus menariknya kearah yang lebih dalam. Seseorang meraih tubuhnya dan membawanya ke daratan.
Tama menatap laki-laki itu dari kejauhan, ia bisa bernafas lega saat ia tahu seseorang berhasil menyelamatkan Lulu.
"kau boleh kembali pulang, aku akan menjaganya" kata Ganendra
"baik ka" jawab Tama yang berlalu meninggalkan mereka
"uhuk!!...uhuk!!"
Lulu mulai terbangun dan memuntahkan air dari mulutnya, Gaga memijit punggungnya, membantunya mengeluarkan semua air yang ia minum.
Lulu tergolek lemas setelah berhasil mengeluarkan air dari perutnya, Gaga menghampirinya dan memberikan kain untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup.
"kamu harus beristirahat dulu" kata Gaga yang kemudian menuntunnya menuju kesebuah saung ditepi pantai.
Ganendra membawakan segelas teh hangat kepadanya.
"minumlah, agar perutmu hangat" perintah Ganendra
Lulu segera meminumnya.
**uhuuk!!...uhukk!!
Ia menyembur kan teh panas itu sehingga airnya mengenai wajah Ganendra.
"panas ka!!" teriak Lulu sambil mengusap mulutnya yang hampir terbakar
Gaga hanya tersenyum kepadanya, sambil menyeka wajahnya yang basah.
"makanya hati-hati minumnya, ditiup dulu baru diminum" kata Ganendra
__ADS_1
Lulu hanya tersenyum mendengar ucapan Ganendra.
Gaga kemudian mengambil sendok dan menyuapkan sendok demi sendok teh kepada Lulu.
"sudah ka, biar Lulu aja yang meminumnya sendiri" kata Lulu
"apa kau sudah lebih baik?" tanya Gaga
"iya ka" jawab Lulu
Gaga kemudian melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Lulu.
"ganti bajumu, dan pakailah jaketku" perintah Ganendra
Lulu segera melepas atasannya yang basah dan memakai jaket Ganendra. Ia menghampiri Gaga yang duduk dibibir pantai.
"duduklah" perintah Gaga
Lulu segera duduk disampingnya, iapun segera menyandarkan kepalanya dibahu Ganendra.
"aku takut ka" kata Lulu
"kau tidak perlu takut lagi, aku akan menjagamu" kata Gaga yang mengusap lembut kepalanya
"mereka akan membunuhku ka, hiks..hiks" kata Lulu yang mulai menitikkan Air mata
Gaga kemudian menatap lekat kearahnya, mendongakkan wajahnya hingga mereka bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
"semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin meniupnya, jadilah Lulu yang dulu, Lulu yang selalu kuat, Lulu yang tak pernah menyerah, dan Lulu yang ceria, dan teruslah tersenyum untuk semua orang" ucap Ganendra
Lulu terharu mendengar ucapan Ganendra, tangisnya seketika pecah membuat Ganendra memeluknya, mencoba memberinya semangat untuk bangkit dari trauma yang ia rasakan saat ini.
Lulu masih terus menagis dipelukan Gaga.
"sekarang kita pulang, dan kita cari siapa yang sudah berusaha untuk membunuhmu, aku yakin dengan bantuan teman-temanmu kita bisa menemukannya?" kata Ganendra
"iya ka" jawab Lulu yang mulai melepaskan pelukannya
"semangat!!" kata Gaga menyemangati Lulu
"semangat!!" jawab Lulu
Merekapun segera berjalan meninggalkan pantai, Ganendra segera melesatkan mobilnya menuju rumah nenek Welas.
Sementara itu dirumah Tama, Alfian sedang menunjukan foto-foto orang-orang yang datang kekafe Sean. Tama tampak meneliti satu persatu foto yang diberikan oleh Alfian.
Ia terperanjat menatap sebuah wajah yang tak asing baginya.
"maya?" kata Tama kaget
__ADS_1