Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kemarahan Shania


__ADS_3

Shania berjalan di papah Arka, rupanya acara sudah selesai dari tadi, hanya menyisakan sampah berserakan sisa acara penutupan.


Bersamaan dengan keluarnya Kevin, Vian bersama Vano dari ruang senat.


Mata Shania menajam melihat bahwa saingannya bukan lagi pelakor sexy, ayolah harus dilihat darimana letak sexynya Vano, apa lubang hidungnya ?


"Oh ini si cabe gendot saingan gue ?!!" tiba-tiba saja tenaga milik gatot kaca berpindah pada tubuh mungil Shania, yang awalnya lemas, mommy-nya Gale ini sekejap bisa melepaskan dari pegangan Arka dan berlari menuju Vano. Ia menyarangkan pukulannya bertubi-tubi. Jika berfikir Shania akan diam, lebih baik minum air mineral yang langsung dari gunung saja. Ingat ?! Legenda Bakti Persada ? Cewek bar-bar yang doyan bermasalah, bukan hanya buku absen BK atas keterlambatannya saja, tapi tawuran mana yang tidak pernah Shania datangi ? Jadi mustahil jika melihat Vano ia hanya diam, menangis, atau bertanya kenapa ? seperti orang linglung. Tubuh mungil tidak mengukur kemampuan seseorang, buktinya kini Vano sedikit kewalahan, ditambah sebelumnya ia sudah mendapatkan bogeman dari Arka dan Riyan. Bahkan Kevin, Vian dan Hendra saja tak bisa melepaskan cengkraman kuat kebar-bar an momy-nya Gale.


"Elah ! Si mamak gesit banget kalo masalah berantem ! Makkk !!!" Melan, Deni, Roy ikut berlari bersamaan Arka yang sudah ikut menahan tangan Shania yang meronta-ronta minta buat ngacak-acak muka Vano. Deni tertawa-tawa ia jadi flashback saat tawuran dulu.


"Eh..eh..Sha !!! Sabar Sha !!"


"Busett Ka ! Bini lor bar-bar !" decak Hendra kesulitan.


"Istrinya pak Guru, bruhhh..sadis !" tawa Roy.


"Sini loe ! Jangan mentang-mentang loe laki rasa cewek, dipikir gue bakal takut !" sarkas Shania.


"Awww ! Njir mak ! Gue kecakar !" aduh Roy yang berniat melerai tapi malah kena cakar kuku Shania yang baru saja melakukan perawatan.


"Emosi gue !" mata Shania menyala-nyala.


"Sha, biar ini jadi urusan BEM..."


"Dan polisi..." tambah Arka dingin.


"GA BISA !! Enak aja ! Gue yang dizolimi, polisi sama BEM yang nyiksa !" belum puas, Shania ingin kembali meraih Vano. Sebuah kesempatan bisa melawan, bagi Shania laki-laki pasti bakalan tahan banting dan lawan yang tangguh tidak seperti ciwi ciwi yang biasa rival dengannya seperti Maya yang apa-apa menangis dan mengadu.


"Manusia sampah kaya gini tuh mesti ditenggelemin bareng si patrick ! Ga ngo tak !" bentak Shania.


"Yah, si patrick ga salah apa-apa pake dibawa-bawa, mak Malin gagal keren ahh ! Jangan patrick atuh mak, " ujar Melan.


"Wah, mamak gue tuh !" Deni malah menyemangati.


"Saravv njirrr, malah di dukung !"


"Sha," Arka membawa Shania ke dalam pelukannya, membuat mata Vano menyipit.


"Kenapa, loe liat-liat cemburu ?!!" Shania kembali melayangkan mata lasernya.


Nama legenda Bakti Persada tidak semata-mata tersemat di namanya, jika begini saja ia tak ikut ambil andil.


"Salah pilih lawan si Vano, legenda BP dilawan. Juara bertahan ruang BK coyyy !" jawab Riyan mengingat kelakuan Shania saat ia masih menjadi siswa BP, jika ditanya siapa Shania pasti mereka akan menjawab si gadis yang tak pernah absen mengunjungi ruang BK.


Benar saja, begitu Arka lengah, emosi yang masih meluap-luap Shania tumpahkan dengan ia berlari menuju Vano yang hendak dibawa ke ruang Dekan dengan sekejap ia tersungkur karena tendangan maut Shania.


"Sha !!! Astagfirullah !"


"Allahuakbar, nih emak-emak ! ga bisa lengah dikit,"


"Loe usik hidup gue, itu artinya loe nantang gue !" Shania tersenyum miring, Vano yang notabenenya laki-laki tak terima.

__ADS_1


"Sha, dia laki-laki. Nanti dia nekat, mas ga mau kamu kenapa-napa !"


