
Gema takbir berkumandang. Suasana malam semakin syahdu meskipun dari tahun ke tahun selalu ada perubahan.
"Mas, ini kapan remaja masjid mau ambil makanan ?" Shania dibantu ibu dan bi Atun memasukkan kue, nasi kotak dan teh kemasan. Setiap tahun Arka selalu menyisihkan rejekinya untuk menyuplai makanan untuk para bapak-bapak atau pihak masjid di kompleksnya yang melakukan takbiran.
"Sebentar lagi,"
"Zakat fitrah udah dibayar kan mas ?" tanya Shania lagi.
"Udah tadi siang,"
Tok !!
Tok !!
"Assalamualaikum, permisi !! "
"Itu kali mas,"
"Biar mas yang buka,"
Shania mengangguk, Arka membuka pintu lalu pintu gerbang. Lama Arka disana, tak kunjung kembali. Tapi beberapa belas menit kemudian, Arka kembali dengan tatapan kelam, rahang mengeras.
"Loh ! Mana Ka ?" tanya ibu mengerutkan dahinya, begitupun Shania dan bi Atun.
"Bukan, itu cuma orang lewat tanya alamat aja."
"Oh," oh ibu dan Shania berbeda persepsi.
"Mas, kenapa ?" Shania menyentuh lengannya, Arka tersenyum tipis dan mengusap kepala Shania.
"Ga apa-apa, lanjut aja." Shania tak ingin ambil pusing, ia kembali sibuk.
"Assalamualaikum !!! Mas Arka !!!" terdengar suara teriakan dari luar.
Arka keluar dan mempersilahkan para remaja masjid mengangkut semua kardus berisi makanan.
"Wan, rame banget ya ?!" tanya Shania antusias.
"Rame ka Sha, rencananya mau ada takbir keliling pake mobil bak terbuka !" jawab Wandi.
"Wah, seru dong ! Dulu tuh Sha selalu pengen nyoba ikutan kaya begituan, tapi ayah sama bunda suka larang. Katanya yang kaya gitu cuma buat anak cowok. Sha juga pengen nyoba mukul bedug masjid Wan,"
"Oalah neng..neng...kepengen ko ya aneh-aneh aja. Biasanya kalo anak gadis itu pengennya ga sampe kaya gituan," timpal bi Atun.
"Itu salah satu cita-cita mulia Sha, bi !" jawabnya.
Ibu ikut terkekeh bersama Arka.
"Oh iya, bi Atun jadi ambil kereta jam 7 ?" tanya Shania.
"Jadi neng,"
"Bibi hati-hati di jalan ya, Minal Aidin Wal Faidzin bi, mohon maaf lahir bathin. Maafin Sha selama ini sering bikin bibi repot, maafin jika selama ini ada kata, ucapan, ataupun tingkah Sha disengaja maupun engga yang bikin bibi sakit hati atau tersinggung," Shania memeluk bi Atun.
"Iya neng, sama-sama..bibi juga minta maaf neng, mas Arka, ibu..." Bi Atun sudah mengusap ekor matanya yang tergenang seraya menyalami Arka dan ibu. Kebersamaan mereka membuatnya merasa ada yang hilang saat meninggalkan keluarga kecil Arka yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.
"Sama-sama bi, salam buat keluarga di kampung. Minal Aidin Wal Faidzin," jawab Arka.
"Neng cantik baik-baik ya, bi Atun pulang !" ujar bi Atun mengusap-usap Galexia. Hari ini bi Atun pulang kampung sampai nanti seminggu setelah lebaran atau mungkin lebih. Karena rencananya Shania akan pulang ke Bandung, dan ibu akan pulang ke Surabaya pada hari lebaran ke 2.
"Ka Sha, mau nyoba sebelum bedugnya diangkut yuuu !" ajak Bagus.
"Yu..yu...!"
"Boleh ya mas, takut nanti Sha mati penasaran, karena ga nyoba mukul bedug !" tawa Shania ditertawai anak-anak pemuda masjid.
"Ngomong sembarangan," jawab Shania.
