Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cabe termanis dan tercantik


__ADS_3

Shania pergi bersama Arka dan si kecil Galexia. Berbelanja kebutuhan untuk lebaran yang tinggal menghitung hari.


Arka setia merangkul Shania yang menggendong Galexia, karena begitu banyak orang yang keluar dengan tujuan yang sama, takut Shania tersenggol, tertabrak atau bahkan hilang.


"Mas, tadi tuh kata ibu daging sapi bagian apanya, mana coba catatannya ?" pinta Shania.


Arka kemudian membuka tas selempang Shania yang di gantungkan oleh Shania di lehernya, dan mencari secarik kertas pesanan ibu. Jika dalam hal memasak begini Shania belum mahir betul.


Shania terkekeh melihat pria kaku ini memakai tas selempang berwarna dusty pink miliknya.


"Cucok !" gumamnya.


"Kenapa ?" Arka mendongak.


"Engga, ayah dedek cocok pake tas pink !" tawa Shania meledak, Arka tidak merasa terhina ataupun marah, biasa saja baginya. Untuk ukuran orang cuek dan datar begini mana sempat merasa terhina apalagi oleh istri nakalnya. Ia anggap ejekan Shania tadi adalah penghargaan untuknya, betapa ia adalah suami-suami sayang istri.


Setelah menyerahkan secarik kertas, keduanya kembali berjalan. Bergumul dan berebut sesuatu dengan para ibu-ibu bukanlah keahlian Arka,


"Sini dedek, biar mas yang pegang."


Shania mengangguk, menyerahkan Galexia yang mengulat dari tidurnya pada ayahnya seperti piala bergilir.


"Hati-hati. Badan kamu kecil, liat ibu-ibu pada desek-desekan gitu nanti kamu kedorong, heran aja ini supermarket tapi berasa pasar tradisional."


"Siap mas ! Namanya juga udah tinggal berapa hari lagi ke lebaran mas, bukan cuma kita doang yang mau beli ! Mau supermarket mau pasar sama aja."


Shania memilah milih beberapa jenis daging-dagingan yang berjejer diatas es batu yang sudah dihancurkan, ada pula yang berada di dalam etalase dan sudah dibungkus.


Setelah ditimbang dan mendapatkan apa yang diinginkan, Shania mundur, meskipun keningnya mulai berpeluh tapi ia senang mendapatkan apa yang ia mau.


"Yes !! Mama Sha hebat dong ! Let's go bayar !"


Tak sengaja badan kecil Shania tersenggol oleh ibu yang baru saja datang dengan grasak-grusuk.


"Wooo...wooo...santai bu, daging ga akan keabisan kali !"


"Eh, sorry ga apa-apa ? Maafin mamah saya," ujar seorang pemuda berperawakan tinggi, dengan rambut rapi dan berkemeja.


"Oh, itu mamahnya ?!"


"Iya maaf ya, lagi beli daging juga ? Wah, rajin bantuin mamahnya juga ya ?"


Shania hanya nyengir, "eh tunggu ini Shania ?!" tanya nya.


"Iya, maaf siapa ?" Shania mengangkat alisnya sebelah.


"Pasti ga kenal sih, waktu itu ketemu belum sempet kenalan. Vano...gue temen Ryan, fakultas teknik almamater ijo !"


Shania mengerutkan dahinya tak kenal, meskipun ia mengulurkan tangannya, gadis itu enggan menyambut. Bukan karena so jual mahal, tapi ia memang mahal. Menyentuhnya harus seijin Arka lagipun bukan mahrom.


Shania menangkupkan kedua tangannya yang memegang beberapa plastik daging.


"Oh, sorry. Gue waktu itu liat loe sih, waktu daftar ulang !"


"Ohh, temennya Ryan. Berarti gue adek tingkat loe."


"Sha ! Udah ?!" tanya Arka mendekat memecah obrolan keduanya.


