ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 67 # Menjadi detektif 2


__ADS_3

Arkadewi segera merapikan penampilannya yang acak-acakan, ia kemudian meninggalkan kafe itu.


"bunda!!" teriak Lulu yang melihat Arkadewi keluar dari kafe Sean


**cklik!!


Alfian segera mengarahkan lensa kameranya kepada Arkadewi dan mengambil gambarnya.


Insting jahat Arkadewi rupanya mulai bermain, ia merasa jika ada seseorang yang mengintainya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya di sekitar kafe, dan benar saja ia mendapati Alfian yang sedang mengambil gambar pengunjung kafe.


"rupanya ada tikus kecil yang sedang memata-matai ku" ucap Arkadewi


Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Yudha.


" halo sayang, sepertinya orang-orang suruhan Panji sedang mematai-matai kafemu" kata Arkadewi menyunggingkan senyumnya


Mendengar perkataan Arkadewi, Yudha segera keluar bersama beberapa orang berbadan kekar.


"dimana mereka!" tanya Yudha


Arkadewi segera menunjuk kearah Alfian dan Lulu.


"tapi mereka bukan seperti orang kerajaan, dan bahkan terkesan seperti anak SMA" kata Yudha


"itulah cerdik nya Panji yang menggunakan jasa orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan keraton untuk mengelabuhi musuh-musuh nya" kata Arkadewi


"tangkap mereka dan ambil kameranya!" perintah Yudha


"matilah kau anak kecil!!, makanya jangan coba-coba mengusikku!!" batin Arkadewi


Melihat segerombolan orang yang datang mendekati dirinya, Alfian refleks menarik Lulu naik keatas motornya.


Ia segera meluncurkan motornya secepat kilat membuat Lulu segera memeluknya erat.


"kejar!!" teriak salah seorang dari mereka


Mereka segera masuk kedalam mobil dan mengejar Alfian yang sudah menjauhinya.


"anj*r!!, gue belum tau daerah sini jadi tidak bisa lewat jalan pintas" kata Alfian yang menghentikan motornya karena dua buah mobil sudah menghadangnya didepan


"terpaksa jadi berandal lagi!!" umpat Alfian


Ia turun dari motornya dan bersiap-siap menghadapi musuhnya yang sudah memasang kuda-kuda.


"kau disini saja dan pegang kameranya" pesan Alfian


"tidak bisa Al, aku harus membantumu " jawab Lulu

__ADS_1


"hajar dia dan ambil kameranya!!" perintah salah seorang dari mereka


***bughh!!!


terjadilah baku hantam antara mereka, Alfian menghajar satu persatu lawannya hingga berjatuhan. Ia memang sudah terbiasa berkelahi, sehingga kemampuannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Lulu berusaha membantu Alfian yang dikeroyok oleh puluhan orang berbaju serba hitam, Ia berusaha menangkis semua serangan yang diarahkan kepadanya.


Namun staminanya tak sekuat dulu, seseorang berhasil melayangkan pukulannya tepat dipunggungnya.


***arghhh!!


Lulu mengerang kesakitan ketika seseorang menghajarnya dari belakang, ia jatuh tersungkur sambil mengusap punggungnya.


"rupanya kau seorang perempuan" kata laki-laki itu yang melihat topi yang dipakai Lulu jatuh membuat rambut panjangnya terurai menutupi punggungnya


Melihat Lulu meringis kesakitan, Alfian segera menghajar pria didepannya. ia kemudian menarik lengan Lulu dan melemparkan kamera kearah mereka untuk menghentikan pengejaran mereka.


Alfian segera naik keatas motornya dan meluncur meninggalkan mereka.


"tidak usah dikejar, kita sudah mendapatkan kameranya, ini lebih penting daripada mengejar anak kecil itu" kata seorang dari mereka


Alfian segera menghentikan motornya ketika melihat orang-orang itu tak mengejarnya lagi.


