Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kenyataan pahit, pengorbanan


__ADS_3

Mak'nyess...


Mak'legenderrr...


Dan semua ma..ma..lainnya yang mendeskripsikan reaksi kimia dalam tubuh, ketika Arka merasa dirinya se segar air, seringan kapas, sebebas merpati, dan sebahagia sekarang. Akhirnya kali ini Shania kembali mengikrarkan jika ia mencintai lelaki tua, kaku, dingin, ayah dari bayi yang dikandungnya sekarang.


"Mas 'ga mau bales aku ?" gadis ini sudah menukikkan alisnya seperti pisau yang tertancap begitu tajam.


"Sudah mas balas, " Shania mengangkat alisnya, ia yang bu deg atau memang lelaki ini sedang mengelak.


"Kapan ? ko Sha ga denger ?" tanya nya mengernyit.


"Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik."


Ck, kirain apa ?! tapi hidung Shania sudah kembang kempis mendengar jawaban itu.


Ishh, Sha loe murah !


Believe it, Sha..bahkan Arka ingin mencium Shania saat ini. Tapi bukan tipe Arka yang mengumbar sikap impulsifnya bersama Shania di depan umum dengan tak tau malunya. Ia dan Shania adalah manusia berpendidikan, tidak seharusnya bermesraan di sembarang tempat seperti pasangan bucin penuh micin kebanyakan.


In tim nya dan Shania tak perlu banyak orang yang tau, cukup mereka dan Allah saja, karena cinta keduanya begitu mahal. Rupanya rencana Arka untuk meluangkan waktunya berdua bersama Shania adalah keputusan yang tepat hal itu selalu ampuh untuk memperbaiki kualitas hubungan keduanya.


"Mas, ke Orchid forest yu !" ajak Shania.


"Mau ngapain ?"


"Masa mau numpang ngemis, ya numpang ngademin otak sebelum UN lah, kan niatnya datang ke Bandung buat healing, mas suka ngelawak kadang kadang nih, " tawa Shania.


Mengelilingi Lembang memang tak ada habisnya.


"Udah sore nih mas, kang Urip pasti udah di sana."


"Boscha ?" tanya Arka, Shania mengangguk, mengikuti petunjuk Shania keduanya memasuki jalanan menuju Boscha.


Gerbang Boscha sudah terlihat


OBSERVATORIUM BOSCHA


Minggu- Senin- Hari Libur Nasional


TUTUP


Info : 022 XXXXXXXX


"Kang Urip !" teriak Shania pada salah satu penjaga disana.


Ia mengerutkan dahinya melihat Shania.


"Shania kang, sepupunya A Ridwan !"


"Masyaallah, pangling neng !"


"Padahal baru taun kemarin kesini, tapi ga ketemu deh sama kang Urip,"


"Iya neng. Ambil paket malam ya ?" tanya kang Urip.


"Iya kang,"

__ADS_1


"Ayo mas, sini ! Biar kaya Sherina sama Sadam ! Anggap aja gitu ! Meskipun ngga lagi dikejar-kejar penculik, " seru Shania menarik Arka.


Berdiri megah disana bangunan berkubah yang selalu menjadi icon Boscha, teropong tertua.. Zeiss. Teropong yang biasa dipakai para astronom untuk mengamati objek langit. Sebelum masuk waktu yang ditentukan untuk dapat melihat objek galaksi di malam hari, keduanya memilih mengikuti kelas galaksi di ruang multimedia. Meskipun tak se-wonderful Planetarium di Jakarta, sedikitnya mereka dapat mengetahui gugusan galaksi di langit termasuk objek apa saja.


"Biasanya kalo kesini tuh bareng ayah sama sepupu-sepupu, teh Nengsih sama teh Yeni tuh yang sering soalnya dulu suaminya teh Yeni dari dulu punya link buat beli tiket disini, kalo bunda jarang ikut, biasalah kalo ibu-ibu lebih milih berkangen-kangen ria terus malah suka riweuh (ribet) ga jelas. Segala ditanyain, segala di kritik ! Ujung ujungnya ga fokus," Shania tertawa renyah.


"Disini makin dingin Sha, mau pake jaket double ?" tanya Arka.


"Engga usah mas, justru abis jalan Sha jadi gerah !"


Kang Urip kini mengajak keduanya untuk melihat moment yang ditunggu-tunggu keduanya.


Langit malam sudah terlihat gelap. Waktu yang tepat untuk melihat objek langit, ditambah cuaca hari ini yang cerah menunjang kegiatan yang akan mereka lakukan.


Beberapa kali Arka mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Terdapat teleskop besar disana yang menjadi fokus utamanya.


Tepat pukul 19.30 malam, Kubah teleskop Zeiss terbuka.


"Coba mas liat deh !" pinta Shania bergeser memberikan space untuk Arka melihat.


"Itu galaksi..." belum Shania meneruskan kalimatnya Arka sudah memotong.


"Andromeda, " Shania menoleh dan tersenyum pada Arka.


"Galaksi kedua, setelah galaksi yang kita tempati Milky Way atau biasa disebut..."


"Bima Sakti..." ucap keduanya bersamaan.


"Andromeda adalah galaksi yang paling terang, dengan jarak 2,5 juta tahun cahaya. Galaksi inilah yang dapat dilihat dengan mata tela njang," jelas Arka tanpa menoleh tetap melihat ke arah teleskop.


