
Sesore yang cerah, karena langit yang indah menampilkan bias jingganya, Shania memutuskan mengajak Gale bermain di halaman depan.
Ia sudah seperti emak-emak saat sibuk membawa karpet plastik dan mainan Galexia juga beberapa cemilan si bayi gemoynya.
"Sini, gue gelarin karpetnya !" ujar Deni.
"Sini Sha, gue pegangin cemilan Gale," ujar Guntur merebut tempat makan yang berisi kue dan buah, sesekali mencomotnya.
"Sengaja banget loe ngambilnya cemilan Gale," Melan yang tengah menggendong Gale menepuk punggung Guntur keras membuat potongan buah yang ada di mulut Guntur kembali terlempar, si bayi gemoy itu tertawa terbahak-bahak, hingga Melan melakukannya lagi dan kembali Gale tertawa lepas.
"Sat ! Cik Melan, galak banget ! Gimana kalo ntar dah punya anak, kebayang jadi anaknya, abis dipukulin !" jawab Guntur.
"Sha, anak loe seneng banget liat si Guntur menderita, kaya emaknya ini mah !" ujar Niken ikut tertawa mendengar Gale terbahak-bahak.
"Dedek Gale tega sama om..." rengek Guntur.
"Om apa...om..pong ?" ujar Leli membantu Deni.
Setelah karpet tergelar dengan sempurna mereka duduk.
"Berasa piknik nih," imbuh Ari yang malah rebahan, Melan menaruh Gale duduk di perut Ari.
"Yaa.... ! Gale lagi naik kuda ! Ayo om kuda-kudaan !" pinta Melan.
Shania tersenyum melihat anak-anak berandal itu menyayangi Gale, bukan botol minuman yang dipegang mereka, bukan lagi tawuran ataupun kenakalan yang mereka lakukan. Bagai mimpi melihat mereka mengasuh Gale.
"Gue ko pengen nyari baso ! Enak kali ya, sore-sore makan baso ?!" seru Leli.
"Yu Li, bareng gue !" ajak Niken.
"Kuy lah, gue titip satu !" imbuh Shania sambil menyuapi anaknya dengan potongan buah pepaya.
"Oke, Sha..ibu sama bibi mau ngga ?" tanya Niken.
"Ibu lagi di pengajian, kalo bibi ada. Beli aja deh, ada tukang baso gerobak langganan gue, lumayan enak..tapi kalo jam segini udah di kompleks sebelah," jawab Shania.
"Oke ntar kita cari !" Leli sudah meraih kunci motor miliknya.
"Gue ngikut, ke atm dulu deh, sambil cari es krim ahhh !" ujar Ari.
"Mauuu om Ariii !!!! Sha, Gale udah boleh makan es krim belum si ?" tanya Melan.
"Belum pernah sii, tapi kayanya oke oke aja, asal yang rasa buah ya, biar makannya berdua aja sama gue," jawab Shania.
"Kasih aja Sha, biar ga kaget...asal jangan kebanyakan," jawab Ari.
"Biar ga sakit kan ?!" tanya Leli.
"Bukan, biar ga pengen lagi ! Ntar tiap kesini minta dibeliin es krim lagi," Deni tertawa.
"Si@*lan ! Gue pikir apa," decak Shania.
"Om Ari pelitnya ampun-ampunan !"
"Canda Sha, mau berlian pun om beliin Gale, tapi kw 100 aja dulu ya !" ujar Ari pada Galexia.
Akhirnya Ari, Deni, Niken dan Leli pergi, tersisa Guntur dan Melan.
"Neng, ponselnya dari tadi bunyi. Mas Kala telfon !" pekik bibi memberitahukan, lalu wanita paruh baya itu memberikan ponsel Shania.
Disana tertulis
__ADS_1
BELAHAN DOMPET 😘
"Kimvrittt, si Sha-sha...masa laki sendiri ditulis belahan dompet !" ujar Guntur yang ikut melihat. Tapi karena kelamaan panggilan itu mati.
"Terus mesti apa ?!"
"Apa kek, belahan jiwa gitu Sha. Ga romantis banget !" jawab Melan.
"Kalo belahan jiwa tuh Gale karena emang sebagian jiwa gue adalah Gale, kalo mas Kala ya...belahan dompet, kan dia sumber duit gue !"
"Curiga nama kita juga aneh Mel," desis Guntur.
"Kalo nama pak Arka aja belahan dompet, terus gue apa ?" tanya Guntur.
"Belahan pan_tat !" jawab Melan tertawa.
"Sue njayyy !"
"Eh, bentar mas Kala telfon lagi ! Gue angkat dulu ! Titip Gale," Shania melengos masuk ke dalam.
"Gue semalem begadang ngerjain tugas, gilaaa dosennya galak kaya pak Arka dulu !" Guntur merebahkan dirinya di karpet.
"Tur, titip dulu Gale bentar gue ga kuat kebelet !" ucap Melan ia langsung meletakkan Gale di samping Guntur dan pergi ke dalam rumah.
