Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Berbesar hati dan memaafkan


__ADS_3

"Mas, mas kalo stelan kaya gini kaya anak muda !" ujar Shania mengedip genit saat Arka dengan kerennya (menurut Shania) membuka helm, tapi laki-laki itu hanya tersenyum tipis, setipis lapisan crepes, garing-garing kriuk. Arka menepuk jidat Shania dengan telapak tangan besarnya, Shania-nya sudah kembali ke stelan dulunya yang tengil dan natckal. Dan Arka senang akan hal itu, setelah sekian purnama perjuangannya membuat Shania menjadi Shania yang dulu sering memuji, natckal, pribadi ceria nan hangat, usil dan tentunya seorang penggombal pro, akhirnya berhasil. Ia menyesal sudah membuat Shania berubah, dan akan menjaga baik-baik the little momy yang satu ini, ibu dari anaknya.


Puk !


"Awww ! Ihhh, Sha muji tau !" dumelnya cemberut.


"Iya, makasih.." ia mencubit pipi Shania.


"Tapi jangan keren-kerenlah, cukup depan Sha aja. Nanti di kecengin cewek lain !" Shania memeluk lengan Arka. Berjalan bergandengan...ralat, bukan bergandengan karena kini Shania yang memeluk lengan lelaki ini melewati koridor rumah sakit, tak peduli orang memandangnya seperti gadis manja, genit dan tak tau malu, berasa kaya dunia miliknya sendiri yang lain ngontrak.


Mereka sampai di lantai, dimana Alya dirawat.


"Inget, jaga jarak, pake baju steril sama masker. Pulang dari sini langsung mandi, jangan pegang dedek dulu !" Arka mewanti-wanti.


"Iya ih, bawel ! Udah bagus tadi keren banget, eh sekarang malah kaya emak-emak," gerutu Shania mencibir, Arka tak pernah marah atas cibiran Shania, baginya itu seperti suara adzan yang jadi makanannya sehari-hari, satu hari bisa sampai 5 waktu.


Shania memang istri penurut, tapi bukan berarti tanpa dumelan dan gerutuan.


Dilihatnya dari ujung lorong ruangan bertuliskan Ruang Melati, berisikan 10 kamar dan salah satunya adalah kamar Alya.


"Melati 5," ujar Arka seakan bertanya meyakinkan Shania atas keputusannya menemui Alya, gadis itu mengangguk.


Shania memakai pakaian steril sesuai pinta Arka, hingga kini ia lebih mirip dokter yang sudah siap melakukan operasi bedah, tapi dimatanya ia lebih mirip


"Kaya es pisang ijo !" decaknya. Bukan Shania namanya jika tak mengibaratkan semuanya dengan hal-hal yang antimainstream. Seperti ia punya kacamata dan imajinasi sendiri atas pandangan segala hal.


"Uhuukk...uhuukkk..." badannya tampak lebih kurus dari saat terakhir Shania lihat. Rambut yang selalu menjadi kebanggaannya tampak lebih kering seperti rambut jagung.


Penyakit yang menyerang sistem imun atau kekebalan tubuhnya menyebabkan tubuhnya tak dapat melawan ataupun mempertahankan sang tubuh dari virus dan penyakit.


Shania melongo tak dapat berkata-kata. Hanya satu yang ada di pikirannya, iba.


Shania memang bar-bar, nyablak dan terkesan penggerutu. Tapi bukan berarti ia tak memiliki rasa empati ataupun hati nurani.


"Hay Sha," ia tersenyum getir, disampingnya ada seorang ibu berjilbab, sepertinya itu adalah ibunya yang sedang menyuapi Alya makan.


Dasar mental tahu !!! Liat begitu aja, melow...gampangan mewek !


Karena secara tak sadar Shania meloloskan air matanya, setelah pencarian jati diri, dan petualangan sebuah kehidupan, tetap saja saat sudah jatuh maka seseorang akan kembali ke rangkulan sang ibu. Termasuk dirinya yang sering bermanja-manja ria pada bunda, jika merasa lelah dan dipecun dangi dunia.


"Al, ibu...maaf, bukan kurang sopan, tapi saya dsn Shania duduk disini saja. Takut nanti kami membawa sesuatu yang ga baik dari luar, " ucapnya. Alya mengerti jika Shania dan Arka tengah menjaga jarak, apalah ia yang memang ancaman untuk orang lain.


"Ga apa-apa, memang seharusnya begitu. Kalian punya bayi,"

__ADS_1


"Sha, saya mau minta maaf atas semua kesalahan yang sudah saya lakukan, bahkan terlampau banyak."


Ibu Alya mengusap punggung sang putri yang terlihat sendu, menyesali apa yang sudah ia lakukan, memang tak ada guna. Manusia memang harus mendapat peringatan dahulu, baru ia akan menyadari apa yang telah dilakukannya adalah perbuatan salah setelah semua itu terjadi.


"Sha udah maafin kaka jauh sebelum kaka minta maaf, suami Sha sering bilang...Allah aja selalu memaafkan padahal hambanya selalu mengulangi kesalahan yang sama, masa Sha engga.." Arka mengeratkan genggaman di tangan Shania dan tersenyum di balik maskernya melihat istri nakalnya menjadi lebih baik.


"Makasih nak," jawab ibu Alya.


"Yang penting ka Alya sadar dan ga ngulangi lagi. Sekarang ka Alya fokus buat sembuh aja dulu, " lanjut Shania.