"Iya ! Gue suka sama Arka, menurut gue laki-laki kaya Arka langka, gue yakin dia juga sehebat itu di lain tempat !" Bukan lagi melotot, mata Shania dan yang lainnya termasuk Arka sudah keluar dari tempatnya.


"Anj*** loe bayangin suami gue, maksud loe ranjang ! Minta dijadiin perkedel atau tahu bubuk, tinggal gue pakein daun bawang ?!"


"Saravvv njir, "


Tanpa di duga Arka sudah melayangkan kembali pukulannya di wajah Vano.


"Sini loe !" Shania mengedarkan matanya mencari sesuatu, ia berlari dan menemukan sebatang balok kayu bekas membuat panggung.


"Ehh...ehh...Sha !!!" saat Shania hendak melayangkan balok kayu pada Vano, ditahan Arka, Kevin dan Vian.


"Loe emang cantik Sha, dan gue ngiri sama loe ! Kenapa gue lahir sebagai cowok ! Awalnya gue suka Riyan, tapi dia bucin loe ternyata, gue juga kasian sama loe Yan, dari dulu loe cuma bisa jadi pengagum rahasia tanpa bisa memiliki ! Pas liat Arka gue suka banget, tapi kembali orang yang gue suka, ternyata suka sama loe, tapi gue selalu inget Arka," masih sempat-sempatnya ia berkata begitu saat nyawanya sudah diujung tanduk.


"Apa?! loe udah gila Van, berenti ngomong loe kalo masih pengen idup !" bentak Kevin mendorong Vano ke ruang Dekan.


"Ka, tahan Ka !" yang lain menahan Arka yang ingin kembali menghajar Vano.


"Sumpah gue specchless, andai ada anak-anak demit lainnya disini ! Pasti mereka heboh !" ujar Melan.


"Mak, inhale...exhale.. !" pinta Roy.


"Loe pikir gue mau lahiran lagi ?!"


"Sha, katanya mau pulang ?" tanya Arka.


"Emosi mas, emosi !"


"Gue takut kaya di tipi-tipi mak, orang kaya gitu tuh suka nekat ! Yang dibantai di Jombang itu mak, astagfirullah !"


"Si@lan ! Amit-amit !"


"Saya pastikan keamanan kamu sama dedek," Arka meraih tangan Shania.


"Sha bisa jaga diri mas," jawabnya.


"Yakin nih ? Gue ko ga yakin, kita satu kampus. Jangan-jangan nanti kasusnya kaya loe sama alm. Maya lagi, " Deni tertawa, lucu saja rival Shania sekarang sudah berubah.


"Main jambak-jambakan !" tawa Melan.


Hal seserius ini tapi tak pernah dianggap serius oleh anak-anak demit ini.


"Gue jadi inget kalo tawuran dulu, loe inget ngga anak SMA KENCANA dijambak Shania ampe rontok ?!" kembali mereka malah tertawa-tawa, emang temen ga ada akhlak.


Arka sampai melongo, kenapa ia baru tau ?


"Oh iya, loe inget anak SMK Otomotif itu, diinjek kakinya, trus digiles ban motor ?! Padahal Shania ga sengaja ngelindes, pas mau kabur ?"


"Diem loe bertiga, lagian gue udah lupa !" tukasnya. Tapi ketiga makhluk itu malah semakin tertawa.

__ADS_1


Arka tak percaya jika Shania senakal itu dulu.


Arka menepati janjinya menjemput Shania memakai motor.


"Jadi momy-nya Gale seneng tawuran ?" tanya Arka.


"Dulu mas, bareng anak-anak BP, " jawabnya.


Lampu merah menyala, mereka berhenti. Di saat yang bersamaan sebuah motor matic berhenti di samping mereka dan melihat.


"Pak Arka ?" sapanya.


"Assalamualaikum,"


Arka dan Shania menoleh, lalu membuka kaca helmnya.


"Waalaikumsalam, Dina.."


Anak itu meraih tangan Arka dan salim takzim.


"Darimana ?"


"Main pak," kekehnya.


Melihat sosok Shania memeluk pinggang Arka, Dina menyapanya.


"Pacar ya pak,"


"Kenalkan istri saya," jawab Arka.


Anak itu mengangkat kedua alisnya, "oh, istrinya pak guru ?"


Shania mengangguk, "Shania,"


"Dina, bu...ka..eh.." ia nyengir.


"Seenaknya kamu aja," jawab Shania.


"Iya ka,"


Lampu hijau menyala.


"Dina, saya duluan !" Dina mengangguk.


"Udah orang keberapa ratusnya yang nanya !" ketus Shania membuat Arka terkekeh.


"Bukan nanya deh, tapi nadanya pada ga percaya !"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2