
"Gila sii, ini mah parah ! lengkap banget ! emak gue pasti seneng nih kalo diajak jajan dimari !" seru Leli melihat makanan berderet dari ujung ke ujung dengan mulut yang sudah berdecak siap melelehkan air liur.
"Jangankan emak loe Li, nenek loe juga pasti bakal seneng, itung itung nostalgiaan sama jajanannya dulu !" jawab Guntur menyahut dari arah belakang.
"Mas aku wedang ronde ya, " ujar Leli yang berada di depan Shania, setelah Leli selesai dan membayar, Shania maju berhadapan dengan Priyawan di meja kasir.
"Aku susu soda aja !" jawab Shania.
"Ka, susu soda !" pekik Priyawan, dan tersenyum penuh arti pada gadis cantik di depannya, stelan t shirt hitam yang aga besar dengan lengan baju di lipat dan rok levis mini di atas lutut, sepatu sneaker putih, juga topi dengan pad ke depan dan kalung choker hitam di lehernya sukses membuat Priyawan tak berkedip.
"Kenapa senyum senyum mas ?" tanya Shania mengangkat alisnya.
"Eh, engga. Sudah kewajiban aja buat ramah, monggo.. hatur lumajeng (selamat menikmati), semoga suka !" jawab Priyawan.
"Hatur nuhun kang, ( terima kasih kang/ mas/ bang) " jawab Shania.
"Eh, asal tanah Priangan juga ?!" tanya Priyawan.
"Mamah om, " jawab Shania.
"Kayanya rombongan Ka, " ujar Nino menunjuk teman teman Shania yang masih berjejer menunggu antrian memilih makanan dengan asyiknya. Arka mematikan rokoknya dan segera membuatkan pesanan tanpa berniat melihat arah telunjuk Nino.
Priyawan kembali ke dapur untuk mengambil pesanan Shania dan menghitungnya, "cantik bruh ! meni geulis pisan si neng nengnya !" (cantik banget si neng neng nya).
"Sopo Wan ?" tanya Teguh.
"Itu yang barusan pesen, kayanya masih anak SMA. Anak anak SMA sekarang cantik cantik, jadi kepengen ngikut jejak Arka !" serunya.
"Huuu ! loe mana laku. Yang ada tuh anak SMA takut sama loe, dikira ped ofil, " tawa sumbang Nino memancing tawa yang lain.
"Gue jadi penasaran, masih di situ Wan? " ujar Nino.
"Masih, liat aja !" jawab Priyawan bersemangat, sementara Teguh sudah meliriknya dari tadi.
"Ckck, ayu ne..." decak Teguh. Arka tertawa terkekeh melihat tingkah teman temannya yang bisa dibilang tak tau umur itu, definisi tua tua keladi. Ia jadi teringat Shania, sepertinya Shania kini sedang bersenang senang dengan teman temannya.
Shania membayar pesanannya dan membawa ke mejanya.
Arka dan kedua lainnya beranjak keluar dari dapur dan melanjutkan pembicaraan mengenai cabang angkringan di Daan Mogot dan seabrek teknis pekerjaan lainnya di samping angkringan, udara malam yang dingin menjadi teman ketiganya membicarakan masa depan cerah.
"Mana Priyawan, suruh si Dani jaga kasir aja, Sufi kan udah datang," pinta Arka.
"Aduh gue kebelet uy, toilet sebelah mana ya ?!" tanya Shania.
"Di sebelah sana Sha, " tunjuk Melan.
"Coba tanya deh Sha, " jawab Deni menghisap aroma vape yang dipegangnya.
"Ga usah, tuh bacaan toilet keliatan !" tunjuk Melan lagi. Shania langsung berlari menuju arah telunjuk dan pintu bertuliskan toilet.
Shania menyiram bekasan buang air kecilnya, lalu membuka pintu toilet.
"Eh, ketemu lagi !" seru Priyawan melintas berpapasan dengan Shania yang langsung mendongak.
"Eh," Shania tersenyum kaku.