"Udah mas, nih ! Taraaaaa !!! Hebat kan Sha," jawabnya mengangkat beberapa plastik berisi daging, ia malah sibuk dengan Arka, tak memperdulikan Vano yang memperhatikan keduanya. Baginya laki-laki lain tak penting lagi, karena baginya kini Arkala Mahesa adalah dunianya, surganya.

__ADS_1


"Ini siapa Sha ?" tunjuk Arka.


"Eh iya, sampe lupa..mas ini masukkin dulu ke troli !" pinta Shania, Arka mendorong troli.


"Kenalin mas, ini Vano kating Sha temennya Ryan..."


"Ka Vano, kenalin ini suami aku !"


"Arka," ucap Arka singkat tanpa ekspresi berlebih, malah bisa dikatakan matanya menatap tajam dan dingin. Saat ini, siapapun laki-laki yang tersenyum penuh arti pada Shania adalah ancaman untuk Arka. Vano sedikit terkejut sekaligus tersenyum getir mendengar pengakuan itu. Di tengah hari yang terik tak ada tanda-tanda akan hujan, justru ia merasa tersambar petir.


"Oh, kamu sudah menikah ?" tanya Vano memastikan bahwa adik tingkatnya ini sudah memiliki pendamping.


"Udah, "


"Kenapa ?" tanya Arka melucuti nyali Vano, Shania yang melihat melirik Arka dan mencubit lengannya.


"Oh ga apa-apa, kirain masih sendiri. Kalo gitu saya duluan," pamit Vano.


"Oke,"


"Mas ih, mukanya jangan manteng gitu. Kaya listrik tegangan tinggi aja ! Disenggol dikit nyetrum !" omel Shania.


"Muka mas emang udah gini dari dulu Sha, "


"Engga, beda ! Muka mas tuh kaya ngajak gelut ! Kalo dia ngerasa kesel, nanti imbasnya ke Shania mas, bisa aja nanti Sha di ospek sama dia. Udah ah, masih banyak yang harus di beli." Tak ingin berlanjut jadi peperangan, Shania menyudahinya dengan mengajak Arka memilih barang lainnya.


Ponsel Shania berdering, jika biasanya ia hanya akan menstel ponselnya dalam mode getar, hari ini ia menstelnya berdering, takut jika ibu menelfon.


"Mas, bentar hape Sha bunyi."


Gadis itu mengerutkan dahinya, melihat satu pesan dari nomor tak dikenalnya.


Matanya membola.


Kamu cantik Sha, i miss you...


"Ibu ?" tanya Arka.


Shania menggeleng, "bukan mas, " lalu menyerahkan ponselnya pada Arka, gadis itu sampai mengedarkan ke sekelilingnya demi mencari orang yang mencurigakan, tapi sayangnya ia tak menemukan apapun selain dari orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, termasuk Vano yang baru saja ia temui, pemuda itu malah sibuk dengan plastik-plastik belanjaan ibunya di tangannya.


Arka sejenak menautkan kedua alisnya tapi sedetik kemudian alis itu menukik tajam. Rupanya memblokir nomor bukanlah jalan terbaik, buktinya si peneror itu masih saja menghubungi Shania dengan nomor lainnya.


"Hey, ga usah takut. Mas disini ! Insyaallah secepatnya kita bakal tau ya, siapa dia dan apa maunya. Biar kamu ga kepikiran, ponsel kamu mas yang pegang."


"Sementara, kamu pake ponsel lama mas, dan nomor kamu hanya mas dan bunda saja yang tau. Selebihnya biar mereka lewat ijin mas," jawab Arka diangguki Shania.


Mendadak hidup Shania sudah seperti buronan entah kelinci buruan seseorang di luar sana. Tapi siapa ? Dan apa maunya ? Apa yang pernah Shania lakukan padanya?


"Mas, abis ini kita jenguk ka Alya ya."


Arka menoleh tak percaya ke arah Shania yang sedang meng'ASIhi Galexia di dalam mobil.


"Serius ?"


"Muka Sha keliatan kaya lagi ngelawak ya ?" tanya Shania sengit.


