
What's going on between them ?
( Ada apa diantara mereka ?)
Shania Cleoza Maheswari
------------------------
Mobil melesat memasuki sebuah pedesaan, beberapa kali mobil berguncang akibat jalanan yang tidak rata.
"Nanti kamu bakal liat anak anak main di sungai kalo siang, ibu ibunya juga suka nyuci di sungai sambil mandiin anaknya," Shania yang sejak tadi melihat keluar jendela menoleh ke arah Arka.
"Ih, mas suka ngintipin ibu ibu nyuci sambil kembenan ?" bibirnya tersungging mencibir.
"Bukan ngintip tapi emang keliatan, karena itu tempat umum,"
"Engga kembenan juga mbak, udah pake baju sekarang, ga musim kembenan. Mas Arkala ini dulu pemuda aktif kampung loh mbak, orang kampung pasti geger liat dia pulang, apalagi tiba tiba bawa istri," jawab Nanang dari depan.
"Nanang tinggal disini juga ?" tanya Shania mulai tertarik bicara dengan Nanang.
"Ndak mbak, pindah ke Ngawi.."
"Nanang pindah ke Ngawi, lanjut sekolah disana sejak SMA, bareng sanak saudara ibunya."
Shania berohria.
"Tumben kamu pulang Nang ?" tanya Arka, sebisa mungkin tak bertanya bahasa jawa, karena tau pasti Shania akan bete jika mereka mengobrol dengan bahasa Jawa.
"Aku denger mas mau pulang bawa bojo, jadi penasaran mas !" kekeh Nanang.
"Sendiri ?" tanya Arka, ia menggeleng.
"Dianter mbak Retno, " Arka hanya berohria.
"Palek, bulek ?" tanya Arka.
"Nyusul, " jawabnya.
"Siapa mbak Retno ?" sejak tadi kuping Shania menangkap nama mbak Retno beberapa kali. Mungkin saja ia harus mengenalnya.
"Retno, sepupu Nanang dari Ngawi," jawab Arka singkat sebelum Nanang berbicara lebih jauh, Arka menatap Nanang dengan tatapan mengintimidasi dari kaca spion, "Ojo macem macem kamu Nang, ojo nganti panganten anyar turu njobo."
( Jangan macam macam kamu Nang, jangan sampai membuat pengantin baru tidur di luar.)
Nanang malah tertawa.
"Mas, bukannya mas bilang kalo ibu tuh cuma 2 bersaudara punya pakde doang, ko sekarang mas bilang Nanang anak pak'lek dari ibu. Ini aku yang beg*o apa gimana sii ?" bisik Shania agar tak terdengar Nanang.
"Palek saudara tiri ibu, mbah-nya mas menikah lagi, dan palek Parman anak mbah putri dari pernikahan beliau sebelumnya."
"Bisa jedotin pala Sha ke kaca mobil aja ngga ? pusing !" jawab Shania, Nanang yang ikut menyimak kini tertawa, Shania memang kocak, pikirnya.
"Nanti disana jangan gumoh mbak, soalnya keluarga pasti ngomong bahasa jawa, mana campur campur kaya aku !" terang Nanang.
Shania mengerutkan dahinya, otaknya harus dikuras seperti ujian, masa iya dia hanya tau ndak dan nggeh, doang.
"Asal disediain kresek aja lah buat gumoh !" jawab Shania, Arka tersenyum penuh arti mengusap kepala Shania.
Sesekali aliran sungai terdengar saat awal mereka memasuki desa. Jembatan yang sudah lumayan modern karena bukan dari kayu ataupun rotan. Landscape persawahan menyapa Shania. Meskipun tak terlalu mendukung karena sudah memasuki waktu magrib, suara suara binatang nocturnal mulai terdengar bersiap keluar untuk memulai petualangan malamnya.
Mobil terparkir di sebuah rumah tidak besar, terkesan sederhana malahan. Halaman lumayan luas masih berbentuk tanah merah yang di tanami lumayan banyak tanaman hias. Ada pohon mawar yang beberapa kuntum bunganya sudah mulai mekar, lidah buaya, pohon belimbing yang tak terlalu besar dan pohon mangga. belum lagi pot pot yang terbuat dari ember plastik bekas cat 5 kiloan berjejer. Daun daunnya nampak segar, bukti jika si empunya rumah memang merawat mereka dengan baik.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, "
Seorang ibu paruh baya keluar menyambut, wajah lama yang sudah dirindukan.
"Ibu !!!" Shania segera berlari kecil saat ibu Arka menyambut.
"Shania, ibu kangen sekali nak !" keduanya langsung berpelukan di depan Nanang dan Arka yang sedang menurunkan koper.
__ADS_1
"Mas, Shania cedak sanget kale budhe, nggeh ?" bisik Nanang dan Arka mengangguk.
( Mas, Shania deket banget sama budhe, ya ?)
"Nang, matur suwun nggeh, badeh tumut mlebet riyen ?" ucap ibu.
( Nang, makasih banyak ya. Mau ikut masuk dulu ?!" )
"Matur nuwun budhe, nanging Nanang langsung mantuk dhateng daleme mbah, dereng magrib," jawab Nanang.
( Makasih budhe, tapi Nanang mau langsung ke rumah mbah aja, belum magriban)
"Oke Nang, matur nuwun sanget nggeh, mengko kalih tindak meriko," jawab Arka.
(Oke Nang, terimakasih banyak, nanti kita menyusul.)
Nanang salim takzim pada ibu dan Arka dan mengatupkan kedua tangannya di depan Shania.
"Makasih mas Nanang, " seru Shania tersenyum.
"Sama sama, " Nanang berjalan ke arah kanan.
