
Shania turun dari mobil. Mungkin sebentar lagi seragam pas bodynya akan segera ia pensiunkan seiring dengan statusnya yang akan berubah jadi seorang little momy. Besok besok baju kebesarannya bukanlah seragam basket, tapi daster.
Ia beberapa kali merapikan cardigan yang dipakai. Meskipun belum terlihat perubahan yang signifikan, tapi rasa tak percaya diri dan was was sudah menggelayut sebesar gajah.
"Ini ada apaan sih ribut ribut ?!" tanya Shania.
"Sha, loe belum tau ? Maya masuk RS dan koma, " jawab Leli yang kebetulan berdiri di depan mading sekolah sepanjang jalan menuju kelas Shania.
"Oh tau. Gue udah nengok malahan kemaren," jawabnya santai.
"Apa??! Loe udah tau bahkan udah nengok ? Gimana ceritanya, gue aja ga tau !" Niken terkejut, setau mereka Shania dan Maya adalah rival di sekolah BP ini.
"Ya tau aja, terus mesti gue umbar umbar gitu ?" tanya Shania duduk bersama teman temannya, langsung saja tangannya mencomot keripik pedas yang dipegang Leli.
"Gilee, semenjak kapan loe sedekat itu sama Maya, Sha ?" tanya Guntur.
"Gue ga deket, kemaren ibunya Maya nelfon. Minta maaf sama do'a buat Maya, gue ga pernah benci sama Maya. Cuma kebetulan aja sering berantem," Shania sesekali menarik nafas kepedasan dan mengambil tumbler minumnya di samping kanan tasnya.
"Sha tangkap !" ujar Deni memberikan sebungkus keripik pedas yang sama, pemuda itu baru saja datang dari kantin dan membeli sekresek jajanan yang langsung diserbu ke7 orang ini. Mereka memang terpisah pisah kelas, tapi selalu kembali bersama.
"Hap !"
"Gile, si Maya ! bisa berbuat sejauh itu !" Melan menggelengkan kepalanya.
"Loe nyindir gue ?!" Deni bersuara.
"Hahahaha, yang punya dosa ikut ngamuk !" jawab Niken.
"Gimana 'ga tergiur kalo dikasih mobil sama apartment, belom duitnya ! mau aki aki juga dijabanin," jawab Leli.
"Apalagi kalo kaya pak Arka !" imbuh Melan.
"Uhukkk !!! uhuukkk !!" dadanya seketika panas, tenggorokannya terbakar, karena tersedak keripik pedas.
"Pedes !"
"Sha !! nih minum..minum !!" seru teman temannya panik.
"Kaget neng ?" tanya Roy.
"Terang aja gue kaget, loe bandingin aki aki buncit sama modelan tom cruise !" aku Shania.
"Hahahahah, hooh lah !" tawa Leli dan Niken menyetujui.
"Kalo seandainya yang ada di posisi Maya itu gue, loe semua gimana ?" tanya Shania tiba tiba, membuat mereka terdiam seketika.
"Wahhh, andai andai loe ga lucu honey !" jawab Roy.
"Dih serem amat Sha, " gidik Leli.
"Ngapain cobak loe kaya gitu ? bunda ga kasih lagi loe jajan emangnya ?" tanya Melan.
"Ya udah pasti digibeng ayah. Korban cry pto nih anak !" jawab Guntur, yang lain ikut tertawa tapi tidak dengan Deni.
"Gue nakal, loe semua tau bo roknya gue. Tapi loe semua masih mau temenan sama gue !" timpal Deni dibalas anggukan kepala teman temannya.
"Iya, bo do ga sih kita ?!" tanya Melan.
"Kamvrett, " tawa Ari.
__ADS_1
"Gue harap sih gitu," Shania menggidikkan bahunya acuh.
"Eh, bel masuk tuh !" semua bergegas beranjak menyisakan sampah bungkus keripik.
"Njirrr, main pergi aja ! woyy sampah oyyy !!" pekik Deni.
"Sini, biar gue bantu !" Shania membantu memunguti sampah bekas teman temannya bersama Deni. Meskipun nakal, Deni adalah anak yang bertanggung jawab.
"Sha, ada yang mau gue omongin !" pintanya demi melihat keanehan Shania, ia hafal betul dengan watak teman temannya. Dan Shania, jelas ada yang berbeda.
"Apaan ? Buru ! jam pertama pak Arka," jawab Shania.
"Ya udah sambil jalan pelan pelan,"
"Jujur sama gue, siapa yang hamilin loe ?" Deni menahan tangan Shania, rahangnya sudah mengeras dan terlihat kilatan kemarahan.
Jantung Shania langsung berhenti saat itu juga. Deni tau ?
"Loe apaan sih ngaco !!" Shania tertawa sumbang, sangat kentara perbedaannya. Kini ia tengah dilanda gugup.
"Udah ah, pertanyaan loe ga berfaedah !" tepis Shania.
"Gue tau pertanyaan loe kemaren bukan tentang tetangga loe kan ? dan ini sekarang pertanyaan loe juga bukan berandai andai kan, kita temenan udah ampir 6 tahun Sha. Dari smp. Gue tau loe, loe tau gue ! dan ini loe setiap hari cardiganan gini, jelas bukan loe !" Deni meneliti penampilan Shania, apalagi ddngan rambut yang ia ikat satu begini, terlihat jika berat badan Shania sedikit bertambah.