"Coba Sha liat itu, "


"Lucu kali ya mas, kalo nama dedek ntar ngambil nama dari nama galaksi,"


****


"Sebelum kita pulang, ketemu dulu teh Nengsih ya mas. Besok kayanya, soalnya barusan wa ga bisa sekarang,"


"Iya, "


"Maaf karena cuma sebentar ya Sha, " ucap Arka.


"Ga apa apa mas, lagian minggu besok mungkin bakalan jadi hari hari terakhir Sha di sekolah," ia menunduk, meskipun sedih rasanya tapi ia ikhlas menerimanya sekarang.


"Maaf, "


"Mas minta maaf terus, belum lebaran !"


"Sebentar lagi kan puasa, " jawabnya tersenyum. Mereka sampai di rumah lumayan larut. Untung saja teh Yeni belum tidur.


"Ini panganten baru, meni lengket..pacaran terus sampe lupa waktu !" omelnya seraya tersenyum mencolek Shania saat ia membukakan pintu rumah.


"Tapi kan udah halal teh, ga akan di gerebek pak rt, ga akan jadi dosa juga," jawab Shania masuk dan menyimpan tas selempangnya di kursi.


"Jangan lupa kunci pintunya Sha," pesan teh Yeni sebelum hilang di pintu kamarnya.


"Iya," Shania celingukan ke arah pintu depan, melihat Arka yang belum juga masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mas Kala markirin mobil lama banget. Markirinnya dimana sih ? Di Jakarta kah ?" gumamnya berdiri dengan tangan yang menahan dan mengusap perutnya, dedek memang sudah bergerak sangat aktif sampai sampai Shania harus bolak balik ke kamar mandi demi merasakan kandung kemihnya yang selalu tertekan.


Langkah kakinya menuju pintu rumah yang terbuka. Samar samar ia mendengarkan orang bicara.


"Mas," panggilnya pelan, tapi tak jua mendapat respon.


"Mas Kala lagi nelfon siapa ?"


"Oke, nanti saya lihat email."


(..)


"Tak apa, mengajar dimana pun sama pak. Yang penting nilai Shania tidak ditangguhkan. Sha jujur, tak ada campur tangan saya untuk hasil uts kemarin,"


(..)


"Sama sama, besok saya ke sekolah untuk pamitan."


Shania mengerutkan dahi mendengar obrolan Kala.


"Maksudnya apa nih, pamitan ?!!" sontak saja Arka langsung menoleh dan menyudahi panggilannya.


"Iya pak, kalau begitu terimakasih atas bantuannya selama ini. Maaf selalu merepotkan. "


Kenyataan pahit yang harus mereka hadapi setelah hal-hal manis sejak kemarin, adalah dimana Shania harus menerima kenyataan bahwa Arka dipindah tugaskan secara mendadak.


Rupanya nilai uts Shania yang membaik menjadi pertanyaan besar untuk sebagian guru dan murid, terlebih lagi untuk mereka yang mengetahui status pernikahan keduanya. Mereka menuduh ada campur tangan Arka dalam tanda kutip di dalamnya.


"Terus Sha gimana besok ke depannya di sekolah kalo mas ga ada ? Mas kenapa ga bilang sama Sha ? Kenapa Sha ga tau ?!" teriaknya, gadis itu berbalik dan setengah berjalan cepat menuju kamar.


"Sha, " Arka mengejar masuk setelah mengunci pintu rumah.


Gadis itu berbaring menyamping dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Sha, maafin mas ga bilang. Mas ga mau itu ngaruh ke kandungan kamu," Arka mengusap lembut kepala Shania.


"Kenapa mas harus dadakan dipindahin gini sih ?! Sha ga suka !"


"Sebenernya ga dadakan banget Sha, memang aturan sekolah jika ada hubungan kekeluargaan antara guru dan murid, mau tidak mau salah satu dari mereka harus mengundurkan diri. Karena dikhawatirkan akan ada permainan nilai disana,"


"Mas bersyukur kamu jadi semakin baik. Bagus untuk masa depanmu. Tapi dibalik itu, ada sesuatu yang harus di korbankan. Dan mas ga mau mengorbankan kamu. Sebentar lagi kamu akan lulus, hanya tinggal selangkah lagi menuju cita cita,"


"Mas ga tau ternyata perubahan kamu secepat ini, membuat para guru dan murid murid khususnya yang mengetahui hubungan kita meragukan kemampuanmu. Kemampuan otakmu layak diakui oleh semua orang. Mereka harus tau jika kamu mendapatkan nilai besar atas usaha kamu sendiri, bukan karena hubungan kita. Tak adil buatmu, " Shania menurunkan bantal hingga terlihatlah ia yang menangis.


"Maafin Sha mas, Sha ga tau kalo akhirnya malah jadi kaya gini. Sha nyesel dulu nakal, ga mau serius belajar, orang orang jadi ga percaya !" Arka memeluk little momy ini dan mengusap punggungnya.


"Mas ga berenti ngajar Sha, cuma pindah ngajar aja. Dimanapun sama,"


"Ga adil mas, mas tuh guru berdedikasi. Banyak ko murid BP yang nilainya membaik karena mas, pak Wildan ko tega !" tangannya terkepal dan memukul mukul dada Arka pelan sebagai bentuk protes.


"Bukan salah pak Wildan, justru ia sering membantu kita. Sampai kamu belajar di rumah jaga diri baik baik di sekolah. Mas sudah berkoordinasi dengan pak Wahyu dan pak Wildan untuk segala kemungkinan yang ada,"


Shania semakin menangis tergugu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2