ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 75 # Hari yang mendebarkan (3)


__ADS_3

"cih!!, ternyata Yudha menuruni sifat licik dari ibunya, sungguh benar-benar pertunjukan yang sangat bagus, aku tidak menyangka bahwa kejadiannya akan lebih seru dari yang kubayangkan" batin Arkadewi


"kalau cuma cerita semua orang juga bisa mengarangnya yang mulia" kata seorang tetua menanggapi cerita dari Welas Asih


" aku punya bukti yang akan memperkuat ceritaku" jawab Welas Asih


Layung Sari kemudian memasuki ruangan didampingi oleh Danar Gumilang.


"dia adalah Layung Sari dukun beranak kerajaan , dia juga yang membantu persalinan Gendis Ayuni. Selain itu dia juga menjadi ibu susuan dari Yudha karena semejak ia lahir, Gendis Ayuni tidak mau menyusuinya jadi terpaksa kami menyewa Layung Sari yang waktu itu juga sedang sedang memiliki seorang bayi untuk menyusuinya" kata Welas Asih


"apakah benar kamu adalah ibu susuan dari pangeran Yudha?" tanya Reksa Aditya


"benar tetua" jawab Layung Sari


"sebagai dukun beranak kerajaan tentunya engkau pasti punya sertifikat dari kerajaan bukan?" tanya seorang tetua lagi


"tentu" jawab Layung Sari sambil menyodorkan amplop coklat berisi sebuah sertifikat yang kemudian diperiksa oleh para tetua


"berapa lama kamu menyusui pangeran Yudha?" tanya seorang tetua lainnya


"dua setengah tahun tetua, tapi setelah itu aku tetap menjadi pengasuhnya hingga ia berusia sepuluh tahun, karena waktu itu aku harus pensiun dari jabatan ku sebagai dukun beranak kerajaan" jawab Layung Sari


"pangeran Yudha, apakah yang mulia mengenal wanita ini" tanya Reksa Aditya pada Yudha


"aku tidak mengenalnya tetua" jawab Yudha


"dasar anak tak tahu diri!, beraninya kau mengatakan tak mengenalku" kata Layung Sari sambil beranjak dari kursinya hendak memukul Yudha


"maafkan aku ibu, aku terpaksa melakukan ini padamu" batin Yudha


Namun seorang Pengawal istana segera menghadangnya, dan membawanya kembali ke kursinya.


"sudah cukup Layung sari!!" teriak Reksa Aditya

__ADS_1


"Sepertinya jika hanya seorang dukun beranak kerajaan tidak cukup untuk membuktikan jika Yudha adalah anak dari seorang selir" ucap tetua yang lainnya


Welas Asih seketika menjadi lemas mendengar ucapan dari para tetua.


"jika kau bisa memberikan hasil tes DNA pangeran Yudha mungkin itu bisa kami pertimbangkan" kata Reksa Aditya


Welas Asih hanya tertunduk lesu karena ia tak bisa memberikan bukti itu.


"apakah anda punya yang mulia?" tanya Reksa Aditya lagi sambil menyunggingkan senyumnya


"aku tidak punya" jawab Welas Asih


"baiklah, karena yang mulia tidak mempunyai bukti tes DNA , jadi kami tidak akan merubah keputusan yang telah kami sepakati" jawab seorang tetua lainnya


"aku punya" jawab Sultan Hadiwijaya


"aku sengaja mengambil salinan dari klinik itu tanpa sepengetahuan istriku, karena aku tahu pasti akan ada orang yang akan mencuri dokumen berharga itu, dan ternyata prediksiku benar. Seminggu setelah aku mengambil salinan dokumen itu, seseorang mencuri dokumen aslinya, dan saya mencurigai ia adalah salah seorang dari dewan penasehat tetua sebagai pelakunya" kata Sultan Hadiwijaya


"dan aku tahu orang yang mencuri hasil tes DNA itu adalah ayah kandung dari Yudha" ucap Sultan Hadiwijaya


Mendadak seisi ruangan menjadi gaduh, setelah mendengar ucapan dari Sultan Hadiwijaya. Mereka bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud oleh Sultan Hadiwijaya.