__ADS_1
"Dedekkk....ijinin momy buat mukul bedug ya dek !!!! Please..please...!" ijin Shania pada anaknya yang rebahan di baby bouncernya saambil menangkupkan kedua tangannya, tentu saja bayi gembul itu tersenyum senang dan menggerakan anggota badannya.
"Dedek cs momy lah ga kaya ayah !"
"Tos dek ??!!!" kembali mereka tertawa karena ulah Shania yang mengajak anaknya tos ala ala geng absurd tentu saja tak dimengerti Galexia, tapi bayi gembul itu senang saja karena dikira ibunya sedang mengajaknya bermain.
"Udah belajar stressnya ? Kalo mau ikut mukul bedug, ikut anterin makanan ke masjid," tanya Arka.
"Oh, siap pak bos ! "
"Dedek, baik-baik sama nenek. Momy mau jihad dulu, mau ramein kota Jakarta sebentar, biar ga disangka cuma numpang makan sama buang air doang !" ujar Shania.
"Hahahaha, ka Sha..belum sejam ada disini sakit perut aku," jawab Rudi.
Shania membawa kardus paling kecil sedangkan ketiga pemuda ini membawa kardus sedang dan Arka yang besar.
"Nanti sisanya biar kalian bolak-balik saja," pinta Arka diangguki ketiganya.
"Bye dedek, do'ain momy sukses nabuh bedugnya !!!"
Shania keluar dari rumah, tapi matanya menyipit, melihat sebuah kotak berbungkus plastik hitam. Seperti sebuah paket, teronggok di samping tong sampah.
"Mas, itu kotak apa ?" tanya Shania.
"Bukan apa-apa, cuma sampah Sha," Arka memungut dan memasukkannya langsung ke dalam tong sampah.
Shania melanjutkan langkahnya. Meskipun masjid kompleks tak sebesar masjid Istiqlal ataupun Dian Al-Mahri, tapi cukup sanggup menampung jamaah satu kompleks bahkan beberapa jamaah di luar kompleks. Bukan marmer mahal dengan ornamen penghias masjid pada masa kejayaan Orde Ottoman atau Utsmani, tapi cukup indah dan menyejukkan mata bagi siapa saja jamaah yang melakukan ibadah.
"Wahhh, keren !!! Sha jadi pengen ikutan ihhh !" seru Shania, dari pelataran masjid saja sudah terlihat keramaian, sebuah bedug tak terlalu besar dengan hiasan kertas krep di pinggirannya sudah siap diangkut ke atas mobil bak terbuka, anak-anak berumur 10 sampai 15 tahun bersiap dengan obornya.
"Masjid Baitul Jannah, Jakarta"
Sebuah papan dengan tulisan di bawa seorang anak laki-laki.
Suara tabuhan bedug paling menggema menjadi fokus Shania.
"Fik, ka Shania mau nyobain nabuh bedug !" pekik Wandi.
"Oh boleh !" di okei Fikri.
"Boleh kan Fik, takut iler netes nih !" Arka yang sedang berbicara dengan pengurus masjid menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Shania.
"Ini gimana Fik nabuhnya ? Pake irama ngga ?" tanya Shania.
"Pake ka Sha, iramanya ridho sama rhoma..."
"Yeee, itu mah Rhoma Irama!" tukas Shania.
Sementara Shania sibuk dengan hobby barunya, recokin anak-anak masjid. Arka menyerahkan makanan.
"Jazakallah khairan katsiran pak, semoga berkah.."
"Aamiin pak,"
Obrolan Arka dan pak Eri terhenti dengan keriuhan anak-anak dan suara bedug dengan irama bersemangat, hingga membuat anak-anak itu menggemakan takbir. Tak lain dan tak bukan adalah Shania si biang keladi keriuhan itu.
"Udah ah Wan...nih Fik ! Lumayan pegel juga !" ujar Shania menyerahkan pemukul bedug.
"Ka Sha, berpotensi nih !! Kalo ka Sha yang nabuh bedugnya pasti bikin nambah energi sama semangat takbirannya !" jawab Bagus.
