Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kehidupan memang tak terduga


__ADS_3

"Pasti mas ngaku belum nikah ? Atau jangan jangan bilang duda ?!" tembak Shania membekap mulutnya sambil berseru.


"Ya Allah, kualat loh mas !" ujarnya.


"Engga, mas bilang udah nikah."


"Mas ga bilang, kalo istri mas cantik kaya artis, pinter, bersahaja, kalem, baik hati dan tidak sombong ?!"


Ayolah, apa yang Shania jabarkan ? tentu saja bukan sifatnya kan, karena kata kalem disana perlu digaris bawahi. Arka menggeleng, "ngapain mas harus jabarkan sifat kamu ? Mau pamer ? Guru lain juga banyak yang sudah nikah, dan menurut mereka istri mereka ya cantik, baik, dan pinter juga."


"Ya, kalo mas bilang, kenapa tuh si cabe bisa sampai kaya gitu ?!" Shania melipat kedua tangannya di atas perutnya.


"Dedek juga marah ya mas, ga suka dia !"


Arka mengernyit dan menarik kedua bahu Shania untuk mendekatkan jarak keduanya, "kenapa harus bawa sekutu ?"


"Ya ga suka lah ! kalo momynya marah, dedek pasti ngerasain..ga suka juga !" alibinya. Arka tertawa renyah hingga jakunnya naik turun.


"Ga usah marah marah ga jelas, nanti mas lahap kamu. Ga usah menguji kesabaran mas malem malem, lebih baik tidur..besok kan mulai belajar di rumah !"


"Lahap..lahap...kaya api neraka aja !" Shania melepaskan tangan Arka dan merangkak naik ke atas ranjang.


"Mas, " tak pernah mereka dengan sengaja beradegan tidur berpelukan hangat nan mesra sehangat ee' ayam kaya pasangan pengantin baru lainnya. Keduanya malah sering berbaring dengan menyamping berlawanan arah atau bahkan terlentang menghadap langit langit. Lebay rasanya jika harus tidur sambil pelukan terus, space ranjang milik Arka ukuran king, sayang kalo tidak di jelajahi. Kalaupun dingin dan selimut tak cukup menghangatkan tubuh, mereka akan refleks mencari kehangatan satu sama lain.


"Hm, " jawab Arka seperti orang sedang sakit gigi. Sakit hati ? merasa dicuekin ? jawabannya adalah sudah biasa, bukan Arka namanya jika menjawab yes honey !


"Mas tau ngga dalil yang mengatakan jika sampaikanlah walau satu ayat ? terus pepatah yang mengatakan makin banyak kita menyampaikan maka makin banyak juga pahala yang didapat, dan mas masih inget ngga kalo kita nantinya meninggal tuh meninggalkan 3 hal, yakni..satu.. sedekah jariyah, dua.. do'a anak yang sholeh dan sholeha, tiga..ilmu yang bermanfaat ?!"


"Kamu mau ngomong apa Sha, ngajakin ngobrol kaya lagi ngajakin orang tobat ?" Shania malah tertawa mendengar protes yang dilayangkan.


"Ngomong kamu tuh ngajakin jalan jalan dari GBK ke Senayan singgah di Monas terus turun di Bunderan HI,"


Shania kembali tertawa mendengar keluhan Arka.


"Maksud Sha tuh, mas mau kan nambah bekal buat di akherat nanti, kalo anak sholeh sholeha kan lagi proses..." ucapnya mengelus elus perut yang langsung mendapat tendangan Ronaldo dari sang bayi di dalam sana.


"Terus kalo sedekah jariyah, mas kan sering infaq, sodaqoh dan zakat. Nah kalo ilmu yang bermanfaat selain mas jadi guru, mas mau ngga ngajarin orang biar jadi bener, sukses, pinter ? biar berguna buat nusa dan bangsa ?" tanya nya merayu dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Arka sambil menelusuri wajah sang suami.


"Intinya ?" tanya Arka. Baru kali ini obrolan Shania membawa tema yang berat seberat beban hidup para jomblo pas lagi liat orang mesra mesraan. Apakah ini tanda tanda kiamat sudah dekat ?


"Karena Sha istri yang baik, mau suaminya beramal sholeh...sampai pahalanya tumpah tumpah, makanya Sha nawarin sama pasukan Sha buat belajar bareng mas, mereka pengen lulus dengan versi terbaik mereka. Mereka juga pengen kuliah dan sukses !"


"Pasukan ?" tanya Arka.

__ADS_1


"Temen temen Sha yang cetar membahana, " gadis itu menaik turunkan alisnya.


