Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cakar macan


__ADS_3

"Dah !!! Makasih ya udah dateng," seru Shania pada teman rasa saudaranya, Route 78.


"Loh, mas ! Itu di ruang kerja hampers masih ada, buat siapa ?" tanya Shania.


"Buat kepsek ANGKASA RAYA, katanya tadi ga bisa hadir, beliau kurang sehat."


"Oh, " Shania beroh singkat.


"Ka, bunda sama ayah pulang dulu deh !" bunda yang masih duduk bersebelahan dengan ayah di sofa pamit.


"Bunda sama ayah ga mau nginep aja atuh ?" tanya Shania.


"Iya bun,"


"Ayah besok berangkat lagi ke luar kota," jawab ayah menyeruput sisa kopinya, yang masih tersisa sedikit sebelum tandas sampai ampasnya.


"Oalah ! Mau ditinggal bu ?" tanya ibu.


"Iya bu, jadi jab lay deh beberapa hari," protes bunda. Shania tergelak dengan pemilihan kosakata bundanya.


"Jarang dibelai !!" tawa Shania masih berlanjut.


"Si bunda milih kata nya meni ekstrem," ujar ayah.


"Da iya atuh, emang ! Ga dibelai buat beberapa hari."


"Idih, udah inin inin juga meni ganjen !" cibir Shania.


"Maaf ya bu, mas. Orangtua aku emang aga-aga bucin level dewa !" Shania masih tertawa geli melihat kelakuan kedua orangtuanya.


"Ga apa-apa nduk, bagus sudah tua masih harmonis."


"Bukan harmonis justru ganjen, geli.. bu, si ayah mah diem diem aja, kalem. Si bunda yang kaya cabe gatel !" Arka melirik Shania seakan berkata, kaya kita ngga sih ?


Ternyata orang yang ia lihat memikirkan hal yang sama, "apa liat-liat, Sha ga gitu mas !" sewotnya.


"Ini bunda bawa 5 ya Ka, buat tetangga ?!" tanya bunda mengambil hampers yang masih tersisa.


Arka mengangguk, "ambil aja bun,"


Ayah memasukkan ke5 hampers ke dalam bagasi mobil.


"Bu, main lah ke tempat saya, ke toko kue, biar bisa nyontek resep apem-nya," ajak bunda.


"Insyaallah, jika ada waktu nanti main. Saya juga ingin lihat toko kue bu Lia," jawab ibu.


"Sha, Ka..bunda sama ayah pamit !" pamit ayah.


"Bu, kami pamit," Ayah mengulas senyum hormat pada ibu.


"Monggo pak,"


"Iya yah, "


"Hayu ah !! bunda mau pacaran dulu sama ayah sebelum ditinggal berjuang," Shania tertawa.


"Udah kaya pahlawan perang aja, mau nonton ya ? " omelnya lagi.

__ADS_1


"Iya, nonton di misbar,"


"Gerimis bubar ?" tanya Shania, dibalas tawa bunda dan ibu, sedangkan Arka dan ayah hanya sebagai penonton saja, memang keduanya satu frekuensi sama sama datar dan dingin.


"Hayu ah utun ! Oma sama opa pulang dulu !" usapan lembut di perut Shania.


"Bye oma de hebring !!" Shania melambaikan tangannya.


Pintu ditutup seiring menghilangnya mobil ayah dari pandangan.


"Ibu masih disini kan ?" tanya Shania.


"Ibu lusa pulang ke Surabaya, nanti kalo Shania sudah bulannya, ibu balik lagi kesini nduk."


"Yaaa ! ko ibu pulangnya cepet banget ?"


"Nanti ibu kesini lagi, saat kamu masuk bulan ke 9," ibu mengusap lembut kepala lalu turun ke perut Shania yang menggelayut manja di lengannya sedangkan Arka di belakang keduanya memperhatikan istrinya bermanja manja ria di lengan ibu.


****


Ibu sudah masuk ke kamarnya, begitupun Shania. Ia sampai lupa membuka paket miliknya tadi, gadis itu mendekat ke arah meja dimana kotak tadi tergeletak. Shania membukanya.


Bukan warna merah menyala yang ia pesan, melainkan warna magenta dan hitam. Shania rasa merah menyala sudah terlalu biasa, malah sebelumnya ia ingin memesan warna corak totol-totol biar kaya macan tutul, garang, rawrrrr !! ia tertawa tawa geli sendiri.


"Berasa jadi cewek liar banget gue, dapet mungut dari hutan !" gumamnya membentangkan jaring ikan yang masih terdapat price tag-nya.


"Siapa yang mungut di hutan ?" tanya Arka tiba-tiba saja muncul dari pintu kamar.


"Astagfirullah ! Kaget ih !"


Kenapa kalo kepergok lagi nakal itu rasanya sekamvrettt ini, pikir Shania.


"Kenapa dimasukkin lagi ? Ngga dicoba ?" tanya Arka yang menaruh laptop, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci wajahnya.


