
Candramaya segera menghubungi ibunya untuk mengajaknya menjenguk Yudha.
"apa Yudha dirawat !!!" kata Regita tak percaya
"iya mah, kata bibi Dewi ada orang yang berusaha membunuh Damar, karena paman mencoba menyelamatkan nyawanya Damar membuat paman yang terkena tusukan penjahat itu" ucap Candramaya
"yasudah, kita ketemuan dirumah sakit saja" kata Regita
Candramaya segera bergegas pergi menuju kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, ia melihat ibunya sudah menunggunya didepan receptionis. Keduanya kemudian segera mencari ruangan dimana Yudha dirawat.
**krieet!!
Regita membuka pintu ruangan itu dengan pelan, ia takut membangunkan Yudha yang masih terbaring di ranjangnya. Sementara itu tampak Sean tertidur disofa dengan dengkurannya yang begitu kencang.
Regita mengusap lembut kepala Yudha, membuatnya terbangun.
"maaf aku mengganggu istirahat kamu" kata Regita merasa bersalah
Yudha hanya tersenyum melihat Regita dan Candramaya datang menjenguknya.
"kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Regita
"apa ada yang berusaha membunuhmu?" tanyanya lagi
"mereka harusnya membunuh Damar, tapi gagal dan aku yang menjadi sasarannya" jawab Yudha
"oh ya kami sudah memasang kamera pengintai dirumah ka Dewi seperti perintahmu" kata Regita
"terimakasih Regi dan juga Maya yang sudah membantuku, menyelidiki Arkadewi" kata Yudha
"apa kau juga mencurigai ka Dewi yang berusaha membunuh Damar Langit?" tanya Regita
"entahlah, tapi semua bukti-bukti mengarah kepadanya" ucap Yudha
"aku gak tahu kenapa ka Dewi begitu berambisi untuk mendapatkan kursi putra mahkota itu, padahal dulu ia adalah seorang yang sangat baik sebelum ia menjadi selir dari yang mulia Raja" kata Regita
"kapan kamu akan berangkat ke Korea?" tanya Yudhá
"aku menundanya sampai kau benar-benar sembuh, aku ingin merawatmu dulu" kata Regita
" kau tidak perlu menghawatirkan aku Regi, pengobatanmu lebih penting" ucap Yudha
"tidak, aku akan pergi setelah kamu sembuh" kata Regita
"apa kamu sudah makan Sean?" tanya Candramaya
"belum" kata Sean
"kita pergi keluar yuk?" ajak Maya
"ayo" jawab Sean sambil menarik lengan Maya
********************
**Sementara di Keraton Arjowinangun
__ADS_1
"bagaimana penyelidikan mu terhadap Arkadewi" tanya Panji
"sepertinya bukti-bukti mengarah kepada dia sebagai dalang utama dari kejadian ini" kata Danar Gumilang
"kalau begitu, tunggu apalagi segera tangkap dan kurung Arkadewi ke ruang Isolasi" ucap Panji
"kita tidak boleh gegabah kang mas Prabu, karena aku masih curiga, kenapa seorang Arkadewi yang sangat licik dan penuh tipu muslihat bisa dengan mudahnya meninggalkan jejak-jejak kejahatannya, aku takut ini sebuah jebakan" kata Danar Gumilang
"sekarang apa rencanamu?" tanya Panji
"aku masih menunggu kabar dari kang mas Yudha, karena ia juga sedang menyelidiki kasus ini" jawab Danar Gumilang
"baiklah aku serahkan semuanya padamu, besok adalah hari pertama masuk sekolah sekaligus pengambilan raport, aku ingin kau mengawal Damar kesekolah kembali, karena aku takut seseorang akan kembali mengincarnya" kata Panji
"baik kang mas" jawab Danar Gumilang
************
#Paviliun Arkadewi#
Arkadewi mengangkat ponselnya yang terus bergetar.