Deni benar, Shania lupa jika mereka berteman sejak smp. Hanya saja belum begitu dekat seperti saat masuk SMA dan sering berulah bersama.
"May be loe bisa cerita sama gue Sha, kalo loe masih percaya sama gue !"
"Gue pasti cerita kalo nanti gue ada masalah ko, sampai saat ini semua aman terkendali, ga ada apa-apa."
Shania melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.
"Ngerumus nomer to gel !! Mau apa loe ?!" jawab Shania.
"Beresin sampah loe semua lah, ngapain lagi !" gadis ini duduk di bangkunya, dengan tatapan Arka mengikutinya.
"Sha, bojo nyariin loe tuh. Gelisah banget.." bisik Inez.
"Abis nongkrong !" jawab Shania.
Pelajaran berlangsung, selama pelajaran Arka, Shania sudah 2 kali ijin ke kamar mandi.
"Sha, loe be*ser banget sih ?! pipis terus," omel Inez, yang dari tadi mengikuti gerak gerik Shania.
"Terus mesti pipis di kelas gitu ?" jawab Shania tak ingin kalah.
"Beser kaya orang hamil aja !" Shania tercekat mendengar selorohan spontan Inez.
"Sembarangan !" tepis Shania demi melihat reaksi seluruh penghuni kelas termasuk Arla.
"Orang demam yang banyak minum aja buang air terus ko, " alibi Shania.
"Santuy aja Sha, " tawa Inez. Shania mulai worry dengan kecurigaan Deni, perkataan Inez, dan juga kecurigaan Melan tempo hari. Sudah pasti teman teman terdekatnya akan tau dengan perubahannya. Ia melirik ke arah perutnya, setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulannya lingkar perutnya akan membesar, cardigan, swetter dan seragam besar sudah tak akan bisa menutupinya lagi. Dan jika saatnya tiba, ia sudah tak bisa mengelak lagi.
Pelajaran Arka selesai, tapi belum sempat keluar guru dari kesiswaan masuk ke dalam kelas.
"Maaf pak ijin mengganggu sebentar," Arka mengangguk memberi ijin.
"Perhatian, semua siswa siswi diharap ke lapangan sekarang ! Terimakasih,"
__ADS_1
"Ini ada apaan lagi sih ?!" teman temannya menautkan alisnya dan saling berbisik.
"Ga tau, " jawab Shania pada Inez.
"Ya udah, yu Sha !" ajak Inez.
"Shania, bisa minta tolong sebentar !" pinta Arka. Shania yang sudah hampir keluar kelas bersama Inez, terpaksa berbalik.
"Iya pak, "
"Honey !! yu bareng, marmut marmut udah pada nunggu di lapang, " ajak Roy.
"Gue dipanggil dulu, loe duluan aja !" jawab Shania.
Arka menyerahkan setumpuk buku catatan untuk dibawakan ke ruang guru oleh Shania.
"Yang bener aja pak, kenapa ga minta cowok buat kerjaan berat gini ?!" Shania menautkan alisnya pada Arka.
"Saya maunya kamu yang bawa," jawab Arka berjalan duluan.
Shania menghela nafasnya, suami gurunya memang terkadang menyebalkan seperti si bocah kerudung pink. Shania mengekor dengan membawa setumpuk catatan milik teman sekelasnya di belakang Arka, tatapannya sengit.
Ngeselin banget, dah tau istrinya lagi hamil...disuruh suruh ! Ngajakin ribut,
Arka tersenyum menggelengkan kepalanya. Bukannya masuk ke dalam ruangan guru, tapi ia mengajak Shania masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
"Loh pak ?!"
"Kenapa ? taruh buku itu di meja !" Arka membukakan pintu ruangan kepala sekolah.
"Ini kan ruang kepsek, ngapain kesini sih ? ruang guru kan sebelah sana !" sungutnya.
"Masuk aja, nanti saya jelaskan di dalam."
Shania mengikuti perintah Arka, meskipun ia tak mengerti apa maksudnya.
"Pak," Shania menunduk di depan pak Wildan.
"Duduk Sha, " pinta pak Wildan.
"Berapa usia kandungan Shania, Ka ?"
"Ya ?!" beo Shania.
"Sudah memasuki minggu ke 8," jawab Arka, dan pak Wildan mengangguk.
"Tunggu saja disini selama pemeriksaan berlangsung, "
"Tunggu, ini ada apa ya ?!" tanya Shania.
"Sekolah ngadain pemeriksaan siswa siswi, karena kasus Maya menyeret nama sekolah."
"Untuk mencegah kejadian serupa, makanya sekolah mengadakan razia dan pemeriksaan secara menyeluruh meliputi tes urine, darah dan fisik," jelas Arka. Shania hanya tercengang mendengarnya.
"Kalo kamu ikut di lapang sana, sudah dipastikan tes urine kamu positif Sha, dan kamu tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah lagi atau otomatis di D.O,"
.
.
__ADS_1
.