
"Sini, dedek biar mas yang gendong. Kamu makan," pinta Arka bergantian, setelah barusan Shania menyuruh Arka makan duluan, kini giliran Shania yang makan.
"Lepasin gue Sya ! Gue mau ketemu Niko !" Reta menepis tangan temannya seraya menangis histeris, mencak-mencak dan meneriaki nama Niko.
"Astagaaa ! Apalagi sih ini !" geram Shania. Baru saja momy Gale hendak menyendok nasi ke dalam mulutnya sudah dikejutkan dengan teriakan Reta. Tak tau kah kalo mengganggu orang yang tengah kelaparan itu seperti menghadapi singa betina yang sedang menyerang wildebeest.
Niken dan Niko juga ikut berdiri melihat kedatangan perempuan dengan tampilan macam grandong, memakai kebaya tapi wajahnya sudah semrawut, rambutnya macam sapu ijuk dan maskara yang meleleh luntur seperti hantu mendekati mereka.
"Niko !! Kamu tega sama aku, Ko !" mata Niken sudah menatap tajam Niko, termasuk wajah keruh Arka dan Shania cs begitupun para tamu yang hadir.
"Engga Ken, gue ga ngapa-ngapain sama dia suerr !" tukas Niko pada Niken.
"Terus itu dia mau ngapain kesini kalo bukan nemuin loe ?!" tanya Niken melotot.
Shania berdiri, selera makannya sudah menguap mengangkasa dan mengucapkan bye-bye padanya.
"Sha, makan dulu !" pinta Arka.
"Tapi itu mas ! Cewek itu tuh pacarnya si Borokokok !" jawab Shania, sontak teman-teman Shania melotot dan menghentikkan kunyahannya.
"Jadi dia orang ketiganya ?!" tanya Melan sudah berkacak pinggang. Kini wanita itu sedang ditahan pihak keluarga Niko dan temannya.
"Ya Allah, laki Niken seneng modelan kunti begitu," decak Roy, dihadiahi tawa dari Inez, memang klop Roy dan Inez, pasangan nyablak dan mulut rombeng.
"Udah ga selera mas," tapi Shania kembali duduk karena tatapan tajam Arka.
"Duduk !" pintanya.
"Iya," padahal tangannya sudah gemas ingin mencak-mencak pada mantan Niko yang membuat kerusuhan. Si wanita itu memaksa dan nekat mendekati Niken juga Niko di pelaminan, ia menangis meraung-raung pada Niko agar meninggalkan Niken.
Manisnya madu bunga yang baru dibuat oleh keduanya sebulan yang lalu harus kandas karena Niko harus bertanggung jawab atas perbuatannya dan Niken.
"Loe apa-apaan sih, ini acara nikahan. Ga malu apa diliatin orang-orang !" jawab Niken mengeratkan pegangannya pada lengan Niko.
"Reta, sorry...gue ga bisa. Gue sudah bilang kalo hubungan kita sudah selesai," ucap Niko.
"Tapi gue cinta banget sama loe Ko, kita baru sebulan pacaran.." jawabnya sampai meminta-minta Niko untuk membatalkan pernikahannya.
"Ta, udah yuu...malu tau !" ucap Tisya temannya.
"Mbak, lebih baik mbak pulang aja ya !" pinta pihak keluarga, jangan sampai ini menjadi tontonan asyik berdurasi panjang para tamu, karena memang sudah terjadi.
"Kayanya dia mantannya si burik !" ujar Roy, membuat mereka ingin menyemburkan makanannya pada Roy si mulut nyablak.
"Namanya Niko yank, bukan burik !" jawab Inez.
"Ya siapapun lah itu namanya ga peduli gue, yang penting Niken bahagia."
"Kaya yang loe mulus aja sarimin !" decak Guntur pada Roy.
Geng kurawa sebenarnya sudah penasaran ingin menghampiri, tapi sayang sekali, mereka jika sedang menyelesaikan ritual makannya tak ada yang bisa mengganggu. Jadi mereka anteng saja makan sambil nontonin film gratis, dengan judul datang ke nikahan mantan, kebetulan kejadian ini sedang viral akhir-akhir ini di sosmed.
"Hebat ya kita Sha, waktu itu makan sambil nonton kerusuhan demo. Sekarang makan sambil nontonin kisah haru datang ke nikahan mantan," ujar Guntur.
"Hooh, emejing !" Shania dan yang lain mempercepat suapannya, tak ingin melewatkan moment berharga ini.
__ADS_1
"Kasian Niken," imbuh Leli.
"Lagi diurusin pihak keluarganya,"
"Si burik, berasa jadi cowok paling cakep tau ngga, direbutin gitu sampe dikejar-kejar ! Kaya ga ada cowok lain aja," decih Ari, mereka mengangguk.
"Namanya juga cinta buta, Ri...ya buta lah ga bisa liat cowok selain dia," jawab Guntur.
"Terus loe dianggap apa kalo bukan cowok ?" tanya Deni.
"Mon_key," jawab Ari.
"Ha-ha-ha,"
"Om Gledekkk, sejak kapan loe bijak kaya Mario Teguk ?" tanya Melan.
"Ga usah ikut campur Sha, biar mereka ngurusin urusan mereka sendiri. Bukan ranah kita," ucap Arka bijak, membawa Gale berjalan keluar tempat acara untuk menghirup udara segar, dan membiarkan Shania makan.
