
Pagi itu Seperti biasa Aisyah mengerjakan rutinitasnya sebagai seorang santri di sebuah pondok pesantren ternama di kota tempat tinggalnya.
Sebagai seorang yang dipercaya sebagai pengurus asrama putri Aisyah selalu memberikan laporan keadaan santri putri kepada mas Bhumi putra sang pemilik pondok pesantren.
Bumi Dirgantara adalah seorang lelaki sholeh, tampan dan berwibawa, sebagai putra seorang kyai ia nyaris sempurna hingga membuat banyak santriwati yang tergila-gila padanya. Namun ia selalu menundukkan wajahnya ketika bertemu dengan lawan jenisnya, selain itu suaranya yang merdu ketika sedang membaca kalam Ilahi menambah daya tariknya dimata kaum hawa.
Hampir setiap hari Aisyah selalu menemuinya , untuk sekedar melaporkan keadaan santriwati atau sekedar sharing bagaimana cara untuk membuat pesaantren itu lebih maju lagi. Kebersamaan diantara mereka menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya yang tak sempat terucapkan, karena tentu saja Aisyah merasa segan pada laki-laki yang sangat dihormatinya itu. Sedangkan Bhumi ia tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan ayahnya, hal inilah yang membuat hubungan keduanya berjalan tanpa status.
Hingga pada suatu hari Kyai Hasan Syamsuri yang merupakan ayah dari Bhumi Dirgantara memanggil kedua orang tua Aisyah untuk membicarakan hubungan putra putri mereka.
Ayah Aisyah Latief Husein adalah sahabat dekat Hasan Syamsuri, karena kedekatannya maka Hasan Syamsuri ingin merubah hubungan keduanya menjadi sebuah keluarga. Oleh karena itu ia mengutarakan niatnya untuk melamar Aisyah untuk menjadi istri putranya.
Betapa bahagianya perasaan Latief Husein ketika menerima lamaran dari sahabatnya itu, betapa tidak?, ia sudah sangat memimpikan putrinya Aisyah akan mendapatkan suami seorang Hafidz nan sholeh.
"baiklah tadz, aku akan membicarakan hal ini dengan Aish, karena bagaimanapun juga dia yang akan menjalaninya, makanya aku harus menanyakan dulu padanya" ucap Latief
"bmtentu Mas, saya setuju, nanti kita adakan taaruf saja, agar keduanya bisa saling mengenal satu sama lain" jawab Hasan
"baiklah tadz, kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum" ucap Latief
"waalaikum salam"
Latief kemudian pulang kerumahnya dan memberikan kabar bahagia itu pada istri dan putrinya.
Mata Aisyah berbinar-binar ketika mendengar ucapan ayahnya, hatinya sangat bahagia karena ia akan dipinang oleh lelaki yang sangat ia kagumi. Ia pun segera mengiyakan kemauan ayahnya itu.
"Aish setuju abi" jawab Aisyah dengan srnyum sumringah
"apa kau serius nak?" tanya Latief
"tentu abi, apa Aish terlihat main-main?" tanya Aisyah
"tapi abi dan Kyai Hasan mau kalian Ta'aruf dulu supaya lebih mengenal satu sama lainnya" ucap Latief
"baik abi, kapan Ta'aruf nya?" tanya Aisyah yang tak sabar ingin segera menjadi istri Bhumi Dirgantara
__ADS_1
"mungkin lusa nak" jawab Latief
"iya abi, Aish siap kok" jawabnya mantap
Hari ini Aisyah tak henti-hentinya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, sebagai cara mengungkapkan kebahagiaannya kepada Sang Pencipta.
"terima kasih ya Rob, akhirnya kau kabulkan doa hamba, memberikan hamba seorang calon imam yang Sholeh dan juga seorang Hafidz Qur'an, semoga hubungan kami dimudahkan hingga hari pernikahan kami" doa Aisyah setelah sholat lima waktu.
*******
Hingga hari yang ditunggu-tunggu itu tiba, yaitu hari dimana Aisyah dan calon suaminya akan dipertemukan.
Latief membonceng Aisyah menggunakan sepeda motor bututnya, menuju rumah kyai Hasan.
Setibanya disana ia melihat rumah Kyai Hasan sudah ramai menyambut kedatangan keduanya.
"assalamualaikum" sapa Latief
"waalaikum salam warahmatullah, akhirnya kau sampai juga mas Latief" Kyai Hasan segera menyambut sahabatnya itu
Aisyah segera masuk kedalam setelah mencium lengan Nyai Sa'fiah.
"ayu tenan awakmu nduk, pasti Banyu seneng entuk rabi ayu tur sholeha " ucap Sa'fiah
(cantik banget kamu nak, Banyu pasti suka punya istri cantik dan sholeha)
Aisyah kaget ketika mendengar nama Banyu, karena setahu dia, dirinya putra Kyai Hasan tidak ada yang bernama Banyu, yang ada hanya Bhumi.
"kenapa jadi Banyu, bukannya anak Kyai itu cuma mas Bhumi dan dia kan yang akan ta'aruf dengan aku, bukannya Banyu" gumam Aisyah.
Aisyah segera duduk di ruang yang sudah dipersiapkan untuknya.
"Monggo dibaca dulu, itu CVnya Mas Banyu" Nyai Sa'fiah menyodorkan sebuah CV kepada Aisyah.
Wajah Aisyah langsung berubah pucat ketima membaca CV itu, betapa tidak??, itu bukan Curriculum Vitae mas Bhumi melainkan Banyu Al Birunni.
__ADS_1
"sudah dibaca nduk?" tanya Sa'fiah
"sampun Nyai" jawab Aisyah
"yaudah ayo ikut Nyai, buat nemuin mas Banyu yang sudah menunggu kamu" Sa'fiah mengajak Aisyah menuju ke sebuah Taman di halam samping rumahnya
Aisyah melangkah dengan ragu-ragu, karena suasana hatinya sudah tidak karuan setelah membaca CV yang diberikan Sa'fiah tadi.
"nah itu mas Banyu yang duduk di sebelah air mancur, monggo kamu kenalan dulu sama orangnya" ucap Sa'fiah
Alya berjalan perlahan mendekati air mancur yang berada ditaman itu.
Ia melihat seseorang lelaki tampan yang sedang duduk dikursi roda sambil memberi makan Ikan.
Tubuhnya semakin lemas setelah melihat laki-laki dihadapannya, betapa hatinya hancur karena calon suaminya bukanlah mas Bhumi yang sangat ia cintai tapi seorang pria berkebutuhan khusus yang harus memakai kursi roda untuk membantunya berjalan.
.
.
.
.
.
.
.
Untuk Kelanjutan ceritanya silahkan baca Novel terbaruku CINTA AISYAH, klik aja di profil saya pasti kalian bisa lihat disana, semoga suka ya dengan ceritanya.
Jangan lupa kasih like, komen, love dan vote ya. Thanks
Happy Reading
__ADS_1