
"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul disini, acara penetapan putra mahkota keraton Kasepuhan Arjowinangun segera dimulai" kata seorang tetua membuka acara itu
Setelah acara pembukaan dan sambutan dilanjutkan dengan pembacaan keputusan oleh Dewan penasehat tetua yang akan dibacakan oleh Reksa Aditya.
"baiklah, mengingat, menimbang dan memperhatikan segala bukti-bukti yang ada maka dengan ini kami atas nama Dewan penasehat tetua dan semua tetua Keraton Kasepuhan Arjowinangun memutuskan bahwa Sean putra Wibawa adalah satu-satunya calon putra mahkota yang akan dinobatkan sebagai Raja dari kasepuhan Arjowinangun bulan depan, dan oleh karena itu ia juga akan mendapatkan gelar sebagai Raden Mas Pangeran Haryo Sean Putra Wibawa, demikian putusan ini dibuat oleh seluruh tetua dan abdi dalem sepuh Keraton Kasepuhan Arjowinangun, apabila ada yang keberatan dengan putusan ini silahkan untuk mengangkat tangan'" ucap Reksa Aditya
Welas Asih segera mengangkat tangannya.
"saya keberatan tetua!!" teriak nenek Welas dengan suara lantang membuat semua yang hadir disana tampak kaget
"cih!!, pasti ia keberatan karena putra kandungnya akan segera dilengserkan dari kursi Raja yang sudah ia duduki selama ini" batin Reksa Aditya
"silahkan yang mulia sampaikan apa yang membuatmu keberatan dengan putusan ini" jawab Reksa Aditya
__ADS_1
"baiklah aku akan menceritakan sebuah kisah yang sudah aku sembunyikan selama empat puluh tahun lamanya, karena aku tidak mau membuka luka lama.
Suatu hari disaat suamiku Sultan Hadiwijaya sedang berada dimasa keemasannya, ia sangat merindukan kehadiran seorang putra yang belum bisa ia dapatkan dariku, ia kemudian mengangkat Sri Wedari sebagai Selir berharap agar segera memiliki keturunan darinya namun setahun mereka menikah ia belum juga dikaruniai keturunan, singkat cerita yang mulia Sultan Hadiwijaya kemudian mengangkat seorang selir lagi bernama Ratieh Sekar Wangi, namun ia juga belum bisa memberikan keturunan setelah pernikahannya berjalan lebih dari satu tahun.
Ternyata aku mulai mengetahui kenapa para selir dan juga diriku tidak segera memiliki keturunan, adalah karena ulah jahat seorang dayang istana yang berambisi untuk menjadi seorang Ratu, ia selalu memberikan ramuan herbal yang membuat kami bertiga susah memiliki keturunan.
Dengan kelicikannya Gendhis Ayuni juga berusaha menjebak Yang mulia Raja Hadiwijaya, agar bisa mengangkatnya menjadi seorang selir istana. Suatu malam ketika Sultan Hadiwijaya sedang kacau, karena memikirkan siapa yang akan menjadi putra mahkota untuk menggantikan posisinya sebagai Raja di kerajaan Arjowinangun. Sang dayang datang keruangannya membawakan sebuah minuman yang sudah ia beri obat perangsang.
Sebagai seorang istri aku merasa gelisah karena malam itu yang mulia tidak pulang kepaviliunku. Aku sangat merasa khawatir pada saat itu, sehingga aku memerintahkan dayang dan pengawal istana untuk mencari dimana keberadaannya. Namum hasilnya nihil tak seorangpun berhasil menemukan keberadaan yang mulia.
Namum tidak dengan suamiku, Ia sangat senang mendengar dayang itu hamil karena ia memang sudah lama merindukan kehadiran seorang putra yang akan meneruskan tahtanya. Ia akhirnya setuju dengan permintaan Gendis Ayuni dan segera mengangkatnya menjadi seorang selir istana.
Rupanya sang dayang belum puas hanya menjadi seorang selir, ia juga kemudian berambisi untuk menggeser posisiku sebagai Ratu kerajaan Arjowinangun. Ia berusaha menyebar berita yang menyatakan bahwa aku adalah seorang wanita mandul yang tidak akan bisa memberikan keturunan kepada yang mulia Raja.
__ADS_1
Ia bahkan meminta yang mulia raja untuk mengusirku dari istana, agar ia bisa segera menggantikan posisiku sebagai ratu kerajaan ini, tapi itu adalah hal yang mustahil karena posisi ratu itu sulit untuk digantikan atau dilengserkan apalagi ayahku adalah seorang Dewan penasehat tetua membuat posisiku sulit untuk dijatuhkan.
Dengan siasat licik darinya ia berhasil mempengaruhi yang mulia raja untuk sementara waktu mengembalikanku kerumah orang tuaku dengan alasan keberadaanku bisa mengancam kehamilannya. Yang mulia akhirnya benar-benar mengantarkan aku kerumah ayahku yang saat itu menjabat sebagai Dewan penasehat tetua, tentu saja ayahku merasa kesal saat itu.
Namun sepertinya Tuhan masih menginginkan aku menjadi ratu negeri ini, beberapa bulan kemudian aku jatuh sakit karena stress memikirkan apa yang suamiku lakukan kepadaku. Ayahku kemudian memeriksakan penyakit yang aku derita kepada seorang tabib istana, namun saat tabib istana meneriksaku, ia menyatakan kalau aku ini tidak sakit melainkan sedang hamil. Tentu saja aku sangat senang mendengar kabar itu begitu juga ayahku, Ia segera menyebarkan kabar kehamilanku kepada pihak istana.
Kabar kehamilanku ternyata cepat menyebar dilingkungan keraton membuat yang mulia raja bahagia, ia kemudian datang menjemputku dan membawaku kembali pulang ke istana. Namun kabar ini tentu saja membuat Gendis semakin murka, berbagai cara ia lakukan agar aku mengalami keguguran.
Namun Tuhan selalu melindungiku dan putraku sehingga ia bisa lahir dengan selamat.
Hari itu Gendis datang kepaviliunku dengan wajah manisnya. Namun wajah manisnya seketika berubah menjadi bengis ketika menggendong Panji yang masih bayi. Ia yang sudah frustasi karena ambisinya untuk menjadi Ratu gagal, dan yang mulia raja juga sudah mendengar kabar yang menyatakan jika anak yang dikandungnya ternyata bukan anak dari yang mulia raja, membuatnya menjadi gelap mata.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah belati yang ia sembunyikan dari balik bajunya, dan mengalungkannya tepat dileher Panji yang masih merah. Tentu saja hal itu membuatku panik, aku takut ia benar-benar membunuh anakku.
__ADS_1
Ia kemudian mengajukan sebuah penawaran, ia tidak akan membunuh Panji dengan syarat aku harus menukar Panji dengan anaknya Yudha. Karena ia ketakutan saat itu, Sultan Hadiwijaya saat itu mengultimatum dirinya jika ia akan melakukan tes DNA terhadap bayinya. Jika ia ketahuan bukan putra biologis sang raja, maka Gendis akan dihukum mati karena sudah menipu sang raja.
Akhirnya aku menyetujui penawaran darinya. Aku segera menyerahkan Panji kepadanya dengan berat hati, dan seterusnya aku yang akhirnya merawat Yudha sampai suatu ketika Gendis meninggal karena penyakit TBC yang dideritanya. Dan saat itu juga Gendis menyerahkan pengasuhan Panji kepadaku" kata Welas Asih mengakhiri ceritanya dengan linangan air mata membuat seisi istana terharu mendengar ceritanya