
Selepas kepergian teman-teman sekolah Shania, ia hanya menyibukkan dirinya dengan memperhatikan Galexia. Perasaannya mengganjal dengan sikap Arka.
"Mas kemakan omongan temen-temen ?"
"Tentang apa ?"
"Ga usah pura-pura ga tau, tadi mas nanya sama Sha apa ?!"
"Ya sudah ga usah dipikirin, "
"Ga bisa gitu mas, itu namanya mas nuduh Sha !" kembali kesalahpahaman mereka terjadi hanya gara-gara hal sepele yang sebenarnya tak penting. Kemana bijaksananya Arka ?
"Sha ga akan bisa UAS dengan tenang kalo mas masih berfikiran kaya gitu,"
"Iya maaf, mas yang salah."
"Ga bisa apa liat buktinya sekarang, Sha udah lahirin Xia, apa ga cukup bukti itu !" tensi bicaranya meninggi menghempaskan dirinya di ranjang.
Arka terus membujuk Shania, oke salahnya yang berucap seperti itu, tanpa melihat sisi Shania. Apa itu yang dinamakan cemburu buta ? Apa pantas ia cemburu ? Yap ! Ia takut Shania yang sudah kembali dengan perut kempesnya, akan meninggalkannya dan Xia, banyak pemuda yang jauh lebih tampan, mapan dan yang jelas lebih muda darinya, ditambah Shania yang memang sudah cantik dari dulu. Setelah melahirkan Xia, Shania-nya malah bertambah cantik, aura keibuannya jelas terlihat, jiwa muda Shania pun masih berge jo lak. Tidak akan menutup kemungkinan Shania akan pergi dari sisinya.
"Oke, sekali lagi mas minta maaf, mas yang salah," Arka meraih tangan Shania dan mengecupnya.
******
Aqiqah berjalan lancar, dengan dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan para teman juga ibu-ibu pengajian di masjid dekat rumah.
UAS sudah di depan mata, disini mental, fisik Shania diuji...masih sibuk-sibuknya mengurus Xia, ia juga harus menghafal materi, belum lagi Xia yang mulai selalu terbangun pada malam hari mengajaknya bermain dan bergadang.
"Biar mas yang gantian jaga Xia, kamu tidur saja. Nanti kalo mau ng'ASI mas bangunkan !" ujar Arka.
Mata panda sudah tak bisa dielak lagi, Shania langsung merebahkan diri di ranjang mencoba untuk tidur kembali sedangkan Arka yang menjaga Xia, terkadang lelaki itu membacakan sholawat, atau sekedar mengajaknya berbicara. Rupanya si ganteng kalem ini harus mulai cerewet sekarang.
Untungnya Xia tidak rewel, ia hanya akan terbangun dan mengajak bermain, lalu kembali terlelap disaat hari mulai subuh.
Dilihatnya Shania yang kembali pulas tertidur. Terlihat jelas wajah lelah Shania, ia ingat betul yang dikatakan dokter Nabila, jangan sampai Shania mengalami stress apalagi riwayatnya yang pernah mengalami depresi antenatal bisa menyebabkan dirinya mengalami baby blues, kebodo hannya waktu itu adalah menuduh dan bertanya macam-macam tentang sosok Cakra.
"Sha, sudah pompa ASI untuk Xia ?" tanya Arka.
"Udah mas,"
"Hati-hati, jangan terburu-buru. Isi jawaban dengan teliti."
"Iya," jawabnya lesu.
Tak banyak bertanya Arka menempelkan punggung tangannya di kening Shania.
__ADS_1
"Sha, badan kamu panas, " seru nya.
"Sha ga apa-apa mas, "
"Nduk, kamu sakit ? Wajahmu pucat," tanya ibu.
"Engga apa-apa bu, cuma ga enak badan aja sedikit."
"Mas, udah siang nanti Sha telat, "
"Hay sayangnya momy, do'ain momy UAS nya lancar ya, biar bisa gapai cita-cita !" sapa Shania pada Xia yang tengah di gendong ibu, tanpa menghiraukan wajah khawatir Arka dan ibu.
Tapi sejurus kemudian, saat ia melangkahkan kaki, pandangannya terasa kabur dan mendadak semuanya gelap.
Badan Shania meluruh ke lantai, Arka sontak bangkit dan menangkap Shania.
"Sha, sadar Sha..."
UAS yang seharusnya ia hadiri terpaksa ia lewatkan.