"Priyawan, panggil aja aa Priyawan."
Shania tidak langsung meraih tangan Priyawan yang sudah terulur, secara tidak langsung lelaki itu mengajaknya berkenalan.
"Sha, " jawabnya.
"Sha ? Sha aja atau ada kepanjangannya ?" tanya nya so akrab, sedangkan Shania sudah melihatnya malas.
__ADS_1
"Shania !!" panggil Melan menghampiri.
"Ngapain ?!"
"Ke toilet juga, tungguin ihh !" pinta Melan.
"Buru !" jawabnya melotot, berkat Melan kini Priyawan tau namanya, dan memberi lelaki ini kesempatan untuk mengajaknya mengobrol lebih lama.
"Oke, bentar !" Melan berlari menuju toilet.
"Shania, cantik namanya..sesuai orangnya !" Shania sudah mengernyitkan dahi dan menatap jengah. Sudah hal biasa bagi Shania bertemu dengan kadal cap semar begini.
"Priyawan mana ?!" tanya Nino, sudah 15 menit dipanggil tapi tak kunjung datang bahkan batang hidungnya saja belum kelihatan.
Mereka mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Priyawan tengah bicara dengan seorang perempuan.
"Wan !!! sini buruan !" pekik Teguh, Priyawan berbalik, dalam hitungan sepersekian detik, baik Shania maupun Arka sama sama terkejut demi mendapati masing masing berada disini.
"Astaga !" gumam Shania melongo.
"Wan, ga usah ghosting ghosting cewek terus !"
"Wah, beneran ini sampe dikejar gitu !" senyum miring kedua temannya.
"Jadi itu anak SMA yang dimaksud si Priyawan ?" tanya Arka, diangguki Teguh dan Nino.
Arka meloloskan nafas beratnya, lalu beranjak menghampiri Shania dan Priyawan. Langkah Arka terdengar bak hitungan mundur di sebuah bom untuk Shania, gadis itu mati kutu dalam seketika, melihat suami gurunya ada disini sepaket dengan mata elang yang siap menyambar Shania saat itu juga dan melahapnya, ia sudah mengalihkan pandangannya, berharap bisa pergi dari sini, tapi lari secepat road runner bukanlah ide yang bagus, karena tak tau sejak kapan Arka sudah berada di depannya sekarang menatap meneliti dari atas sampai bawah. Bersamaan dengan Melan yang baru keluar dari dalam toilet.
"Eh pak Arka ?!" tunjuk Melan seraya menghampiri.
"Mel, kalian pada jajan disini ?" tanya Arka dengan mata yang selalu menatap tajam Shania. Tanpa harus menodongkan senjata saja, Shania sudah merasa sedang diluc uti dan di tembak, Dorrr... Pyuhhhhh !!!
"Sha, ada pak Arka ko ga bilang, " tanya Melan malah memperkeruh suasana. Jangankan untuk bertanya, untuk mendongak saja melihat Arka ia tidak seberani dulu, mendadak lehernya kaku.
"Pak Arka guru kimia kita, ya Sha ?" Melan sudah menyenggol nyenggol Shania yang dari tadi bahkan tak sekalipun berniat bicara.
"Ngomong dong Sha, elah ! kaya orang gagu aja !" sungut Melan.
"Wah, Ka...kebetulan anak murid loe pada disini. Pada jajan di tempat gurunya !" tapi binar mata Priyawan seperti mengatakan jika pucuk dicinta ulam pun tiba, kebetulan yang pas sekali, dan Arka melihat itu.
"Sha, temen temen dah mau balik yu buruan !" ajak Melan.
"Pak, saya sama Shania pamit dulu ya !" pamit Melan, meraih tangan Shania yang sedang menggigiti bibir bawahnya, ia menangkap sesuatu yang tak beres dari tatapan Arka. Shania menghembuskan nafas lega akhirnya Melan mengajaknya pergi.
"Mel, tunggu sebentar. Shania biar nanti saja saya antar, soalnya saya ada perlu sama Shania, " ujar Arka.