Baru saja mereka kembali tenang, si mantan memaksa meraih dan ingin menjambak Niken, memaksa Shania cs menyimpan piringnya lalu segera menghampiri pelaminan, terpaksa mereka harus ikut andil melihat situasi yang semakin tak kondusif.
"Sorry ya mbak, mendingan kita selesain ini di luar acara, belajar ikhlas mbak," pinta Melan.
"Iya mbak, malu loh ! Diliatin orang," tambah Inez.
"Diem loe ! Loe ga pernah sih, ngalamin kaya gue !" sarkasnya pada Melan dan Inez.
"Allahu !!! Mbak, ga bisa apa datangnya tuh nanti selesai gue makan ?! Berkat loe nasi gue ga abis ! Kalo mau rusuh jangan disini, malu-maluin !" decak Shania habis kesabaran.
"Kamu ! Kamu juga jangan ikut campur ya !!" tunjuknya pada Shania, membuat Shania tersentak karena ditunjuk-tunjuk.
Niken merasa dirinya pusing dan mual.
"Kenapa ?" tanya Niko.
"Mual," jawab Niken.
"Istirahat aja," ajak Niko hendak turun dari pelaminan, tapi si mantan hendak meraih Niken, alhasil Roy, Ari, Guntur, dan Deni jadi ikut campur menjauhkan si perempuan.
"Eh..eh..." cegah mereka saat tangan Reta ingin meraih Niken, bukannya Niken yang diraih, tapi Ari.
"Njirr, gue dicakar ! Wah ngeselin nih cewek, kalo bukan sadgirl udah gue ceburin ke comberan!" sewot Ari.
Dengan gerakan kilat si mantan menjatuhkan badannya tak sadarkan diri.
"Eh..eh...!!" mereka berseru terkejut.
"Malah pingsan," ujar Leli. Tapi Niko tetap membawa Niken ke dalam rumah.
"Diangkat saja mas," pinta pihak keluarga Niken pada Deni dan yang lain.
"Aahhhh, datang ke nikahan malah nyusahin orang aja nih cewek ! Kenapa ga anteng aja sih, makan gitu !" decak Guntur.
"Maaf ya mas," ucap Tisya tak enak hati atas sikap Reta.
"Dia kesini makan dulu engga sih ? Mestinya kalo mau bikin rusuh harus punya tenaga," tanya Deni, dengan terpaksa mereka mengangkat badan perempuan itu ke dalam rumah Niken.
__ADS_1
"Ga tau," jawab Tisya temannya.
Ibu Niken memberikan minyak kayu putih pada Tisya untuk Reta.
"Coba diusapin di dekat hidungnya !" pinta ibu Niken.
"Apa mesti pake cara gue ?" tanya Roy ditertawai Melan dan Deni, mengingat cara membangunkan Shania dulu.
"Sampe segininya banget patah hati," decih Leli, sementara Tisya sudah mengipasi wajah Reta.
Shania hanya memperhatikan Reta lekat, sejurus kemudian ia tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya.
Disaat yang lain tengah sibuk membangunkan Reta. Shania mendekat dengan membawa air cup mineral, ia menyobekan plastik penutup air itu.
"Awas kalian ! Loe semua mau-maunya dikibulin," pinta Shania.
"Mau ngapain Sha ?" tanya Leli.
Byurrrr !!!!
Reta sontak mengusap-usap wajahnya yang disiram Shania sambil terengah-engah.
"Ga usah pura-pura cuma demi dapet perhatian orang, loe ga liat apa, cowok yang loe kejar aja ga peduli ?" Semua melongo, ternyata Reta hanya berpura-pura pingsan saja.
"Kimvrittt nih cewek ! Pura-pura doang, asem !"
"Trik lama !" dengus Shania.
"Ya Allah Ta, gue kira loe pingsan beneran," dengus Tisya ikut kesal. Tak tau apa yang ada di pikirannya tentang alasannya berbuat ini.
"Loe ngelakuin ini karena kepalang malu kan ? Sambil cari-cari perhatian Niko ?!" ujar Shania.
"Basi, udah ah ! Gue mau nyari Gale sama mas Kala," Shania beranjak keluar diikuti Melan dan Leli.
"Huuu, gue kira beneran. Balik lah ! mendingan gue nyawer biduan di depan," ujar Deni saat mendengar suara kendang dibunyikan dari arah panggung, dan suara merdu nan sexy perempuan bernyanyi dangdut, disetujui Ari dan ditertawai Guntur yang juga ikut keluar.
"Om Den, gue ikut !!!" seru Roy yang sontak mendapat jeweran Inez.
"Nyawer, nyawer yuuu ! Gue nuker dulu receh lah !" seru Ari. Mereka semua meninggalkan Reta dan Tisya disana.
"Sha oh Sha, gue ajak pak Arka buat nyawer biduan ya ?!!!" pekik Guntur.
"Apa ?! Loe mau gue sambit pake clurit ?!!!" jawab Shania.
"Pak Arka, Nuker recehan yuuu !!! Gale mah taro aja di mobil !!!" pekik Guntur.
"Malinnnnn !! Gledekkk !!!" pekik Shania.
.
.
.
.
__ADS_1