Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kuman baru


__ADS_3

"Eh sorry, sini gue bantu !" seorang mahasiswi namun beda fakultas dengan Shania. Tak sengaja bertubrukan dengannya saat sedang membawa jus alpukat.


"Aduhhhh, baju gue !!!" seru Shania, saat melihat blouse yang dipakainya tersiram jus alpukat.


"Aduh, maaf ya ! Ini ada tissue," ia mengambil sebungkus tissue dalam tasnya dan membantu Shania membersihkan jus alpukat miliknya dari baju dan tangan Shania.


"Ga apa-apa, gue juga yang salah, soalnya buru-buru !" jawab Shania sembari membersihkan bajunya.


"Eh, kenapa nih ?!" tanya seseorang mendatangi keduanya.


"Ini bang, ga sengaja jus punya loe nyiram Shania," tunjuk gadis itu tak enak hati.


"Eh, sorry ya...maafin adek gue." Ucap si pemuda yang baru datang.


"Ga, ga apa-apa santai aja !"


"Eh iya," Shania mendongak, baru tersadar.


"Loe tau nama gue ?" tanya Shania.


"Tau lah, siapa sih yang ga tau Shania. Kenalin gue Sisil, anak FIO dan ini abang gue Egi, sebenarnya bukan anak kampus ijo sih. Cuma lagi main kesini," jawab Sisil terkekeh.


"Pasti karena demo kemaren ?" Sisil mengangguk dan Shania memutar bola mata jengah.


"Bang," Sisil menyikut lengan Egi dan menaik turunkan alisnya.


"Kalo gitu gue ke toilet dulu," ujar Shania melangkah.


"Ah iya Sha," jawab Egi, Sisil memutar bola mata jengah pada Egi. Shania mengusap bajunya yang basah, saat ia kembali ke kantin, rupanya Egi dan Sisil masih disana, keduanya menghampiri dan memanggil Shania.


"Sha !" panggil Sisil.


"Gue ?" Shania menunjuk dirinya.


"Iya,"


"Sha, sebenernya....abang gue main kesini, karena pengen tau sama yang namanya Shania. Katanya beberapa kali hubungin nomor kamu, tapi kamu ga respon !" to the point Sisil.


Shania mengangkat kedua alisnya, Jadi si Egi ini salah satu dari sekian banyaknya nomor nyasar tempo hari.


"Oh, sorry ga kenal soalnya. Jadi ga pernah bales nomor yang ga kenal. By the way, tau nomor gue dari siapa ?" tanya Shania.


"Dari anak tata boga, Vicki.."


"Oh," Shania beroh singkat. Rupanya Vicki selain bibirnya yang nyinyir, ember bocor pula.


"Kalo gitu, ga sopan banget dia kasih-kasih nomor gue tanpa ijin," jawab Shania. Gadis ini tak memperdulikan wajah tekejut yang ditunjukkan Sisil dan Egi.


"Oh maaf kalo loe keberatan ya," jawab Egi.


"Ya udahlah, udah terlanjur juga."


"Ada lagi ?" tanya Shania.


"Sha, baju loe basah...ini pake jaket gue aja ! Gara-gara jus tadi," Egi memberikan jaket biru miliknya, tapi Shania menolak.


"Oh ga usah, gue ada bawa jaket ko !" Shania memicingkan matanya, melihat logo di jaket Egi, logo kampus kuning. Ia tertawa dalam hati, jika harus berurusan dengan Egi maka nyawanya jadi taruhannya.


"Gue kesini pengen tau wajah mahasiswi cantik yang jadi bintangnya demo kemaren, nama loe pada diomongin di kalangan mahasiswa. Ternyata aslinya lebih cantik," puji Egi, tapi Shania tak bergeming. Hatinya sudah tak mempan digombali laki-laki lain semenjak mengenal Arkala. Entah sifat dinginnya ikut menempel di diri Shania, atau memang sejak dulu Shania sudah terbiasa.