"Deni cs maksudnya ?" Shania tertawa sambil mengangguk.


Arka menarik nafasnya panjang, kalimat sesimpel itu sampai harus muter muter keliling Jakarta, apakah Shania tidak bisa menyederhanakan kata sampai harus memilih penggunaan bahasa belibet seraya membawa dalil segala ?


"Maksudnya mau belajar bersama ?" Shania mengangguk cepat.


"Bisa kan ?"


"Boleh, tapi menyesuaikan jadwal mas ya ?!"


"Iya, makasih mas !!!" Shania refleks memeluk Arka.


"Ikhlas ngga nih ?" tanya Shania, senyum miring Arka tercipta.


"Eh..eh..itu apa maksudnya tuh ! Senyum senyum kaya senyum si kancil ?!" tunjuk Shania.


"Janji ga nyakitin kamu sama dedek ! I'm promise (aku berjanji)!" Arka mengacungkan kedua jarinya di atas.


Shania tau kalimat itu akan bermuara kemana, ia mengangguk pelan. Sekejap lampu kamar menjadi temaram.


****


"Ga usah suka tebar pesona !"


"Mas tuh diem aja, cewek cewek pada keteteran buat ngumpulin nyawa !"


Gadis yang sebentar lagi menjadi ibu ini nyeroscos bak kereta api yang tak ada remnya, dengan tangan yang cekatan membantu bi Atun menyiapkan sarapan.


Ucapan sepanjang dan selama penjelasan dosen tentang materi kuantum itu hanya dibalas iya saja oleh Arka.


"Iya,"


"Nanti pelajaran bu Juli sama pak Yuan, jangan lupa siapin materi nya dulu, biar ga kelamaan jelasinnya," imbuh Arka.


"Oke, " jawab Shania, ia duduk di kursi menyiapkan piring dan menaruh nasi beserta lauknya disana.


"Bimo ada hubungin kamu ?" tanya Arka tiba tiba.


Shania menggeleng, "nomernya aja Sha blokir, ga penting ! Parasit mah bagusnya dibuang."


"Dia mau minta maaf Sha, " jawab Arka.

__ADS_1


"Enggak !" tukasnya telak.


"Sha, Allah aja maha memaafkan, masa kita yang cuma hambanya ga mau kasih maaf ?" bujuk Arka.


"Karena Sha hanya seorang hamba, hati Sha ga bisa selapang itu, ga bisa se sabar dan sepemaaf itu !" dari cara bicara Shania yang sengit dan meledak ledak, Arka tau jika sekarang Shania sangat amat marah pada Bimo, tak ingin membahasnya lagi. Memang begitulah sifat istri nakalnya ini, ia harus lebih berusaha untuk membujuknya agar luluh.


"Ya udah kalo gitu, mas bilang kamu belum siap !"


"Bukan belum siap, tapi emang ga mau !"


"Iya, " Arka mengalah.


"Emang dia ada hubungi mas ?" Arka mengangguk sambil mengunyah nasi goreng.


"Terus mas bilang apa ?"


"Dia minta maaf, mas bilang bukan pada mas dia harus meminta maaf. Tapi pada calon ibu dari anak anak mas," jawabnya.


"Mas tau ngga, dia jelek jelekin mas ?! Hina mas di sekolah ?! Dasar ga tau terimakasih !" amarah Shania kembali memuncak.


"Ya udah ga usah dibahas, nanti kamu ga jadi jadi makannya."


****


"Nanti suruh temen temen kamu datang sore aja jam 4, mas pulang jam 3an !" ujar Arka.


"Iya,"


"Salam buat bu Juli sama pak Yuan, " tambahnya lagi.


"Iya, salam juga buat LiAr polepel ya !!" ledek Shania.


Arka menggelengkan kepalanya lalu pergi.


Untuk beberapa bulan ke depan Shania belajar di rumah didampingi guru dari BP. Hidup memang sebuah kejutan, tak pernah bisa dikira dan diduga.


Tak pernah terpikirkan jika jalan hidupnya akan begini. Shania mematut dirinya di cermin, sebentar lagi bu Juli datang bersama pak Yuan. Buku dan alat tulis yang sudah disiapkan di meja dibawa Shania ke ruang tengah. Arka bahkan sudah memasang sebuah whiteboard di salah satu dinding sebagai sarana untuk menjelaskan.


Belajar di kala mengandung memang tak mudah. Menyesal ? tak ada yang harus disesali sekarang, Shania hanya akan melihat ke depan menatap masa depan tanpa menoleh ke belakang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2