"halo nak, apa kabar" sapa Arkadewi
"baik ibu, apa ibu kurang sehat?" jawab Ganendra
"iya begitulah, karena ibu terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, jadi ibu sempat drop kemarin" jawab Arkadewi
"apa karena pihak istana menuduh ibu sebagai dalang dari percobaan pembunuhan terhadap Damar Langit?" tanya Gaga
"kau tahu darimana berita itu?" Arkadewi balik bertanya
"huh, berarti ibu sekarang sedang menjadi tranding topik di kolong berita kriminal maksudmu?" tanya Arkadewi sambil tertawa kecil
"benar ibu" jawab Gaga
"huh, kenapa gosip dan hoax itu cepat sekali menyebar, ini bisa menurunkan kharismaku dimata teman-teman sosialitaku" kata Arkadewi
"tapi apa benar ibu yang melakukan itu?" tanya Gaga
"mana mungkin aku sebodoh itu meninggalkan jejak kejahatan ku sendiri, aku rasa ada yang sengaja ingin menjebakku" kata Arkadewi
"aku juga yakin bukan ibu pelakunya, karena aku tahu ibuku adalah seorang wanita licik dan penuh perhitungan dalam melakukan semua tindakannya" jawab Gaga
"terimakasih nak, kau sudah percaya ibu, dan satu lagi ibu kangen denganmu nak" kata Arkadewi
"Gaga juga ibu, aku ingin sekali memeluk ibu" kata Gaga
"kapan kau pulang nak?" tanya Arkadewi
"aku sudah pulang ibu" kata Ganendra yang sudah berdiri dibelakangnya
Arkadewi kaget mendengar ucapan Gaga, ia segera membalikan badannya dan memeluk putra kesayangannya itu.
"aku khawatir dengan keadaan ibu, makanya Gaga memutuskan untuk pulang" kata Ganendra sambil memeluk ibunya
"jangan pergi lagi nak" kata Arkadewi
__ADS_1
"Gaga tidak akan pergi sebelum masalah ibu selesai" Jawa Ganendra
"kamu memang sangat perhatian, sama seperti ayahmu" kata Arkadewi
"sekarang ibu istirahat saja dulu, biar aku akan menyelidiki kasus ibu" kata Ganendra
Ganendra mengantarkan ibunya masuk kedalam kekamarnya.
Ganendra merasakan ada yang aneh ketika memasuki kamar ibunya, ponselnya seperti menangkap ada sesuatu dikamar ibunya itu.
Ia kemudian mencari sesuatu dengan menggunakan sinyal handphonenya, dan benar saja ia menemukan kabel yang tersembunyi dibalik ranjang ibunya.
"sepertinya ada yang sengaja memasang kamera pengintai dikamar ibu" kata Ganendra sambil terus menarik kabel yang sangat panjang itu
Gaga akhirnya menemukan sebuah kamera pengintai yang terpasang dibalik lemari pakaian Arkadewi.
"siapa yang berani melakukan ini padaku" kata Arkadewi murka
Gaga segera memutus kabel kamera pengintai itu, sedangkan Arkadewi keluar untuk mencari Candramaya.
"Maya !!!, Maya !!!, dimana kamu!" teriak Arkadewi
"apa Maya menginap disini?" tanya Gaga
"iya, dia sudah dua hari menginap disini, karena Regita sedang pergi berobat ke Korea" jawab Arkadewi
Arkadewi kemudian membuka pintu kamar Candramaya, dan ia tak menemukannya disana.
"dimana dia?" kata Arkadewi
"apa ibu mencurigainya?" tanya Gaga
"tentu, aku sangat yakin ia adalah pelakunya" kata Arkadewi
Sore harinya Candramaya kembali kerumah Arkadewi.
Melihat kedatangan Candramaya, Arkadewi segera menarik tangan gadis itu.
"aww!!, sakit bibi!" teriak Candramaya
"kapan kamu memasang kamera CCTV dikamarku, hah!!" tanya Arkadewi
"bukan aku yang memasangnya bi" kata Maya
"Lalu kalau bukan kamu terus siapa?" tanya Arkadewi sambil menarik rambut Candramaya
"aduh! sakit bi, lepaskan!!, sakit bi! " teriak Candramaya
"aku akan terus menarik rambutmu sampai kau mengakui perbuatanmu" kata Arkadewi
"Maya gak bohong bi" jawab Maya
"apa aku perlu menggunduli rambutmu lebih dulu, baru kau mengakui perbuatanmu, hah!" ancam Arkadewi
"tidak bi, kami hanya disuruh oleh paman Yudha" jawab Candramaya
Arkadewi kemudian melepaskan rambut Candramaya.
__ADS_1
"Yudha!!, apa yang kamu lakukan terhadapku itu sangat jahat, tunggu pembalasan dari ku" kata Arkadewi