"Makasih, dulu kupikir karena kamu masih kecil, dengan menggertak dan membuat mental kamu jatuh akan lebih mudah membuat hubungan kamu dan Arka renggang. Tapi ternyata aku salah...Hubungan kalian memang sekuat ini, seperti yang kuliat sekarang," Alya mengalihkan pandangannya pada sepasang tangan yang saling menggenggam.


Obrolan mereka menyambung ngaler ngidul, membahas ini dan itu. Sampai Arka menyudahi obrolan mereka, mengingat keduanya meninggalkan Galexia.


"Sekali lagi makasih banyak Sha, Arka...hatiku udah lega sekarang, kalaupun mau pergi aku ikhlas, udah ga punya beban.."


"Sama-sama, " jawab Arka singkat. Benci ? bukan, lelaki ini memang sudah seperti itu stelannya sejak dalam kandungan.


"Ka Alya ga boleh ngomong gitu, jangan mendahului takdir. Siapa tau Allah sudah merancang masa depan yang indah buat ka Alya, cuma sekarang Allah mau nguji dulu, seberapa pantas ka Alya buat dapetin keberkahan."


Shania sendiri tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya, apa ia kerasukan arwah penunggu pohon beringin di depan alun-alun kota ?


Tumben gue bijak gini ? Jakarta mau hujan badai gitu ?


"Huwaaaa !!! Mas, selain umur mas yang tua nih hape mas juga ikut-ikutan jadul ! Kalian satu angkatan ya ?!" Shania yang duduk bersila diatas ranjang meneliti setiap inci ponsel jadul Arka.


"Udah dibilang itu ponsel lama, tapi masih bagus. Cukup buat kamu berkabar sama mas dan bunda. Buat searching juga bisa, udah masuk canggih ko," jawab Arka yang masih menggosok rambut basahnya, karena ia baru saja mandi sepulang mereka menjenguk Alya.


"Yang bener aja mas, ini mah pantesnya buat lempar guguk kalo nakal !"


"Sembarangan,"


"Hape kamu mas pegang sampe orang yang neror kamu ketemu,"


"Kenapa ga tukeran sim card aja sih, repot amat !" dumelnya.


"Dia aja bisa sampai sejauh ini, mas cuma mau jaga-jaga...kali aja hape kamu disadap atau semacamnya, lagian cuma sebentar, mas ga mau repot-repot ganti akun dan lain-lain," terang Arka.


Dan benar saja baru Arka mengatakan, bahkan air ludahnya belum sampai kering, ponsel Shania bergetar. Pesan dari sang peneror. Alisnya menukik, entah apa yang ia baca disana, yang jelas Shania tak diijinkan tau dan tak mau tau juga.


"Mas, mau cari kemana coba ?! Sha aja ga tau, ga kenal tuh orang !"


"Kamu ga usah khawatirin hal apapun, atau mikirin apapun. Sebentar lagi kamu sudah mulai masuk kampus, yang ada di otak kamu cuma dedek, kuliah, sama ngurus mas. Udah itu aja," jelas Arka.

__ADS_1


"Idih, yang terakhir ga enak di denger !" cebiknya.


"Sha istri hebat ! Memaafkan bukan hal mudah, tapi Sha mau berlapang dada dan melupakan kejadian lalu.." Arka menarik pinggang Shania yang sudah berdiri dari ranjang.


"Kejadian ga akan bisa dilupain mas, cuma Sha pengen berdamai aja sama masa lalu. Anggap aja itu adalah ujian buat menguatkan mental Sha, Sha ga mau punya penyakit hati, ga mau jadi pendendam. Rugi..." jawabnya, Arka semakin menarik senyumannya, istri nakal, manja, dan kekanakannya kini menjelma menjadi wanita tangguh, bijak dan pemaaf. Sungguh perempuan idaman, ia menarik kata-katanya dulu jika Shania adalah gadis menyebalkan nan childish yang tak akan bisa berubah, sungguh bukan tipenya.


"Istri mas udah dewasa, perlu reward ngga ?" ia semakin merapatkan tubuh keduanya.


"Mauuuu !" seru Shania langsung menutup mulutnya saat menyadari jika si kecil Galexia terlelap di ranjang.


"Ck, berisik.."


"Hehe, mau mas.." bisiknya.


"Rewardnya soul kissing ?" Arka menaik turunkan alisnya, seketika wajah berbinar itu merengut cemberut masam dan kecut layaknya buah ceremai.


"Yeee..! Itu mah bukan reward, emang maunya mas ! Reward buat mas, bukan buat Sha, ujungnya suka minta lebih, abis itu Sah masuk angin !" cibirnya.


"Lah, emang kamu ga nikmatin ? Ga usah malu-malu kucing, pake kecut gitu mukanya, siapa yang suka minta faster mas, kalo lag-----"


"Stopp !! Stopp !! Ga usah dilanjutin ngomongnya ! Sha tau mas mau ngomong kemana, Sha ga gitu ya mas, enak aja !" ujarnya tak terima membekap mulut Arka.


"Emang iya kan, mau mas rekam waktu kita lagi..." wajah Shania sudah seperti strawberry, merah padam.


Dengan mata melotot ia malah sengaja menginjak kaki Arka.


"Grekkk !"


"Aww, Sha sakit !"


"Biarin, suruh siapa ngomong mesum ?!! " Shania memeletkan lidahnya dan melepaskan pelukan Arka di pinggangnya.


"Awas kamu Sha ! Mas terkam kamu, "


"Hahaa, Ibuu !!!!! Ada serigala jadi-jadian !!!" Shania membuka pintu kamar dan keluar sambil cekikikan.


.


.


.


Noted :

__ADS_1


* Reward : Hadiah, penghargaan.


__ADS_2