"Sini cantik sama om Geledek !" jawab Guntur. Lumayan lama Melan dan Shania meninggalkan Galexia dan Guntur.
Melan sudah selesai dengan urusannya, begitupun Shania.
Keduanya melangkahkan kaki ke depan rumah. Shania mengerutkan dahinya mendapati Guntur yang tengah terpejam, namun tak mendapati Galexia disana. Pintu pagar juga sudah terbuka.
"Lohhh, Gale mana Mel ?!" melihat Melan melenggang dari dalam seorang diri.
"Tapi Guntur sendirian !" Shania mulai panik.
"Coba tanya bibi !" ujar Melan ikutan panik, ia membangunkan Guntur.
Shania muncul dari dalam rumah dengan berlari dan panik.
"Bibi engga bawa Galee !!!"
"Tur, Gale mana ?!!!" pekik Melan, Guntur yang tersadar secara mendadak bagai disambar petir, tak sengaja ia tertidur saat menjaga Gale.
"Astaga ! Gue ketiduran, sorry Sha ! Barusan Gale disini, sebelah gue !" jawab Guntur tak kalah panik, Shania sudah kelimpungan mencari Galexia, tapi memang Gale pun belum bisa merangkak ataupun berjalan, jadi tak mungkin ia akan pergi jauh sendirian. Pikiran negatif mendadak memenuhi otaknya.
"Itu pintu gerbang kebuka, jangan-jangan ada yang masuk ?!" tunjuk Shania.
"Loe gimana sih Tur, disuruh jagain juga !!" Melan memukul Guntur, Shania berjongkok panik, menggigiti kukunya.
"Matii gue, anak gue kemana Mel, Tur !!!" ia segera berlari keluar rumah dan mencari-cari Gale.
"Gimana kalo Gale ilang, atau amit-amit diculik Mel ?!" Melan memeluk Shania yang mulai menangis.
"Gue cari pake motor !" Guntur segera meraih kunci motor berniat mencari Gale di sekeliling kompleks.
"Hiks..hiks...anak gue Mel, kalo sampe ilang gimana ?! Mas Kala bakalan gantung gue !" panik Shania.
"Neng, dede gimana ?" tanya bibi ikut khawatir.
Shania menggeleng, "bi Atun bantu cari ya, siapa tau ada tetangga lewat, terus tau !" Shania mengangguk ia pun akan melakukan hal yang sama.
Sudah beberapa rumah Shania datangi, termasuk orang yang lewat ia tanyai, tapi tak ada satu orang pun yang melihat Galexia. Shania menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Ia kembali ke rumah, mengobrak-abrik seisi rumah siapa tau Gale bersembunyi di tempat yang luput ia lihat seperti upil.
"Gale !!!" pekiknya sambil menangis.
"Telfon mas Kala saja neng," ia menggeleng.
"Nanti Sha kena amuk bi," Melan mengusap-usap pundak Shania.
"Bi Atun bener Sha, mendingan telfon pak Arka, toh bentar lagi juga dia balik," ujar Melan.
"Gue mau cari Gale sekali lagi Mel," Shania berlari sambil menangis.
Guntur kembali dengan hasil nihil, membuat Shania memukul-mukul dada Guntur.
"Anak gue kemana Tur !" tangisnya kembali pecah.
"Sorry Sha, sorry gue ketiduran, gue janji bakal cari lagi !" jawabnya penuh sesal.
Buliran peluh membasahi kening Shania, hari makin sore menuju magrib, tapi tak ada tanda-tanda dari batang hidung bayi gemoynya. Bahkan sampai keempat temannya kembali, Gale belum ada.
"Ini kenapa pada mewek gini ?" tanya Deni dan Ari, diangguki Niken dan Leli.
"Gale ilang!"
"Hah ??!!! Ko bisa ?!!!" pekik Niken.
Melan menceritakan kronologi kejadian.
"Loe kalo jaga yang bener Tur !!" Deni menarik kerah kaos Guntur.
"Shitttt !"umpat Ari, mereka menyimpan bungkisan baso dan es krim lalu mencari Galexia.
"Sha, loe telfon pak Arka," pinta Deni.
"Mati gue, mas Kala pasti ngamuk !" suaranya sudah parau.
"Daripada loe ga bilang,"
Tangan Shania bergetar meraih ponselnya, berat untuk menekan tombol hijau.
Mau tak mau ia melakukan itu, lalu menempelkan ponselnya di telinga.
"Assalamualaikum,"
"Sha, kamu nangis ?" tanya Arka dari ujung sana.
"Mas, dedek...ilang,"
"Apa ?!"
"Mas dedek ilang, tadi...." belum Shania menjelaskan Arka memotongnya.
"Saya pulang sekarang !" Shania terdiam, mendengar kata sedingin es itu. Ia menelan salivanya sulit.
.
.
.
.
__ADS_1