ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 51#gosip yang meresahkan


__ADS_3

***ciiit...!!!,


Terjadi kejar-kejaran antara mobil Tama dan dua mobil yang ada dibelakangnya, membuat Lulu terus memegang erat pada kursi tempat duduknya, dia sesekali memejamkan matanya karena takut.


Akhirnya Tama berhasil lolos dari kejaran dua mobil yang terus mengejarnya. Ia menghentikan mobilnya disebuah rumah vila yang berada dikaki gunung merapi.


Lulu segera masuk mengikuti Tama dari belakang.


"kita dimana? " tanya Lulu


"kamu berada divila kerabatku, setidaknya kamu aman disini" Jawab Tama


"Tapi kenapa kita pulang kesini, bukan kerumah nenek" kata Lulu penasaran


"nanti kau juga tau alasannya, sekarang istirahat saja, kamar yang mulia ada disebelah sana" Tama menunjuk sebuah kamar dengan pintu bercat hijau


Banyak hal yang sebenarnya ingin Lulu tanyakan pada Tama tentang kejadian hari ini, tapi ia memgurungkannya, karena ia tahu Tama juga bukan orang yang mudah memberikan sebuah informasi.


Lulu segera masuk kekamar itu, ia kemudian meletakan tasnya dan meraih ponselnya. Tak ada telepon ataupun pesan dari Damar. Ia kemudian menyalakan televisi sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia melihat tayangan Infotainment, matanya seketika langsung membulat ia kaget dengan pemberitaan yang meyebutkan dirinya berselingkuh dengan Ganendra.


"Surat itu, dan foto-foto itu, kenapa bisa sampai tersebar ke media, bukankah aku sudah menyimpannya? " tanya Lulu dalam hati


Ia segera keluar kamar dan menemui Tama yang sedang memeriksa beberapa koran hari ini.


Lulu segera menarik satu koran yang sedang dikumpulkan oleh tama, benar saja hari ini semua media masa memasang berita tentangnya. Tubuhnya mendadak lemas dan brughh, tubuhnya jatuh kelantai.


"inikah alasannya kenapa aku disembunyikan disini" kata Lulu dengan suara lirih


Tama hanya mengangguk.


"lalu siapa mereka yang mengejarku"


"mereka adalah tim intelejen dari keraton yang akan membawamu kekeraton untuk diadili" kata Tama


"tapi aku tidak berselingkuh dengan Ganendra!, sungguh!, surat itu juga bukan pemberian darinya, tapi aku temukan di foto yang kuambil dari kamarnya" Lulu mencoba menjelaskan


"aku tahu, makanya aku menyelamatkanmu dari kejaran intelejen keraton" jawab Tama


"tapi bagaimana dengan Damar, apa dia sudah tau berita ini" tanya Lulu


"tentu saja" jawab Tama


"dia pasti marah padaku, hiks... hiks" kata Lulu sambil menangis


"buktinya seharian ini dia tak menghubungiku, atau mengirim pesan sekedar untuk menanyakan kabar tentang ku" kata Lulu yang tangisnya mulai pecah


Tama tahu perasaan Lulu sedang kacau, ia berusaha menenangkannya.


Tama memang lelaki yang dingin ia juga tidak pernah dekat dengan wanita, makanya ia bingung ketika menghadapi Lulu yang sedang bersedih.


Ia kemudian mengusap lembut kepala lulu, dan memberikan bahunya sebagai sandaran untuk Lulu.


"jangan bersedih, badai pasti segera berlalu, percayalah pelangi akan muncul setelah hujan reda" kata Tama memberikan semangat pada Lulu


**Ting.. nong... ting...nong ( suara bel rumah Tama)


Tama segera mengecek kedepan pintu, ia sedikit mengintip siapa yang datang dari balik tirai. Ia segera membukakan pintu ketika melihat Nenek dan Ayahnya yang datang.


"dimana dia!" tanya nenek dengan nada tinggi

__ADS_1


"dia ada dibelakang nek" jawab Tama


Nenek Welas segera menemui Lulu yang masih terisak disofa. Ia kemudian memeluknya dan mengusap lembut rambutnya.


"kenapa kau mengalami hal yang sama denganku, nduk" batin nenek Welas


"apa kau sudah makan" tanya nenek


Lulu hanya menggeleng.


"Tama, tolong buatkan makanan untuk Lulu " Perintah nenek


Tama segera bergegas kedapur untuk memasak sesuatu untuk Lulu.


"masuklah kekamarmu, nanti kami akan memanggilmu jika makanannya sudah siap" titah nenek


Lulu segera masuk kembali kekamarnya.


Nenek segera mengajak Danar Gumilang untuk berdiskusi.