"Engga jadi ah !!"


"Kenapa ?" tanya Arka dari kamar mandi.


"Malu ah, perutnya buncit nanti jatohnya malah kaya kuda nil baru bangun lahiran !" ujar Shania.


"Ngaco aja, coba pake ! Mas pengen liat, " pinta nya keluar dengan wajah yang masih segar dan menguarkan wangi sabun muka juga mulut yang segar menthol dan jeruk hasil dari mouthwash.


"Ih mas, malu ah !"


"Kalo gitu ngapain dibeli, mubadzir !" jawab Arka duduk di tepian ranjang.


"Iya, mana mahal lagi mas !" Arka mendekat dan meraih benda dari dalam kotak itu membentangkannya.


"Cocok buat kamu, pake.." bisik Arka membuat bulu halus di sekitaran telinga Shania meremang.


Akhirnya Shania mau memakainya. Ia membawa pakaian har am untuk gadis yang belum menikah kenakan ini ke dalam kamar mandi. Ia memakai lotion di seluruh permukaan badannya, agar terasa lebih lembut saat tersentuh permukaan halus dan tipis dari edisi terbaru Victoria's secret.


"Dih, kaya apaan nih gue ?!" Shania baru menyadari jika bagian pan ta t dan dadanya kini membesar semakin menantang termasuk perut yang berisi seorang bayi kecil.


Degupan jantungnya terasa kencang, padahal ia hanya akan menunjukkan leku kan tubuhnya pada yang memang sudah hak-nya, tapi rasanya bisa semendebarkan ini. Ia jadi teringat akan sosok Maya, bagaimana rasanya jadi Maya ?


"Sha, kamu ga tidur di dalem kan ?" tanya Arka.

__ADS_1


Shania memilih warna magenta terlebih dahulu, tampak sesuai untuk dirinya yang lucu, genit, dan menggemaskan.


Sedikit demi sedikit pintu kamar mandi terbuka, menampakkan tubuh seorang gadis yang ranum dan matang, namun tak kalah dengan badan model Internasional.


Seketika otak Arka langsung oleng, jiwanya langsung belingsatan, hawa panas langsung menyerang tubuh, hati, dan pikirannya. Jangan tanya buncitnya perut Shania, justru menjadikannya bertambah sexy dimata Arka.


"Mas, "


"Udah ah ganti ya, kan ga matching sama perut ! Nanti aja kalo udah lahiran," bibirnya manyun seraya mematut dirinya di cermin.


Laki laki ini mendekati Shania, dari arah belakang memeluk Shania dan memberikan kecupan di sekitaran tengkuk Shania. Menyingkabkan rambut bronze panjang tergerai milik Shania ke sisi lainnya, menyimpan mulutnya di pundak kiri Shania.


"Cantik, sempurna..." bisiknya keduanya saling pandang lewat pantulan cermin di depan.


"Ga ada yang lebih cantik dan sempurna dimata mas selain kamu," wajah Shania sudah menghangat dan masak.


Tapi tak lama pandangan Shania menyipit ke arah pangkal pa ha milik-nya.


"Ya ampun, mas !" serunya melepaskan pelukan Arka dan maju mendekat ke arah cermin.


"Kenapa ?" Arka mengangkat alisnya, bisa bisanya gadis ini menjeda suasana syahdu yang sudah diciptakannya.


"Itu ! Ko bisa ??!! Huwaaa ga mau, ko jadi ada begituan ?!" serunya menunjuk panik.


"Apa ?"


"Ini apaan, kenapa jadi ada stretch mark di pa ha Shania ?! Kaya abis dicakar macan mas ?!" serunya.


"Ih ga suka, ga mau !!!" cibirnya tak suka.


"Mas kira apa, kamu bikin panik aja ! nanti coba tanya bunda, atau ibu. Setau mas yang kaya gitu masih bisa dipudarkan," jawab Arka menenangkan.


"Ih, gelayyy ! masa cantik cantik ada stretch mark-nya !!" protesnya, gadis itu segera meraih ponsel dan mengetik sesuatu di mesin pencarian, tapi belum selesai Arka sudah merebut ponselnya dan menyimpan di meja.


"Kamu udah bikin mas on fire, malah ga tanggung jawab."


Pandangan Arka kembali mengelam, ia merapatkan badannya dengan Shania, meraih pinggang dan tengkuk Shania


.


.


.


.


Noted


* Inin inin : dibalik jadi nini nini artinya nene nene.


*Hebring : heboh.


*Price tag : label harga.


* Mubadzir : memboroskan, menghamburkan untuk sesuatu yang tidak digunakan.


*Matching : cocok.

__ADS_1


*Stretch mark : Garis-garis halus yang muncul akibat kulit meregang secara mendadak atau ketika elastisitasnya melebihi kapasitas kulit itu sendiri


Update kembali nanti setelah buka ya guys 🤣🤣🤣🙏


__ADS_2