"Ko mas Nanang jalan, mas ? Emang deket ya ?" tanya Shania.
"Lumayan, cuma 50 meteran "
Ibu merangkul Shania untuk masuk ke dalam.
"Gimana perjalanan ?" tanya ibu seraya membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Asik bu, pemandangannya bagus bagus dong bu ! cuma lama aja, pan tat Sha sampe panas !" keluhnya seperti anak kecil.
"Kalau begitu istirahat dulu sebentar, solat..lalu makan, ibu sudah siapkan makan. Nanti nyusul ke rumah kakek, sudah pada nunggu, " jawab ibu tersenyum.
Shania mengangguk, dan membuka kamar Arka. kamar yang menjadi saksi perjalanan masa muda Arka.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, tak begitu besar, ranjang kayu queen size. Cermin yang hanya berukuran 30 cm × 20 cm menggantung di sisi sebelah lemari, kursi kayu dan meja sederhana menghadap langsung ke jendela kamar. dan rak buku kecil yang tertempel di dinding samping jendela, dimana buku buku pelajaran tersusun rapi disana.
Shania duduk di tepian ranjang.
"Disini ga ada kasur lipat, jadi selama disini kita seranjang,"
Shania memicingkan matanya, menatap laki laki ini.
"Awas jangan macem macem !"
"Mau macem macem pun ga akan ada yang larang, neng !" Arka malah menunduk dan memajukan wajahnya ke arah wajah Shania, lalu menjiwir hidung gadis ini.
"Bukkkk !" ia mendaratkan kepalannya di dada Arka.
"Shania baru naik kelas XII, jaga mata, hati, dan pikiran !" sengitnya, membuat Arka terkekeh.
"Kalo disini cewek lulusan SMA langsung pada punya anak, "
"Maksud L ??!" Shania bergidik keluar kamar, memilih ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.
*****
"Tambah lagi nak," pinta ibu melihat isi piring Shania sudah kosong.
"Udah bu, Sha udah kenyang !" jawabnya.
"Ka, ibu duluan ke rumah mbah..nanti kamu sama Shania menyusul saja, "
"Iya bu, "
"Sha, ibu duluan ya !" Shania salim takzim pada ibu.
"Mas, aku mau ganti dulu baju kalo gitu !" Arka mengangguk.
"Iya, mas ganti baju di kamar ibu."
__ADS_1
Shania memakai celana jeans panjangnya, dan kaos dibalut swetter dusty pink.
"Sebentar, mas kunci pintu dulu !" ucap Arka.
"Mas, ko sepi ? gelap ih, ibu berani jalan sendiri, " tanya Shania, gadis itu mengeratkan pegangannya di lengan Arka, merapatkan tubuhnya.
"Orang orang masih pada di masjid Sha, lagian ini kan banyak lampu rumah. "
"Tetep aja mas, takut !"
Hanya berjarak 50 meter, terlihat sebuah rumah putih berderet diantara rumah lainnya, tampak sedikit lebih besar dari rumah Arka, dengan halaman yang tak terlalu besar.
Sepertinya ramai, dari banyaknya sandal dan dua buah mobil yang berada di parkiran tanpa gerbang.
"Mas, aku takut..apa balik kanan aja ya ?!" mendadak nyalinya ciut dimakan kelelawar saat menginjakkan kakinya di teras keramik.
"Loh, takut kenapa ? keluarga mas ga gigit ?!" kekehnya.
Arka membawa tangan mungil Shania yang hampir tenggelam dalam sweetternya ke dalam genggamannya.
"Masa di sekolah sama mas aja kamu berani lawan, terus disini malah ciut. "
"Assalamualaikum, " Arka membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam."
Shania memasang senyum manisnya tatkala orang rumah tengah berkumpul bersama.
"Arkala, "
"Mbah, bulek..." Arka salim takzim termasuk Shania yang mengekor.
"Masyaallah ayu ne, "
"Isih enom, "
(Masih muda)
Shania hanya bisa nyengir kuda, karena tak mengerti..apakah ia harus garuk garuk kepala tak gatal ? Somebody help me !!!
"Mas Arka, bojone koyok artis sinetron !!" seru salah satu anak, mungkin keponakan Arka pikir Shania.
"Kowe cilik cilik nonton ne sinetron," Arka mengacak gemas rambut bocah perempuan berumur 8 tahun.
Arka hanya tersenyum, " tepangken mbak yu Shania."
Semua tampak terkesiap dengan kedatangan Shania. Mata Shania mengedar untuk mengenali satu persatu keluarga Arka.
"Hay Shania, saya Retno..." Shania mendongak, sesosok perempuan manis berjilbab menyodorkan tangannya. Mungkin diantara mereka, perempuan ini satu satunya yang menggunakan bahasa Indonesia.
"Mas, piye kabare ?" tanya nya beralih pada Arka.
"Apik, kowe piye? " Arka mengangguk.
"Apik mas, " wanita ini memasang senyum sejuta watt nya, meskipun Arka tak mengindahkan senyumnya. Shania melihat itu, insting wanitanya bermain disini. Ada yang aneh.
"Mas, mbak Sha ! ayo ma em bareng !" tiba tiba suara Nanang terdengar dari arah ruang tengah.
"Uwis Nang, "
Tapi fokus Shania masih terpecah pada sosok Retno yang duduk di sofa, terkadang matanya melirik lirik ke arah Arka seperti canggung dan ada rasa yang tak bisa Shania jelaskan, what's going on between them ?
(Ada apa diantara mereka?)
.
.
.
* Landscape : pemandangan darat
__ADS_1
*Nocturnal : ( Hewan ) aktif pada malam hari.