"Kata Sisil, loe juga katanya pernah viral waktu acara pertandingan basket antar SMA se-Jekardahhh, akhirnya gue cari artikel, ternyata orangnya sama," lanjut Egi, seakan tak ada habis-habisnya memuji Shania.


"Oke, thanks. Dan salam kenal dari si Shania," jawab Shania.


"Sha !!!! oyyy ! Gue ditahan disini mau ngapain ?! Lama bener, pengen balik nih !" pekik Roy dari mejanya.


Shania menepuk jidatnya, "astaga ! Gue lupa, kalo gitu gue duluan Sil, Gi !" Shania langsung meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Sha, nanti aku whatsapp ya !" pekik Egi, tapi Shania tak menggubris justru mata Deni, dan Roy tajam melihat laki-laki yang berteriak akan memberi pesan pada Shania.


"Siapa sih Sha ? Jangan cari penyakit sist...ntar rumah tangga loe kebakaran !" ujar Inez.


"Ga tau gue, orang lain mau kenalan katanya !" jawab Shania.


"Cie artis ibukota !" goda Melan.


"Ngalahin Ni_kita Perez..." tawa Roy.


"Terus loe jawab apa ?" tanya Deni.


"Salam kenal dari si Shania," jawabnya polos.


Seketika Inez menoyor kepala Shania, "Shania tuh elo peakk!" mendadak Shania menyipitkan matanya melihat Roy dan Inez.


"Sejak kapan jadi Roy sama cabe ?! Loe berdua...." tunjuk Shania bergantian menggunakan garpu.


"Singkirin garpunya, nusuk tuh !" Roy menepis pelan tangan Shania.


"Gue sama dia ga ada apa-apa ! Ya kali gue ada hubungan sama nih cewek jejadian !" ujar Roy.


"Cihhh, siapa juga yang mau sama loe. Gue, kalo bukan mau anterin nih jaket ke loe, ga sudi kali datang. Cuma nih jaket bawa si_al ada di rumah terus !" jawab Inez tak kalah sewot ia berdiri dan hendak beranjak.


"Hm, berantem lagi ! Tadi aja, ada tatapan cenat-cenut," gumam Melan.


"Udah ah Sha, gue balik ya ! Lama-lama disini yang ada ntar jambak-jambakan sama nih orang !" tunjuknya pada Roy.


"Eh, ko balik Nez ?" cegah Shania.


"Dih, jambak-jambakan dikira gue cowok apakah ?!"


"Cowok apaan, bahasa loe rancu !" sergah Melan.


"Gue anter sampe depan Nez," Shania ikut beranjak dan menyusul Inez.


Shania menyamakan langkahnya dengan Inez.


"Gue juga pulang ahhh, eh..engga deh mau ke kampus kuning ah, mau nyusul belahan dompet !" ujar Shania, mendadak ia dilanda rasa rindu pada pujaan hatinya.


"Asemm nama panggilan loe !" senggol Inez, Shania hanya cengengesan.


"Emang pak Arka ada di kampusnya Sha ?"


"Ada lah, jadwal kuliahnya siang. Soalnya tadi pagi ngajar !"


Inez dan Shania berpisah di jalan, Inez hendak pulang sedangkan Shania pergi ke kampus kuning. Shania sudah berdiri di depan gedung kampus kuning yang megah menjulang, ia langsung saja masuk karena sudah ke berapa kalinya, jadi ia sudah hafal dengan jalanan yang harus ia ambil jika akan menemui sang kekasih hati.


Baru saja ia beberapa langkah, orang yang tadi ia temui di kampusnya sudah ada disini, berkumpul dengan teman-temannya.


"Shania ?!" panggilnya, Shania lantas menoleh.


Nih orang perasaan tadi ketemu di kampus ijo, sekarang ketemu lagi disini. Kaya hantu, atau memang dia sejenis jin botol yang digosok langsung datang dimana saja Shania berada.


Sebagai pendatang dan tamu, Shania hanya tersenyum ramah, padahal aslinya malas. Tak mungkin kan ia bersikap jutek pada tuan rumah, mau dikeroyok mahasiswa se kampus kuning ?


