ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 94 # Danar Gumilang beraksi


__ADS_3

Danar Gumilang berusaha mengecek kembali kamera CCTV ruang tahanan Argo Seno.


"hmmmm, sepertinya ada rekaman yang terpotong" kata Danar berusaha mengulang-ulang rekaman itu


"tunggu!!, lelaki itu masuk keruang tahanan tapi tak terlihat diruang mana ia mengunjungi rekan atau keluarganya" batin Danar ketika melihat seorang lelaki yang mencurigakan


"Yudha!!!, tidak salah lagi dia Yudha!" kata Danar Gumilang


Ia segera pergi meninggalkan ruangan itu setelah mendapat sedikit pencerahan.


Danar Gumilang memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit, ia segera berjalan masuk keruang perawatan Candramaya.


"kang mas!!" panggil Danar


"ada apa dimas" jawab Yudha


"apa kau benar-benar belum sadar juga, kau tahu Arkadewi itu seperti apa tapi kau masih saja membantunya" kata Danar Gumilang


"apa maksudmu berkata seperti itu dimas, aku benar-benar tidak mengerti" jawab Yudha


"jangan pura-pura kang mas, aku tahu kau yang menyuruh Argo Seno untuk bunuh diri bukan?, agar Arkadewi terbebas dari hukumannya" ucap Danar


"rupanya kau sudah mengetahuinya" kata Yudha lirih


"ingat kang mas karena ulahmu ini kau bisa menjadi tersangka utamanya, dan kau juga membiarkan Arkadewi kembali menjadi seorang yang lebih jahat lagi" kata Danar


"dan asal kau tahu Maya sekarang dalam bahaya" tambahnya lagi


"kau benar Danar, entahlah kenapa aku selalu peduli dengannya, aku tak mau melihatnya bersedih seperti kemarin, putranya sakit dan dia harus dipenjara, itu yang membuat hatiku teriris melihatnya, kau tahukan aku mencintainya dari dulu bahkan cintaku tak berubah pada nya walaupun ia selalu jahat terhadap ku, aku juga bingung cinta macam apa ini, mungkin ini yang terakhir kalinya aku membantunya, karena besok aku harus pergi ke Australia aku akan menetap lagi disana, dan aku akan membawa Maya, seperti janjiku pada Regita untuk menjaga dan melindunginya, dan menganggap Maya seperti putriku sendiri" kata Yudha


"lebih baik begitu kang mas, karena kalau lama-lama disini Maya bisa tidak tertolong, aku akan selalu mendukungmu, percayalah" ucap Danar sambil memeluknya


"terima kasih sudah mau mengerti diriku, aku titip Sean padamu" kata Yudha


"tentu kang mas, aku akan menjaganya seperti putraku sendiri" jawab Danar


***********


Arkadewi kembali kerumahnya, ia melihat Ganendra yang masih sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.


"kapan kamu kembali ke Inggris?" tanya Arkadewi


"mungkin setelah Gaga selesai menyelesaikan semua urusan disekolah bu" jawab Gaga


"memang ada urusan apalagi disekolah?" tanyanya lagi


"Gaga diminta oleh pihak sekolah untuk membantu menjadi penguji selama ujian praktik berlangsung" jawab Gaga


"oh, syukurlah jadi ibu masih bisa bersamamu dalam waktu yang lumayan lama" kata Arkadewi


"apa ibu senang kalau aku tinggal lebih lama lagi disini?" tanya Ganendra


"tentu saja nak, bahkan ibu berharap kau bisa kuliah disini saja agar ibu tidak kesepian" kata Arkadewi sambil merebahkan kepalanya dipundak Ganendra


"baiklah kalau itu yang ibu minta, Aku akan pindah kuliah disini saja, tapi ibu harus janji tidak akan berambisi lagi untuk mendapatkan posisi putra mahkota" kata Ganendra

__ADS_1


"kalau itu ibu tidak bisa janji nak, kita lihat saja nanti" jawab Arkadewi


***********


Sementara di istana sedang ada jamuan untuk menyambut kedatangan pangeran dari Jepang.


"silahkan yang mulia" kata Panji Aryowinangun mempersilahkan Mr. Nakamura Mariko untuk mencicipi hidangan yang disajikan


"bagaimana rasanya apa kau suka?" tanya Ratu Pitaloka


"enak dan aku suka" jawabnya


"perkenalkan di Damar putra kami" kata Panji Aryowinangun memperkenalkan Damar kepadanya


Nakamura kemudian menunduk memberi hormat begitu juga dengan Damar.


"kalian harus banyak ngobrol supaya lebih akrab" kata Danar Gumilang


Lulu berjalan menuju ke taman untuk mencari udara segar.