"kasus ini sama seperti kasus lima puluh tahun yang Lalu, aku yakin kasus ini sengaja dimunculkan karena berkaitan dengan pengangkatan Putra Mahkota sebagai Raja yang akan dilaksanakan sebentar lagi" nenek mulai menganalisa kasus Lulu


"jadi apa yang harus saya lakukan ibu" tanya Danar Gumilang


"interogasi semua dayang yang melayani Lulu, aku yakin salah satu mereka ada yang berkhianat " kata Nenek


"baik bu" Jawab Danar Gumilang


"jangan lupa awasi juga gerak-gerik Arkadewi, aku yakin dia juga terlibat" kata nenek


"baik ibu" Jawab Danar Gumilang


"Tapi bagaimana dengan pemberitaan dimedia masa dan online yang sudah menyebar? " tanya Danar Gumilang


"jangan sampai berita ini menurunkan kredibilitas Damar sebagai putra mahkota dimata masyarakat Jogjakarta" kata Nenek Welas


Danar Gumilang segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk menghandle pemberitaan dimedia massa dan online.


Tama yang sudah selesai memasak segera memanggil Lulu untuk Keluar dari kamarnya.


"yang mulia, makanannya sudah siap" kata Tama


Lulu segera keluar dan menuju meja makan.


"nenek dan paman Danar ikut makan juga kan? " tanya Lulu


"tidak nduk, kami harus segera pulang untuk menyelesaikan masalahmu" jawab nenek


"terima kasih nek, sudah membantu Lulu, maaf jika Lulu merepotkan nenek" kata Lulu sambil mencium tangan nenek


"terima kasih juga paman, sudah percaya sama Lulu" kata Lulu sambil memberi hormat pada Danar Gumilang


"makanlah dan jaga kesehatanmu, agar kau kuat untuk menghadapi semua ini" Titah Welas Asih


"baik nek" Jawab Lulu


Nenek dan Danar Gumilang berjalan meninggalkan Lulu dan Tama. Sebelum keluar dari pintu nenek membalikan badannya menatap Lulu.


"semangat Lulu !!! " teriak nenek menyemangati Lulu

__ADS_1


"semangat!! "jawab Lulu tersenyum senang karena ternyata masih ada yang peduli dengannya


Setelah selesai makan ia segera kembali kekamarnya dan membuka ponselnya, ia masih belum juga melihat pesan dari Dama.


Ia kecewa karena Damar sama sekali tak menghubunginya ataupun mengirim pesan kepadanya untuk sekedar menyanyakan kabarnya.


"dulu aku sangat ingin berpisah darimu, tapi kenapa saat kau mulai menjauhi aku rasanya hati ini sakit" batin Lulu


Ia mencoba menghubungi Damar, namun panggilannya selalu direject. Ia juga mengirim pesan singkat hanya untuk menanyakan kabarnya saja, namun pesan itu hanya dibaca saja, Damar sama sekali tak membalasnya.


**Dreet... dreeet... dreeet!!!


Lulu langsung melompat dari atas kasur ia sangat senang ketika ponselnya beegetar, berharapan Damar yang menghubunginya atau membalas pesan singkatnya.


Tapi ia kecewa karena bukan Damar yang menghubunginya tapi Ganendra.


"halo Lu" kata Gaga


"iya ka" jawab Lulu


"kamu dimana? " tanya Gaga


"aku sama Tama ka" jawab Lulu


"kamu udah tau kan pemberitaan hari ini" Ganendra bertanya


"iya ka, aku tau" jawab Lulu


"kamu dapat surat itu darimana? " tanya Ganendra


"aku gak sengaja menemukannya disebuah foto Lulu yang dipasang dikamar kaka" jawab Lulu


Sejenak Ganendra terdiam mendengar jawaban Lulu.


"kenapa kau tak bilang padaku" Tanya Ganendra


"maaf ka aku gak berani" jawab Lulu


"yaudah aku hanya memastikan kamu baik-baik saja, kamu harus sabar ya, aku akan mencoba membantumu agar bisa lepas dari gosip murahan ini" Ganendra mencoba menyemangati Lulu


"iya ka, makasih" jawab Lulu


"kamu gak papa kan, apa ada yang terluka," tanya Gaga


"aku baik-baik saja ka" jawab Lulu


"apa kau ditahan orang intelejen " tanya Ganendra


"tidak ka, Tama menolongku dari kejaran mereka" jawan Lulu


"syukurlah kalau kamu tidak tertangkap, aku jadi lega, yaudah kalo gitu, kamu istirahat ya, jaga kesehatan" kata Ganendra


"iya ka" jawab Lulu


"semangat lulu.. bye" Ganendra memberinya semangat


"semangat !!, bye"


Tak sadar air mata Lulu mulai berjatuhan diatas pipinya, ia terharu karena Ganendra selalu perhatian dengannya, padahal ia mengharapkan hal itu dari Damar.

__ADS_1


Tapi bukan Damar malah Ganendra yang dari dulu selalu menjadi dewa penolongnya.


"aku tahu kamu pasti sedang marah denganku, makanya kau mendiamkanku seharian ini" kata Lulu mencoba mengerti perasaan Damar saat ini.


__ADS_2