"Engga,"


Sebelumnya saat mereka berjalan pulang Teguh menelfon, bukan Arka yang mengangkat, tapi Shania. Karena tangan Arka penuh dengan belanjaan dan tas Shania. Mengatakan jika Alya berada di rumah sakit, keguguran. Ia juga mengidap penyakit lain selain HIV, yaitu TBC.

__ADS_1


"Kita pulang dulu, titip dedek ke ibu. Tapi mas ga ijinin buat kontak langsung di dalam. Terlalu beresiko, nanti takut bawa penyakit ke rumah, terutama buat Galexia."


Shania mengangguk, "iya mas."


*****


"Bu, stok ASI Sha di frezzer. Lagian Sha juga ga akan lama,"


"Iyo nduk, hati-hati !"


Shania dan Arka bukan naik mobil, melainkan menaiki motor trail milik Arka, motor yang pernah Arka pakai untuk mengantarkan Shania saat akan bertanding basket dulu.


"Berasa kaya orang lagi pacaran ya mas ?!" kekeh Shania, Arka tak menjawab tapi ia menarik tangan Shania agar lebih erat memeluk perutnya.


"Tapi yang ini lebih nikmat Sha, ga harus takut dosa," ujar Arka. Shania semakin menempelkan badan dan kepalanya ke punggung Arka, menghirup wangi khas suami gurunya ini.


"Sha belum pernah loh mas, pacaran sambil boncengan motor gini !"


"Emangnya sama si Ryan itu ga pernah diajak naik motor ?" tanya Arka, Shania tertawa.


"Sha boong mas, cuma mau bikin mas cemburu doang ! Sha belum pernah pacaran," tawa Shania.


"Oh," ada rasa berbunga-bunga di hati Arka, mengetahui jika dirinyalah pacar pertama dan terakhir Shania.


"Kalo gitu, kamu mau kalo setiap hari mas antar pake motor ?" tanya Arka.


"Mau dong mas, biar bisa nempel-nempel gini kaya toke !" Shania tergelak, menyamakan dirinya dengan toke yang nempel di dinding.


"Kaya cabe-cabean yang sering mepet-mepet ?" tanya Arka, dan Shania mengangguk disebut cabe oleh Arka, apapun julukannya selama ia hanya melakukannya pada seorang saja dan sudah halal, masa bo*doh.


"Mas tau cabe-cabean ? Jangan-jangan pengalaman lagi, jalan sama cabe-cabean !" tuduh Shania mencolek pinggangnya.


"Mas ga pernah kenal kaya begituan, mas tuh taunya sama satu cabe, yang kalo ngaca ga kenal tempat." Arka tersenyum mengingat kelakuan Shania dulu.


"Siapa tuh ?! Norak banget !" tanya Shania.


"Ada, tapi memang mas ga pungkiri itu satu-satunya cabe termanis dan tercantik !" aku Arka, gantian sekarang Arka yang mengusili Shania.


"Ihhh !" Shania mencubit pinggang Arka keras hingga membuat Arka mengaduh dan sedikit oleng.


"Sha ! Ini kita lagi di jalan, nanti kecelakaan !"


"Biarin ! Mas tuh tua-tua keladi !" cemberutnya.


"Sha yang mulai, jadi mas inget lagi sama wajah manisnya !" tambah Arka.


"Stop !! Stop !! Stop !!"


"Sha mau turun disini aja !!" teriaknya.


"Ngapain, kita belum sampai sayang..."


"Ga usah panggil-panggil sayang. Geli Sha, dipanggil sayang sama om-om !" Arka tertawa kecil seraya melajukan motornya melesat membelah jalanan ibu kota di sore hari yang semakin ramai.


.


.


.

__ADS_1


Taqabbalallahu Minna Wa Minkum ya guys 🤗 Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Bathin. Selamat merayakan Idul Fitri bagi yang merayakan, segenap keluarga besar Istrinya Pak Guru ? Terkhusus mimin minta maaf, jika ada salah kata dan ucapan atau tingkah yang disengaja maupun tidak.


__ADS_2