"Hahaha, pulang-pulang auto di kunciin di kamar mandi sama mas Kala !" jawab Shania.
"Sha, ayo pulang. Dedek pasti udah nyariin the hectic momy-nya."
"Iya mas, Sha pulang dulu deh. Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
"Hahhh !!!!" Shania menghembuskan nafas lega.
"Seru deh mas, akhirnya cita-cita mulia Sha kesampean, "
"Nabuh bedug ?" tanya Arka, Shania mengangguk. Arka tertawa kecil tanpa suara, Shania memang unik.
"Neng Sha, pak guru !" sapa pak Slamet.
"Pak Guru, makasih parselnya. Langsung dibuka sama anak-anak saya di rumah, Anak-anak suka sekali sama isinya mas, apalagi lapis legit sama coklatnya," ujar pak Slamet, Shania menautkan alisnya.
"Sama-sama pak, " jawab Arka kembali berjalan bersama Shania. Setelah pak Slamet pergi, Shania meloloskan pertanyaan yang sudah sejak tadi tak sabar ingin meluncur keluar dari mulutnya.
"Mas kasih parsel buat pak Slamet lagi ? Bukannya waktu itu udah ya ?" tanya Shania.
"Iya, tadi. Emangnya ga boleh ?" Arka bertanya balik.
"Ya boleh sih, tapi aneh aja. Ko Sha ga tau ya !"
Flashback on
"Assalamualaikum, permisi !"
Arka keluar, seorang pengantar paket datang membawa sekotak paket bertuliskan alamat Arka dengan penerima Shania dengan emoticon hati, dan pengirim with love RN. Bersamaan dengan itu seorang lainnya mengantarkan parsel berisi makanan pada Arka.
"Permisi mas, benar ini dengan rumah Shania Cleoza Maheswari ?" tanya nya.
"Betul," jawab Arka.
"Ini ada parsel, tolong diterima." ia menyerahkan parsel berukuran sedang dengan nama yang sama seperti tadi. Belum Arka selesai dengan urusan paket, sekarang ia meradang dengan kedatangan sebuah parsel.
Pak Slamet kebetulan melintasi rumah Arka.
"Pak !!" panggilnya.
"Iya pak guru ?!" ia mendekat.
"Maaf pak, ini ada sedikit buat anak-anak dan keluarga di rumah. Mohon diterima !" pinta Arka.
"Ya Allah terimakasih banyak pak guru, jazakallah !" serunya senang.
"Sama-sama," setelah pak Slamet dan kedua pengantar barang itu pergi, tanpa membuka kotak tersebut Arka melemparnya ke samping tong sampah.
"Kamu jual saya beli, sampai mana kamu mengejar istri saya." gumamnya. Arka memiliki beberapa nama yang ia curigai, tapi sebelum semuanya pasti Arka tak mau bersuudzon.
**********
Jika dulu Shania hanya akan membawa alat solat atau mungkin ditambah koran. Tapi sekarang ia membawa serta baby bouncer saat akan pergi salat ied.
"Hati-hati, "
"Dedek yang anteng ya nak, momy..nenek mau solat ied," Arka mengusap lembut pipi Galexia.
Galexia memang anak Arka, buktinya selama salat ied, anak itu diam dan anteng saja tak rewel seperti ayahnya yang kalem, padahal tak jarang jamaah perempuan lain yang mencubiti gemas padanya.
"Anak gue, udah kaya squishy di cubit-cubit terus diendusin !" Shania merengut tapi tak bisa melawan, hanya bisa mengelus dada dan tersenyum nanar.
Sepulang dari masjid, Arka menggendong Galexia dan bersalaman dengan warga yang berseliweran.
"Mas, buruan..nanti anak-anak kurawa keburu dateng ke rumah. Sha belum sempet umpetin coklat favorit Sha yang ada di toples kaca ijo," ujar Shania berjalan cepat mendahului ibu dan Arka dengan membawa alat solatnya dan bouncer Galexia.
Well ! Open housenya rumah Shania bakalan rame nih, kaya pasar kaget kalo lagi musimnya orang dapet THR..
.
.
.
__ADS_1
.