"Dimana-mana ada dia, sebenernya si Egi ini orang apa pamflet iklan sedot w_c ?!" gumam Shania.


Hello, Sha ! Loe lupa ini kan sarangnya dia, jelas pasti akan ada Egi, yang ada tuh Shania macam selebaran kertas pilkada, coblos mon_cong hitam no.3 ada dimana-mana.


Shania buru-buru berjalan, menghindar dari Egi, tapi sepertinya kali ini nasib tak berpihak pada momy Gale, Egi ternyata mengikutinya.


"Mau kemana Sha ? Ketemu temen ? Gue temenin yu, sekalian mau ngenalin kampus kuning sama loe !" tawarnya.


"Ga usah, gue udah hafal," jawabnya malas.


"Oh, loe sering main kesini juga ? Ko ga pernah ketemu ya ?!" jawab Egi so akrab.

__ADS_1


Shania meringis, ngapain juga harus ketemu loe ! Ga penting.


"Loe mau kemana Sha ?"


"Gue mau ketemu sama..." belum Shania menjawab ia sudah menyela.


"Temen pasti !"


"Temen loe jurusan apa ?"


"Kimia," jawab Shania singkat, padat dan jelas.


"Yu, gue anter takutnya loe nyasar kalo engga digodain cowok anak kampus sini,"


Shania menoleh," termasuk loe ? Ga usah deh, gue hafal ko ! Ga perlu dianterin, otak gue juga masih sehat, belum pelupa kaya nene-nene, kena Alzheimer.." jawab Shania, Egi malah tertawa.


"Loe lucu Sha, gue suka." Shania tertawa kecut.


"Tapi gue engga tuh."


Shania menghentikkan langkahnya, "Gi, udah ya. Gue bisa sendiri, ga usah loe anter-anter kaya anak tk,"


Shania bisa melihat Arka tengah duduk bersama Hendra dan Vian dan ngopi-ngopi cakep disana.


"Loh kenapa ? Ya udah deh kalo gitu. Hati-hati Sha, sampai ketemu lagi,"


"Semoga engga," gumam Shania.


"Udah kaya kuman, nempel aja ganggu, bikin risih !"


Shania segera menghampiri Arka, tapi ia memiliki ide lebih briliant. Ia mengendap-endap dari arah belakang. Ia membuat jarinya seolah-olah seperti pistol lalu dari arah belakang ia berjinjit, sebenarnya Hendra dan Vian sudah melihat Shania, tapi Shania menyuruh mereka menutup mulut.


Shania menodongkan tangannya tepat di punggung Arka.


"Harta atau nyawa ?!" suaranya diberat-beratkan. Karena refleks, Arka langsung memiting tangan Shania yang ia kira orang lain dengan sekali gerakan.


"Awww...awww...ishhh !!"


Hendra dan Vian tertawa. Arka melepaskan dan malah membalikkan badan Shania lalu memeluknya.


"Eh, maaf-maaf Sha, mas kira siapa ?!"


"Mas ihhh, sakit tau ! Jadi suami ga peka banget, masa wangi Sha ga kecium sih !" aduhnya.


"Lain kali langsung tembak aja Sha," jawab Vian.


"Iya Sha tembak !"


"Dorrr !!! Sha tembak pake cinta," Shania menembak dada Arka dengan tangannya.


"Gue jadi kebelet kawin kalo gini caranya !" ujar Hendra.


"Mau ngapain kesini ?" tanya Arka.


"Ihhh, mas tuh gimana sih. Masa mau nemuin pangeran pujaan hati aja mesti ada alesannya. AKU RINDU...." jawab Shania.


"Oke, jomblo melipir !" ujar Vian, membiarkan kedua budak cinta ini menghabiskan dunia mereka berdua tanpa ada iklan dan gangguan.


"Gue sama Vian, duluan Ka."


.


.


.


Noted :

__ADS_1


*Alzheimer : penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya.


__ADS_2