
"boleh aku pinjam ponselmu, aku ingin menelpon Damar?" kata Lulu
"maaf yang mulia, tapi aku tidak mempunyai nomor Pangeran Damar Langit" jawab Tama
"payah, masa kamu tak punya nomornya " gerutu Lulu
"pakailah ponselku" kata Sean yang muncul dihadapan Lulu sambil menyodorkan handphonenya
Lulu menatap kearah Sean, ia hanya tersenyum kepadanya.
"apa kau punya nomornya? " tanya Lulu
"tentu saja, sebagai sahabatnya sudah tentu aku menyimpan nomor sahabatku"
"yeay!! " teriak Lulu senang
Ia kemudian mengambil ponsel Sean dan segera menghubungi Damar Langit.
*tut.. tut.. tut !!!
Tak ada jawaban dari ponsel Damar.
"sepertinya dia sibuk" kata Lulu sambil mengembalikan handphone Sean
"sabar ya.. kau bisa menelponnya lagi nanti sore atau malam hari" jawab Sean coba menyemangati Lulu
"tapi handphoneku kan disita? " jawab Lulu sambil menyungutkan wajahnya
"kau bisa memakai telepon diistana bukan, atau meminjam dari siapa gitu, Ganendra misalnya" jawab Sean
"kau memang jenius Sean!!" kata Lulu sambil mencubit pipi Sean
"awww!! " teriak Sean kesakitan
"hehehe, sakit ya, aduh.. maaf ya " Lulu meminta maaf sambil memegang pipi Sean yang memerah karena cubitannya
"tidak papa kok yang mulia" jawab Sean yang terus memandangi Lulu
"kau memang cantik walaupun kadang terlihat norak, pantas saja Damar sampai berpaling dari Candramaya" batin Sean
"coba ulurkan tanganmu! " perintah Sean
Lulu segera mengulurkan tangannya dan Sean segera menuliskan nomor ponsel Damar ketelapak tangan Lulu.
"terima kasih Sean" kata Lulu
"sebagai gantinya, boleh donk aku minta nomor kamu? " kata Sean
__ADS_1
"tentu saja" jawab Lulu yang kemudian menuliskan nomornya diponsel Sean
"terima kasih yang mulia" kata Sean
"panggil saja Lulu, biar tidak canggung" jawab Lulu
"ok" jawab Sean sambil mengerlingkan matanya
Lulu hanya terkekeh melihat tingkah Sean.
"baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya? " kata Lulu berpamitan sambil melambaikan tangannya
"sampai jumpa yang mulia" jawab Sean yang juga membalas lambaian tangan darinya
Tama segera melesatkan mobilnya menuju keistana.
Sesampainya diistana Lulu segera berlari masuk kedalam kamarnya. Ia sudah tak sabar ingin segera menelpon Damar. Setelah berganti pakaian ia segera memutar nomor yang diberikan oleh Sean.
Beberapa kali ia coba menghubungi Damar Langit namun hasilnya nihil, telponnya masih tetap sibuk dan tak diangkat.
Lulu tertunduk Lesu disamping meja.
"kenapa kau sibuk sekali, sampai menghubungimu saja susah" kata Lulu lirih
"yang mulia" suara seorang dayang memanggilnya membuyarkan Lulu dari lamunannya
"Nenek meminta anda untuk menemuinya? " jawab Dayang istana
Lulu segera bangkit dan menemuinya.
