
Shania mengetuk-ngetuk keningnya. Entah sedang berusaha membuat otaknya jatuh dari pangkal tulang atau sedang menguji, lebih kuat mana tempurungnya atau ujung pulpen. Yang jelas kini otaknya dipenuhi dengan pertanyaan, kalimat mana yang cocok sebagai kalimat ijin pada Arka agar ia bisa lolos melenggang ke Senayan. Bukan sebagai caleg (calon legislatif) tapi sebagai pejuang dapur ngebul.
Ujian pertama dan utamanya adalah sang pemilik sumber uangnya. Sebagai istri yang baik, ia mengetik pesan, menanyakan keberadaan si ganteng, kalem, pemilik hati.
Bukan kata sayang ataupun mesra lainnya yang ia ketik.
"Yuhuuuu ! Mas-kuh...where are you now?"
"Kampus,"
"Ogehhhh ๐ otewe๐!"
Tak lama Arka menelfonnya, sempat melarangnya untuk menyusul tapi bukan Shania jika tanpa bujuk rayu, akal si bulus putih tak bisa ia lancarkan.
Dengan memakai jasa ojol, Shania sampai di kampus yang selalu menjadi kebanggaan sebagian orang, termasuk ia dulu.
"Seengaknya ga kuliah disini, tapi gue pernah nginjek tanahnya ga apa-apa dahhh !" ia menghentak-hentak kakinya di awal gerbang masuk, tampak kampungan memang. Tapi ia bahagia, bahagia itu sederhana. Tak lupa Shania melepas jas almamater miliknya, takut dikira penyusup atau orang yang tidak berkepentingan, karena jelas ia memiliki kepentingan yang urgent.
Shania berjalan, ia tak tau arah sebenarnya. Tapi berhubung si tampan sudah menjemputnya di dekat gerbang, Shania tak usah repot-repot bertanya jalan pada orang lain.
"Mas, kampusnya gede ! Gedung fakultas mas yang mana ?" tanya Shania.
"Disana !" tunjuknya.
"Sha bawain makan siang nih, " Shania mengangkat paper bag.
"Kenapa mesti repot-repot kesini Sha, tumben !" jawabnya berjalan menuju sebuah taman dekat fakultasnya.
"Kan Sha mau makan siang bareng suami terlove !" jawabnya, membuat Arka menggelengkan kepala.
"Sha, tapi mas lagi ada tugas bareng Hendra sama Vian dulu..gimana ?" tanya Arka.
"Ya ga apa-apa, Sha ikut ! Kalo mau Sha suapin !" tawarnya kekeh.
Arka kembali, dan ijin pada Hendra dan Vian untuk makan siang sebentar.
"Oke Ka, " diokei keduanya.
"Kita makan siang disana aja," Arka membawa Shania ke bangku samping pendopo.
"Enak ngga mas ?" tanya Shania, Arka mengangguk.
"Kamu masak ?" tanyanya.
Shania menggeleng, "engga, beli !" tawanya.
"Mana sempet masak lah mas."
__ADS_1
"So, ada apa sampe repot-repot, jauh-jauh kesini ?" tanya Arka yang mencium bau-bau ketidakberesan. Gadis itu tertawa, ia lupa sudah hidup setahun lebih dengan laki-laki titisan cenayang ini.
"Mas tau aja, kalo Sha ada sesuatu !"
"Tau lah, mas ini suami satu atap yang sudah tidur seranjang setahun lebih sama kamu, kalo kamu amnesia !" jawabnya.
"Detail banget ! Ihhh, do'ain Sha amnesia ! Suami apaan ?!"
"Kan kamu gitu kalo lagi ketauan, suka bilang Sha kok amnesia ya mas ?!" tirunya.
"Jadi gini mas, mas seneng ngga sih, kalo punya istri yang selalu ada di jalan yang benar, lakuin sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat, nusa dan bangsa ? Bangga ngga ?" ucapnya berbelit-belit.
"Mulai lagi," gumam Arka.
"Sebagai kaum terpelajar dan tinggi rasa sosial juga nasionalisme terhadap negara, juga pembela kaum menengah ke bawah, terutama ibu-ibu berdaster..."
Sadisss ! Kata-kata emak satu ini wajib dapet penghargaan seperangkat sapu, pel dan alat kebersihan lainnya dari pesatuan emak-emak se-jabodetabek.
"Intinya..." sela Arka.
"Bentar dulu, Sha belum selesai ihhh, jangan di sela !!!" pelototnya tajam, jika emak-emak sudah melotot begini, maka suami pun lewattt !!!
Shania terlihat berfikir, "kan !! jadi lupa lagi, rangkaian kata-katanya apa !" Shania manyun. Percayalah Hendra dan Vian yang tak sengaja mendengar ingin meledakkan tawanya saat itu juga.
"Ya udah intinya apa, sayang ?" tanya Arka.
"Waktu itu cita-cita mulia kamu mukul bedug, sekarang apa ?" tanya Arka.