Duarrr !!!!!
Krekek....
Harapannya untuk bisa lepas dari mata menusuk Arka kembali patah.
"Oh, " meskipun Melan merasa kebingungan, ia tak menolak terang terangan.
"Sha, ada urusan apa sama pak Arka ?!" bisik Melan.
"Les private Mel, " alasannya.
"Oh, " Melan berohria.
"Mel, bilangin aja sama anak anak. Duluan aja, gue dijemput supir bunda, " pesan Shania.
"Oke deh Sha, ya udah gue sama anak anak duluan ya !" pamit Melan, Shania mengangguk. Mata Shania menatap nanar kepergian Melan.
__ADS_1
"Kenapa ga bilang sama mas, kamu disini ?" tanya Arka, Priyawan yang masih disana terkesiap sekaligus kebingungan, what happen, aya naon, ada apa?
"Kan aku ga tau, kalo mas lagi disini juga, katanya kan mau liat Route 78 !" sengitnya.
"Tunggu ! ini ada apa ?!" tanya Priyawan, ia semakin terkejut dan tak mengerti, saat Arka meraih tangan Shania dan membawanya menemui Nino dan Teguh dengan dirinya yang mengekor di belakang.
"Jiahhhh ! ini gimana ceritanya yang lagi ghosting aa tampan di belakang, yang dapet mas mas ganteng yang ini ?!" seloroh Nino di tertawai Teguh.
"Tau nih, main tarik tangan anak gadis orang !" jelas jelas Priyawan tak terima.
"No, Guh. Wan kamu duduk, " pinta Arka sedangkan dari tadi Shania sudah menunduk, dengan pad topi yang semakin direndahkan.
"Kenalkan ini Shania istri saya, "
Duarrr ! pecahlah bom atom Nagasakinya Jakarta.
"Hah ?! istri ?!" ketiganya terkejut.
Arka tak sedetik pun melepas genggaman tangannya.
Puk !
Shania memukul punggung Arka dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Mas, ngapain sih..pake dikenalin segala, malu !" pelototnya.
"Kalo temen temen aku ada yang denger, ada yang belum pulang gimana ?!" tambahnya lagi.
"Mas takut teman teman mas yang butuh kasih sayang ini salah paham, iya kan Wan ?" kekeh Arka manakala mengingat Dimas pun begitu.
Meledaklah tawa Teguh dan Nino, sedangkan Priyawan meringis malu.
"Bilang dong ! kan gue jadi malu, suka sama istri orang, Ka !" imbuh Priyawan.
"Hahahahaha ada yang patah tapi bukan ranting, " Nino memegang dadanya.
"Sakitnya tuh disini, patah sebelum berkembang,"
"Weleh, wedusss kamu Ka...kalo bening begini mah ya aku juga mau !" ujar Teguh.
"Duduk sebentar disini, mas mau meeting sebentar. Nanti kita pulang bareng, " ucapnya menggeser kursi plastik untuk di duduki Shania.
"Monggo nyonya Arka, " seloroh Nino mempersilahkan Shania duduk.
"Panggil aja aku Ka Nino !"
"Pengen banget dipanggil kaka, muka udah kaya kake, " jawab Teguh.
"Shania om, " jawab Shania yang duduk di kursi yang di geser Arka, tentu saja berada di samping belakangnya, agar sosok Shania sedikit tertutup Arka dari teman temannya.
"Hahahahaha om om," tawa Teguh, kali ini Priyawan ikut tertawa. Arka melepas kemejanya dan meletakkannya di pangkuan Shania, menutupi pa*ha Shania yang tak tertutupi rok mini nya.
"Besok besok kalo keluar jangan pake pakaian minim begini, kalo duduk suka naik !" tatapnya, lalu menjiwir hidung Shania.
"Awsshh, ihhh iya ah !" Shania menggembungkan pipinya menatap Arka tajam.
"Duh, gue jadi mupeng kaya Arka, cari daun muda. Gemes gemes pengen gigit !" seloroh Nino.
.
.
.
__ADS_1
.