" jadi ini alasan paman tidak mau membantuku, ternyata Yudha adalah anak paman dan ia berarti adalah sepupuku, dasar baj*ngan, " maki Arkadewi dalam hati


"semuanya tenang!!!" teriak Reksa Aditya mencoba menenangkan semua yang ada didalam ruangan


"jangan hanya bicara yang mulia, segera tunjukan bukti itu jika kau memang mempunyainya" perintah Reksa Aditya yang mulai kesal dengan Sultan Hadiwijaya


"sabarlah sebentar, Danar sedang mengambilnya" jawab Hadiwijaya sengaja membuat kesal Reksa Aditya


Danar Gumilang kembali keruang sidang dengan membawa sebuah amplop coklat, ia kemudian menyerahkannya kepada Reksa Aditya.


Reksa Aditya sangat tercengang dengan apa yang ada didepannya, tubuhnya seketika menjadi lemas karena ia tahu Yudha akan gagal menjadi seorang Raja dan ia juga akan segera dilengserkan dari jabatannya jika Sultan Hadiwijaya menyebutkan dirinya adalah ayah biologis dari Yudha.

__ADS_1


Semua tetua bergantian melihat kertas itu satu-persatu.


"baiklah sebelum kau menghukumku, aku juga akan menghukum kalian karena telah menyembunyikan kebenaran yang bisa merugikan orang lain" batin Reksa Aditya dengan senyum liciknya


"baiklah, jadi setelah melihat bukti-bukti yang ada, maka kami dari dewan penasehat tetua menyatakan bahwa Damar Langit akan tetap menjadi putra mahkota karena Sean Putra Wibawa bukan putra dari seorang raja, dan karena yang mulia ibu suri juga secara sengaja menyembunyikan sebuah kebohongan selama berpuluh-puluh tahun sehingga membuat seseorang berbuat kriminal, maka dengan ini juga kami selaku dewan penasehat tetua memberikan hukuman berupa pengasingan kepada beliau seumur hidupnya. Jadi setelah putusan ini yang mulia ibu suri akan dibawa ketempat pengasingan yang sudah ditentukan oleh pihak istana"


"ini tidak adil!!" teriak Hadiwijaya


"bagaimana mungkin seorang Ratu yang berusaha menyimpan rahasia hanya untuk melindungi putranya dan menjaga nama baik Raja negeri ini dijatuhi hukuman yang sangat kejam, diasingkan seorang diri ditempat yang terpencil tanpa seorangpun mendampinginya" ucap Sultan Hadiwijaya.


"Sedangkan penjahat sesungguhnya yang berusaha mengancam keselamatan kerajaan ini masih tersenyum menikmati jabatannya sebagai dewan penasihat tetua, dan berusaha menyingkirkan ibu suri yang bisa mengancam posisinya" kata Hadiwijaya melanjutkan penjelasannya sambil berjalan mendekati Reksa Aditya


"apa maksud anda yang mulia" ucap Reksa Aditya pura-pura tidak tahu


"kau adalah ayah dari Yudha sekaligus selingkuhan Gendis, yang berusaha membunuh Ratu dan putraku waktu itu" kata Hadiwijaya sambil menunjuk kearah Reksa Aditya


Deg!!, seketika jantung Reksa Aditya seperti hendak berhenti mendengar apa yang disampaikan oleh Sultan Hadiwijaya, tubuhnya mendadak limbung dan jatuh kelantai.


**bruughhh!!!


Ruangan yang semula sepi kembali menjadi gaduh setelah mendengar ucapan Hadiwijaya, dan diperparah lagi karena tiba-tiba Reksa Aditya yang terkena serangan jantung diruangan itu.


Beberapa orang tim medis segera memasuki ruangan itu, kemudian membawa Reksa Aditya ke klinik kerajaan.


Pertemuan itu kembali dilanjutkan, setelah Hanggoro bersedia menggantikan posisi Reksa Aditya sebagai ketua dewan penasehat tetua.


"baik, saya sebagai wakil dewan penasehat tetua akan menggantikan posisi Reksa Aditya sebagai ketua dewan penasehat tetua untuk membacakan hasil putusan terbaru yang sudah disetujui oleh para tetua dan abdi sepuh keraton.


Kami memutuskan bahwa yang mulia ibu suri tidak jadi diasingkan dan juga kami akan memberhentikan Reksa Aditya sebagai ketua dewan penasehat tetua, karena kejahatan yang dilakukannya. Ia akan diasingkan ketempat yang telah ditetapkan oleh pihak istana, sebagai hukuman untuknya" ucap Hanggoro


"yeayy!!!, " teriak Lulu senang mendengar nenek Welas Asih dibebaskan dari hukumannya sambil berjingkrak-jingkrak membuat mahkota di kepalanya jatuh


Semua yang hadir tertawa melihat kelakuan konyolnya.

__ADS_1


__ADS_2