"ada yang bisa lulu bantu nek? " tanya Lulu yang melihatnya sedang memasak sesuatu
"apa kau bisa memasak? " tanya Nenek
"tidak nek, tapi kalau membantu memotong atau yang lainnya Lulu masih bisa, hehehe? " kata Lulu sambil menggaruk-garuk kepalanya
"sebagai seorang istri kau harus bisa memasak agar suamimu betah dirumah" kata nenek Welas
"tapi Lulu takut kalau memasak, aku takut terkena cipratan minyak panas dan bawang merah yang selalu membuat mataku perih" kata Lulu
"mulai sekarang kau harus belajar memasak dengan nenek" kata Nenek
"baiklah, jadi apa yang harus Lulu lakukan? " tanya Lulu
"goreng ikan itu" titah nenek sambil menunjuk ikan gurame yang sudah siap digoreng
Lulu segera memanaskan minyak diatas wajan, setelah menunggu minyaknya panas ia kemudian memasukan ikan gurame kedalamnya. Karena ia memasukan ikan itu bersamaan dengan air bumbu yang ikut masuk kedalam wajan membuat minyaknya meletup-letup.
__ADS_1
"untung aku sudah pake helm dan sarung tangan jadi tidak terkena muncratan minyak panas, hehehe" kata Lulu bangga
Nenek yang kembali kedapur tak tahan menahan tawanya melihat Lulu yang menggoreng ikan memakai helm dan sarung tangan seperti seorang pembalap.
"hahaha" nenek tertawa melihat Lulu yang memakai helm
Lulu segera membalikan badannya menatap nenek yang sudah kembali kedapur.
"nenek! " kata Lulu kaget melihat nenek dibelakangnya
"kenapa kau memasak menggunakan helm?" tanya nenek
"kan tadi Lulu bilang, Lulu takut terkena minyak panas nek? " jawab Lulu memberikan alasannya
"kau tidak perlu memakai itu jika melakukannya dengan benar? " kata Nenek yang kemudian mencontohkannya dengan menggoreng satu ikan lagi, dan benar saja tak ada sedikitpun minyak panas yang muncrat dari atas wajan.
"sekarang kau paham? " tanya Nenek
Lulu hanya mengangguk, ia kagum terhadap sosok nenek yang bersahaja, ia bahkan tidak tergantung terhadap dayang istana walaupun ia seorang yang berkuasa disana.
Siang segera berganti malam, seperti biasa setiap malam menjelang Lulu tak dapat memejamkan matanya, ia masih menatap langit-langit kamarnya. Baru saja ia mulai memejamkan matanya tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya terbuka.
Seseorang berusaha menyelinap masuk kekamarnya. Ia kemudian langsung memeluk tubuh Lulu yang terbaring ditempat tidur. karena kaget ada seseorang yang memeluknya, Lulu segera menyikut uluhati laki-laki itu.
****arggghhhh!!! laki-laki itu mengerang kesakitan.
Lulu segera menyalakan lampu kamarnya. dan betapa terkejutnya ia melihat sesosok laki-laki disampingnya yang tengah metingis menahan sakit.
"Damar!!! " teriak Lulu sambil membelalakan matanya, ia sangat kaget melihat laki-laki yang begitu ia rindukan ada dihadapannya
Ia segera mendekati Damar langit.
"maafkan aku, aku tidak sengaja " kata Lulu menyesali perbuatannya
"kenapa kau selalu saja memukulku" kata Damar yang masih meringis kesakitan mencoba mengacuhkannya
"masih sakit ya??, maafkan aku ? " Lulu berusaha membujuk Damar yang terlihat marah kepadanya
"jangan marah ya sayang, aku gak sengaja swear ?" kata Lulu sambil menatap Damar
Melihat Lulu yang sudah sangat menyesali perbuatannya membuat Damar tersenyum senang, ia segera memeluk erat Lulu. Damar mulai melepaskan pelukannya, ditatapnya wajah istrinya yang begitu ia ridukan, ia mulai mendaratkan ciumannya ke bibir mungil lulu, Lulupun segera membalasnya.
Keduanya kemudian saling melepaskan kerinduan yang sudah lama mendera keduanya.
"maaf sayang aku harus kembali ke kamar ku lagi, sebelum nenek melihat kita" kata Damar sambil mencium kening Lulu yang masih terlelap
Ia kemudian bergegas keluar meninggalkan Lulu yang masih tertidur.
__ADS_1