"lo gak papa Lu?" tanya Alfian yang turun dan mengecek kondisi Lulu


"gue gak papa, tapi kenapa lo malah melempar kameranya kepada mereka, ilang donk barang buktinya " jawab Lulu sedikit kecewa


"setidaknya lo sudah mengenal orang penting yang berkunjung kekafe itu hari ini kan?" tanya Sean


" iya sih, tapi kalau tanpa bukti ya sama aja bohong, mereka gak bakal percaya" jawab Lulu


"udahlah itu gak penting, kamera kita bisa beli lagi, tapi keselamatanmu jauh lebih penting, dan aku takkan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu" ucap Alfian


Lulu hanya terdiam melihat ekspresi Alfian yang selalu ingin melindunginya, sama seperti dulu ketika pertama kali Ia menolongnya dari preman yang menjambret ponselnya.


"oh tidak!!...jangan sampai terulang lagi" kata Lulu dalam hati


"lo kenapa Lu?" tanya Alfian


"gak papa" jawab Lulu


"yaudah kita pulang saja, sepertinya kamu perlu istirahat " kata Alfian yang kemudian meluncurkan motornya menuju kerumah nenek Welas


"udah sampe Lu" kata Alfian


"Lu??" Alfian memanggilnya lagi


"Lulu!!, apa kamu tidur?" Alfian coba memastikan sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

__ADS_1


Namun Lulu tetap diam dan tak bergeming, tangannya masih melingkar di pinggang Alfian.


Alfian segera melepaskan tangan Lulu, ia merasa ada yang tak beres dengan Lulu, karena ia merasakan tangan Lulu yang dingin.


Ia melihat punggung Lulu yang mulai mengeluarkan darah.


"dasar anj*ng!!! kalian sudah mencelakainya, tunggu pembalasan dari gue" gumam Alfian sambil menggendong tubuh Lulu yang pingsan kedalam kamarnya.


Alfian segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang dibantu oleh Icha.


Sementara Nenek Welas segera menghubungi dokter.


Beberapa menit kemudian dokter datang dan memeriksa kondisi Lulu.


"bekas operasinya masih belum kering, jadi jangan banyak bergerak dulu" kata dokter


Lulu yang sudah tersadar hanya mengangguk pelan.


"kau diamlah saja dirumah, jangan kemana-mana dulu" kata nenek


Alfian segera pergi meninggalkan Lulu ketika melihatnya sudah siuman, Lulu menatap kepergian Alfian dengan cemas.


Alfian duduk bersandar dibawah pohon, Ada rasa bersalah yang menderanya. Ia merasa bersalah karena telah membuat Lulu terluka, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat melihat Lulu yang tak sadarkan diri. Ia memang masih menyukai Lulu, walaupun mulutnya terus menampiknya tapi hatinya tak bisa berbohong ia masih memendam rasa sayang padanya walaupun ia sudah berusaha menguburnya dalam-dalam.


"lo kenapa Al?" tanya Ryan


"gue ngerasa bersalah Rey, lulu terluka gara-gara gue" jawab Alfian sambil tertunduk


"lo gak salah Al, lo udah berusaha semampu lo buat melindungi Lulu, tapi lawan lo gak sebanding, kalau gue jadi lo, gue juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan lo" kata Ryan


"darimana lo bisa tau Rey?" tanya Alfian


"Lulu barusan Wa gue, dia minta gue buat nyemangatin lo" kata Ryan


"makasih Lu, gue seneng ternyata lo masih peduli sama gue" batin Alfian


"jadi gimana kita sekarang?" tanya Ryan


"sepertinya kita harus menyerang markas mereka?" kata Alfian


"tapi apa tidak berbahaya, kita menyerang kesana?" kata Ryan


"itu benar" kata Tama yang mendengar obrolan mereka


"kenapa kalian takut?" tanya Alfian


"kita tak bisa gegabah dalam bertindak, ingat lawan kita bukan orang-orang sembarangan, kita perlu mengatur strategi untuk melawan mereka. Lagipula jumlah mereka itu sangat banyak, sedangkan kita cuma sedikit" jawab Tama

__ADS_1


Alfian hanya terdiam, ia memang sedang emosi karena melihat Lulu terluka. Ia kemudian pergi meninggalkan Tama dan Ryan.


__ADS_2