Arka mendorong blangkar di koridor rumah sakit, masuk ke dalam ruang UGD. Wajah Shania sepucat mayat, sudah berapa hari ia lihat itu dari diri Shania, tapi istri nakalnya selalu menolak untuk sekedar minum obat ataupun periksa, ditambah kesibukannya mengurus Xia dan sekolah membuatnya semakin pucat.
"Anemia..."
Satu kata yang disebutkan dokter, anemia memang penyakit lama yang Shania idap, tapi ia tak tau bisa sampai begini,.
"Apa kemungkinan yang akan terjadi jika terus berlanjut dok ?" tanya Arka.
"Banyak, anemia beresiko menyebabkan beberapa komplikasi serius diantaranya, masalah pada jantung, gangguan paru-paru, gagal jantung, dan fungsi organ-organ lainnya, dan bahkan salah satu penyebab kanker darah,"
Arka mengingat kejadian sebelum melahirkan, Shania mengalami pendarahan meskipun tidak seberapa, Shania juga pernah sakit berkali-kali, fisiknya yang terkadang lelah, tak jarang ia mengatakan kata mager atau sekedar terlupa dan tak fokus. Mungkin itu adalah tanda-tanda yang tak mereka sadari. Atau mungkin ini yang dokter Rani sebutkan dulu, jika hamil di usia yang sangat muda memang banyak resiko yang akan terjadi ?
Remuk jantung ? mungkin itu yang terjadi saat ini pada Arka.
Shania tersadar dengan selang infusan dan selang transfusi darah di tangannya.
"Mas, " ia mengerutkan dahinya.
"Ngapain kita disini, mas ? Sha bisa telat ke sekolah buat UAS. Terus gimana kalo Sha nanti ga lulus buat kuliah bareng mas ?" gadis itu bangun dari posisi tidurnya.
"Kamu sakit, butuh istirahat total. Masalah kampus nanti kita pikirin sama-sama lagi, yang penting kesehatan kamu, Sha."
"Xia gimana mas, kalo Sha disini, ASI-nya, tidurnya ? Siapa yang nemenin. Sha dirawat di rumah aja mas, "
"Sha, mas mohon kamu dengar mas !" matanya tajam tak ingin terbantahkan.
__ADS_1
"Xia ada ibu, ada bunda juga."
"Tapi Xia masih ASI, " debatnya lagi.
"Mas beli susu formula sebagai ganti ASI kamu, sementara sampai kamu sembuh,"
Shania melotot mendengar perkataan Arka, "mas kasih Xia susu formula ?!!!" teriaknya tak terima.
"Mas juga terpaksa, please Sha denger mas dulu !!" sentak Arka membuat Shania diam.
"Kamu sakit ! Jangan bantah mas, karena mas ga mau kamu bantah untuk saat ini,"
Shania mengerutkan dahi, pasalnya baru kali ini Arka bersikap keras begini padanya.
"Separah itu Sha sakit mas ?" tanya nya lolos dari bibir tipis Shania.
Arka menghela nafasnya dan menggeleng, "kamu cuma kelelahan,"
"Kalo 'cuma', ngapain sampe kaya gini segala ?!" tunjuknya pada kantung da rah yang menggantung dan tersalur ke nadinya.
"Butuh tranfusi darah, " jawab Arka singkat.
"Mas bisa ngga, kalo jelasin jangan pendek-pendek, ga ngerti !" tukasnya.
"Anemia mu sudah berada di level mengkhawatirkan Sha, jika dibiarkan akan menyebabkan komplikasi. Makanya mas ga mau itu terjadi, untuk kali ini mas mohon kamu menurut." Hampir saja genangan air mata lolos dari mata Arka, membayangkan jika sampai hal yang buruk terjadi pada Shania.
Shania menghela nafasnya lelah.
"Apa itu tandanya, Sha ga bisa lagi raih cita-cita Sha, harus lewatin UAS dan ikut susulan yang jelas-jelas nilainya cuma batas KKM doang ?" lesunya.
Arka meraih tangan Shania dan menggenggamnya, "kalau sudah rejeki insyaallah,"
"Sha kangen Xia mas, kalo dia nangis pengen dipeluk Sha gimana ?" air mata Shania meleleh.
"Yang penting kamu sembuh dulu.. Sha,"
Bukan VVIP dimana Shania berada, hanya kelas 1 tempat Shania dirawat. Bukan tak sayang istri atau pelit, tapi Shania sendiri yang memintanya.
"Ga usah yang mewah mewah kaya tokoh di novel mas, yang penting Sha dirawat aja," ujarnya.
"Jangan sakit Sha, kamu sakit mas ikut sakit, " ucapan itu terlontar dari bibir lelaki kaku ini seraya memeluk istri nakalnya.
.
.
__ADS_1
.
.