"ya ampun malam ini terasa panas sekali" kata Lulu sambil bersandar di kursi taman.


"Damar juga dimana lagi, tumben hari ini dia belum kelihatan batang hidungnya" kata Lulu lirih


Lulu kemudian berjalan-jalan melihat bunga-bunga yang bermekaran di malam hari.


"bagus banget!" kata Lulu memetik bunga itu


"ehemm!!" suara nenek berdehem


"pergilah ke istana, temani Damar disana" perintah nenek


"memang ada apa nek disana?" tanya Lulu


"sudah datang saja kesana" kata nenek dengan suara tinggi


Mendengar ucapan nenek Lulu langsung berlari menuju ke istana.


"dimana Lulu?" tanya ratu Pitaloka


"dia ada dirumah nenek bu" jawab Damar


"kenapa kau tak mengajaknya kemari" kata Pitaloka


"baiklah aku akan menjemputnya" kata Damar sambil berlalu pergi


Lulu berjalan masuk ke istana.


"wah rame banget, banyak makanan lagi sepertinya sedang ada acara perjamuan, pantas saja nenek menyuruhku kesini" kata Lulu sambil mencicipi makanan kecil


Lulu terkejut ketika seseorang menghampirinya.


"Mr. Nakamura!!, anda disini juga?" tanya Lulu


"iya, kamu sendiri kenapa ada disini?" tanya Nakamura

__ADS_1


"oh itu..dimana ada makanan disitu ada Lulu" bisik Lulu ditelinga Nakamura


Nakamura tertawa mendengar ucapan Lulu.


"sayang ternyata kau disini!" teriak Damar ketika melihat Lulu sedang berbincang dengan Nakamura


"apa kalian sudah saling kenal?" tanya Damar


"tentu saja, Mr. Nakamura ini salah satu penguji di ujian praktik tadi pagi" jawab Lulu


"oh begitu..." ucap Damar


"oh ya Mr. Nakamura perkenalkan dia Lulu permaisuri ku" ucap Damar


"benarkah!!, kalian ini sepasang suami istri" kata Nakamura tercengang


"benar sekali, dan anda juga harus coba nikah muda itu menyenangkan" ucap Lulu


Nakamura hanya terkekeh mendengar ucapan Lulu.


***********


Pagi harinya istana dibuat heboh dengan kedatangan banyak sekali masa yang sudah berdiri didepan gerbang istana sambil membawa berbagai macam tulisan dan meminta penurunan putra mahkota.


"turunkan Damar Langit!!!, ia tak pantas menjadi putra mahkota!!" teriak salah seorang dari mereka yang langsung disambut teriakan oleh yang lainnya


"turun!!! turuun!!! turun!!!"


"hanya pangeran Ganendra yang pantas menjadi putra mahkota!!!"


"hidup pangeran Ganendra!!!


"hidup!!!"


"ganti Damar dengan Ganendra!!!"


Teriakan-teriakan itu membuat Panji Aryowinangun geram dan hendak menemui pengunjuk rasa.


"sabar kang mas, jangan terpancing, aku rasa ini adalah cara terakhir mereka untuk berusaha menggulingkan Damar Langit sebagai putra mahkota, kita cari tahu dulu apa rencana mereka selanjutnya" kata Danar Gumilang menarik lengan Panji Aryowinangun


"lalu apa yang harus aku lakukan Danar?" tanya Panji Aryowinangun


"biarkan aku yang akan menemui mereka" jawab Danar


"baiklah, aku serahkan semuanya padamu" ucap Panji


Sementara diluar istana para pengunjuk rasa semakin bertambah banyak ditambah banyaknya awak media yang juga ikut meliput kejadian itu.


Danar Gumilang berjalan keluar untuk menemui pengunjuk rasa dengan pengawalan yang cukup ketat.


Ia kemudian berdiri diatas podium dan mendengarkan aspirasi pengunjuk rasa, ia juga berusaha menjawab semua pertanyaan dari pengunjuk rasa dengan arif dan bijaksana. Tidak lupa Danar berusaha menyampaikan pesan yang begitu membuat haru para pengunjuk rasa hingga akhirnya mereka bubar meninggalkan istana.


Tapi sepertinya ada seseorang yang merasa kesal dengan sikap Danar yang sok pahlawan menurutnya. Ia berusaha menerobos barisan Pengawal kerajaan yang melindungi Danar Gumilang dan berusaha membunuhnya, tapi usahanya gagal karena pertahanan yang begitu kuat dari para abdi dalem keraton.


Tak puas karena usahanya gagal ia kembali melempar sebuah bom molotov kearah podium Danar Gumilang, beruntung Danar segera menghindar dari tempat itu. Danar kemudian berlari mengejar laki-laki yang melempar bom molotov kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2