Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Ibu tidak usah khawatir


__ADS_3

Stop !!! yang sudah menjalankan ibadah puasa, dibacanya nanti setelah berbuka. Bagi yang belum monggo....


***


Aku mencintainya bu, aku menyayanginya.....


Arkala Mahesa


-------------------


Arka duduk di samping Shania, menarik gadis itu dengan semangat 45-nya.


"Mas ih !!" omelnya saat ia tertarik dan menubruk dada Arka.


"Laki laki mah kalo sama hal yang kaya gitu langsung semangat," Arka mengangkat alisnya sebelah.


"Laki laki mana maksudnya ? "


"Engga ! maksudnya, kebanyakan laki laki," ralat Shania serba salah.


"Ada laki laki lain ?! " ia memicingkan mata, tapi sejurus kemudian Arka mencolek colek pinggang dan ketiak Shania, membuat gadis itu kegelian dan cekikikan.


"Engga mas, ga ada ! maksud Sha...ihhh geli mas ! bukan kata Sha tapi kata orang orang !! " Shania terjengkang ke ranjang. Namun seperti belum puas, Arka terus saja menggodanya.


"Mas udah capek, ihhh !" nafasnya tersengal karena menahan geli.


Arka menin dih, namun tak benar benar men indih. Jarak wajah keduanya hanya beberapa centi, hingga hembusan nafas keduanya dapat membuat kulit meremang. Mendadak suasana canda menjadi sunyi. Hanya saling menatap lekat, hawa nafas tenang seakan mengisyaratkan bahwa keduanya siap berlayar menuju samudra cinta.


"Mas, pake skin care apa sih ? ko kulitnya bisa mulus tanpa jerawat, awet muda," tangan lentiknya mengusap dan menelusuri setiap inci wajah Arka hingga ke rambut depan yang menutupi sebagian kening. Memberikan sentuhan sentuhan lembut di diri Arka, membuat pria ini semakin terbuai.


"Cuma pake sabun," jawabnya singkat, tapi sejurus kemudian ia mengangkat dagu Shania dan memajukan wajahnya, benda kenyal itu kembali menubruk bibir Shania. Mengecup, meny ecap dan menghi sap, membuat keduanya sama sama terhanyut dalam perasaan membun cah.


Tak ingin kalah, gadis itu sedikit demi sedikit membalasnya, meskipun masih terasa kaku. Hingga bunyi dec apan keduanya hampir sama nyaringnya dengan suara binatang malam.


Kali ini Shania harus menjaga tenggorokannya agar tak mengeluarkan suara suara aneh, sebab ibu ada di kamar sebelah. Benar benar keadaan yang sulit, saat tangan Arka tak mau diam menelusuri garis wajah Shania, mengusap rahang Shania lalu turun ke leher dan berhenti sejenak disana untuk memberikan cap tambahan. Tangannya semakin gencar mendaki gunung dan berhenti di puncak untuk sekedar menik mati sesuatu yang indah milik Shania. Gadis itu semakin belingsatan ketika si pemilik mulut tanpa aba aba meninggalkan bibirnya yang sudah memerah dan basah lalu bermain main di puncak gunung-nya. Seperti bayi yang kehausan, ia tak membiarkan sumber kehidupan itu menganggur barang sedetik pun.


Jemari lentiknya menarik dan menjambak halus rambut belakang beberapa centi pak guru dan sesekali menekan kepalanya.


Tak ingin kehilangan moment, tangannya turun menyusuri leku kan bak gitar spanyol, membuat si empunya merinding disko. Tangan nackal itu berhenti di area rawa tak bertuan dan masuk ke dalamnya, menorehkan namanya disana. Bahwa kini ialah penguasa rawa itu.


"Mas Kala, " gumamnya hingga melengkungkan punggung.


Rawa itu jelas sudah basah membuatnya semakin indah dan menggiurkan. Tangannya membuat gerakan keluar masuk untuk sekedar menelusuri keindahan rawa, yang justru membuat gadis itu semakin mencengkram hebat di rambutnya.


"Mas, udah ga tahan..."

__ADS_1


Kalimat pembuka yang indah dengan suara seindah alunan musik.


"Kamu nahkoda dan mas yang menyelesaikan," membuat Shania mengerutkan dahinya beberapa lipatan. Arka menanggalkan kain terakhir dari keduanya mengucapkan satu do'a pengantar perjalanan mereka menuju lautan as ma ra di telinga Shania.


Seketika posisi mereka bertukar,


"Sha ga bisa mas, "


Gadis itu terhenyak hingga menengadah saat gagang kunci sudah masuk ke lubang kuncinya meskipun harus dengan sedikit hentakan, karena lubang yang masih sempit. Bukan hanya diam, kedua tangan Arka membimbing Shania untuk memutar dan menggebrak lubang kunci, bukan gagang-nya, tanpa basa basi posisi ini langsung menyentuh G^sepottt** (bacaan), hingga Shania harus benar benar menggigit bibir bawahnya kuat kuat karena tak ingin terdengar ibu. Peluh kembali bercampur diantara pergulatan panas yang terjadi. Di bawah sana Arka seperti sedang terlena dengan semua ini, terhanyut dalam pusaran gel ora membara.


Pria itu membalikkan kembali tempatnya dan Shania, sebelum semuanya berlanjut, tak lupa ia selalu menyediakan jas hujan miliknya. Ia harus menahan diri selama satu tahun lagi, agar semua berjalan sesuai rencana. Tapi tak apa, yang terpenting Shania sudah mau melaksanakan kewajiban seutuhnya.