"Sha mau nyampein aspirasi rakyat langsung ke dewan perwakilan rakyat !"
Byurrrr !!!! Arka menyemburkan minum dari mulutnya yang belum sempat ia telan.
"Kenapa mas ? Airnya ga ada manis-manisnya gitu ya ?" tanya Shania.
"Demo maksud kamu ?!" masalah ini yang sedang Arka, Hendra dan Vian urus hari ini, tentang siapa saja yang melenggang ke Senayan dan hal apa saja yang akan disampaikan. Shania-nya memang tak tau apa jabatan Arka di kampus atau siapa Arka ? Baginya tak penting siapa Arka atau bagaimana sepak terjangnya, yang jelas baginya berada di samping Arka, makan, minum, bisa bernafas dengan gratis, bisa jajan sudah cukup untuknya, untuk selebihnya ia tak peduli.
"Bukan demo mas, kalo demo tuh kaya sales panci atau regulator gas ! Ini tuh memperjuangkan nasib dapur di rumah, ada dua point penting...Sha tuh mahasiswa iya, ibu-ibu juga iya !"
"Sama aja. Engga !!" jawabnya dingin dan datar.
"Dengerin Sha dulu mas, Sha bisa jaga diri ko, lagian disana Sha ga sendirian ! Kalo mahasiswa ga pernah ikut demo, kaya ada yang kurang gitu mas ! Kaya belum my trip my adventure gitu."
"Demo itu panas-panasan Sha, belum lagi capek ! Belum lagi resiko terluka bahkan amit-amitnya sampe yang taruhan nyawa kalo situasi sampe ga kondusif !" jawab Arka.
"Sha tau mas, Sha tau ! Kalo sampe situasi ga kondusif, Sha panggil ojol deh ! Sha mundur, atau minta jemput ka Dimas !" Shania menunduk saat menyadari nada bicaranya meninggi.
"Maaf mas, ga maksud bentak," cicitnya.
__ADS_1
"Sha tuh bakalan bersyukuuuur banget sama Allah, kalo sampe mas ijinin... ya Allah..! baiknya suami Sha ya Allah !!!! Sha cinta banget sama dia, semoga berkah selalu hidupnya !" seru Shania memanjatkan do'a.
"Enggak !" sengak Arka.
Raut wajah Shania seketika datar.
"Suami Sha jahat !" lalu kemana do'anya yang tadi. Arka tertawa melihat wajah Shania, sungguh menggemaskan tingkah momy Gale.
"Mendingan Sha jadi mahasiswi membanggakan, ga usah lah ikut-ikut begituan. Urus aja dedek di rumah," Arka kembali ke pendopo menghampiri Hendra dan Vian yang sudah berdehem menahan tawanya. Jelas saja pembicaraan mereka terdengar wong..mereka ngobrol kaya lagi demo.
"Katanya mas mau bikin Sha nyaman sama hubungan pernikahan ini, ga akan larang-larang keinginan sama cita-cita Sha. Terus ini ?" cemberutnya berbisik.
Arka menghela nafasnya lelah, "mas anter pulang ya ?!" tanpa menunggu persetujuan Shania, Arka merapikan tas bawaan Shania.
"Ihhh, kaya idup di jaman penjajahan mas ! Ga boleh berekspresi, besok-besok Sha kembenan aja lah ! Kaya gadis-gadis desa di jaman Londo !" dumelnya mencebik saat Arka memakaikan tas punggungnya.
"Iya, besok mas siapin samping sama stagennya !" Hendra dan Vian terkekeh dengan interaksi mereka.
"Mas atuh ihhhh !!!" Shania hampir saja mengacak-acak tong sampah di dekat perpustakaan yang mereka lewati.
"Neng, demo itu panas !" bujuk Arka.
"Sha bisa neduh ! Sha juga bekel minum !"
Heran saja itu demo apa mau piknik ?!
Arka kembali meloloskan nafas kasar, Shania jika sudah memiliki keinginan susah untuk di larang, semakin dilarang semakin ia penasaran.
"Oke,"
Shania sudah berseru....
"Tapi....!!!!!"
"Ada tapinya ? Ga apa-apalah yang penting dapet ijin !"
"Kamu ga boleh deket-deket pagar betis, jarak kamu harus ada di jarak aman...paling belakang ! Jadi kalo situasi sudah tak kondusif kamu gampang untuk lari, jika sudah lewat dari jam makan siang kamu harus sudah pulang, karena dedek di rumah nunggu kamu ! Jangan sampai lupain tugas kamu sebagai seorang ibu." Shania mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Kalo panas, kamu neduh ! Jangan sampe kecapean. Inget !! Kamu disana cuma untuk melihat dan mencari pengalaman saja !" lanjut Arka.
"Siap pak komandan, laksanakan !!"
Meskipun aturannya lebih mirip seperti Shania yang akan pergi study tour, baginya tak masalah asal bisa merasakan euforia demo sesungguhnya, bukan cuma demo panci atau regulator gas di rumah rt setempat.
.
.
__ADS_1
.