ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN

ISTRI TOMBOY SANG PANGERAN
Bab. 73 # Hari yang mendebarkan


__ADS_3

"tunggu yang mulia, sepertinya aku ingat, ada seseorang dari istana yang memiliki salinan tes DNA itu, cuma saya lupa siapa namanya, ia dulu hanya mengaku sebagai orang kepercayaan yang mulia" kata perawat itu lagi


Welas Asih masih memikirkan siapa pria misterius yang mengambil salinan tes DNA dan mengaku sebagai orang kepercayaannya.


"apa Danar yang mengambilnya, tapi tidak mungkin, kalau Danar yang mengambilnya, ia pasti akan memberikannya padaku" batin Welas Asih


"lalu siapa dia??" batin Welas Asih masih penasaran


Ia kemudian berjalan meninggalkan klinik tu.


Setibanya di paviliun miliknya, ia segera masuk menyandarkan tubuhnya disofa.


"tolong buatkan aku teh panas!" titah nenek Welas


"baik yang mulia" jawab seorang dayang sambil membawa masuk koper miliknya


Tak berapa lama seorang dayang menghampirinya dan menyuguhkan secangkir teh panas kepadanya.


Ia kemudian meminumnya sambil melepaskan penat setelah melakukan perjalanan jauh.


"halo Danar, bisakah kamu datang kerumah ibu" kata Welas Asih menghubungi Danar Gumilang


"baik ibu" jawab Danar Gumilang


Beberapa menit kemudian Danar Gumilang sudah tiba di kediaman ibunya.


"duduklah" perintah Welas Asih saat melihat Danar yang sudah berdiri disampingnya


"jemput wanita ini di stasiun sekarang, bawa dia ke rumahku" titah nenek Welas sambil menyodorkan foto seorang perempuan tua


"siapa dia ibu?" tanya Danar Gumilang


"kau akan tahu besok" jawab Welas Asih


" baik ibu, Danar pergi dulu" ucap Danar Gumilang sambil meninggalkan ibunya


**********


Setibanya di stasiun Danar Gumilang segera mencari wanita yang ada di foto dalam genggamannya.


Pandangannya mulai berhenti ketika menatap sesosok wanita tua yang sedang duduk di pojok sambil menggenggam tasbih.


"apakah ibu yang bernama Layung Sari?" tanya Damar mendekati wanita tua itu


"apakah kamu Danar Gumilang?" nenek tua itu balik bertanya


"iya ibu" jawab Danar Gumilang


"kamu sangat mirip dengan ibumu" kata nenek tua itu sambil mengusap wajah Danar Gumilang

__ADS_1


Danar Gumilang hanya tersenyum kepada nenek tua itu, ia kemudian menuntunnya menuju kedalam mobilnya.


Danar melajukan mobilnya menuju kerumah nenek Welas.


Setibanya disana, Danar segera mengajak Layung Sari masuk kedalam rumah itu.


"apa kabar yang mulia" sapa Layung Sari pada nenek Welas


Keduanya kemudian saling berpelukan.


"baik, silahkan duduk Sari" ajak nenek Welas


"bagaimana keadaan putraku Yudha, apa dia baik-baik saja?" tanya Layung Sari


" dia sangat baik, kamu bisa menemuinya besok" jawab Welas Asih


"maafkan dia yang mulia jika merepotkan mu" kata Layung Sari


" dia sebenarnya anak yang baik, hanya saja keadaan yang memaksanya menjadi seperti itu" kata Welas Asih


"aku janji akan membawanya kembali hidup bersamaku, dan tidak akan menggangu kamu lagi" ucap Layung Sari


" sudahlah Sari, sepertinya kamu perlu istirahat dulu, kamu harus menyiapkan energi yang cukup untuk esok hari" balas Welas Asih


***********


"kenapa nafasmu tersengal-sengal begitu, apa kamu habis melihat setan" kata Arkadewi


"sepertinya ada yang mengikuti ku yang mulia" jawab Argo Seno dengan nafas yang terengah-engah


"hmmm, pasti orang-orang suruhan Danar Gumilang yang ketakutan kita akan menggagalkan rencananya" jawab Arkadewi


"jadi apa rencana kita untuk menghadapi mereka pada pertemuan besok yang mulia?" tanya Argo Seno


"aku akan tanya Paman Reksa dulu, sepertinya dia tahu sesuatu yang disembunyikan oleh nenek sihir itu" jawab Arkadewi sambil melangkah pergi meninggalkan rumahnya diikuti oleh Argo Seno.