Gadis itu sudah tak berdaya di bawah kungkungan keperka saan Arka, tampak menggoda dengan puncak yang menantang. Ia mulai mengarahkan si gagang kunci ke tempat dimana seharusnya. Memaksa menenggelamkan hingga ke ujung. Arka memberikan jeda agar Shania bisa bernafas sejenak untuk selanjutnya mengajak Shania kembali bertualang. Gerakan maju dan mundur membuat tragedi risbang (ranjang) berderit.


Faster....


Jari lentik mencengkram bantal dan seprai, dan sesekali kuku yang sama sekali tak panjang itu mencengkram punggung lebar. Sepertinya mereka memang harus benar benar pulang secepatnya, setidaknya di rumah, kamar bi Atun sedikit jauh dari kamar keduanya. Tapi bukankah sesuatu yang darurat itu selalu luar biasa ?


Wajah ayu Shania yang menggoda dengan butiran keringat menjadi pemandangan yang indah di bawah sana. Tak disangka ia yang notabenenya seorang lelaki matang dan hampir disebut tua ini mendapatkan daun muda yang begitu segar, seperti daun yang baru terbuka di pagi hari dengan butiran embun menghiasi, sungguh ia lelaki beruntung.


Shania sudah kelelahan, tapi ia seperti belum mau mengakhiri. Entah karena umurnya yang sudah matang atau memang efeknya sedahsyat itu, who knows...


"Terakhir ya Sha, satu kali lagi...."


"Janji ? Mas dari tadi sekali lagi terus...sekalinya udah berapa kali ?!" omelnya, si cantik ini memang suka mengomel, ia bahkan tak segan segan memukul mukul dada Arka jika kesal.


Arka mendorong masuk agar mendapatkan akses lebih dalam lagi, dan mencapai titik G. Shania hanya bisa pasrah dengan sisa tenaga yang ada, ia berjanji setelah ini akan tidur sangat lama.


Arka meracau komat kamit, rupanya ia pun harus menahan diri agar suaranya tak sampai keluar kamar, mempercepat tempo permainan dawai as ma ranya dan meledak bersama di atas pelangi malam, Surabaya membara....


Cup...


"Makasih obatnya Sha, " Shania hanya diam mengatur laju nafas dan pasokan oksigennya. Gadis itu memiringkan posisinya, tak sampai 10 detik, ia tertidur.


Arka terkekeh, " capek ya, "


Tak ada jawaban dari Shania.


"Yo wes turu ae lah, " setelah memakai kembali pakaiannya Arka ikut membaringkan badannya di samping Shania, memeluk badan toples Shania dan membungkusnya dengan selimut.


Adzan subuh berkumandang, Arka memijit pangkal hidungnya, membuka mata tajamnya. Senyumnya terbit dimana ia melihat Shania masih meringkuk dalam pelukannya, sepertinya gadis ini tak berpindah tempat atau bergerak.


Nafasnya masih teratur dan tenang, menandakan Shania masih bermain di alam mimpinya.


Pria itu berinisiatif memasak air panas untuk Shania mandi. Ia beranjak dari kasur dan keluar kamar.

__ADS_1


"Bu, " melihat ibu yang sudah bolak balik di dapur.


"Eh Ka, semalam ibu sudah menutup lubang angin dan lubang sela sela pintu, tapi masih kedengeran suara tikus..kaya tikus kejepit gitu !" Arka mengulum bibirnya, tak tau saja semalam bukan tikus yang kejepit, tapi suara ranjang yang berderit.


"Ya sudah ga usah dipikirkan bu, mungkin di atas palfon rumah,"


"Ibu takut ada ular lagi, Ka.." jawab ibu.


"Engga bu, nanti Arka tabur belerang saja di sekitar rumah. Ibu juga selalu pake kamper dan pengharum ruangan ya di setiap ruangan."


Ibu mengangguk saja, mendengar permintaan putranya.


"Shania belum bangun ?"


"Belum bu, semalam insomnianya datang lagi, Arka mau masakin air panas dulu.." ia berlalu menuju kompor.


"Bu, kayanya nanti Arka sama Shania mau jalan jalan keliling kota sebentar, sebelum besok pulang,"


"Iya Ka, "


"Sudah mau pulang ya ?"


Demi apa ? ibu masih rindu dengan putra dan menantunya ini, kehadiran Shania dan Arka membuat suasana hangat. Apalagi Shania yang selalu heboh dimanapun.


"Bu, " Arka mendekat setelah menyalakan kompor dan menaruh panci berisi air.


"Nanti Shania sama Arka sering sering pulang kesini, Arka kan harus kerja, kuliah. Shania juga harus sekolah..kalau urusan padhe sudah selesai, ibu pindahlah ke rumah di Jakarta. Shania pasti seneng kalo ibu mau balik ke rumah,"


Ibu mengangguk, "Iya, hati hati nak..jaga Shania. Jangan kamu marahi, apalagi sampai main tangan. Meskipun kamu belum bisa menerima Shania sepenuhnya sebagai istri."


Arka mengangkat kedua alisnya demi mendengar ketakutan ibunya, sedingin itukah ia terhadap Shania dulu.


"Bu, Arka mencintai Shania..Arka menyayangi Shania, ibu jangan khawatir Arka akan menyakiti Shania, "


"Alhamdulillah, "


Ibu tak tau saja, bahkan Arka sudah menyentuh Shania berkali kali. Shania yang masih bergelung seperti ulat pun akibat ulahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2