Setibanya dikediaman Reksa Aditya, Arkadewi melihat Regita baru saja keluar dari rumah itu.


"ngapain dia kemari" batin Arkadewi


Arkadewi segera masuk kedalam rumah itu setelah memastikan Regita benar-benar sudah pergi.


"selamat siang paman Reksa?" sapa Arkadewi


"ada keperluan apa kau datang kemari?" jawab Reksa


"aku hanya ingin menagih janjimu paman" ucap Arkadewi


"memangnya aku berjanji apa padamu?" Reksa balik bertanya

__ADS_1


"bukankah dulu kamu sendiri yang bilang, akan melakukan apa saja asal aku membantumu mendapatkan jabatan sebagai dewan penasehat tetua keraton" kata Arkadewi


"sekarang apa maumu?" tanya Reksa


"aku ingin kau membantuku mendapatkan kursi putra mahkota untuk Ganendra anaku" jawab Arkadewi


"itu tidak mungkin, kau tau putra seorang selir tidak akan mungkin menjadi putra mahkota, itu sama saja seperti pungguk merindukan bulan, hahahaha" ucap Reksa sambil tertawa


"tapi Panji Aryowinangun bisa, kenapa anaku tidak bisa" ucap Arkadewi


"itu karena kau berusaha membunuh Yudha, jika Yudha tidak mati saat itu mungkin Panji tidak akan menjadi raja seperti saat ini" kata Reksa


"bahkan kau sendiri yang bilang paman, bahwa kau memiliki rahasia penting ibu suri, yang bisa membuat Damar tidak akan mendapatkan posisi putra mahkota itu" ucap Arkadewi


"posisimu seperti buah simalakama sekarang, walaupun aku memberitahu rahasia itu, Damar akan tetap menjadi satu-satunya putra mahkota dan jika aku tidak memberi tahu rahasia ini maka Sean yang akan menjadi putra mahkota" jawab Reksa


"sebenarnya rahasia apa yang kau sembunyikan dariku itu?" tanya Arkadewi


"kau akan mengetahuinya besok" jawab Reksa


"maaf Dewi aku tidak bisa memberi tahukanmu, karena aku sangat menginginkan Sean cucuku menjadi putra mahkota" batin Reksa


"baiklah jika paman tidak bisa membantuku aku punya cara sendiri untuk mendapatkan posisi putra mahkota itu" kata Arkadewi sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu


***********


Malam hari Damar baru kembali ke paviliun nenek Welas, setelah seharian menghabiskan waktu berdua dengan Lulu.


"kenapa kalian baru kembali, darimana saja kalian seharian menghilang?" tanya Welas Asih


"kami hanya berjalan-jalan disekitar Borobudur saja kok nek" jawab Lulu


"lepaskan tanganmu dan kembali kekamar masing-masing!" perintah nenek Welas dengan nada tinggi


"khusus untukmu Damar, setelah mandi temui pamanmu Danar Gumilang diruangan kerja nenek


"baik nek!" jawab Damar sambil pergi meninggalkan nenek


Malam berganti pagi, semua anggota kerajaan sudah berkumpul diarea utama keraton untuk mendengarkan putusan Dari tetua untuk memutuskan siapa putra mahkota, yang akan menggantikan posisi Raja Panji Aryowinangun sebagai Raja sekaligus Sultan yang akan memimpin Kasepuhan Arjowinangun.


Damar terlihat tampan menggunakan baju kebesaran kerajaan duduk disamping ayahnya dan ditemani oleh Lulu yang terlihat feminim dengan baju kebesaran kerajaan.


Semua mata tertuju pada Yudha dan Sean yang mulai memasuki ruangan dengan menggunakan baju kebesaran kerajaan sama seperti Damar dan ayahnya.


Sementara itu nenek Welas tampak gelisah disamping suaminya Sultan Hadiwijaya, ia masih memikirkan siapa yang mencuri hasil tes DNA Yudha, sedangkan rahasia itu tak ada yang mengetahuinya satu orangpun. Ia takut jika ia tak dapat mengungkapkan jati diri Yudha tanpa hasil DNA itu, karena Layung Sari saja tidak cukup dijadikan sebagai bukti.


"tenanglah, kau pasti bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Sultan Hadiwijaya sambil memegang kedua tangannya


Ia bisa merasakan jika istrinya sedang gelisah menghadapi pertemuan besar hari ini.

__ADS_1


__ADS_2